Sekilas Bikin Geli, tapi Binatang Mirip Belatung Ini Bisa Bantu Atasi Sampah Dapur

Mama, lihat deh foto di atas. Merasa geli atau biasa saja? Saya, sih, geli, ya. Kecil-kecil, uget-uget, dan jumlahnya banyak banget. Mirip belatung! Bukan lagi puluhan, tapi mungkin ribuan. Berani coba pegang?

Saat saya menyentuhnya, ternyata teksturnya agak keras, tetapi juga lembek. Ha-ha, bagaimana, ya, menjelaskannya? Badannya terasa empuk saat ditekan, tetapi bagian terluarnya agak keras. Saya mencoba menekan-nekan tubuhnya menggunakan jari telunjuk.

Sementara itu, di depan saya, beberapa perempuan dengan terampil mengambil binatang-binatang kecil yang berkumpul di dalam beberapa bak plastik. “Yang warnanya agak putih kekuningan ini masih segar, kalau yang hitam itu sudah masuk prepupa,” terang salah seorang dari mereka.

Binatang kecil ini namanya maggot. Meski sekilas mirip, maggot tidak sama dengan belatung yang biasa kita temukan pada sampah atau makanan busuk. Keduanya memiliki perbedaan, mulai dari jenis serangga asalnya hingga karakteristiknya.

Menariknya, larva kecil ini ternyata bisa membantu mengolah sampah organik, termasuk sisa makanan dari dapur. Masyaallah, binatang kecil ini pecinta lingkungan rupanya, ya.

Lantas, apa sebenarnya maggot itu? Apa bedanya dengan belatung? Lantas bagaimana makhluk kecil yang mungkin membuat kita geli ini bisa membantu mengatasi persoalan sampah dapur? Yuk, kenalan lebih dekat dengan maggot!

Maggot dan Belatung, Apa Bedanya?

Jika belatung dan maggot disandingkan, sebenarnya bakal langsung terlihat bedanya. Hanya saja bagi yang awam seperti saya, yang pertama terlintas di benak saat melihat maggot adalah belatung besar.

Yup, dari segi ukuran, belatung dan maggot memang berbeda. Maggot BSF yang sudah tumbuh besar umumnya memiliki tubuh lebih panjang dan gemuk dibandingkan banyak jenis belatung yang biasa kita jumpai di sekitar sampah atau makanan membusuk.

Namun, ukuran bukan satu-satunya pembeda. Maggot yang biasa dibudidayakan untuk mengolah sampah berasal dari lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), dengan nama ilmiah Hermetia illucens. Sementara itu, belatung merupakan sebutan umum untuk larva lalat dari jenis lalat lain, misalnya lalat rumah (Musca domestica).

Nah, di sinilah letak perbedaannya. Maggot BSF memang memiliki kebiasaan mengonsumsi bahan organik yang membusuk, tetapi bukan berarti sama dengan belatung yang sering kita jumpai di tempat sampah.

Lalat BSF dewasa juga tidak memiliki kebiasaan seperti lalat rumah yang sering hinggap di makanan manusia. Lalat ini tidak makan saat fase dewasa, dan lebih mengandalkan cadangan energi yang diperoleh saat masih menjadi larva.

Jadi, meskipun penampilannya membuat kita geli, maggot BSF justru punya potensi besar dalam membantu pengolahan sampah organik.

Maggot, Rakus Memakan Sampah Organik

Salah satu keistimewaan magot adalah kemampuannya mengonsumsi berbagai jenis bahan organik. Mulai dari sisa sayuran, kulit buah, hingga sisa makanan tertentu.

Larva BSF membutuhkan banyak makanan untuk tumbuh dan berkembang. Maggot akan memakan sampah organik sebagai sumber makanan untuk tumbuh dan berkembang. Dalam prosesnya, sebagian sampah akan diubah menjadi tubuh magot, sementara sisanya menjadi residu yang masih bisa diolah lebih lanjut.

Kemampuan luar biasa inilah yang membuat maggot mulai dilirik sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik.

Hal ini pula yang dikembangkan oleh Swara Hijau Farm di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur. Pak Endang, pengelola Swara Hijau Farm, menjelaskan bahwa mereka mulai mengembangkan pengelolaan sampah organik dari kegiatan sederhana.

“Kita mulai dari hal kecil, menabung sampah organik. Setahun ada sekitar 20 ember cat. Lalu dapat potensi maggot,” cerita Pak Endang.

Kini, pengelolaan maggot di Swara Hijau Farm juga mulai dikembangkan melalui kemitraan dengan restoran dan SPPG. Sampah organik dari mitra tersebut diangkut untuk diolah lebih lanjut.

Menurut Endang Mintarja, kebutuhan maggot juga cukup besar, bahkan bisa mencapai 1 hingga 2 kuintal. Hal ini menjadi peluang bagi Swara Hijau Farm untuk terus mengembangkan budidayanya.

Bayangkan, sisa makanan yang biasanya langsung kita buang ternyata bisa menjadi sumber makanan bagi larva BSF. Dari sesuatu yang sering dianggap tidak berguna, muncul peluang untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Apalagi maggot tidak menimbulkan bau menyengat. Beda banget dengan aktivitas belatung yang menghasilkan aroma busuk. Dengan begitu, maggot cukup higienis dan tidak membawa sumber penyakit berbahaya bagi ternak maupun manusia.

Belajar Mengolah Sampah Bersama Swara Hijau Farm

swara-hijau-farm
Swara Hijau Farm/ Foto: Nurvita Indarini

Salah satu tempat yang mengembangkan budidaya magot sekaligus menghubungkannya dengan pemberdayaan masyarakat adalah Swara Hijau Farm di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur.

Swara Hijau Farm merupakan unit usaha Yayasan Swara Peduli Indonesia yang mengembangkan kegiatan urban farming untuk mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan komunitas pemulung.

Di tempat ini, budidaya maggot menjadi salah satu kegiatan yang dikembangkan. Bahkan, pengelolaannya mulai dihubungkan dengan kebutuhan pengolahan sampah organik dari pihak luar, seperti restoran dan dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Setiap hari, Swara Hijau Farm mengumpulkan sekitar 40 sampai 60 kilogram sampah dan sisa makanan dari dapur MBG. Jumlah tersebut dimanfaatkan sebagai pakan maggot, dengan kebutuhan sekitar 40-50 kilogram per hari.

Dari proses budidaya ini, Swara Hijau Farm bisa menghasilkan hingga 50 kilogram maggot setiap kali panen. Sebagian besar hasil panen langsung dijual kepada pembeli (off-taker) dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.

Bagi Swara Hijau Farm, maggot bukan sekadar larva pelahap sampah organik. Lebih dari itu, ada peluang untuk mengembangkan rantai usaha yang lebih luas, mulai dari pengelolaan sampah organik hingga produksi bahan baku pakan.

Dari Sampah Dapur Menjadi Pakan Ikan dan Ternak

memilah maggot
Memilah maggot/ Foto: Nurvita Indarini

Maggot tidak hanya bermanfaat selama proses pengolahan sampah. Larva BSF juga mengandung protein dan lemak yang membuatnya berpotensi menjadi bahan baku pakan alternatif.

Dalam budidaya ikan dan ternak, pakan merupakan salah satu komponen biaya yang cukup besar. Karena itu, pemanfaatan maggot menarik perhatian para pelaku usaha peternakan dan perikanan.

Maggot dapat diberikan dalam bentuk segar, dikeringkan, atau diolah menjadi tepung. Tepung magot kemudian bisa digunakan sebagai salah satu bahan formulasi pakan.

Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan kebutuhan nutrisi setiap jenis ikan atau ternak. Magot bukan berarti bisa menggantikan seluruh bahan pakan begitu saja.

Menariknya, proses ini menciptakan hubungan yang saling berkaitan. Sampah organik yang semula tidak dimanfaatkan dapat menjadi sumber pakan bagi larva BSF. Larva tersebut kemudian berpotensi mendukung kegiatan budidaya ikan dan ternak.

Maggot untuk Pakan Ikan dan Ayam Petelur

Tidak semua maggot hasil panen Swara Hijau Farm dijual kepada pembeli. Sebagian lainnya dimanfaatkan sendiri sebagai pakan ikan dan ternak yang mereka budidayakan. Setiap hari, kebutuhan magot untuk keperluan ini mencapai sekitar 1 hingga 2 kilogram.

Namun, untuk menghasilkan maggot berkualitas, Endang tidak asal memberikan sampah organik sebagai pakan. Sisa makanan terlebih dahulu melalui proses fermentasi selama satu malam sebelum diberikan kepada larva.

Menurut Endang, teknik tersebut membuat proses budidaya magot lebih optimal dibandingkan jika larva langsung diberi sampah organik tanpa pengolahan. Dengan pakan yang baik, maggot juga jadi lebih gendut dan glowing.

Selain menjual maggot segar, Endang juga berencana mengembangkan produk turunannya, seperti tepung dan minyak maggot. Produk olahan ini diharapkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif.

“Maggot kering untuk pakan alternatif ayam dan ikan, tapi bisa awet sampai berbulan-bulan,” ungkapnya.

Salah satu pemanfaatan magot di Swara Hijau Farm adalah untuk pakan ikan nila. Saat ini, mereka memiliki empat kolam berdiameter sekitar 1,5 meter yang diisi total 1.000 benih ikan. Ketika panen, hasil budidaya ikan nila bisa mencapai dua kuintal.

Menariknya, hasil panen ikan tersebut sudah memiliki calon pasar. Sebagian besar ikan dipasarkan ke warung makan atau warteg di sekitar lokasi.

Selain untuk ikan, magot juga dimanfaatkan sebagai pakan ayam petelur. Saat ini, Swara Hijau Farm memiliki 10 ekor ayam, terdiri dari satu ayam jantan dan sembilan ayam betina.

Dari sembilan ayam betina tersebut, mereka bisa memperoleh sekitar sembilan butir telur setiap hari. Telur-telur ini kemudian dijual kepada warga sekitar dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasaran.

Dari sini terlihat bahwa pemanfaatan magot di Swara Hijau Farm membentuk sebuah ekosistem sederhana. Sampah organik diolah menjadi pakan larva, maggot dimanfaatkan untuk mendukung budidaya ikan dan ayam, lalu hasilnya kembali menjadi produk pangan yang bisa dinikmati masyarakat sekitar.

Penutup

Selama ini, sisa makanan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak lagi memiliki nilai. Padahal, jika dikelola dengan tepat, sampah organik masih bisa dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang berguna.

Budidaya maggot menjadi salah satu contohnya. Larva BSF dapat membantu mengolah bahan organik sekaligus menghasilkan biomassa yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan dan ternak.

Pengalaman Swara Hijau Farm menunjukkan bahwa pengelolaan sampah juga bisa dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat.

Tentu saja, budidaya maggot bukan satu-satunya solusi untuk persoalan sampah. Pemilahan sampah dari rumah, pengurangan sisa makanan, dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab tetap menjadi langkah penting.

Namun, siapa sangka, binatang kecil yang awalnya membuat saya geli saat menyentuhnya ternyata punya banyak manfaat.

Jadi, lain kali ketika melihat maggot, mungkin kita tidak hanya teringat pada bentuknya yang mirip belatung. Kita juga bisa mengingat bahwa ada potensi besar di balik makhluk kecil ini, terutama untuk membantu mengelola sampah organik yang setiap hari kita hasilkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hitung Captcha


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.