Jika Titipan Itu Diambil Pemiliknya

Kita lahir dengan membawa banyak titipan. Semua organ tubuh, nyawa, semuanya. Lalu diri tumbuh dewasa, dititipi pekerjaan, harta, dan jabatan. Kemudian mendapat titipan pasangan dan anak.

Hanya saja kita sering lupa bahwa segala hal yang melekat di diri itu titipan. Kita sering kali merasa berhak atas sesuatu. Setelah bekerja keras, merasa berhak punya harta berlimpah. Seusai berbuat baik, merasa berhak mendapat penghargaan.

Merasa memiliki dan berhak itulah yang kemudian membuat kita enggan bersyukur. Selalu merasa kurang dalam hidup. Sulit menerima saat kehilangan materi, meski sangat kecil.

Pasangan dan Anak adalah Titipan

Jika titipan diambil pemiliknya/ Foto: Jude Beck dari Unsplash

Kang Canun Kamil, seorang penulis buku, mengatakan manusia sering lupa bahwa pasangannya adalah titipan. Akibatnya ia akan terus menuntut untuk mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika semua orang memahami bahwa pasangan adalah titipan maka akan memberikan kebaikan. Apalagi rumah tangga adalah ladang ibadah.

“Seperti juga anak, mereka adalah titipan. Anak adalah tamu istimewa yang kita undang atas kehendak dan persetujuan Allah,” tutur Kang Canun dalam bedah buku “Semua Titipan Allah” secara online, Sabtu (2/1/2021).

Tulisan menarik lainnya bisa disimak di sini: Harapan 2021: Virus Corona di Indonesia Segera Lenyap

Namanya tamu, tentu ada batas waktu dalam bersama atau berkunjung. Cepat atau lambat kita akan berpisah dengan anak. Anak akan dewasa dan memiliki kehidupan sendiri.

“Sering kali kita kesal saat anak tantrum. Padahal tantrum itu wajar banget dialami anak kecil. Tetapi apakah kita sudah melatih manajemen emosi pada anak? Itu yang terpenting,” sambungnya.

Mama, apakah hari ini dan kemarin masih kurang sabar membersamai anak? Sering sekali kelepasan marah dan menyalahkan anak. Tanpa disadari kata-kata menyakitkan terlontar dan menggores luka di batin mereka.

Jika hal ini masih sering terjadi, yuk mengevaluasi diri setiap hari. Kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri, “Apa sih harapan Allah menitipkan anak ini kepadaku?”.

Ya, kita yang tidak sabaran dan gampang tersulut emosinya, dipercaya dititipi anak. Kita yang ibadahnya sering tidak khusyuk diijabah doanya, tatkala meminta segera mendapat buah hati.

Cara Agar Pandai Bersyukur

Semua yang dimiliki adalah titipan/ Foto: Jude Beck dari Unsplash

Selalu melihat ke atas membuat kita lupa, betapa banyak nikmat yang Allah beri dan titipkan. Akibatnya kita jadi pribadi yang suka mengeluh, juga gampang iri melihat kebahagiaan orang lain. Syukur pun semakin tergerus.

Lalu bagaimana agar pandai bersyukur? Kang Canun bilang jika diri ini selalu merasa tidak pantas, pasti mudah bersyukur.

“Allah kasih banyak banget nikmat. Saat keuangan susah, masih bisa napas dengan baik. Bisa merasakan nikmatnya air minum. Kita jarang bersyukur tapi ternyata nikmat yang diberi Allah banyak sekali,” paparnya.

Di setiap waktu, ada baiknya kita lihat dan hayati satu demi satu nikmat Allah. Nikmat sehat, anak-anak lucu, makanan bergizi, pakaian yang layak, dan masih banyak lainnya.

Allah Maha Tahu, tetapi kita kerap merasa sok tahu. Segala macam titipan Allah digunakan untuk membanggakan diri. Lalu merasa lebih dari yang lain. Bila semua titipan ini diambil, apakah siap? Jika diminta pertanggungjawaban atas semua titipan ini, apakah sudah siap?

Dalam QS. Al-Isra ayat 36, Allah berfirman,“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu kelak akan ditanya (dipertanggungjawabkan).”

Dalam surah An-Nur ayat 24, Allah juga menegaskan: “Di hari (saat) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Semoga kita termasuk orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Hati kita semoga selalu dilembutkan, sehingga bisa menerima nasihat yang baik. Semoga kita juga bisa menjaga semua titipan-Nya dengan baik.

Mama, sabda Rasulullah ini juga perlu kita ingat.“Tidak akan beranjak kaki seorang hamba dari tempat berdirinya dihadapan Allah pada hari kiamat sebelum dia ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmu bagaimana diamalkan, tentang harta bagaimana cara memperoleh dan ke mana dibelanjakan, dan yang terakhir yaitu tentang jasmani untuk apa dipergunakan.”

Leave A Reply

Your email address will not be published.