Setahun Lalu, Saya Melahirkan Saat Pandemi Covid-19

Setiap kehamilan dan persalinan membawa cerita masing-masing. Anak kedua ini terasa “spesial” lantaran dirinya lahir saat dunia tengah diselimuti pandemi Covid-19.

Tak pernah menyangka kehadiran anak kedua ini begitu sepi. Tidak ada sanak keluarga yang datang membesuk. Sejak hari pertama berstatus ibu dua anak, semua hal dikerjakan sendiri saja. Hm, tidak mudah memang melahirkan saat pandemi Covid-19. Namun, selalu ada hikmah di baliknya.

Selama hamil muda sampai sekitar minggu ke-30, saya ke mana-mana naik transportasi umum. Saat mengantar anak les di Depok, ikut kelas kepenulisan bersama Forum Lingkar Pena (FLP Jakarta), atau saat ikut event, selalu mengandalkan kereta rel listrik (KRL). Untuk keperluan belanja kebutuhan pokok, sampai usia kehamilan 32 minggu pun masih naik sepeda motor sendiri.

Tak banyak orang yang tahu bahwa saya tengah berbadan dua. Maklum, perut ini tak besar-besar amat. Belum lagi baju gombrong dan jilbab besar yang dipakai, sempurna menutupi baby bump.

Maret 2020, Ketika kasus Covid-19 Pertama Diumumkan

Pengalaman melahirkan saat pandemi/ Foto: Miguel Á. Padriñán dari Pixabay

Mama, masih ingat kasus pertama Covid-19 diumumkan? Ya, 2 Maret 2020. Saat itu usia kandungan saya sekitar 35 minggu.

Kehamilan yang semakin tua membuat hal-hal biasa terasa tidak nyaman. Misalnya jika biasanya saya kuat mengetik sambil duduk di lantai dalam waktu lama, maka hal itu tak lagi terasa nyaman. 10 Menit saja sudah tidak betah.

Berdiri di depan kompor untuk memasak pun rasanya nyaris tidak betah. Keringat dengan begitu mudah membanjir. Nyaman tidak nyaman harus dinyamankan. Ya, saya harus bekerja demi tambahan cuan. Saya harus memasak sendiri demi memastikan makanan yang dimakan benar-benar higienis.

Sejak kasus Covid-19 diumumkan, suami mulai bekerja dari rumah. Cukup membantu dalam beberapa hal. Meski memang, di hal-hal yang lain saya masih turun tangan sendiri. Misalnya mengantar anak wisuda Bimba atau mengambil worksheet di tempat les si sulung.

Periksa Kehamilan di Jakarta Selatan

Periksa kehamilan di BWCC Jagakarsa/ Foto: Instagram BWCC Jagakarsa

Sejak pertama kali hamil, saya melakukan cek kehamilan di Klinik Fakhira Aisyiyah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dokter kandungan yang memeriksa berganti-ganti. Dokter yang pertama kali memastikan kehamilan anak kedua adalah dr Nadia Savira, SpOG. Dokternya baik, informatif, dan sabar.

Selanjutnya, pemeriksaan kandungan dilakukan sekitar 3 bulan kemudian. dr Vetta (duh lupa nama lengkapnya) yang melakukan pemeriksaan. Dokternya juga baik banget, informatif, dan seru. Oh iya, periksa USG 2 dimensi murah lho di Klinik Fakhira Aisyiyah Jagakarsa, hanya Rp 150 ribu, sudah termasuk print foto USG 2D.

Namun, di beberapa pemeriksaan selanjutnya, dr. Denis, SpOG-lah yang menangani. Sejak kehamilan sebelumnya, saya kurang nyaman dengan dokter kandungan laki-laki. Namun, tidak ada pilihan lain. Meski begitu, dr. Denis juga baik banget, ramah, dan jelas sekali saat memberikan informasi.

Memasuki usia kandungan 30 minggu, saya mengalihkan pemeriksaan kandungan ke Bintaro Women Children Clinic (BWCC) Jagakarsa. Alasannya karena berniat melahirkan di sana. dr Andi Fatimah, SpOG menjadi pilihan dokter kandungannya.

dr Mima, panggilan akrabnya, ramah menyambut kedatangan kami untuk pertama kalinya di 14 Februari 2020. Saat pertama datang, saya membawa foto USG dan perintilan dari dokter fetomaternal. Semua oke, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Alhamdulillah.

Ruang periksa kehamilan di BWCC Jagakarsa/ Foto: Instagram BWCC

Sebelumnya, saat USG si Debay enggan menampakkan wajahnya. Bahkan ia selalu menyembunyikan jenis kelaminnya. Baru saat dicek ke dokter feto, dia berani membuka diri. Lalu saat USG pertama kali dengan dr Mima, Debay menggerak-gerakkan mulutnya seperti ikan. Lucu sekali.

Beberapa kali saya cek kehamilan sendiri ke BWCC naik ojek online bersama Taqi, si sulung. Para Mama yang ke mana-mana membonceng sepeda motor saat hamil pasti tahu benar bagaimana tidak nyamannya. Taqi berada di tengah bersama perut yang membelendung.

Hujan-hujanan kami tempuh demi memeriksakan si Debay. Kadang saat pulang dari klinik, Taqi tidur di atas ojek. Agak susah ya menahan badan Taqi dan menahan keseimbangan diri. Namun, inilah yang terbaik. Daripada kena macet bila harus naik taksi.

Oh ya, mulai Maret 2020 itu, saya harus pakai masker setiap kali kontrol kandungan. Pengantar pun hanya dibolehkan satu orang saja, dan anak kecil kurang dari 12 tahun tidak diperkenankan ikut. Namun, karena Taqi nggak mungkin ditinggal ya akhirnya tetap dibolehkan juga dibawa serta.

April 2020, Ketika si Kecil akan Lahir

Hari itu, 4 April 2020, jam menunjukkan pukul 04.30 WIB. Saya bergegas bangun untuk menunaikan salat subuh.

Setelah itu, bersiap menghadapi laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang hampir mencapai deadline. Duh, kebelet pipis dan ada rasa tidak nyaman di area bawah sana.

Seusai buang air kecil, saya kembali duduk menghadapi laptop. Tiba-tiba merasa seperti ada air keluar dari vagina, tapi saya yakin itu bukan pipis. Buru-buru ke kamar mandi lagi. Lalu, terjadilah yang saya duga. Ketuban pecah, airnya mengalir tanpa bisa ditahan.

Dengan tertatih-tatih, saya membangunkan suami. “Yah, ayo salat, siap-siap ke BWCC ya. Ini ketuban udah pecah.”

Suami kaget lalu bergegas bersiap. Saya menyeret tas perlengkapan persalinan, sambil menyiapkan perbekalan. Nasi dan ayam kecap yang dimasak semalam dimasukkan dalam kotak. Tak lupa buah-buahan yang ada, semua masuk ke tas bekal.

Taqi antusias adiknya akan lahir. Dengan pintarnya dia segera salat subuh dan mandi, lalu menyiapkan worksheet dan pelengkapan yang ingin dia bawa. Ngeeeng. Kami pun melaju ke BWCC. Di jalan, saya mengirim WA ke BWCC untuk memberitahukan kondisi kehamilan terkini.

Kontraksi mulai terasa. Seer. Air ketuban terasa keluar kembali. Duh! Apa ini, suami malah salah ambil jalan, sehingga kami harus putar arah lumayan jauh. Saya hanya bisa berdzikir dan mengajak bicara Debay agar dia tidak buru-buru lahir. Lahiran di jalan kan berabe ya, Ma…

Pengalaman Melahirkan Saat Pandemi Covid-19 di BWCC Jagakarsa

Sesampainya di BWCC Jagakarsa, saya segera mengonfirmasi kondisi ke resepsionis. Saat itu, air ketuban kembali merembes tanpa ampun. Saya diminta untuk masuk ke ruang rawat di lantai tiga.

Saya datang dengan mengenakan masker. Demikian pula dengan suami dan Taqi. Kala itu belum ada kewajiban untuk rapid test atau PCR.

Pelan-pelan saya naik tangga sambil memegangi perut dan khawatir air ketuban tercecer. Segera saja kami masuk ke ruang persalinan.

Melahirkan di BWCC Jagakarsa/ Foto: Instagram BWCC Jagakarsa

Di ruangan tersebut, bidan melakukan pemeriksaan dalam. Rupanya baru pembukaan satu. Tak lama, saya diminta menunggu di ruang perawatan yang ada di seberang ruang bersalin.

Ruangan yang saya masuki memiliki satu bed, satu sofa bed, AC, dan televisi. Tidak ada kulkas dan kamar mandi dalam. Rupanya semua kamar di BWCC memang seperti itu. Suster memberi pispot untuk membantu buang air kecil. Mengingat ketuban sudah pecah, saya tidak boleh terlalu banyak berdiri atau berjalan.

Kontraksi beberapa kali datang. Saya juga beberapa kali pipis di pispot dengan bantuan suami. Mumpung masih enak makan, saya makan makanan yang diberikan oleh BWCC, meskipun tidak banyak.

Yuk, baca juga: Pregnancy Brain, Kondisi yang Bikin Ibu Hamil Sering Lupa

Perjuangan di Ruangan Bersalin

Setelah beberapa jam, pembukaan sudah sampai ke-8. Kontraksi semakin intens dirasakan. Hingga akhirnya saya menunggu pembukaan lengkap di ruang bersalin.

dr. Mima sempat bilang saya butuh operasi caesar, sehingga butuh dirujuk ke rumah sakit. Duh, kaget banget. Indikasinya apa ya? Denyut jantung dan pergerakan janin masih oke. Saya juga masih kuat. Posisi janin juga nggak ada masalah. Alasannya karena ketuban sudah pecah dan bayi terlalu lama menunggu di dalam sana. Khawatirnya ada kegawatan.

Namun, kemudian seorang bidan menyemangati untuk melahirkan pervaginam, karena menurutnya masih memungkinkan dilakukan. Dia naik ke bed, lalu menyangga tubuh saya dari belakang.

Singkat cerita, saya berusaha melahirkan si bayi tanpa operasi. Jujur, yang terlintas di benak saya saat mendengar operasi adalah biaya mahal yang harus kami keluarkan. Maklum, perekonomian sedang sulit begini.

Saya menyemangati diri sendiri dan si bayi yang berusaha keras mencari jalan lahir. Agak tersendat memang, namun… Prol!! Terasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir. Bayi kami lahir!

Saat IMD dengan bayi yang baru saja lahir.

Sembari si kecil dibersihkan, saya melahirkan plasenta. Lebih sakit rasanya ketimbang melahirkan bayi. Si bayi diadzani ayahnya, lalu menjalani inisiasi menyusu dini (IMD).

Kata dokter, saya mengalami perdarahan. Darah yang keluar banyak sekali. Setelah itu, saya merasa antara ada dan tiada. Mulut saya terus nyerocos, tapi tidak terlalu jelas arah bicaranya. Untunglah saya tidak perlu transfusi atau dirujuk ke rumah sakit.

Setelah beberapa saat, saya diminta untuk berjalan ke ruang perawatan. Duh, rasanya nggak sanggup. Nyeri seperti kontraksi masih terasa. Keringat membanjir. Keberadaan AC seolah tidak ada artinya.

Saya mencoba berdiri. Rasanya lemas. Saking lemasnya, seperti akan pingsan. Belum lagi mual yang sangat kuat. Seketika darah mengalir ke mana-mana.

Dzikir dilantunkan di dalam hati. Kipas tangan elektrik saya nyalakan tepat di wajah. Biasanya hal seperti ini sangat membantu. Nah, benar kan, saya merasa lebih baik. Setelah itu, berjalan perlahan ke ruang perawatan. Darah masih mengalir sepanjang jalan menuju ruang perawatan. Jarak yang hanya dua meter, rasanya seperti dua kilo meter.

Istirahat di Ruang Perawatan

Sesampainya di ruang perawatan, saya beristirahat di sofa bed. Pertimbangannya karena lebih rendah ketimbang bed perawatan. Maklum, rasa tidak nyaman masih bergelayut di sekitar perut hingga vagina.

Bagaimana dengan Taqi? Dia happy sekali karena leluasa nonton televisi. Kata dia, seperti menginap di hotel, he-he.

Setelah beberapa jam, tiba-tiba rasanya ingin pipis. Dengan rasa sedikit takut, “memaksakan” diri berjalan ke kamar mandi dengan didampingi suami. Alhamdulillah darah yang keluar tak sebanyak sebelumnya.

Yuk, baca juga: Manfaat Semangka bagi Ibu Hamil

Setelah bayi dibersihkan, langsung diantar ke ruangan kami. Wajah mungil itu tampak lelah. Salah satu sisi kepalanya terlihat agak menonjol, memar saat agak tertahan di jalan lahir. Maaf ya, Nak, mama tidak optimal saat mengejan.

Ini ruangan rawat inap yang saya tempati di BWCC Jagakarsa

Baju bayi dan selimut hanya bawa seadanya. Saya pikir akan dapat atau dipinjamkan dari klinik, seperti pengalaman melahirkan sebelumnya. Ternyata tidak. Jadilah kami irit-irit bajunya sembari berharap semua baik-baik saja sehingga bisa lekas pulang.

Kami mendapat kunjungan dari dokter anak, serta dokter laktasi juga yang memastikan perlekatan si kecil saat menyusu oke. Saya juga mendapat pijat oksitosin.

Malam pertama dalam hidupnya, si bayi menangis beberapa kali. Saya dan suami bergantian menimangnya. Suara tangisannya keras. Seolah dia sedang rindu kehangatan dan kenyamanan di dalam rahim.

Adik bayi ditimang ayahnya.

Esok harinya, tubuh saya semakin nyaman. Sudah bisa berjalan lebih cepat, bahkan ke kamar mandi sendiri. Sayang, kenyamanan itu terusik kala bu bidan hendak mengambil tampon. Hu-hu harus ngangkang-ngangkang lagi.

Akhirnya kami diperbolehkan pulang di hari Minggu, 5 April 2020. Oh ya, biayanya sekitar Rp 9 juta. Minggu sore itu, kami menembus jalanan yang agak tersendat di Jagakarsa. Bayi mungil itu terlelap di gendongan.

Makna Nama Bayi Laki-laki Kami

Bayi mungil dengan rambut yang cukup lebat ini lahir dalam waktu sekitar 9 jam.

Hore! Sampai juga di rumah. Bayi laki-laki itu melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami. Ia diberi nama Enzo Shariq Rahman.

Dalam namanya teruntai doa semoga dirinya menjadi pemenang saat melawan segala hal yang tidak baik, menjadi pribadi yang bersinar, bahagia dan penuh harapan, serta menjadi manusia yang pengasih. Kata Enzo diambil dari Vicenzo, serta merujuk pada mantan pemain Juventus, Enzo Maresca.

Enzo Maresca dikenal sebagai pemain yang komplet. Di lini tengah, ia bisa menjadi gelandang serang maupun gelandang tengah. Maresca adalah sosok yang konsisten, cepat, energik, pekerja keras, ulet, serta punya ketahanan fisik dan mental. Harapannya, anak saya juga akan menjadi pribadi dengan hal-hal positif seperti yang dimiliki Maresca.

Hikmah Melahirkan di Saat Pandemi

Dua jadi 3, lalu jadi 4. Alhamdulillah.

Jujur, ada sedih menyeruak di momen melahirkan kali ini. Ibu dan ibu mertua tidak bisa datang karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB) kala itu diberlakukan. Terlebih, saya khawatir mereka kenapa-kenapa dalam perjalanan dari kampung ke Jakarta.

Tidak ada seorang pun yang menengok. Tak ada saudara terdekat yang bisa dimintai tolong untuk menjadi support system kala saya belum sepenuhnya pulih.

Pekerjaan domestik saya kerjakan sendiri karena kekhawatiran terjangkit Covid-19 jika mempekerjakan asisten rumah tangga (ART) yang pergi pulang. Di saat yang sama, harus berjuang menyetok ASI, berdamai dengan puting yang lecet dan mastitis, serta hal-hal lain yang kian hari kian beranak pinak. Hm, jadi begini rasanya melahirkan saat pandemi.

Hikmahnya, bayi saya jadi nggak gampang sakit. Beda sekali dengan kakaknya yang di tahun pertama hidupnya berkali-kali sakit batuk dan pilek. Hanya saja anak kedua ini terkena roseola infantum saat usianya 7 bulan. Entah kena dari mana, karena kami semua selalu di rumah saja. Untungnya dia pulih dengan cepat.

Nah, itulah Mama pengalaman saya melahirkan saat pandemi Covid-19 baru saja melanda Indonesia. Tidak mudah di satu sisi, namun harus selalu disyukuri. Semoga menjadi bacaan bermanfaat bagi Mama yang akan melahirkan saat pandemi atau sedang mencari tempat periksa kandungan murah dan tempat melahirkan di Jakarta Selatan.