Memutuskan Menjadi Stay at Home Mom Tak Selalu Mudah

Bertahun-tahun bekerja, kemudian memutuskan menjadi stay at home mom alias ibu di rumah bukanlah hal mudah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Apalagi saat berdamai dengan rentetan pertanyaan yang menyertai kemunduran dari tempat kerja.

“Memangnya nggak sayang ya sudah 11 tahun lho di sini,” ujar karyawati bagian finance saat saya mengurus clearence exit.

“Sayang ijazahnya kalau cuma di rumah aja,” imbuh yang lain.

“Di rumah pasti membosankan, nggak akan betah,” tambah teman lainnya.

Mendengar kalimat-kalimat itu, jujur ada sedih yang menyelinap. Bukan karena diri ini akan kehilangan beberapa rupiah, lantaran tak lagi mendapat gaji setiap tanggal 28. Bukan pula karena kehilangan sarana aktualisasi diri.

Baca juga artikel menarik lainnya: Pregnancy Brain, Kondisi yang Bikin Ibu Hamil Sering Lupa

Kalimat-kalimat yang saya dengar itu seolah mengukuhkan stigma ibu di rumah tidak berdaya. Bagi saya seolah juga mengamini pendapat bahwa keputusan resign lalu menjadi stay at home mom akan berakhir pada penyesalan. Terlebih, ada yang bersuara lantang saat menyayangkan ijazah sekolah yang sudah susah payah didapat, namun akhirnya malah ‘hanya di rumah’.

Stay at home mom/ Foto: Bench Accounting di Unsplash

Jujur, saya dan suami tidak menyesal dengan keputusan ini. Bagi kami ini keputusan terbaik. Lagi pula buat apa mendapat gaji beberapa juta rupiah tapi kenyamanan jadi tumbal, hingga berujung pada psikosomatik.

Berkarya dari Rumah

Stay at home mom bukan kasta terbawah. Banyak ibu di rumah yang bisa menunjukkan karyanya. Tidak melulu harus menghasilkan pundi-pundi rupiah, karena tidak segala hal di dunia ini harus dimateri.

Setelah menjadi stay at home mom, saya jadi bertemu ada banyak ibu yang hebat. Ibu-ibu yang bisa menjalankan beberapa hal sekaligus tanpa kehilangan banyak waktu bersama anak. Saya pernah jadi ibu bekerja, dan kini pun menjalani kehidupan jadi ibu di rumah. Mana yang keren? Mana yang lebih enak? Dua-duanya keren. Soal enak dan tidak enak itu relatif, pasti ada keunggulan dan kelemahannya. Terlepas dari apa pun keputusan yang kita ambil, pasti ada sejumlah alasan di baliknya dan sudah dipikirkan masak-masak. Tidak perlu saling menghakimi dan merasa paling wow dari yang lain.

Ilustrasi stay at home mom/ Foto: Tanaphong Toochinda di Unsplash

Dulu saat menjadi ibu bekerja di kantor, saya memang punya sejumlah privilege yang sangat saya banggakan. Saya begitu menyukai pekerjaan yang telah digeluti 12 tahun lamanya. Bahkan saya rela Sabtu dan Minggu harus tetap menghadapi laptop dan ‘menomorduakan’ buah hati saya. Sekarang kalau ingat masa-masa itu, rasanya ingin sekali menangis. Rasa bersalah itu sepertinya terlalu besar.

Kini setelah menjadi ibu di rumah apakah ijazah saya tidak terpakai? Mungkin memang tidak, tapi ilmu yang saya dapat pun masih bisa bermanfaat. Setidaknya bisa menceritakan tank dan beberapa alat tempur pada putra saya. Setidaknya saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sains yang terlontar dari mulut si kecil. Lagipula nggak ada ilmu yang sia-sia, bukan?

Apakah saya bosan di rumah? Tidak juga. Alhamdulillah saya menyukai waktu bisa bermain dan beraktivitas bersama anak. Sesekali kami berdua jalan-jalan, melihat banyak hal, lalu mengobrolkannya bersama.

Ilustrasi bekerja dari rumah/ Foto: William Iven dari Pixabay

Pekerjaan saya sebelumnya memang nggak jauh-jauh dari menulis dan editing artikel. Nah, alhamdulillah saat ini masih ada yang mempercayai untuk menulis artikel. Istilah kerennya, saya jadi freelance conten writer. Alhamdulillah juga saya jadi punya waktu untuk menulis buku antologi. Siapa tahu ini langkah awal untuk bisa menulis buku solo atau buku cerita anak-anak seperti impian saya.

Saat Menjalani, Apakah Mudah Juga?

“Sudah nggak kerja kantoran kok rumah masih saja berantakan?”
“Enak ya, di rumah saja, bisa santai-santai.”
“Sudah jadi ibu di rumah kok nggak masak?”

Ilustrasi perempuan mengobrol tentang stay at home mom/ Foto: Trung Thanh dari Unsplash

Bagi para stay at home mom, pernahkah mendengar kalimat-kalimat seperti itu? Duh, geram rasanya ya. Bikin kuping merah! Oke, stay cool, Mama. Terkadang orang asal bicara tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi daripada stres, mending anggap saja angin lalu.

Ya, mereka nggak tahu sudah berapa kali kan kita membereskan rumah. Namanya di rumah ada anak, tentu sulit untuk membuat keadaan rumah selalu rapi jali. Anak-anak maunya bermain dan bereksperimen. Kendati anak-anak akan membereskan sendiri, tapi tetap saja tidak serapi yang diharapkan.

Soal santai-santai di rumah, benarkah memang bisa luar biasa santai setelah jadi stay at home mom? Kalau buat saya sih nggak. Maklum, di rumah nggak ada asisten rumah tangga. Saya kerjakan semua sendiri. Paling untuk urusan seterika, saya minta bantuan ke teman yang membuka usaha laundry.

Baca artikel menarik lainnya ya: Manfaat Semangka bagi Ibu Hamil

Meski lebih banyak waktu di rumah, terkadang saya masih membeli sayur dan lauk matang di warteg. Karena malas masak? Nggak juga sih. Terkadang pekerjaan di rumah sedang banyak. Kadang ada deadline yang menghantui sehingga membuat diri ini harus duduk lebih lama di depan laptop, disambil mengasuh anak, mengantar anak ke tempat les, dan lainnya.

Stay at home mom/ Foto: Tanaphong Toochinda dari Unsplash

Ketimbang mengucapkan kalimat yang bikin sesama ibu, baik ibu bekerja maupun ibu di rumah, sedih dan jadi demotivated mendingan sih diam saja. Atau nggak ada salahnya juga kan yang terlontar adalah kalimat penguatan. Bikin orang lain senang dan semangat, insya Allah ada ganjarannya.

Apa pun pilihan kita saat ini, tentu sudah melalui sejumlah pertimbangan matang. Tidak ada yang berhak menghakimi kita, atau menyalahkan keputusan yang kita ambil. Tentu saja, karena kita yang paling tahu hidup kita, kita yang paling paham keluarga kita, dan kitalah yang menjalaninya.

2 Comments
  1. Kyndaerim says

    Menjadi full time mommy memang keputusan yg agak berat ya mam. Tapi demi apapun itu, yg penting waktu kita lebih banyak buat anak san keluarga. Semangat mam yaaa 😀

    1. Nurvita Indarini says

      Iya Mam, banyak yang dipertimbangkan. Tapi waktu membersamai anak dan keluarga nggak tergantikan, jadi harus semangat ya Mam. Thank you semangatnyaa Mam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.