Menjajal Tantangan 21 Hari Read Aloud

Hai Mama, adakah yang suka read aloud atau membacakan nyaring untuk anak? Tos sama saya kalau begitu. Nah, di awal 2021 ini saya menjajal tantangan 21 hari read aloud.

Ini bukan pertama kalinya bergabung dalam kegiatan semacam itu. Tahun lalu saya juga bergabung dalam tantangan serupa. Sayangnya, tidak konsisten upload foto dan video ke Instagram.

Kali ini, mencoba membulatkan niat untuk mengikuti tantangan 21 hari read aloud bersama Let’s Read. Kebetulan Let’s Read bukan aplikasi baru bagi saya dan anak. Hampir setiap hari kami membaca buku bergambar dari aplikasi yang satu ini.

Kenapa 21 Hari?

Tantangan 21 Hari Read Aloud/ Book photo created by freepik – www.freepik.com

Kayaknya nanggung banget ya tantangan berlangsung selama 21 hari. Kenapa nggal sekalian 30 hari saja? Atau mungkin angkanya yang genap, seperti 20 hari. Kenapa ya?

Menurut co-founder Read Aloud Yuk, Yulia Fatimah, 21 merupakan salah satu metode populer membangun kebiasaan. Lengkapnya metode itu disebut aturan 21/90.

“Kata ahli, hanya butuh 21 hari untuk membuat kebiasaan dan 90 hari untuk menjadikannya bagian dari gaya hidup manusia,” terang Yulia dalam webinar ‘Road to Tantangan 21 Hari Membacakan Nyaring Bersama Let’s Read’, Sabtu (9/1/2021).

Tantangan 21 Hari Read Aloud bersama Let’s Read

Formula 21/90 lahir pada tahun 1960-an. Ahli bedah kosmetik bernama dr Maxwall Maltz menyebutkannya dalam buku Psychi Cybernatics, A New Way to Get More Living Out of Life.

Formula tersebut lahir setelah Maltz mengamati seseorang yang diamputasi. Orang tersebut memerlukan waktu rata-rata 21 hari untuk beradaptasi terhadak kondisi kehilangan salah satu anggota tubuhnya.

Tantangan ini diharpakan membuat peserta mau berkomitmen untuk membacakan nyaring 21 hari berturut-turut. Kegiatan yang diulang-ulang atau repetitif akan tertanam sebagai kebiasaan.

Selanjutnya selama 90 hari diharapkan para peserta memiliki perubahan gaya hidup permanen. Saat itulah membacakan nyaring menjadi gaya hidupnya.

Mekanisme Tantangan 21 Hari Read Aloud

21 Hari Tantangan Membaca Nyaring/ Book photo created by freepik – www.freepik.com

Dalam tantangan ini, ada lebih dari 500 peserta yang mendaftar. Dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Untuk menjalani tantangan, ini beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  1. Membacakan nyaring buku pilihan dari Let’s Read selama 21 hari.
  2. 21 Hari berturut-turut mengunggah video dan foto membacakan nyaring ke Instagram, mulai 14 Januari hingga 4 Februari 2021.
  3. Ada tema-tema buku bacaan setiap harinya. Tema-tema ini telah disesuaikan dengan pendekatan tematik PAUD, SD/MI kelas rendah.
  4. Ada hadiah total Rp 3,5 juta bagi yang beruntung.
  5. Kriteria penilaian adalah konsistensi, interaktif, dan kesesuaian buku yang dipilih dengan tema.
Tema tantangan 21 Read Aloud bersama Let’s Read

Gemar Membaca Tidak Terjadi dengan Sendirinya

read aloud
Tantangan 21 Hari Read Aloud/ Book photo created by Racool_studio – www.freepik.com

Webinar tersebut juga dihadiri oleh Roosie Setiawan dari Reading Bugs. Bagi praktisi read aloud Indonesia, nama Roosie Setiawan tentu tidak asing. Bisa dibilang Roosie ini ‘Ibu Read Aloud Indonesia’.

Roosie aktif mengkampanyekan membacakan nyaring. Ia pun aktif memberikan Training of Trainer (ToT) bagi siapa pun yang tertarik pada kegiatan membacakan nyaring.

Bagi Roosie, read aloud adalah kegiatan mengenalkan bahan bacaan pada anak dengan cara mengasyikkan. Jika anak tertarik dengan bahan bacaan, dia akan menyimak, mengeksplorasi, lalu bisa membaca. Saat sudah lancar membaca, dia akan terus membaca karena mendapat banyak manfaat.

Baca juga tulisan menarik lainnya di sini ya, Ma: Mengenal Bahasa Ibu dari Membaca Nyaring di Let’s Read

Kegemaran membaca memang tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan. Nah, upaya membangun kegemaran membaca tidak hanya read aloud saja. Ada banyak sekali caranya.

Misalnya saja dengan mengajak anak ke perpustakaan atau toko buku. Mengenalkan bacaan pada anak juga bisa melalui konten muktimedia seperti video. Bisa pula dengan membaca dan menonton film.

“Banyak buku cerita anak yang diadopsi menjadi film, khususnya animasi. Ajak anak-anak untuk mengkombinasikan dua metode ini,” sarannya.

Kita juga bisa menyediakan pojok baca di rumah. Lalu, memberikan motivasi intrinsik dalam membaca. Antara lain dengan menyediakan buku bacaan anak di sekolah, memanfaatkan bacaan dalam diskusi, serta guru yang membacakan nyaring untuk murid-muridnya.

Satu hal yang paling penting untuk menumbuhkan kegemaran membaca anak adalah menjadi teladan membaca. Rasanya sia-sia ya, Ma, kita minta si kecil suka membaca buku, sedangkan kita sendiri malah malas membaca.

Si sulung sudah mulai memilih dan menyimpan buku di Let’s Read. Niatnya dari kemarin mau merekam kegiatan ini, namun adiknya sedang tidak kondusif. Semoga kami konsisten memvideokannya. Aamiin. Mama sendiri gimana, apakah ikut juga dalam tantangan ini?