Paket Terakhir dari Ibu
“Mbak, nanti sore Ibu mau ke JNE. Mau kirim kering tempe.” Ibu memberitahu melalui sambungan telepon. Kering tempe yang sebenarnya bisa bikin sendiri atau beli di warteg dekat rumah. Namun, kering tempe buatan ibu selalu layak dinanti.
“Nggak usah banyak-banyak, Bu. Nanti Ibu repot bawa paketnya,” saran saya.
“Sedikit kok, nggak repot. Semoga cucu nanti suka ya. Ibu bikinnya nggak pedas,” balas ibu.
Ah, ibu selalu begitu. Dia ingat benar cucunya pernah makan dengan sangat lahap saat kami pulang kampung. Kala itu, ibu membuat kering tempe. Jadilah ibu menyimpulkan bahwa kering tempe buatannya adalah resep manjur mengatasi gerakan tutup mulut alias GTM si kecil.
Kardus Kecil dengan Sejuta Cinta

Suatu siang, saya menuruni tangga dari lantai dua dengan langkah kecil. Kesibukan menjemur baju di lantai dua membuat saya tidak dengar telepon dari kurir pengantar paket.
Untunglah ada suami yang membantu menerima paketnya. Olehnya, paket dalam bentuk kotak cokelat seukuran kardus mi instan ditaruh di meja tamu.
Bergegas saya buka isi paketnya. Sekotak kering tempe ada di dalamnya. Kering tempe itu tidak sendiri. Ada terasi dan makanan kecil yang sering ibu beli di pasar juga. Bahkan ada pula dua tangkai bunga kecombrang.
Saya tersenyum melihat isi paket dari ibu. Pasti ibu memasak dengan penuh semangat. Saat ke pasar, mungkin Ibu memberi tahu seisi pasar bahwa makanan yang dibeli akan dikirim untuk cucu-cucunya di Jakarta. Sepertinya pasar kecil di Cilacap, Jawa Tengah, itu paham sekali kebiasaan Ibu.
Ibu yang lincah, yang mengisi kardus kecil ini dengan sejuta cinta, sebelum mengirimkannya. Hanya saja, saat itu saya menganggap paket dari ibu sebagai sesuatu yang biasa. Apalagi itu bukan pertama kali ibu mengirim paket buat kami.
Paket dari ibu adalah bentuk perhatian yang sudah begitu sering saya terima, sehingga terasa lumrah. Itu makanya saya tidak menyimpan plastik pembungkusnya. Saya juga tidak memotret isi kardusnya. Bahkan saya tidak berpikir bahwa suatu hari nanti akan berusaha mengingat kembali satu demi satu isi paket tersebut.
Saat itu, saya hanya mengirimkan pesan singkat pada ibu. Isinya adalah pemberitahuan bahwa paketnya sudah saya terima dengan baik.
“Penyok nggak Mbak? Kering tempenya masih renyah? Kecombrangnya nggak busuk ‘kan?” Ibu memberondong dengan pertanyaan untuk memastikan paket kirimannya sampai dengan aman.
“Alhamdulillah aman semua, Bu. Kardus nggak penyok. Ini kami sedang makan kering tempenya, digadoin sambil baca buku. Kecombrang juga masih segar, besok mau dibikin campuran gulai daun singkong.”
Saya selalu khawatir bikin ibu repot. Maklum, di rumah ibu punya banyak seabrek kegiatan. Pengajian, arisan, juga berbagai perkumpulan. Namun, selalu saja kalau saya minta ibu tidak usah repot-repot, ibu malah semakin semangat sibuk membuat ini itu untuk dikirim ke Jakarta.
Kadang saya berpikir apa kelak saya akan seperti ibu? Ya, saat anak-anak sudah dewasa dan tinggal terpisah, apakah saya akan sibuk membuat makanan kesukaan mereka? Sambil membayangkan masa kecil mereka, saya kemas isi paket dan mengantarnya ke kios JNE di dekat rumah. Saat itu, apakah saya masih lincah naik sepeda motor?
Paket Berisi Kering Tempe Ibu yang Tak akan Datang Lagi

Hal-hal yang biasa kita dapati baru akan terasa sangat berharga saat tak lagi ditemui. Paket berisi kering tempe dan makanan lain dari ibu terakhir dikirim awal 2023 lalu. Kini, tiga tahun berselang. Tak ada lagi paket dengan isi sejuta cinta ibu yang datang.
Ibu berpulang pada November 2023. Di suatu hari terbaik yang Allah pilihkan bagi ibu untuk berpulang. Ketika mengantar ibu ke peristirahatannya yang terakhir, satu demi satu kenangan melintas.
Kenangan masa kecil yang begitu hangat bersama orang tua yang lengkap. Memori saat saya menyelesaikan pendidikan di setiap jenjang. Masih teringat jelas ibu datang jauh-jauh ke Yogyakarta dan ke Bandung untuk menghadiri wisuda sarjana dan pascasarjana saya.
Juga kenangan tentang paket-paket sederhana yang kerap ibu kirimkan dari Cilacap ke Jakarta. Paket sederhana yang sesak oleh cinta dan perhatian ibu. Sesimpel paket berisi kering tempe yang ternyata saat ini saya tidak bisa membuat kering tempe seenak bikinan ibu.
Kering tempe buatannya tetap renyah meski sudah beberapa hari. Manisnya pas, gurihnya pun tidak berlebihan. Kering tempe yang tidak pedas meski ada irisan cabai merahnya.
Di awal 2023 itu, saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti akan berusaha mengingat kembali satu per satu isi paket tersebut. Tidak terbayang pula saya akan mengingat paket itu dengan berurai air mata. Seperti saat ini.
Mungkinkah petugas JNE di dekat rumah bertanya-tanya kenapa ibu-ibu berperawakan kecil itu tak lagi datang? Apakah terlintas di benaknya sebuah pertanyaan tentang ibu saya yang tak lagi mengirim paket ke Jakarta?
Kenangan yang Membekas, Kebahagiaan yang Tersimpan

Hari ini saya memasak kering tempe. Masakan kesukaan kami sekeluarga yang rasanya memang jauh berbeda dari buatan ibu. Namun, bagaimana pun rasanya, setiap makan kering tempe, kenangan tentang ibu dan paketnya selalu menghambur. Kenangan itu begitu kuat, menghadirkan berkas kebahagiaan dari masa lalu.
Ah, di masa itu, kebahagiaan ibu dan anak-cucunya di Jakarta sangat terhubung. Ibu selalu ingin menyalurkan kebahagiaan sederhananya. Jika Ibu senang makan sesuatu, semua ingin dia kirim juga pada kami. Bahkan pernah ibu mengirimkan paket berisi mangga dan kelengkeng. Ibu ingin kami turut mencicipi hasil kebun di samping rumah.
Kami pun selalu menerima kiriman ibu dengan bahagia. Kendati terpisah jarak, kami bisa makan makanan yang sama dengan ibu. Apalagi semua paket tiba tanpa cela. Tidak ada yang pecah, bahkan penyok.
Kini, paket-paket dari ibu memang tidak akan lagi datang. Namun, hangatnya suasana setiap kali kami dulu menerima paketnya tetap terasa hingga kini. Kendati tidak ada lagi foto-foto paketnya, tapi kebahagiaan itu kami lipat dan simpan dengan baik di lubuk hati.
#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita