Saat Ibu Lelah, Bukan Berarti Kurang Bersyukur
Pernah nggak, Ma, merasa hati dan pikiran begitu penuh? Fisik dan mental terasa lelah. Alih-alih menangis atau pundung, kita memasak seperti biasa, mengantar anak sekolah, mengingatkan jadwal les, juga tetap membereskan rumah.
Kendati rasanya ingin jeda sesaat, tapi kita berusaha tetap menjawab pertanyaan anak-anak yang datang tanpa henti. Kita pun berupaya senantiasa tersenyum saat bertemu orang lain. Dari luar, tampaknya kita adalah istri sekaligus ibu yang baik-baik saja. Namun, di dalam hati ada banyak hal yang berkecamuk.
Inilah yang beberapa waktu ini sering saya rasakan. 12 Tahun menjadi ibu melahirkan kebahagiaan di satu sisi, tapi juga melelahkan di sisi yang lain. Meski begitu, saya yakin nggak semua orang memahami kelelahan tak kasat mata ini.
Apakah Berlebihan Jika Menyebut Diri Ini Lelah?

Ibu sering kali jadi orang yang tidur paling larut dan bangun paling pagi. Menyiapkan semua keperluan anggota rumah, mengingatkan jadwal setiap orang, dan merawat jika ada yang jatuh sakit. Tanpa disadari, ibu seolah menjadi manajer yang mengatur ritme di dalam rumah.
Namun, kerap kali yang dilakukan ibu tidak terlihat. Segala hal yang dilakukannya dianggap wajar dan nggak perlu diapresiasi. Lelahnya dipandang biasa. Padahal isi kepalanya riuh bukan main. Akibatnya apa? Ibu jadi nggak sabaran.
Mirisnya, ketika ibu marah pada anaknya, sering kali muncul penilaian “Ih ibunya galak”. Lantas saat seorang istri uring-uringan, langsung dicap menyebalkan oleh pasangannya. Ibu berusaha mengerti setiap orang, tapi tidak selalu ada yang memahami lelahnya ibu.
Ketika saya mengatakan diri ini lelah secara emosional, apakah berlebihan? Jujur, saya takut dibilang perempuan yang nggak bersyukur. Pasalnya, di luar sana ada yang berusaha keras membangun keluarga dan memiliki anak. Saya sudah memilikinya, masa iya mengeluh dengan alasan lelah?
“Kamu beruntung lho, lelahnya karena mengurus keluarga dan anak. Soalnya ada banyak orang yang lelah menunggu punya pasangan, capek menghadapi ulah pasangan yang selingkuh, ada juga yang lelah menunggu punya momongan.” Kalimat semacam itu sering sekali saya dengar ketika curhat meluncur dari mulut mungil ini.
Apakah seharusnya ketika lelah membebat kuat diri dan batin ini, seharusnya saya diam dan menerima saja? Lelah dan rasa nggak nyaman lainnya sebaiknya dibiarkan dan berharap menguap begitu saja? Namun, saya khawatir kalau terlalu lama dipendam, nantinya malah jadi gunungan emosi yang akan meledak sewaktu-waktu.
Ketika Langkah Orang Lain Terlihat Mudah dan Ringan

Kadang saya merasa gagal jadi ibu. Meskipun saya mengantongi ijazah S2, tapi kok rasanya nggak bisa memberikan pendidikan yang baik di rumah untuk anak ya? Kerap kali saya bandingkan kemampuan anak saya dengan anak lain. Anak yang ibunya bukan master, anaknya pintar ini dan itu. Namun, anak saya kenapa tidak sehebat itu ya?
Teman saya yang lain, meski ibu di rumah tapi banyak berkontribusi pada finansial keluarga. Sedangkan saya, kok tidak semoncer itu ya? Padahal saya punya pengalaman kerja bertahun-tahun di industri media, tapi kok belakangan malah nggak banyak menghasilkan cuan dari kemampuan menulis?
Dalam pikiran saya, idealnya tuh saya bisa banyak menghasilkan uang dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Seharusnya anak saya juga bisa lebih punya banyak kemampuan ketimbang anak lain yang pendidikan ibunya tidak setinggi saya. Namun, nyatanya?
Belum lagi perkara pertumbuhan anak. Saya sudah mencari ilmu banyak-banyak, ditambah pernah jadi wartawan kesehatan dan parenting, tapi saya kesusahan menambah berat dan tinggi badan si bungsu. Padahal saya sudah aplikasikan teori dengan memberikan tambahan protein, vitamin, dan menjaga waktu tidurnya tercukupi.
Kok ada ya orang yang berjalan beberapa langkah saja tapi hasilnya banyak? Sementara saya, sudah lari puluhan kilometer tapi hasilnya tidak terlihat? Memikirkan itu, batin saya makin lelah.
Saya selalu merasa seorang ibu baru layak disebut berhasil apabila hampir seluruh aspek hidupnya mendekati sempurna. Itu makanya saya kerap terdorong untuk harus menjadi versi terbaik di setiap peran. Hanya saja, dalam hidup memang usaha keras dan hasil terbaik tidak selalu berbanding lurus.
Memahami Diri Sendiri

Saat ada yang bilang kurang bersyukur karena keluhan lelah yang saya suarakan, saya mencoba menerima. Mungkin benar, saya kurang pandai melihat nikmat yang Allah berikan.
Akan tetapi saya akhirnya menyadari bahwa mengakui diri ini lelah bukan berarti tidak bersyukur. Ya, saya bersyukur sekali memiliki keluarga kecil ini.
Kadang saya merasa suami kurang peka, tapi sebenarnya dia bisa diajak diskusi dan mau mendengar. Anak-anak saya mungkin ada saja tingkahnya, tapi saya bersyukur mereka sehat dan sejatinya mau diajak bekerja sama.
Meski begitu, saya juga tidak menyangkal bahwa menjalani peran sebagai seorang ibu terkadang menguras emosi dan energi. Karena itu, saya mencoba belajar memahami diri sendiri.
Suatu kali setelah menumpahkan segala rasa di atas sajadah, saya berkontemplasi. Kenapa ya saya kok gampang lelah? Kenapa juga saya kerap membandingkan diri saya dengan orang lain yang pada akhirnya membuat saya merasa gagal dan lagi-lagi kehabisan tenaga?
Masih mengenakan mukena, saya browsing artikel di mesin pencari. Bukan sedang ingin mendiagnosis diri sendiri, tapi ingin memahami apa yang sebenarnya saya rasakan. Kadang membaca pengalaman ibu lain atau artikel tertentu membantu saya lebih lega.
Akhirnya saya terdampar di artikel berbahasa Inggris berjudul “The Mother Load: Mental Load, Emotional Labor, and Why You’re So Tired”. Tulisan tersebut menjelaskan seringkali hal yang membuat ibu terkuras tenaganya adalah pekerjaan tak terlihat. Misalnya saja mengingat jadwal anak, memastikan stok barang kebutuhan di rumah, menenangkan anak yang sedang marah, hingga memikirkan kebutuhan seluruh anggota keluarga.
Membaca paragraf awalnya membuat saya langsung merasa dimengerti. Artikel itu juga menyebut bahkan ketika ibu sedang istirahat, pikirannya tetap bekerja. Wah, ini benar sekali!
Nah, hal itu disebut mother load, yang merupakan gabungan dari mental load (beban kognitif) dan emotional labor (kerja emosional). Suatu kondisi yang setiap hari dipikul banyak ibu.
Emotional Labor dan Mental Load

Emotional labor adalah pekerjaan emosional yang tidak terlihat. Sedangkan mental load merupakan pekerjaan berpikir yang tidak pernah berhenti.
Jika saya sedang menjaga agar suasana rumah tetap damai atau mengantisipasi konflik yang mungkin terjadi, itu merupakan emotional labor. Di sini, ibu bertindak sebagai pengatur “suhu emosi” di rumah.
Sedangkan bila saya sedang mengingat semua jadwal les anak atau merencanakan menu untuk sepekan, maka itu termasuk mental load. Dalam hal ini, ibu berperan sebagai “manajer proyek” keluarga.
Ibulah yang paling tahu apa yang perlu dilakukan, kapan tenggat waktunya, serta bagaimana caranya. Memang, ibu terkadang mendelegasikan tugas, tapi banyak hal dikerjakan sendiri. Suatu pekerjaan yang tidak dibayar, tidak terlihat, dan sering kali tidak mendapatkan pengakuan. Ya Allah, ini saya banget. Ini yang kerap saya rasakan dan alami.
Nah, ketika seorang ibu dalam kondisi mother load berkepanjangan, maka tubuhnya akan terus berada dalam mode siaga. Sistem saraf bekerja terus-menerus tanpa jeda. Ah, benar juga, hal inilah yang membuat saya mudah cemas, sulit rileks, mudah marah, dan merasa tidak pernah benar-benar beristirahat.
Ini yang Saya Lakukan untuk Mengatasi Rasa Lelah Tak Berujung

Saya memang menikmati peran sebagai ibu. Namun, tidak saya pungkiri, kadang lelah tak berujung yang sulit diungkapkan itu nyata adanya. Saya tahu bahwa saya tidak sedang lebay atau berlebihan. Ternyata yang merasakan hal ini bukan hanya saya sendiri.
Di luar sana, banyak juga ibu-ibu yang harus juggling peran yang satu dan yang lain di waktu yang berkejaran. Tetap mengurus rumah, menemani anak belajar, memasak, tapi juga disambil bekerja dari rumah. Peran yang terus berubah memengaruhi cara pandang perempuan terhadap diri sendiri sebagai seorang ibu.
Nah, biasanya nih, sebulan sekali saya hampir selalu uring-uringan. Seringnya, puncaknya adalah mendekati periode menstruasi. Awalnya niatnya curhat ke suami, eh saya malah merasa dihakimi. Ujung-ujungnya, jadi berantem dengan suami.
Menyesakkan memang. Namun, kabar baiknya, tidak ada masalah yang tidak memiliki penyelesaian. Buktinya, di luar sana ada kok ibu-ibu yang memilih menjadi bahagia dengan segala tantangan yang dihadapi. Betul, tantangannya beda, isi kepalanya juga tidak sama. Namun, berita baik dari sesama ibu insyaallah menularkan energi yang baik juga.
Berbekal energi positif, saya ingin berbenah. Di bulan lalu, Juni 2026, saya ajak suami ngobrol. Tujuannya adalah untuk melancarkan ikhtiar mengurai lelah kronis yang bikin saya merasa nggak dipahami. Bagaimanapun, suami adalah support system terbaik yang saya miliki.
1. Saat Diri Terasa Penuh, Minta Suami untuk Mendengar
“Ayah, suatu hari nanti kalau aku merasa sedang uring-uringan, tolong dengarkan aku saja ya. Kadang aku bicara panjang lebar tuh bukan untuk cari solusi, tapi cuma butuh Ayah ada di sisi yang sama denganku.”
Kalimat itu saya sampaikan ke suami saat kami sedang pillow talk. Harapan dan doa saya langitkan, semoga suami saya diberi telinga yang selalu adem. Sehingga dia nggak kepanasan dan buru-buru cari solusi saat saya sedang curhat.
2. Beri Kesempatan Tubuh untuk Berhenti Sejenak
Harus mengerjakan ini dan itu, serta mengingat banyak hal rasa-rasanya bikin dunia terasa sempit. Jika suatu hari hal ini saya rasakan, maka saya akan bergegas memberi kesempatan tubuh ini untuk berhenti.
Caranya, saya kasih tahu ke seisi rumah bahwa saya akan mengunci diri di kamar sejenak. Yup, benar-benar sejenak, karena hanya sekitar 2-5 menit saja. Di kamar, saya akan istighfar, tarik napas dan buang napas sampai ada rasa lega yang menyusup. Setelah itu tersenyum, baru keluar kamar.

3. Bangun Kebiasaan Saling Peduli di Rumah
Di rumah, saya adalah sosok paling cantik. Tentu saja, karena dua anak saya adalah laki-laki. Kepada mereka, saya dan suami beri tahu juga untuk saling peduli, terutama peduli pada ibunya, he-he-he.
Jadi, jika mamanya sudah mulai banyak mengomel, itu artinya kelelahan. Karena itu penting untuk peduli dengan cara tidak menimbulkan suara bising, merapikan yang berantakan, atau sekadar menawarkan minuman dingin. Boleh juga dengan bertanya, “Apa yang bisa dibantu” atau “Apa yang bisa bikin perasaan Mama lebih baik?”
Peduli itu bukan hanya dimiliki ibu, tapi juga anggota keluarga lainnya. Dengan saling peduli, jadi merasa disayang dan dipahami.
4. Tidak Perlu Mengejar Kesempurnaan
“Ma, tugas kita kasih protein yang baik, nutrisi yang baik, stimulasi juga. Tapi kalau anak kita memang saat ini tidak terlalu tinggi, nggak apa-apa. Kan Mama sendiri yang bilang ikhtiar harus maksimal, hasilnya terserah Allah. Gitu ya, biar Mama nggak stres?”
Kali ini suami yang memberikan saran. Termasuk saat saya mengajari anak mengaji atau matematika. Ketika mereka tidak sepintar yang saya harapkan ya sudah, tidak apa-apa.
Apabila akhir-akhir ini saya ikut banyak lomba blog dan ternyata tidak ada yang nyangkut sebagai pemenang juga nggak apa-apa. Jika saya melamar banyak peluang freelance dan belum juga mendapat proyek pun nggak masalah.
“Kadang ya, Ma, hasil dari ikhtiar kita nggak harus kelihatan sekarang. Mungkin Allah masih menahan atau sedang menyiapkan jalan yang lain. Kita ikhtiar saja terus yang terbaik, dan nggak usah dipusingkan hasilnya,” sambung suami.
Saya mengangguk setuju. Bahkan dalam menjalani peran ibu, saya juga nggak dituntut untuk menjadi yang paling hebat, paling produktif, dan paling berprestasi. Suami dan anak-anak menerima saya apa adanya. Mereka butuh kasih sayang, bukan deretan sertifikat penghargaan.
Saya berusaha memahami diri sendiri dengan menerima bahwa semua usaha akan langsung memberikan hasil. Tidak menang lomba, tidak mendapat proyek, dan terkadang kelepasan marah saat menghadapi tingkah anak tidak membuat saya gagal. Mungkin tidak berhasil kali ini, tapi insyaallah saya punya kesempatan untuk menjadi lebih baik di lain waktu.
“Kadang memastikan kita semua baik-baik saja juga sudah cukup, Ma,” lanjut suami yang bikin kaca-kaca .

5. Berbagi Tanggung Jawab
Sering kali yang bikin lelah seorang ibu adalah karena “mengambil alih” tanggung jawab seisi rumah. Anak yang les, tapi ibu yang mengingat jadwal. Suami diajak bertemu keluarga, istri yang mengingat waktu dan tanggal.
Untuk mengurangi peran ibu sebagai manajer segala hal, sudah seharusnya tanggung jawab dibagi. Anak yang les, maka dirinyalah yang harus mengingat jadwal dan mengatur waktu. Pun dengan suami yang punya janji dengan orang lain, baiknya menggunakan fitur pengingat di handphone-nya sendiri.
Si sulung juga bertanggung jawab mengatur seragam sekolahnya. Jadi dialah yang akan memastikan seragam tersebut telah dicuci dan disetrika, sehingga siap digunakan sesuai jadwalnya.
Penutup
Mama-mama yang kebetulan mampir di tulisan ini, mungkin kita pernah berada di kapal yang sama. Kapal berisi ibu-ibu yang merasa gagal dan lelah tanpa ada orang bisa memahami. Jangankan orang lain, kadang diri sendiri pun gagal paham.
Namun, tidak perlu merasa lemah saat diri sedang lelah. Memikul beban yang terlalu besar dan terlalu banyak, apalagi bebannya tak terlihat, memang menguras energi dan emosi.
Sebagai ibu, mungkin sudah “setelannya” memberikan kasih sayang dengan berusaha menjadi segala-galanya bagi seisi rumah. Kita cekatan memenuhi kebutuhan suami hingga anak-anak, sehingga tidak ada yang kurang perhatian.
Namun, tidak lantas mengabaikan diri sendiri dengan memberi perlakuan yang berbeda. Jika keluarga mendapatkan perhatian kita, maka diri kita pun layak mendapat perlakuan yang sama. Karena merawat diri itu bukan berarti kita egois, tapi bagian dari ikhtiar agar tetap mampu membersamai keluarga dengan sepenuh hati.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026
Referensi
ABC News. “The Real Reason Mothers Are So Tired” (Artikel ini merupakan publikasi ulang dari Babble), https://abcnews.com/Lifestyle/real-reason-mothers-tired/story?id=30956134
Center for Mindful Relationship. “The Mother Load: Mental Load, Emotional Labor, and Why You’re So Tired,” https://www.cfmrsandiego.com/blog/mother-load