Sebuah Pesan: Jika Aku Meninggal Lebih Dulu

Waktu itu, Bapak berpulang di usia 50 tahun. Beberapa tahun kemudian, Ibu berpulang di umur hampir 65 tahun. Teman kantor saya ada yang meninggal di usia 30-an tahun. Lalu saya? Entah kapan panggilan untuk pulang itu diserukan, yang jelas kematian itu pasti.

Bagi keluarga, kerabat, dan teman-teman yang mengenal saya, ada pesan ingin saya sampaikan. Jika saya meninggal, tolong luluskan permintaan-permintaan saya ini.

1. Yang Memandikan Jenazah

kematian
Ilustrasi jenazah/ Foto: Canva

Untuk jenazah perempuan, maka yang memandikan dahulukan:
Wanita yang masih punya hubungan kerabat
Wanita yang tidak punya hubungan kerabat
Suami
Laki-laki yang masih punya hubungan mahram.

Saat memandikan, jangan lupa mencuci dua aurat (qubul dan dubur), menghilangkan kotoran dari hidung, mewudukan. Jika memungkinkan, menggunakan daun bidara (sidr) untuk basuhan terakhir.

Cara penggunaan daun bidara adalah dengan mengambil daunnya beberapa helai, hancur-hancurkan dengan tangan atau diremas, lalu masukkan ke dalam air.

2. Segera Menguburkan Jenazah, Tidak Perlu Menunggu Keluarga Berkumpul

kematian
Ilustrasi pemakaman/ Foto: Canva

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Segerakanlah (pengurusan) jenazah, apabila ia orang yang baik maka itu adalah kebaikan yang kalian segerakan terhadapnya, tetapi jika tidak demikian maka ia adalah kejelekan yang kalian letakkan dari punggung kalian.” Dari Bukhari, Kitab Al-Janaiz, bab mempercepat prosesi jenazah 1315, dan Muslim, Al-Janaiz, bab bersegera dalam mengurus mayat.

Tolong jangan marah jika penguburan dilakukan tanpa menunggu seluruh keluarga berkumpul. Tidak selayaknya mengakhirkan penguburan mayat karena menunggu sebagian keluarganya, kecuali jika hanya sebentar saja.

3. Jangan Beri Nisan atau Kijing

Ilustrasi nisan/ Foto Canva

Tolong, tanah kuburnya jangan dibuat tinggi. Untuk membedakan dari tanah sekeliling, ditinggikan sejengkal tangan saja.

Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” (HR. Muslim No. 969).

Selanjutnya, jangan diberi kijing atau nisan sebagai penanda. Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.”” (HR. Muslim No. 970).

4. Jangan Gelar Tahlilan untuk Peringatan Kematian

Ilustrasi tahlilan/ Foto: Canva

Tidak perlu menggelar tahlilan atau peringatan kematian seperti 3 harian, 7 harian, 40 harian, 100 harian, atau 1.000 harian. Jika ingin bersedekah atas nama jenazah, sebaiknya langsung saja sedekahkan ke masjid, panti asuhan, atau lembaga yang bergerak di bidang kemanusiaan.

Ini karena saya tidak ingin merepotkan dan membebani siapa pun. Untuk menggelar kegiatan tersebut, tentu harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Belum lagi energi dan waktu yang harus disisihkan. Ketimbang untuk kegiatan seperti itu, lebih baik uangnya untuk biaya hidup keluarga atau disedekahkan. Energinya dipakai untuk ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.

Rasulullah berkali-kali mendapati kabar kematian. Akan tetapi tak sekali pun Beliau menggelar tahlilan. Begitu pula para sahabat, dahulu tidak pernah melakukan hal semacam ini.

Bid’ah bisa terdapat dalam tradisi atau adat, sebagaimana perkataan Asy Syatibi, “Perkara non-ibadah (adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun, jika perkara non-ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom, 1/348).

5. Jangan Menjadikan Kuburan Seperti Masjid

Ilustrasi pemakaman/ Foto: Canva

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menjadikan kubur sebagai masjid, dengan maksud melakukan salat di sana sebagaimana ibadah yang dilakukan di masjid.

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Al-Harrani rahimahullah berkata, “Tidak ada silang pendapat di antara para ulama salaf dan ulama-ulama besar yang ada mengenai terlarangnya menjadikan kubur sebagai masjid. Seperti dimaklumi bersama bahwa masjid dibangun untuk salat, zikir, dan membaca Al-Qur’an. Jika kubur difungsikan untuk sebagian ibadah-ibadah tadi, maka ini termasuk dalam larangan menjadikan kubur sebagai masjid.” [Majmu’Al-Fatawa, 24/302].

Ziarah kubur yang disyariatkan adalah mendoakan si mayit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menziarahi kubur Baqi’ dan kubur pada syuhada Uhud.

Baca juga tulisan ini yuk: Jika Titipan Itu Diambil Pemiliknya


Beliau lantas mengajari para sahabatnya, jika menziarahi kubur hendaklah membaca doa sebagai berikut:

“Semoga keselamatan bagi kalian wahai negeri (peristirahatan sementara) kaum mukminin, dan kami insyaAllah akan bertemu kalian. Semoga Allah merahmati kalian yang lebih dahulu dari kami dan kami pun akan menyusul kalian. Kami memohon pada Allah keselamatan pada kami dan kalian. Ya Allah, janganlah halangi ganjaran bagi mereka. Janganlah beri siksaan kepada mereka setelah itu. Ampunilah dosa-dosa kami dan mereka.”

6. Jangan Mengkhususkan Waktu untuk Ziarah dan Tak Perlu Bawa Bunga

kematian
Ilustrasi bunga tabur/ Foto: Canva

Tidak ada dalil terkait mengkhususkan waktu untuk ziarah kubur. Sering kali ada orang yang berziarah kubur sebelum Ramadan, serta setelah shalat ied. Padahal tidak ada tuntunannya.

Hikmah disyariatkannya ziarah kubur adalah untuk mengambil pelajaran, nasihat, dan mendoakan mayit. Jadi, jangan pernah meminta mayit untuk memenuhi kebutuhannya.

Lalu soal tabur bunga, tidak perlu dilakukan. Tidak perlu membawa apa-apa saat ziarah kubur. Bunga tidak bermakna apa-apa bagi si mayit, malah buang-buang uang saja. Paling dibutuhkan adalah doa, bukan bunga.

Penta’liq Matan Abi Syuja’–kitab fikih madzhab syafi’i- berkata: “Di antara bid’ah yang diharamkan adalah menaburkan/ meletakkan bunga-bunga di atas jenazah atau kubur karena hanya buang-buang harta.”

7. Jangan Bersedih Berlebihan atas Kematian Seseorang

Ilustrasi di pemakaman/ Foto: Canva

Tidak ada seorang pun yang siap dengan kehilangan. Namun, begitu, jangan bersedih berlebihan kala mendapat kabar kematian. Bukankah kematian itu pasti? Maka jadikanlah kematian sebagai nasihat, bahwa sejatinya setiap yang bernyawa pasti akan mati. Hanya saja kapan waktu berpulangnya tidak ada yang mengetahui.

Dikutip dari muslim.or.id, menangis yang wajar diperbolehkan. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis ketika menziarahi kubur ibu beliau. Bahkan hal itu membuat orang-orang di sekitarnya ikut menangis.

Akan tetapi jangan sampai meratapi mayit, menangis dengan histeris, menampar pipi, atau merobek kerah. Sebab hal tersebut diharamkan.

Penutup

Ilustrasi berdoa/ Foto: Canva

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Kita harus ingat bahwa hidup kita di dunia itu hanyalah sebentar. Rasulullah bersabda, “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut.” (HR. Ibnu Majah: 4236, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih).

Ingat pula bahwa kehidupan setelah kehidupan dunia ini jauh lebih lama dan jauh lebih berat. Semoga kita termasuk mukmin yang sibuk menyiapkan bekal pulang, tidak terlena akan tipu daya dunia.

Semoga Allah lembutkan hati kita untuk bisa menerima nasihat agama, serta selalu menjadikan Al-Qur’an dan Al-hadits sebagai pegangan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hasyr: 18).

Referensi

rumaysho.com. Aturan Memandikan Jenazah, https://rumaysho.com/20976-aturan-memandikan-jenazah.html.

almanhaj.or.id. Mengakhirkan Penguburan Mayat karena Menunggu Datangnya Kerabat, https://almanhaj.or.id/1427-mengakhirkan-penguburan-mayat-karena-menunggu-datangnya-kerabat.html.

rumaysho.com. Memasang Kijing, Marmer, dan Atap di Atas Kubur, https://rumaysho.com/3551-memasang-kijing-marmer-dan-atap-di-atas-kubur.html.

rumaysho.com. Mengenal Bid’ah (7), Selamatan Kematian Kan Sudah Jadi Tradisi?, https://rumaysho.com/892-mengenal-bidah-7-selamatan-kematian-kan-sudah-jadi-tradisi.html

muslim.or.id. Agar Ziarah Bernilai Ibadah, https://buletin.muslim.or.id/bt1601/.

muslim.or.id. Adab Islami Ziarah Kubur, https://muslim.or.id/7803-adab-islami-ziarah-kubur.html

rumaysho.com. Kematian yang Kembali Menyadarkan Kita, https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html

muslim.or.id. Menyiapkan Bekal Untuk Kehidupan yang Kekal, https://muslim.or.id/22015-menyiapkan-bekal-untuk-kehidupan-yang-kekal.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.