Ketika Realita Vs Ekspektasi Berbuah Kekecewaan

Ekspektasi dan realita memang tak selalu sejalan. Sering kali terjadi, realita vs ekspektasi bikin kecewa karena tak seindah yang diangankan.

Ekspektasi adalah pengharapan. Ketika pengharapan pada orang lain terlalu tinggi, maka bisa memunculkan kekecewaan. Hal terbaik untuk mencegahnya adalah dengan menurunkan ekspektasi.

Sebenarnya memiliki ekspektasi tinggi pada sesuatu atau pada orang lain itu wajar. Merasakan kecewa juga lumrah. Tetapi ketika kekecewaan dirasakan, imbasnya bisa ke mana-mana. Apalagi kecewa sudah pasti nggak enak banget, bisa membuat mood berantakan.

Artikel bermanfaat lainnya bisa disimak di sini: Pentingnya Mengenali Passion Anak

Oh ya, dalam tulisan ini saya ingin berbagi tentang ekspektasi yang kaitannya dengan hubungan atau relationship. Dalam suatu hubungan, idealnya ketika kita bersikap baik pada seseorang maka yang bersangkutan akan bersikap sama.

Ketika kita memberi sesuatu dengan hati, maka akan mendapat respons yang baik. Berharap orang lain akan menggunakan cara kita untuk melakukan sesuatu yang terbukti ampuh. Itu semua ekspektasinya. Namun, sekali lagi, realita vs ekspektasi tidak selalu sama indahnya.

Realitas Vs Ekspektasi yang Bikin Baper

Realita vs ekspektasi, Foto: Joshua Rawson-Harris dari Unsplash

Saya beberapa kali berharap berlebihan pada seseorang. Misalnya ketika saya mengirim buatan sendiri ke orang lain. Harapannya ada ucapan terima kasih dan response. Namun, sedikit response tidak didapat.

Contoh lain adalah saat suami memasak. Untuk sekali makan siang kami bertiga, dia menggunakan kentang setengah kilogram dan telur setengah kilogram juga. Makanan apa yang dia masak? Telur dadar kentang! Jujur, buat saya itu pemborosan. Kenapa suami tidak pakai resep atau menu yang biasa saya gunakan?

Realita vs ekspektasi yang bertentangan banget bikin saya baper. Mood nggak oke. Rasa-rasanya ingin menumpahkan kekesalan. Cuma kalau dipikir-pikir kok sepele banget penyebab marah saya. Masukan dari Mbak Yesi, salah seorang widyaiswara di Institut Ibu Profesional membuat adem.

Yuk, baca tulisan menarik lainnya: Memutuskan Menjadi Stay at Home Mom Tak Selalu Mudah

“Bagaimana kalau diganti strong why-nya, ganti alasan kita melakukan sesuatu. Misalnya begini, saya menulis blog adalah untuk warisan kepada anak-anak saya yang masih kecil. Agar kelak ketika mereka dewasa, bisa membaca kisah masa lalu dengan gembira. Andai saya tidak punya waktu mengisahkan masa silam, anak akan tetap bisa melihat kenangan itu via tulisan ibunya,” tutur Mbak Yesi melalui pesan singkat.

Dengan begitu, maka kita tidak akan memikirkan apakah konten kita bakal dikomentari atau mendapat like dari orang lain. Tetap ingat tujuan utama menulis adalah menuangkan kisah. Sedangkan jika ada yang memberi like atau komentar positif, maka itu adalah bonus.

“Hal yang sama dengan menjahit misalnya, jika kita membuat gamis dan terasa nyaman di badan, ini sudah merupakan sebuah pencapaian. Jika ada yang memuji, ya itu sudah bonus point,” lanjut Mbak Yesi.

Tanda Realita Vs Ekspektasi Menjadi Gangguan

Dalam beberapa hal, penyebab stres adalah karena ekspektasi tinggi pada suatu hal. Sering kali hal ini terjadi karena kita ingin mengontrol hasil dan orang lain. Namun, nyatanya itu semua di luar kuasa kita.

Harley Therapy menyebut ada beberapa hal yang menjadi tanda bahwa ekspektasi sudah mengganggu hidup, sehingga rentan membuat stres. Yuk, disimak, Mama.

  1. Sering merasa orang lain membuat kita terpuruk.
  2. Orang lain menyebut kita perfeksionis atau terlalu kritis.
  3. Ada perasaan tidak puas, frustrasi, atau bahkan kekosongan yang terus-menerus dalam hidup.
  4. Sering memiliki dendam akibat terlalu berharap pada orang lain.
  5. Sering menyalahkan diri sendiri, karena harapan yang terlalu tinggi pada diri sendiri.

Berbagai Kondisi Terkait Ekspektasi Tinggi

Harley Therapy menyebut ada beberapa isu psikologis terkait ekspektasi tinggi, yakni:

  1. Perfeksionis
  2. Rendahnya harga diri
  3. Keyakinan inti negatif, di mana seseorang merasa dirinya harus sempurna untuk dicintai dan ingin memegang kontrol.
  4. Takut gagal.
  5. Borderline personality disorder, yaitu ketika memiliki harapan yang tidak realistis, sehingga gagasan yang dikemukakan sangat menyimpang dari orang lain.

Penyebab Ekspektasi Tinggi

Banyak yang meyakini seseorang memiliki ekspektasi tinggi akibat kebiasaan. Bisa saja karena orang tua selalu menuntut yang terbaik pada anaknya. Bisa juga karena seseorang bersama dengan orang-orang yang akan selalu marah besar saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.

Bila kita saat ini sering berekspektasi terlalu tinggi sehingga realita vs ekspektasi benar-benar bikin stres, yuk belajar menurunkannya. Belajar menurunkan ekspektasi, lebih fokus pada tujuan yang lebih besar, serta sedikit lebih santai. Juga belajar untuk menerima bahwa kita bukan pusat semesta, serta dua tangan yang dimiliki tidak sanggup membuat segala hal berjalan sesuai keinginan.

Satu lagi. Jangan sampai anak-anak kita menjadi sosok yang mudah stres dan kecewa akibat realita vs ekspektasi yang tidak sejalan. Untuk itu, mereka butuh role model yang tepat. Siapa lagi kalau bukan kita, orang tuanya.