6 Alasan Mengapa Menulis Jadi Hal Penting dalam Hidup

Orang menulis karena berbagai alasan. Ada yang menulis karena pekerjaan, ada pula yang menulis karena hobi. Ada juga yang menulis untuk berbagi, dan ada pula yang menulis untuk merilis perasaannya. Bagaimana dengan saya, mengapa menulis?

Sejak kecil, saya memang suka menulis. Bagi saya yang kala itu masih duduk di sekolah dasar (SD), menulis buku harian adalah hal menyenangkan. Buku harian menjadi sahabat paling dipercaya.

Kepada buku harian, saya bisa menceritakan semua. Tentang hari yang begitu suram karena dimarahi orang tua. Juga tentang hari yang begitu cerah ceria lantaran kisah kecil bersama si cinta monyet.

Lalu saya kecil mulai bercita-cita. Saat dewasa kelak, saya ingin menjadi diplomat, jurnalis, atau peneliti. Allah Maha Baik. Salah satu cita-cita itu diwujudkan. Ternyata saya jadi salah satu orang yang beruntung. Menulis sesuai hobi dan dibayar.

Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini, saya telah meninggalkan pekerjaan yang jadi cita-cita di masa kecil. Meski begitu, kini pun saya masih menulis. Beruntung ada blog yang mewadahi penyaluran kata-kata di kepala dan dada. Menariknya, terkadang masih ada rezeki dari kegiatan ini.

Mama, yuk kita berefleksi bersama. Apa sih alasan kuat yang membuat kita terus terus menulis? Padahal sebagai ibu, kadang sudah disibukkan seabrek kegiatan di rumah yang tak kunjung usai. Mengapa masih menyempatkan diri menulis di waktu yang sempit?

Menulis Membuat Diri Lebih Menghargai Hidup

menghargai hidup
Ilustrasi menghargai hidup/ Foto dari Canva

Ada banyak momen yang berserakan dalam hidup kita. Terkadang momen itu biasa saja, sehingga kita abaikan. Namun, di masa depan, bisa jadi kita merindukan momen tersebut. Untuk “merawat” tetap hadirnya momen itu, maka cara terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menuliskannya.

Saat menulis, kita berkesempatan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri atau sudut pandang yang baru. Dari situ, kita berkesempatan “menjelajahi” dan belajar dari sebuah cerita.

Melalui tulisan, kita bisa mengasah empati. Kita pun bisa mengingatkan diri sendiri tentang apa yang sebenarnya penting dalam hidup. Singkatnya, dengan menulis, kita bisa lebih menghargai hidup.

Menemukan Makna Hidup

makna hidup
Ilustrasi makna hidup/ Foto dari Canva

Sering kali seseorang menulis untuk menemukan makna bagi dirinya sendiri. Uniknya, mereka juga bisa membantu orang lain yang membaca tulisannya untuk menemukan makna pula. Kita tidak akan pernah tahu kehidupan siapa yang bisa diubah oleh kisah kita.

Di blog saya yang lama, www.akupunmenulis.wordpress.com, saya kerap menulis kisah sehari-sehari. Kebanyakan adalah kisah miris mahasiswi yang bergantung pada beasiswa untuk bertahan hidup.

Ternyata ada beberapa orang yang mengirim pesan pada saya setelah membaca tulisan-tulisan tersebut. Katanya, dia jadi lebih bersemangat menjalani hidup dan berniat akan segera menyelesaikan kuliahnya.

Hiks, dari tulisan yang biasa saja, ternyata bisa jadi pelecut semangat orang lain.Benar-benar bikin saya terharu.

Wadah untuk Berefleksi

Menulis memungkinkan saya untuk berefleksi. Ketika anak saya genap berusia sepuluh tahun, saya jadi mengingat bahwa seumur itu pula peran ibu yang tengah saya jalani. Akhirnya lahirlah refleksi.

Ya, menulis memberi saya kesempatan untuk berefleksi. Saya jadi lebih memperhatikan hal-hal tentang diri saya dan orang lain, yang biasanya luput dari perhatian.

Menjadi Pembaca yang Lebih Baik

mengetik di halaman
Mengekspresikan diri melalui barisan kata/ Foto dari Canva

Menulis membuat saya bisa menjadi pembaca yang lebih baik. Keinginan untuk menghadirkan tulisan yang lengkap, memaksa saya untuk membaca lebih banyak sumber tertulis.

Agar tidak menyebarkan hoaks, tentu perlu mencari sumber-sumber tepercaya. Alhasil saya lebih hati-hati saat membaca, juga lebih memahami struktur tulisan.

Berbagi Pengalaman

Pengalaman kita, bisa menjadi sumber informasi bagi orang lain. Dengan menulis, saya bisa berbagi pengalaman apa pun. Pengalaman berwisata ke suatu tempat, mencicipi makanan tertentu, menyambangi hotel dan restoran tertentu, bahkan pengalaman mengalami sakit tertentu.

Saya ingat ada beberapa orang yang menghubungi saya lebih lanjut karena menemukan tulisan tentang pengalaman anak saya terkena roseola infantum. Mereka rupanya mengalami hal serupa. Ketika mencari informasi melalui mesin pencari, terdamparlah di blog saya.

Pun dulu ketika saya backpacking ke Ho Chi Minh City, Vietnam, cerita itu saya kupas tuntas di blog. Lagi-lagi ada beberapa orang yang terdampar karena membutuhkan informasi tersebut.

Mungkin kita tidak bisa membantu banyak hal pada orang lain. Akan tetapi secuil pengalaman yang dibagikan bisa jadi bermanfaat bagi lainnya.

Mengekspresikan Diri

Salah satu alasan mengapa menulis adalah untuk mengekspresikan diri. Terutama saat menulis blog, kita bisa mengekspresikan diri secara bebas. Kita bisa menyuarakan pendapat atas suatu isu, atau membuat kisah fiksi yang menggelitik rasa dan logika.

Blog seperti sebuah kanvas virtual yang bisa membuat kita mengekspresikan ide, pengalaman, dan wawasan. Tak sekadar menghibur atau memberi informasi kepada orang lain; tetapi blog juga menciptakan identitas kita di ranah daring.

Di Masa Depan, akan Menjadi Penulis Seperti Apa?

ilustrasi penulis
Ilustrasi penulis/ Foto dari Canva

Di usia yang tidak lagi muda (ehem!) sering kali saya tidak berani berekspektasi terlalu tinggi. Apalagi saya sudah merasakan berbagai pengalaman di bidang tulis-menulis.

Saya pernah lama berada di media massa online. Pernah juga menjadi penulis lepas. Pernah juga menjadi penulis buku, meski masih berupa antologi. Jadi, terkadang, saya merasa kegiatan kepenulisan yang saya lakukan lebih untuk mengisi waktu dan wadah aktualisasi diri.

Namun, sempat terlintas di benak, kelak akan kembali menekuni pekerjaan sebagai penulis lepas. Kebetulan tahun ini si bungsu masuk sekolah taman kanak-kanak (TK), sehingga saya punya “waktu bebas” selama sekitar tiga jam setiap harinya.

Mungkin juga akan lebih mendalami pekerjaan sebagai bloger. Berfokus mencari penghasilan dari blog. Ya, mengingat suami adalah karyawan swasta yang pasti tidak akan selamanya memiliki penghasilan seajek sekarang. Sepertinya sudah saatnya saya kembali membantu perekonomian keluarga.

O, ya, saya masih punya impian melahirkan buku solo. Keinginan yang sejak dulu baru berhenti di niat. Semoga niatnya lebih kuat, dan eksekusinya pun dipermudah. Aamiin.

Penutup

Selalu ada alasan di balik setiap kegiatan, termasuk alasan mengapa menulis. Dibela-belain begadang sampai larut untuk menyalurkan kata yang berjejalan di pikiran, tentu ada alasan kuatnya.

Apa pun alasannya, semuanya baik. Mengetahui alasan kuat mengapa menulis akan membantu mendukung diri menjadi penulis yang lebih baik. Bukankah segala kegiatan yang memiliki tujuan akan jauh lebih bermakna?

Kata orang, setiap tulisan akan menemukan pembacanya. Bagi saya, tulisan bisa mempertemukan dengan pasangan jiwa. Jika penasaran dengan ceritanya, bisa baca juga tulisan Bertemu Jodoh Hingga Mengais Cuan dengan Menulis Blog.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.