Daftar Harapan Jika Kelak Merdeka dari Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun kita alami. Hari-hari yang berat. Entah sudah berapa banyak air mata tumpah karena kehilangan orang terkasih. Tak terhitung pula isak dan ratap pilu karena tekanan yang harus dihadapi.

Awan Kelabu Covid-19

Membangkitkan harapan saat pandemi Covid-19/ Foto: Canva

Beberapa bulan sejak pandemi mulai merebak, suami saya kehilangan pekerjaan. Perusahaan tempatnya bekerja tutup. Kami berusaha tampak baik-baik saja, walaupun kerap menangis berdua saat anak-anak terlelap.

E-mail lamaran kerja pun disebar. Di siang yang terik, suami bolak-balik memenuhi undangan wawancara kerja. Salah satu tempat memberinya uang bensin dua ratus lima puluh ribu rupiah. Senang sekali kami mendapatkannya. Jarang-jarang lho ada perusahaan yang mau mengganti uang bensin kandidat pekerjanya.

Untunglah suami segera mendapatkan pekerjaan baru. Latar belakang sebagai programmer sangat membantu. Di tengah pandemi banyak yang mengalihkan usahanya ke serba digital. Itu makanya tenaga suami masih diperlukan, kendati usianya tak lagi terlalu muda.

Lalu di bulan Mei hingga Juli tahun ini, kami bertubi-tubi kehilangan keluarga, kerabat, dan teman. Corona yang menjangkit membuat mereka tidak bisa bertahan.

Merajut Asa

Harapan seusai pandemi berlalu/ Foto: Canva

Ketika vaksin Covid-19 ditemukan dan diberikan kepada masyarakat, harapan yang hampir roboh kembali tegak berdiri. Meski pemberian vaksin ini pun sama sekali tidak mudah.

Hingga detik ini masih banyak yang menganggap pandemi Covid-19 adalah konspirasi. Beberapa orang juga masih menganggap vaksinasi sebagai program pemusnahan massal kalangan tertentu.

Kendati capaian vaksin di Negeri ini masih kecil, tetapi belakangan ini laporan kasus Covid harian dari pemerintah juga turun drastis. Kasus baru Covid-19 pada 11 Oktober 2021 sempat tercatat 620, kemudian naik dua kali lipat menjadi 1.261 kasus keesokan harinya.

Secara umum, kasus harian dan orang yang meninggal karena Covid-19 jauh menurun. Kalau kata Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, ini karena banyak rakyat Indonesia yang sudah memiliki kekebalan. Nah, kekebalannya didapat secara buatan melalui vaksin, dan secara alamiah karena sembuh dari sakit.

Baca juga tulisan ini yuk: Tips Agar Tetap Fokus Saat Belajar secara Daring

Kabar baik ini tentu memberikan angin segar. Jika beberapa bulan lalu kita masih puyeng sampai kapan di rumah melulu, maka kini sudah bisa kembali bermimpi. Asa kembali dirajut dengan benang-benang terbaik dalam hidup.

Nah, jika kelak sudah benar-benar merdeka dari pandemi Covid-19, ada sejumlah harapan yang semoga bisa terwujud. Berikut ini daftar harapan saya, yuk dibaca, siapa tahu kita punya asa yang sama.

1. Pulang Kampung Tanpa Khawatir

Pulang kampung dengan leluasa/ Foto: Canva

Sebagai seorang perantau di rimba Jakarta, pulang kampung tentu jadi hal istimewa. Sayangnya, pandemi yang berlangsung lama ini bikin khawatir jika mau ke mana-mana, apalagi pulang kampung. Rasanya selalu waswas kalau bisa jadi carrier virus buat keluarga di kampung. Hm, apa saya over thinking?

Bapak dan ibu mertua saya tinggal di Bengkulu. Terakhir kali kami ke Bengkulu adalah Juni 2019. Artinya dua tahun lebih kami tidak pulang kampung.

Sedangkan orang tua saya berdomisili di Cilacap. Terakhir kali ke Cilacap adalah sekitar bulan Desember 2019. Seperti kata Dilan, rindu memang berat. Rindu tak bisa dihilangkan dengan video call semata.

Jadi, harapannya setelah merdeka dari pandemi bisa pulang kampung tanpa mikir sejuta kali. Betapa senangnya bisa berkumpul bersama dalam kebahagiaan dan jauh dari rasa khawatir.

2. Silaturahmi ke Kerabat dan Teman Lebih Lancar

Usai pandemi, bisa silaturahmi lebih lancar/ Foto: Canva

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, kami bersilaturahim ke rumah keluarga secara rutin. Menyenangkan sekali bisa berkumpul dan berbagi cerita dengan keluarga yang tersebar di Jabodetabek.

Sering pula kami datang ke acara nikahan atau menjenguk bayi bersama-sama. Kegiatan yang jamak dilakukan banyak orang bukan? Enak ya bisa bareng-bareng datang ke suatu tempat atau suatu acara.

Kadang saya pun menyempatkan untuk bertemu dengan sahabat semasa kuliah. Tidak lama dan tidak sering dilakukan, tapi cukup membuat jiwa sehat. Jadi harapannya setelah merdeka dari pandemi Covid-19, silaturahmi ke kerabat dan teman bisa kembali berjalan, bahkan kalau bisa lebih intens. Soalnya kita nggak tahu sampai kapan punya kesempatan untuk bertemu dan berkumpul bersama orang terkasih.

3. More Flexible Workplace

Tempat kerja fleksibel/ Foto: Canva

Work from home alias WFH jadi istilah yang lumrah didengar selama pandemi Covid-19. Jika dulu bagi beberapa orang bekerja dari luar kantor adalah kemewahan, kini sudah dianggap biasa.

Untuk beberapa bidang pekerjaan tertentu, menurut saya tidak harus dilakukan dari kantor. Misalnya untuk pekerjaan penulis, social media specialist, atau programmer. Asal punya koneksi internet yang memadai, pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja.

Harapannya, suatu hari nanti saat dunia tak lagi diselimuti pandemi Covid-19, more flexible workplace bisa terus diterapkan. Sepertinya sudah saatnya kita berpikir lebih efektif dan efisien. Jangan sampai terkungkung kebiasaan lama yang ribet, padahal teknologi memfasilitasi berbagai kemudahan.

4. Pendidikan yang Lebih Baik

Pendidikan jauh lebih baik seusai pandemi/ Foto: Canva

Pandemi Covid-19 ini hendaknya membuat kita lebih banyak merenung, utamanya terkait dunia pendidikan. Setelah anak saya masuk sekolah dasar, saya jadi tahu betapa banyak materi yang harus dipelajari siswa SD. Kebetulan anak saya mulai pendidikan SD saat pandemi tahun lalu. Sejak awal sekolah, dia belum pernah belajar di sekolah.

Jika sekolah offline berlangsung sekitar tujuh hingga delapan jam, maka saat online hanya empat hingga lima jam. Bapak dan ibu guru sekuat tenaga merangkum semua materi dalam kurikulum yang telah ditetapkan.

Saya paham sih dengan berbagai keterbatasan pembelajaran jarak jauh, pihak sekolah banyak menurunkan ekspektasi. Kendati, mungkin, tetap ada harapan anak-anak benar-benar paham materi seperti yang diamanatkan kurikulum.

Melihat kurikulum yang super kompleks, menurut saya ya, berat banget jadi murid SD sekarang. Eh ini saya saja atau banyak juga yang merasa begitu? Pelajaran anak kelas dua SD sekarang mirip pelajaran anak kelas empat atau lima zaman saya dulu. Fyi, zaman saya SD hitungannya adalah menggunakan catur wulan, bukan semester.

Semoga dengan adanya pandemi, para pihak penyusun kebijakan Negeri ini banyak melakukan evaluasi. Sebaiknya nggak perlu sih kasih materi akademis yang begitu banyak ke murid, apalagi anak SD kelas bawah. Menurut saya, yang lebih banyak porsinya adalah penguatan karakter dan soft skill. Kalau perkara akademis nanti saja sih disesuaikan dengan minat anak.

Pendidikan yang lebih baik itu, lagi-lagi menurut saya, bukan membebani anak harus menguasai banyak hal berbau akademis. Pendidikan yang baik adalah bagaimana mempersiapkan pondasi terbaik bagi anak, agar kelak bisa bertahan di tengah gempuran globalisasi.

5. Jadi Pribadi yang Lebih Banyak Bersyukur

Menjadi orang yang banyak bersyukur/ Foto: Canva

“Ketemunya tembok lagi, tembok lagi. Pusing nih jadinya.” Ada yang pernah dengar atau malah sering mengucapkan kalimat semacam itu selama pandemi Covid-19 ini?

Saya pernah mengucapkannya. Merasa jenuh dan kecewa tapi entah kepada siapa membuat diri ini mudah mengeluh, mengumpat, lalu mencari kambing hitam. Padahal mengumpat tidak menyelesaikan persoalan, justru bikin suasana hati semakin galau.

Setuju banget sih dengan kata orang, “Bagagia itu kita yang ciptakan”. Bahagia juga pilihan. Nah, agar hidup tenang, maka sebaiknya kita memilih bahagia dong. Bagaimana bisa jadi orang yang bahagia? Jawabannya dengan banyak bersyukur.

Iya sih, setiap hari tembok lagi, tembok lagi. Namun, itu artinya kita berada di dalam rumah yang aman. Di dalam rumah ada suami dan anak-anak yang lucu. Di rumah saja juga membuat sisi kreatif kita lebih leluasa menyeruak.

Lihat saja, ada banyak orang yang jadi rajin berkebun sejak pandemi Covid-19. Saya salah satunya. Ada juga orang yang jadi lebih rajin berolahraga di rumah. Ada pula yang lebih rajin memasak dan membuat aktivitas bersama anak. Itu semua adalah cara untuk berdamai dengan berbagai keterbatasan. Mencoba mensyukuri semua hal, meski itu hal terpahit sekali pun.

Tentu semua orang berharap kondisi akan kembali seperti sebelum pandemi Covid-19 melanda. Tentu ada yang kehilangan banyak hal hingga mencoba berharap saja sulit. Namun, hidup harus tetap dijalani dengan suka cita. Banyak orang yang masih membutuhkan kita. Banyak hal pula yang masih perlu kita lakukan. Semangat!

#BlogUnparHarapan

Referensi:

Menkes: Ada Imunitas Alami dan Vaksin, Kasus Covid Turun”. (2021). Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211011172952-20-706275/menkes-ada-imunitas-alami-dan-vaksin-kasus-covid-turun

Jumlah Kasus COVID-19 Turun Drastis, Rakyat Indonesia Dianggap Sudah Punya Kekebalan. (2021). Diakses pada 14 Oktober 2021, dari https://www.voaindonesia.com/a/jumlah-kasus-covid-19-turun-drastis-rakyat-indonesia-dianggap-sudah-punya-kekebalan/6267032.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.