Posting Nilai TKA Terbaik di Media Sosial, Yeay or Nay?

Semenjak pengumuman nilai Tes Kemampuan Akademik, media sosial dibanjiri postingan sekolah terkait peraih nilai TKA terbaik. Hal ini lantas menimbulkan pro dan kontra. Hmm, posting nilai TKA yeay or yay, ya?

Bagi yang pro, hal ini dianggap sebagai bentuk apresiasi pada anak. Yup, terlepas dari adanya faktor keberuntungan untuk mendapatkan nilai yang tinggi tersebut. Pasalnya, ada orang tua yang sangsi bobot soal TKA tidak merata. Hal itu mengakibatkan dugaan ada anak yang dapat soal mudah dan ada yang dapat soal lebih sulit.

Sedangkan bagi yang kontra, TKA dianggap bukan kompetisi seperti olimpiade dan lomba-lomba lainnya. Karena itu, tidak selayaknya peraih nilai tertinggi harus dipamerkan di media sosial. Apalagi ada rasa iba pada anak-anak yang sama-sama sudah berjuang dan berusaha keras, tapi ternyata nilai TKA tidak terlalu baik.

Pendapat Saya Pribadi Terkait Posting Nilai TKA Terbaik

posting nilai TKA
Ilustrasi pengumuman nilai TKA/ Gambar: Canva AI

Beda pendapat tentu boleh-boleh saja. Yang tidak boleh adalah merendahkan pendapat orang lain yang berbeda.

Saya pribadi berpendapat sah-sah saja pihak sekolah memposting nilai TKA terbaik siswanya di media sosial. Bahkan jika ada sekolah yang mengolah data rata-rata nilai siswa di sekolahnya, lalu dibandingkan dengan rerata nasional atau provinsi. Jika memang di atas rata-rata, bukankah itu baik dan bisa jadi branding sekolah?

Meski memang sih ada anak-anak yang di-boost dengan bimbel-bimbel melelahkan sepulang sekolah. Namun, sekolah juga pasti sedikit banyak turut andil dalam memberi pemahaman materi TKA pada siswanya.

Nilai TKA memang bukan penentu kelulusan, bahkan keikutsertaan siswa pun tidak wajib. Kendati demikian, nilai TKA turut digunakan siswa saat mendaftar sekolah lanjutan menggunakan jalur prestasi.

Di tengah “cibiran” adanya katrol nilai raport. Di antara “tudingan” asesmen sumatif sekolah yang sengaja dibuat mudah. Di sela-sela “anggapan” anak-anak sekarang kurang belajar giat karena merasa pasti akan anak kelas dan nilainya akan tetap bagus-bagus saja. Nggak apa-apa sih posting nilai TKA terbaik.

Menurut saya, yang nggak boleh adalah memajang pemeringkatan nilai. Kalau pemeringkatan sampai bawah dipajang, anak-anak yang nilainya kecil bisa malu. Bahkan karena itu, saat pengumuman TKA oleh sekolah, saya lebih setuju orang tua siswa dijapri satu per satu saja. Jadi nggak ada yang bisa ngecek siapa sih yang nilainya paling kecil.

Saya juga setuju ada postingan penyemangat dan motivasi bagi siswa yang nilai TKA-nya tidak sesuai harapan. Karena bagaimana pun, ada kerja keras dan kejujuran yang juga wajib diapresiasi.

Kasihan Anak-anak yang Nilai TKA Kecil

nilai TKA terbaik
Ilustrasi pengumuman nilai TKA/ Gambar: Canva AI

Saya baca-baca di media sosial, memang ada anak-anak yang kecewa berat saat nilai TKA-nya kecil. Apalagi jika selama ini anak-anak tersebut dikenal sebagai siswa yang pandai. Namun, hal-hal seperti ini kerap ditemukan dalam berbagai ujian atau tes skala nasional.

Kalau tidak salah ingat, dulu zaman ujian nasional, ada anak yang menjuarai olimpiade, tapi nilai UN jeblok. Entah apa yang salah, tapi fakta itu pasti menyakitkan.

Namun, saya baca-baca dan dengar cerita-cerita tentang TKA, ada juga anak-anak yang tidak peduli. Mereka tidak peduli pada temannya yang meraih nilai tertinggi.

Beberapa anak juga tidak acuh dengan nilainya yang jauh dari harapan. Ada yang beranggapan karena ada anak yang terbiasa belajar sekenanya dan yakin semua hal akan tetap baik-baik saja.

“Meski belajar nggak maksimal, nggak terlalu memperhatikan pelajaran di kelas, dan berdampak nilai TKA kecil, toh tetap bisa sekolah. Asal kuat duitnya, bisa sekolah di swasta yang cukup bagus,” ucap seseorang.

Karena nggak ada survei dan penelitiannya, saya juga nggak bisa bicara banyak soal ini. Namun, saya setuju kalau semua anak, terutama yang sudah belajar keras tapi nilai TKA kecil, tetap mendapat apresiasi. Mereka semua anak-anak hebat karena sudah mau berusaha dan menyelesaikan TKA.

Penutup

Semua orang pasti punya landasan masing-masing atas pendapatnya. Jika ada sekolah yang mengapresiasi siswa-siswi peraih nilai TKA terbaik dengan memposting di media sosial, itu sama sekali nggak salah. Mau nggak diposting juga bukan kesalahan.

Hanya saja, nggak perlu saling hujat dan merasa paling benar. Perihal ini, baik dan buruk itu perkara persepsi.

Di sekolah anak saya juga tidak ada apresiasi untuk peraih nilai TKA terbaik. Kebetulan anak saya juga bukan peraih nilai tertinggi juga di sekolahnya. Apresiasi untuknya tidak kami hadirkan melalui posting di Instagram atau piala, tapi dengan pelukan, pujian, dan hadiah kecil.

Pada akhirnya memang tidak perlu tepuk tangan meriah dan validasi dari siapa pun. Bukan dari sekolah, tidak juga dari warganet. Anak mungkin akan merasa lebih dihargai, apa pun pencapaiannya, jika orang tuanya sendiri yang menyampaikan kebanggaan di ruang paling pribadi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.