Pengalaman Anak Terkena Roseola Infantum

Suatu pagi, badan si kecil yang berusia 14 bulan teraba lebih hangat dari biasanya. Saya belum ngecek berapa suhu pastinya, lantaran si kecil masih cukup aktif. Makannya pun lumayan banyak. Awalnya, tidak terpikir sama sekali si bayi terkena roseola infantum.

Nah, di sore hari, badannya semakin bertambah hangat. Sekitar 37,5 derajat Celcius. Maunya nempel terus sama mamanya. Bahkan saat tidur juga kelihatan gelisah dan tidak nyaman. Kentang tumbuk habis dimakannya, tetapi tidak lama dia muntah.

Sumeng-sumeng ini berlangsung sekitar tiga hari. Pernah juga mencapai 38,5 yang kemudian membuat kami memberikan penurun panas. Saya bingung sekali, ini anak sakit apa ya. Batuk enggak, pilek juga enggak. Setiap kali dia mandi, saya raba dan perhatikan kulitnya, siapa tahu ada “bibit” cacar air. Namun, hasilnya nihil.

Di hari keempat, muncul ruam kemerahan di tubuhnya. Awalnya saya kira biang keringat atau keringet buntet. Lha, tapi kok jadi makin banyak begini, sampai ke wajah pula. Mau dibawa ke rumah sakit, tapi rada-rada parno karena pandemi begini. Akhirnya kami observasi sendiri perkembangan si kecil. Berdasarkan pengalaman, baca artikel di ibupedia, dan konsultasi online, dipastikan si bayi terkena roseola infantum.

Apakah Mama pernah punya pengalaman anaknya terkena roseola infantum? Kalau nama penyakit ini terdengar tidak familiar, yuk baca sampai akhir tulisan ini ya, siapa tahu ada manfaat yang bisa diambil.

Tanda Anak Terkena Roseola Infantum

Demam, salah satu gejala roseola infantum/ Foto: Canva

Roseola umumnya dialami anak-anak usia enam bulan sampai dua tahun. Meski demikian, orang dewasa juga bisa mengalami roseola, lho, meskipun sangat jarang.

Lalu jika sudah pernah kena roseola infantum apakah bisa kena lagi? Biasanya sih nggak ya, Ma. Hanya saja, anak saya sudah dua kali kena roseola ini. Pertama, saat dia berumur tujuh bulan. Nah, yang kedua baru-baru ini di usianya yang 14 bulan.

Umumnya penyebab roseola adalah human herpesvirus 6 (HHV-6), dan dalam kasus yang lebih sedikit disebabkan oleh human herpesvirus 7 (HHV-7). Setelah terinfeksi virus ini, biasanya gejala roseola muncul sekitar satu hingga dua minggu.

Nah, berikut ini beberapa tanda atau gejala roseola infantum:

  1. Demam

Infeksi virus biasanya mengakibatkan munculnya demam. Ini pula yang terjadi saat si kecil terinfeksi virus penyebab roseola infantum. Demamnya bisa jadi sangat tinggi, sampai di atas 39 derajat Celcius. Itu makanya kita perlu mewaspadai munculnya kejang demam pada anak. Nah, demam bisa dialami anak selama tiga hingga tujuh hari.

Anak saya demamnya sekitar empat hari. Untuk mengurangi demam, anak diajak mandi air hangat. Selain itu diberi pakaian tipis. Saat tidur juga tidak perlu pakai selimut tebal agar panasnya tidak “terkurung”. Selain itu, kita juga harus pastikan anak mengasup cairan yang cukup.

  1. Muncul Ruam
Di foto ruamnya kurang kelihatan ya, tapi aslinya merah-merahnya cukup tampak. Efek kamera dari handphone jadul sepertinya.

Ruam kemerahan adalah tanda lain dari roseola yang bisa terlihat. Ruam ini muncul setelah demam reda. Anak saya mengalami ruam di perut dan dada, lalu meluas hingga ke leher dan ke wajahnya.

Seperti apa ruamnya? Penampakannya berupa bercak merah yang datar di kulit. Hanya saja ada variasi lain, di mana ruamnya sedikit mencuat, jadi kalau diraba terasa sedikit kasar. Ruam ini bisa menghilang dalam hitungan jam hingga hari. Anak saya kondisinya berangsur membaik dan benar-benar bersih dari ruam setelah tiga hari.

Ternyata roseola nggak selalu menimbulkan ruam. Kondisi seperti inilah yang membuat orang tua nggak sadar anaknya mengalami roseola.

  1. Pilek dan Batuk Ringan

Saat awal-awal demam, hidung anak saya agak berair dan terkadang dia batuk-batuk meski ringan sekali. Saya sempat menduga si kecil bakal flu nih. Rupanya roseola dapat memunculka gejala seperti flu. Nggak cuma pilek dan batuk, anak-anak juga bisa mengalami sakit tenggorokan dan pembengkakkan kelenjar gerah bening.

Ketidaknyamanan bikin anak dengan roseola infantum mudah rewel/ Foto: Canva
  1. Rewel

Walaupun anak saya mau main di tengah demamnya, tapi dia lebih rewel dari biasanya. Maunya nempel terus sama mamanya. Selain itu jadi lebih sensitif. Sedikit-sedikit nangis.

Konon ruam pada roseola tidak gatal sehingga tidak akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, yang namanya sedang sakit pasti nggak nyaman ya, Ma?

Sering kali saya dapati tangan dan tubuh anak saya berkeringat, tetapi teraba dingin. Saya kurang nyaman menyentuhnya sih. Nah, mungkin si kecil juga nggak nyaman dengan keringatnya. Saya lantas ajak dia berendam di ember mandinya agar lebih nyaman. Apalagi anak saya sukanya main air. Jadi harapannya sih dia jadi lupa pada sakitnya.

  1. Hilang nafsu makan

Selama demam dan muncul ruam, nagsu makan anak saya turun drastis. Aneka makanan yang biasanya lahap disantap tak lagi dilirik. Bahkan ada kalanya makanan yang disuapkan malah dilepeh. Ya ampun, kalau cuma makan beberapa sendok, nanti kalau lemas gimana?

Namanya sedang sakit, nafsu makan pasti menurun. Nggak apa-apa, diberi makanan sedikit-sedikit tapi sering saja, Ma.

Oh ya, selain kehilangan nafsu makan, sakit perut dan diare juga sering dialami anak-anak yang terkena roseola infantum. Alhamdulillah, kemarin anak saya tidak diare.

Anak Terkena Roseola Infantum, Bolehkah Mandi?

Ayo, mandi agar badan bersih.

Beberapa orang menyebut roseola infantum dengan istilah gabagen. Nah, saat anak-anak mengalami gabagen, salah satu saran yang kerap didengar adalah “jangan dimandikan.”

Benarkah anak yang kena roseola infantum tidak boleh mandi? Jawabannya tidak benar. Justru anak harus mandi secara rutin agar nyaman. Badan bersih tentu bikin nyaman, bukan?

Apalagi jika anak sedang demam, mandi air hangat bisa membantu menurunkan demam. Ingat ya, Mama, mandi pakai air hangat, bukan air dingin saat anak demam. Mandi air dingin saat demam justru bisa bikin anak menggigil.

Mengutip saran dari Ibupedia, air mandi anak bisa dicampur dengan chamomile. Beberapa tetes herba chamomile bisa mengurangi ruam roseola.

Perbedaan Campak, Rubella, dan Roseola

Sekilas campak, rubella, dan roseola tampak sama. Namun, sebenarnya ketiganya merupakan penyakit yang berbeda.

Campak

Campak atau rubeola disebabkan oleh virus campak yang merupakan bagian dari keluarga Paramyxoviridae. Campak ditandai demam yang disertai munculnya ruam. Jadi, ruam tidak muncul saat demam reda, melainkan muncul saat tubuh masih demam. Ciri khas campak adalah demam menghilang saat ruam berhenti menyebar.

Ruam campak berwarna merah atau cokelat kemerahan. Kemunculan ruam campak bermula di wajah, lalu menjalar turun ke bagian tubuh lainnya, hingga kaki. Ruam berlangsung selama lima atau enam hari, tetapi ada pula orang dengan campak yang tidak mengalami ruam.

Mama, inilah foto ruam campak dari CDC.

Penampakan ruam campak. Foto: CDC

Salah satu tanda lain keberadaan campak adalah munculnya bintik-bintik kecil di dalam mulut, utamanya di area pipi bagian dalam. Warna bintik-bintik ini adalah merah yang bagian tengahnya berwarna biru keputihan. Bintik-bintik ini disebut bercak koplik. Nama koplik ini diambil dari nama seorang dokter anak yang pertama kali menjelaskan gejala awal campak di tahun 1896, Henry Koplik.

Vaksin measles, mumps, and rubella (MMR) adalah ikhtiar untuk mencegah terkena penyakit campak. Saat terkena campak, pasien akan merasa lemas dan sulit beraktivitas seperti biasa. Saran terbaik untuk orang yang sedang sakit campak adalah istirahat agar tubuh segera pulih. Mengkonsumsi penurun panas seperti parasetamol dan ibuprofen juga bisa dilakukan saat demam melanda.

Campak Jerman atau Rubella

Rubella merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Saat terkena penyakit ini, tanda pertamanya adalah munculnya ruam merah di wajah yang akan menyebar ke seluruh tubuh.

Ruam tersebut mirip sekali dengan ruam campak, hanya saja penyebarannya tidak semasif campak. Ruam ini biasanya dialami selama tiga hari, sehingga campak jerman terkadang disebut juga campak tiga hari.

Beginilah penampakan ruam rubella dari CDC.

Ruam rubella/ Foto: CDC

Sebelum ruam muncul, biasanya muncul tanda atau gejala lainnya seperti sakit kepala, demam, batuk, pilek, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Namun, kita perlu memahami juga, bahwa 25 hingga 50 persen orang yang terinfeksi rubella tidak akan mengalami gejala apapun.

Walaupun menular, tetapi rubella tidak semenular campak. Tingkat keparahan saat terkena rubella pun lebih ringan ketimbang campak. Namun, apabila dialami ibu hamil, berisiko membahayakan tumbuh kembang janin.

Ibu yang terinfeksi rubella saat hamil, berisiko keguguran atau melahirkan bayi dengan kecacatan. Perlindungan terbaik terhadap rubella adalah dengan vaksin MMR.

Roseola

Roseola disebut juga exanthem subitum dan sixth disease atau penyakit keenam. Ini merupakan infeksi ringan, sehingga umumnya tidak perlu mendapatkan penanganan medis khusus.

Daya tular roseola juga jauh lebih rendah ketimbang campak dan rubella, sehingga tidak sampai mengakibatkan wabah. Perbedaan paling kentara roseola dengan campak dan rubella adalah ruam yang baru muncul setelah demam reda. Selain itu, ruam roseola pertama kali muncul di area perut, bukan dari wajah kemudian menyebar seperti campak dan rubella.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini gambaran ruam roseola dari DermNetNZ.

Ruam roseola/ Foto: DermNetNZ

Alhamdulillah sekarang anak saya sudah sembuh dari roseola infantum. Dia sudah nggak rewel lagi seperti sebelumnya. Meski begitu, kalau perkara membuntuti mamanya masih terus dilakukan dong. Sehat selalu ya mama dan keluarga di rumah. Semoga informasi ini bermanfaat.

Referensi:

NYC Health. Common Rashes/ Illnesses in Children. https://www1.nyc.gov/assets/doh/downloads/pdf/imm/rash-poster.pdf diakses pada 22 Juni 2021.

Mayo Clinic. Roseola. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/roseola/symptoms-causes/syc-20377283 diakses pada 22 Juni 2021.

CDC. Rubella. https://www.cdc.gov/rubella/pregnancy.html diakses pada 22 Juni 2021.

Ibupedia. Waspadai Roseola pada Bayi. <https://www.ibupedia.com/artikel/kesehatan/waspadai-roseola-pada-bayi> diakses pada 22 Juni 2021.

5 Comments
  1. mutiarasanova says

    Aku baru tau nih istilah Roseola infantum selama ini taunya campak aja ternyata banyak jg ya istilahnya yg berbeda , thanks mom buat ulasannya membantuk aku bgt utk membedakan karena anakku blm pernah ngalamin, jd buat referensi aku ke depannya

  2. Nia says

    Anak pertama ku dulu juga pernah kena roseola, awalnya dikira campak tapi ternyata roseola. Sehat-sehat ya Mom untuk kita semua.

  3. Mirza says

    Makasih banyak infonya. Makin tau banyak soal roseola abis baca ini. Ternyata beda ya campak dengan roseola

  4. Ajeng says

    Baru tau banget ada penyakit roseola ini mom, terus penanganan buat menghilangkan ruam yg muncul gimana mom? Dikasih obat kah? Atau bisa hilang nilang sendiri ruamnya?

  5. annisa biru says

    Ya ampun. Mirip2 ya ruam2 nya antara campak, rubella dan roseola. Anakku udah pernah kena roseola bs kena lagi kah?

Leave A Reply

Your email address will not be published.