(Tidak) Enaknya Menjadi Penulis

Jadi penulis itu enak. Tinggal duduk menghadapi laptop saja saat bekerja. Bisa disambil-sambil lagi. Disambil mengerjakan pekerjaan rumah. Disambil mengasuh enak. Oh, enaknya jadi penulis. Benarkah demikian?

Namanya hidup ya, Mama, pasti ada enak dan tidak enaknya. Dunia tulis-menulis sudah saya akrabi sejak 2004. Ya, sejak saya masih kinyis-kinyis selepas lulus kuliah. Bermula dari menekuni dunia jurnalistik. Lalu sempat mengirimkan karya untuk lomba cerpen.

Sekarang, tepatnya sejak April 2019 lalu, saya menjadi penulis lepas. Menulis buku juga meskipun dalam bentuk antologi. Nah, selama setahun lebih itu ada suka dan duka yang saya rasakan.

Enaknya Penulis: Bisa Disambil

Enaknya jadi penulis/ Foto: PublicDomainPictures dari Pixabay

Dari dulu keinginan saya adalah melakukan pekerjaan yang bisa dikerjakan sambil membersamai anak-anak. Allah Maha Baik. Keinginan itu diwujudkan saat anak sulung saya berusia 4 tahun 8 bulan.

Tulisan menarik lainnya bisa disimak di sini: Memutuskan Menjadi Stay at Home Mom Tak Selalu Mudah

Menjadi penulis yang kantornya adalah rumah memang menyenangkan. Bisa sambil masak. Bisa pula sambil ngepel. Dapat juga sambil mengasuh anak. Meskipun memang saat menemani anak belajar dan bermain, kegiatan itu tidak bisa diganggu gugat. Membagi waktu dan manajemen waktu adalah koentji, Mam.

Enaknya: Bisa Sambil Belajar

Enaknya menjadi penulis/ Foto: PublicDomainPictures dari Pixabay

Beberapa pekerjaan menulis yang ditawarkan membuat saya banyak belajar. Ada beberapa tema yang kurang dikuasai. Hal itu menuntut saya untuk membaca lebih banyak. Otomatis belajar banyak hal juga. Bahkan untuk topik yang sudah dikuasai pun tetap harus mencari referensi tepercaya.

Saya juga perlu membaca berbagai penelitian. Hasilnya, pengetahuan bertambah.

Tidak Enaknya Penulis: Saat Honor Sangat Kecil

Saat honor menulis kecil/ Foto: Steve Buissinne dari Pixabay

Besar dan kecil itu relatif. Satu bakwan yang dijual Rp 10 ribu, menurut saya mahal. Namun, bisa jadi dirasa murah oleh orang lain. Pun tentang honor menulis yang ditawarkan. Beberapa kali saya merasa tawarannya sanngat kecil.

Ada yang menghargai tulisan baru 300-500 kata tanpa plagiasi Rp 8-10 ribu. Bagi saya, angka ini sangat kecil. Karena untuk menghasilkan tulisan 300-500 kata yang berkualitas itu butuh modal. Perlu koneksi internet untuk browsing sumber tepercaya. Butuh buku untuk menambah referensi. Lalu butuh makan agar bisa berpikir.

Tulisan menarik lainnya bisa disimak di sini: Ketika Realita Vs Ekspektasi Berbuah Kekecewaan

Agar sama-sama enak, kalau tawaran dirasa kecil tidak usah diambil. Lha kalau tawarannya nggak pernah lumayan gimana? Mm, mungkin belum rezeki. Hal penting dalam bekerja adalah nyaman dan merasa dihargai. Standar nyaman dan dihargai itu beda-beda. Jadi semua kembali ke diri masing-masing.

Tidak Enaknya: Saat Banyak Tulisan Minta Tolong

Tulisan minta tolong kadang diterima penulis/ Foto: Gerd Altmann dari Pixabay

Tulisan minta tolong? Iya, tulisan yang dipesan oleh teman atau kenalan tanpa honor. Kalau sekali dua kali dimintai tolong bikin tulisan pesanan gratisan mungkin tidak masalah. Namun, jika rutin minta tolongnya, hm…

Untuk menulis itu butuh waktu, otak, dan perasaan. Sayangnya hal-hal ini kerap dikesampingkan. “Halah, nulis segitu aja kok pakai bayaran.” Pernah dengar sih ucapan macam ini. Duh! Sedih banget.

Tapi ya balik lagi ke diri kita. Kalau nggak ikhlas menolong, nggak usah memaksakan diri. Lha daripada ngedumel dan nggak berkah.

Apakah Mama penulis juga? Gimana nih, lebih banyak enak atau tidak enaknya? Semoga meski menghadapi beberapa hal tidak mengenakkan tidak lantas membuat kita berhenti. Sebab menulis adalah pekerjaan untuk keabadian.

4 Comments
  1. kyndaerim says

    setuju tuhmam, nggak enaknya cuma saat honornya kecil sih, haha..

    1. Nurvita Indarini says

      Hu hu hu iya, Mam. Buat beli pulsa aja nggak cukup huaaa

  2. Just Awl says

    Waah mam, sudah lama juga ya dari 2004. Dari dulu saya selalu bercita-cita menjadi penulis, kalaupun gak full time minimal sampingan. Harus belajar banyak nih sama maam, hihi. Omong-omong soal banyak yg minta tolong ini, saya sering dengar dari teman-teman yg kuliah design, banyak juga orang2 yg menyepelekan pekerjaan mereka, bukan dihargain murah lagi, tapi minta digratisin terus karena katanya pekerjaan men-design untuk anak design pasti mudah. Ikut sedih dengarnya, ternyata hal ini juga berlaku di dunia tulisan. Sepertinya banyak orang kita yg belum bisa menghargai beberapa keahlian atau profesi yg membutuhkan daya kreatif dan imajinasi ya mom, padahal setiap profesi ada pros dan consnya.😟

    1. Nurvita Indarini says

      Masih harus banyak belajar aku tuh Kak 😀 Oh iya bener, pernah denger juga tuh teman-teman desain yang diminta bantuin ngedesain tapi gratisan. Ada juga penjahit diminta bantuan menjahit saudaranya tapi nggak dibayar. Terkadang karena merasa dekat, merasa yang bersangkutan bisa melakukannya, jadi kurang dihargai ya Kak. Semoga ke depannya bisa saling mengapresiasi yang sudah dikeluarkan untuk melakukan sesuatu 🙂

Leave A Reply

Your email address will not be published.