Cerita di Balik Nilai TKA Matematika 20-an Menjadi 70-an
“Ini nilai TKA apa nomor sepatu? Kecil amat!” Kalimat semacam itu banyak saya baca di media sosial. Ada beberapa orang tua yang kecewa mendapati nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) anaknya. Padahal, katanya anaknya termasuk pintar di kelas.
Hmm, saya menarik napas panjang. Nggak tega mau menyalahkan anak. Anak saya juga dulu awalnya try out TKA matematika nilainya mirip nomor sepatu batita: 20-an. Alhamdulillah di TKA yang sebenarnya nilai anak saya meningkat jadi 70-an.
Selalu ada cerita di balik sesuatu. Kali ini, saya mau cerita tentang TKA anak saya yang duduk di kelas 6 sekolah dasar (SD). Semoga ada manfaatnya.
Akhirnya! Nilai TKA SD 2026 Diumumkan

Beberapa hari lalu saya sempat nulis tentang betapa deg-degannya menanti pengumuman TKA 2026. Apalagi di media sosial ada yang bilang sudah bisa mengetahui hasilnya, sedangkan hasil anak saya masih berselimut misteri.
Akhirnya, sehari setelah Idul Adha, tepatnya 28 Mei 2026, sekolah anak saya menyampaikan secara resmi hasil TKA. Gimana hasilnya?
Anak saya nilai TKA-nya termasuk lumayan sih. Terutama matematika yang selalu saya khawatirkan, nilai TKA anak saya adalah 73,33. Sedangkan bahasa Indonesianya 83,65. Total nilai TKA-nya 160, jadi rata-ratanya 80.
Jika dibandingkan dengan rata-rata capaian TKA nasional dan provinsi DKI Jakarta, nilai anak saya alhamdulillah di atas rata-rata. Rerata nilai TKA DKI Jakarta adalah 71,3 untuk bahasa Indonesia dan 51,38 untuk matematika.
Sedangkan rata-rata nasional, matematika adalah 42,41. Untuk bahasa Indonesia, rata-rata nasionalnya 60,14.
Dilihat dari nilai rata-rata itu, capaian anak saya sudah di atas rata-rata. Meskipun, jujur, saya sempat berharap nilai bahasa Indonesia-nya bisa di atas 90. Dia lho, suka baca, nggak main gadget, masa nilai bahasa Indonesia nggak sampai 90.
Namun, sebelum kesal dan menyalahkan anak, saya ucap alhamdulillah banyak-banyak. Saya adalah saksi mata bagaimana dia belajar, berusaha, dan berdoa. Rasanya tidak fantasss menyalahkan dia.
Selama beberapa bulan ini, dia pulang sekolah hampir selalu lebih sore. Pasalnya, di sekolah ada pendalaman materi. Anak-anak diajak membiasakan diri mengerjakan soal-soal sesuai kisi-kisi TKA.
Sampai rumah cuma istirahat sebentar, lalu lanjut les secara online. Karena les di beberapa tempat, jadi waktunya sangat padat.
Dia ada les matematika online yang diikuti sejak kelas 5. Ada les bahasa Inggris online sepekan sekali. Les TKA dua kali sepekan. Ditambah satu lagi tes matematika TKA 2 kali sepekan juga. Lalu, sepekan menjelang TKA, dia les matematika setiap malam.
Dengan padatnya les di mana-mana, apakah adil jika saya menyalahkan dia atas hasil yang sebenarnya sudah termasuk baik itu? Jahat sih, kalau saya melakukan itu. Alhamdulillah, saya nggak jadi jahat.
No Comic, No Gadget, No Novel Book

Sebulan menjelang TKA digelar, terpaksa saya lebih ketat mengatur waktu anak. Kasihan banget sebenarnya, anak yang nggak main game seperti teman-temannya itu, tidak leluasa menikmati waktu santai.
Paling sebagai hiburan, saya perdengarkan animasi anak di YouTube. Perdengarkan, bukan dipertontonkan. Jadi, sambil dia makan, saya setel tuh animasi pilihan dia.
Sepekan menjelang TKA, dia makan sambil baca buku pelajaran. Jadi anak saya itu kalau makan terbiasa sambil membaca (jangan diikuti). Karena nggak boleh baca komik, novel anak, dan buku cerita, jadilah dia membaca buku pelajaran. Kalau sedang lelah, dia baca komposisi makanan di kemasan tepung bumbu. Hiks, kok sedih ya…
Biasanya anak saya mengakses gadget pada Sabtu dan Ahad, itu pun maksimal satu jam saja. Menjelang TKA, keistimewaan itu ditangguhkan. Soalnya, sering kali konten di gadget membuat rasa ingin tahunya akan sesuatu kian merajalela. Jadilah dia merengek minta waktu tambahan untuk cari info sesuatu yang di ingin ketahui. Daripada-daripada, mending puasa gadget dulu.
Untuk hiburan, saya ajak dia motor-motoran keliling kampung. Saya belikan dia makanan favorit. Saya hidangkan makanan bergizi tinggi. Saya pijat badannya kalau lelah. Serta saya bebastugaskan dirinya dari pekerjaan rumah tangga.
“Ibunya itu ambis banget ya? Pengin banget anaknya dapat nilai 100 kayanya.” Ada yang membatin beginikah? Jujur, saya adalah pribadi yang ambisius sejak kecil. Namun, untuk anak, saya tidak mau memaksakan dirinya harus seperti saya.
“Kata orang, usaha tidak menghianati hasil ‘kan? Mama kurang setuju. Tugas kita itu ikhtiar maksimal dan berdoa. Hasilnya bukan urusan kita, tapi urusan Allah. Kita mau cari keberkahan dan rida Allah dengan ikhtiar maksimal,” begitu kata saya kepada anak.
Saya pun menemani anak les matematika. Saya simak mentornya, kerjakan soalnya, mencatat aneka rumus dan tipsnya. Semua itu bagian dari ikhtiar dan dukungan terbaik yang bisa saya berikan.
Lalu ketika nilai TKA anak tidak seperti beberapa anak lain yang mencapai 90 atau nilai sempurna 100, ya itu nggak apa-apa banget. Ketika dia bukan anak yang nilai TKA-nya paling tinggi di sekolah juga nggak apa-apa sekali.
Nggak Perlu Sedih Berlarut-larut Jika Nilai TKA Jauh dari Harapan

Siapa pun pasti ingin punya nilai yang baik, bahkan kalau bisa yang terbaik. Namun, hidup tuh nggak selalu seperti yang kita ingin. Jadi orang baik saja, masih banyak yang nggak suka. Pun, belajar keras pun kadang hasilnya jauh dari harapan.
Sedih saat nilai TKA tak sesuai harapan itu wajar banget. Nggak apa-apa. Kecewa juga sah-sah saja.
Saya sempat bilang ke suami, “Selama bentuk soal pilihan ganda, faktor keberuntungan masih bisa terjadi.” Nih, contohnya anak saya yang TK saat ikut olimpiade matematika.
Sebelum olimpiade berlangsung, saya bilang sama dia, “Nanti kalau ada soal yang nggak bisa, pilih saja salah satu di lembar jawaban sambil bismillah.” Namun, tahu nggak yang terjadi gimana? Saat olimpiade, dia nggak baca soal, tapi langsung saja menyilang huruf di lembar jawaban sesuka hatinya.
Hasilnya? Memang sih, nilainya tidak tinggi. Namun, dia ada di daftar anak-anak dengan nilai cukup lumayan. Sedangkan anak lain di kanan kirinya yang terlihat lebih serius mengerjakan, nilainya jauh lebih rendah dari anak saya.
Terus, nilai TKA anak jauh dari harapan bukan berarti anak kita bodoh lho. Bisa jadi, tipe soal TKA tuh nggak sesuai sama dia. Mungkin dia lebih menonjol nilainya kalau dikasih soal model mencongak ataupun trivia. Ada juga yang cocok untuk menguraikan jawaban secara panjang lebar.
Bisa juga, kekuatan anak kita bukan di bahasa Indonesia dan matematika, dua mata uji di TKA ini. Mungkin dia jago bahasa Inggris, jago hafalan Al-Qur’an, jago olahraga, jago prakarya, jago public speaking, atau jago menulis. Ada berbagai kemungkinan.
Penutup

Nilai TKA matematika anak saya berdasarkan try out yang awal-awal dia ikuti memang 20-an. Hal itu sudah pasti bikin sedih dan khawatir. Namun, alhamdulillah, dia mau berusaha keras. Mencoba mengejar materi yang mungkin masih belum terlalu paham.
Alhamdulillah, Allah memberinya nilai 70-an untuk hasil TKA matematika. Meningkat 50 poin dari beberapa bulan lalu. Lega sekali, karena di beberapa try out lainnya, nilai matematikanya 50-an. Pernah di fase, “Ya Allah, sudah usaha keras kok segini-segini saja.”
Saya belajar menurunkan ekspektasi. Toh, anak saya nggak akan menggunakan hasil TKA ini, lantaran akan melanjutkan ke SMP swasta. Kami cuma sekadar menjadikan TKA ini alat uji kecil apakah dia sudah menguasai pelajaran.
Apalagi karena ada TKA ini ‘kan saya jadi belajar bareng dia saat les online. Saya lebih paham mana yang dia benar-benar mengerti dan mana yang selintas lalu. Coba nggak ada TKA, pasti latihannya pure dari buku pelajaran di sekolah yang mungkin sudah dibahas bersama guru. Bisa jadi saat dijelaskan di sekolah, anak saya belum sepenuhnya paham.
Anak-anak kita hebat kok karena sudah mau bekerja sama, mau berjuang, dan mengerjakan dengan kejujuran. Kalau pencapaian akademik, mungkin tidak terlalu susah mengejarnya. Namun, jika soal akhlak, ini yang jauh lebih penting.
Percuma anak kita nilai TKA-nya tinggi tapi gemar menghina temannya yang kemampuannya kurang. Nggak elok juga jika nilainya bagus, tapi mudah berkata kasar dan mengata-ngatai orang. Sayang juga apabila nilainya tinggi, tapi hobby merundung. Amit-amit ya, Ma!
Yuk, peluk anak-anak kita. Semoga yang sempat sedih, bisa kembali ceria. Lantas yang happy karena nilainya bagus, jangan sampai tinggi hati. Bismillah, jalan di depan anak-anak masih panjang. Semoga kita selalu dimampukan mendampingi mereka dalam ketaatan kepada Allah. Aamiin.