Hari-hari Menjelang Ibu Pergi: Nikmat Makan dan Halusinasi

Sudah lebih dari 100 hari Ibu pergi meninggalkan dunia ini. Rasanya masih sulit untuk percaya. Masih belum terbiasa untuk tidak mengirim WA atau menelepon untuk sekadar bertanya, “Sedang apa?”.

Di handphone saya, nomor telepon Ibu masih berada di daftar terfavorit. Nomor yang paling sering menelepon dan saya telepon. Di tengah kehilangan yang mendekap jiwa, selalu memberi semangat untuk diri sendiri. Semangat berikhtiar jadi sosok yang saleh. Bukankah anak yang saleh jadi salah satu amal yang tidak terputus?

O, ya ini adalah tulisan kedua tentang “Hari-hari Menjelang Ibu Pergi”. Cerita bagian pertama bisa dibaca di sini: Hari-hari Menjelang Ibu Pergi: Dirawat di ICCU RS Dr. Sardjito

Melalui Masa Kritis

Ilustrasi dirawat di RS/ Foto: Canva

Sebelumnya, Ibu dinyatakan dalam keadaan kritis. Ditengarai ada luka dan darah di abdomennya. Namun, dari pemeriksaan diketahui itu bukan tumpukan darah, melainkan cairan bebas. Cairan tersebut diupayakan keluar melalui urine.

Sementara itu, residu dari selang NGT terpantau aman. Tidak ada warna hitam yang mengindikasikan adanya pendarahan di lambung.

Ibu masih mengeluh sakit di sekitar perut bagian atas. Namun, secara perlahan, rasa sakit itu berkurang. Menurut dokter, cairan di abdomen dan paru-paru juga berkurang.

Selama sakit, Ibu tidak pernah ketinggalan salat lima waktu. Beruntung, posisi tidurnya menghadap langsung ke arah jam dinding, sehingga Ibu bisa memperkirakan sudah masuk waktu salat atau belum. Jika ada kurangnya, semoga Allah berkenan mengampuni. Aamiin.

Nikmat Makan

Makanan Ibu di RS

Saat Ibu dirawat di ICCU RS Dr, Sardjito Yogyakarta, dokter bilang Ibu kurang nutrisi. Ah, mungkin karena sebelumnya Ibu takut makan.

Sekitar bulan Juli 2023, Ibu melakukan medical check up di Yogyakarta. Hal itu dilakukan karena rencananya di tahun itu akan pergi umrah. Rupanya hasil medical check up tidak terlalu bagus. Gula darahnya tinggi, di atas 300 mg/dl. Kolesterolnya juga tinggi. Saya lupa angkanya berapa.

Mengingat gula darah yang tinggi itu, Ibu sebenarnya disarankan dirawat di RS. Akan tetapi Ibu tidak mau, dan bahkan pulang ke Cilacap. Nah, di Cilacap, Ibu kontrol ke dokter keluarga sambil membawa hasil medical check up.

Ucapan dokternya benar-benar di luar nurul, ketika Ibu menyampaikan kondisi kolesterolnya yang tinggi. “Ibu kebanyakan makan yang enak-enak ini”. Kalimat itulah yang bikin Ibu takut makan.

Saat menelepon Ibu, saya bilang lebih baik menghindari santan dan gorengan. Ayam atau telur sebaiknya direbus saja. Namun, saya baru tahu Ibu benar-benar tidak makan nasi, juga tidak makan protein hewani. Mungkin menurut Ibu, daging ayam dan telur termasuk kategori “makan enak”.

Jika masak sayur bayam, maka Ibu hanya makan sayur tersebut. Tidak ada lauk lainnya. Sepertinya inilah yang bikin Ibu kurang nutrisi.

Di RS, perbaikan gizi Ibu dilakukan. Ibu mendapat menu makanan lengkap untuk diet diabetes. Karbohidrat, sayur, protein hewani, nabati, juga buah diberikan lengkap. Ada pula susu atau makanan kecil di jam makan snack.

Menyuapi Ibu makan adalah hal yang menyenangkan. Lahap sekali. Semua habis tandas tanpa sisa. Bahkan sebutir nasi akan tetap saya suapkan agar piring-piring makan Ibu bersih benar. Lagi pula, sebutir nasi juga rezeki ‘kan?

Baca juga tulisan ini ya: Sebuah Pesan: Jika Aku Meninggal Lebih Dulu

Ibu paling suka jika diberi sayur sup. Katanya segar. Maka itu, dia agak kecewa kala diberi sup yang kuahnya terlalu sedikit.

“Nanti kalau sudah pulang, Mbak Ta bikinkan sup yang klombyaran (banyak kuahnya),” janji saya.

Setiap kali menyuap makanan untuk pertama kalinya, Ibu kerap berucap, “Enak”. Senang sekali mendengarnya. “Wah, alhamdulillah. Allah memang kasih ujian sakit, tapi masih dikasih nikmat makanan yang enak. Artinya Allah nggak ninggalin Mami,” tutur saya.

Lalu kami bicara tentang buah kesukaan. Ibu bilang suka sekali semangka karena banyak air dan segar. Kami juga membahas tanaman buah di rumah yang mulai berbuah.

Ibu juga senang setiap saya perlihatkan video si kecil yang sedang bermain. Video itu kiriman kakak sepupu yang kebagian “tugas” menjaga si kecil, selama saya menjaga Ibu di rumah sakit.

Halusinasi

Ilustrasi halusinasi/ Foto: Canva

Mungkin karena banyak tiduran di ruangan yang kondisi siang dan malamnya sama, Ibu jadi halusinasi. Kata adik perempuan saya, Ibu pernah bilang melihat truk di dalam ruangan.

Ibu juga mengatakan dirinya melihat keponakan saya yang masih batita di dalam ruang perawatannya. Tak hanya itu, Ibu bilang melihat es krim di kepala adik saya.

Namun, ketika ditanya lagi, Ibu tidak melanjutkan kata-katanya. Seperti agak linglung. Saya dan adik mengesampingkan pikiran negatif dan mencari alasan paling logis kenapa Ibu berhalusinasi.

Halusinasi itu hanya muncul saat adik dan bulek yang menjaga Ibu. Sedangkan saat saya bersamanya, sama sekali tidak mendapatinya. Paling Ibu hanya bertanya saat itu siang atau malam. Lalu dia menghitung sesuatu dengan jarinya.

Ketika ditanya apa yang dihitung, katanya hari-hari di rumah sakit. Dia juga seperti tengah menghitung tanggal. Mungkin Ibu menghitung berapa hari lagi akan berangkat umrah.

Penutup

Hari-hari saat Ibu dirawat di ICCU membuat diri ini khawatir. Akan tetapi di sisi lain, jadi banyak merintih pada Allah. Sering diam-diam saya ambil tangan Ibu, lalu saya ciumi atau ditaruh di wajah saya.

Entah kenapa saat itu ada rasa waktu bersamanya tidak akan lama. Namun, cepat-cepat mengusir pikiran negatif. Bukankah saat itu Allah telah memberikan keajaiban? Ibu yang semula dinyatakan kritis, kemudian dicabut kekritisannya.

Ketika beberapa pasien lain tidak merespons obat, bukankah tubuh Ibu masih merespons dengan baik? Sungguh, pada saat itu saya merasakan sekali nikmatnya suatu keajaiban dalam hidup.

Tulisan tentang ibu pergi ini masih ada lanjutannya. Jika berminat untuk membacanya, tunggu sambungannya ya. Semoga dari kisah ibu pergi ini ada ibrahnya bagi kita semua.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.