Downgrade Lifestyle Ibu Rumah Tangga, Seni Bertahan di Tengah Biaya Hidup yang Makin Tinggi

Di media sosial sedang ramai pembahasan tentang downgrade lifestyle, nih. Naiknya harga barang kebutuhan pokok, menurunnya pendapatan, hingga sulitnya mendapatkan pekerjaan menjadi beberapa alasan mengapa sebagian orang mulai menurunkan standar gaya hidupnya.

Mama sendiri bagaimana? Apakah termasuk tim yang ikut downgrade lifestyle atau justru masih menjalani gaya hidup seperti biasa?

Ikut atau tidak tren ini, tentu bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Sebab kondisi rumah tangga setiap orang berbeda-beda. Ada yang memang perlu mengencangkan ikat pinggang karena penghasilan berkurang, ada yang ingin memperkuat tabungan, dan ada pula yang merasa sudah waktunya menjalani hidup dengan lebih sederhana.

Apa pun pilihannya, semoga kita tetap bisa menjaga empati. Jangan sampai pilihan hidup kita membuat orang lain merasa rendah diri. Sebaliknya, jangan pula tumbuh rasa hasad ketika melihat kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain.

Nah, bagi ibu rumah tangga yang sering menjadi manajer keuangan keluarga, downgrade lifestyle bisa dibilang sebuah seni. Yup, seni mengatur ulang prioritas agar keluarga tetap bisa menikmati hidup meskipun ada penyesuaian di sana-sini.

Hidup hemat bukan berarti keluarga tidak boleh bahagia dan bersenang-senang. Kita hanya perlu menemukan cara lain untuk menikmati hidup, tanpa harus memaksakan diri mengikuti standar yang mungkin tidak sesuai lagi dengan kondisi keuangan saat ini.

Mengenali Kondisi Keuangan Keluarga

Jujur, saya sedih banget saat membaca utas-utas tentang downgrade lifestyle di media sosial. Ada yang beberapa bulan lalu masih menerima gaji bulanan, tetapi kini harus bekerja serabutan lantaran terkena PHK. Akibatnya, anak yang tadinya ikut les ini dan itu terpaksa berhenti les.

Ada pula keluarga yang sebelumnya masih bisa rutin menyajikan protein hewani untuk anak-anaknya. Namun, setelah harga bahan kebutuhan pokok melambung, mereka harus lebih sering beralih ke protein nabati agar pengeluaran tetap terkendali.

Cerita lainnya datang dari seseorang yang tahun lalu masih tinggal di rumah cluster dua lantai dan memiliki kendaraan pribadi. Kini, dia dan keluarganya terpaksa pindah ke rumah orang tua dan menjual mobil karena penghasilan tak lagi sebesar sebelumnya.

Saya juga sering mendengar cerita pekerja kantoran yang akhirnya banting setir ke pekerjaan kerah biru. Jika sebelumnya sehari-hari berkutat di balik laptop, kini mereka harus membiasakan diri mengandalkan tenaga fisik untuk mencari nafkah. Belum lagi penghasilannya yang bisa jadi menukik drastis.

Btw, apa kabar Mama dan suami? Semoga masih memiliki pekerjaan yang baik dan penghasilan yang layak, ya.

Keluarga kami sendiri sedang menghadapi ketidakpastian. Masa kontrak kerja suami akan segera berakhir dan tidak diperpanjang lagi. Sedangkan saya? Fiuh! Pekerjaan sebagai freelance writer rasanya kok tidak semenarik dan seberlimpah peluang dibanding dulu, ya?

Saya tidak bermaksud mengajak Mama untuk adu nasib. Toh, setiap keluarga punya tantangan dan ujiannya masing-masing. Saya hanya merasa bahwa berbagai cerita tersebut mengingatkan kita untuk lebih cermat melihat kondisi keuangan keluarga sendiri.

Apalagi, ketika harga kebutuhan pokok terus naik sementara pendapatan tidak bertambah, bahkan berkurang. Rasanya sudah waktunya kita duduk sebentar, membuka catatan pengeluaran, lalu mengevaluasi kembali ke mana saja uang selama ini pergi.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebab, terkadang keduanya memang terasa saru, ya. Batasnya tipis sekali!

Misalnya, keluarga kita lapar sehingga membutuhkan makanan. Makan adalah kebutuhan. Namun, ketika kita memilih membeli makanan di restoran tertentu, apalagi yang harganya cukup menguras dompet, ada unsur keinginan di dalamnya.

Bukan berarti makan di restoran itu salah, ya, Mama. Sesekali makan di luar tentu boleh saja selama sesuai dengan kemampuan keuangan keluarga. Namun, ketika kondisi sedang tidak menentu, kita perlu lebih bijak menentukan pengeluaran mana yang bisa dikurangi.

In This Econimy, Lebih Sering Memasak Sederhana

In this economy, saya sendiri jadi lebih giat memasak di rumah. Yaa, meskipun menunya sederhana dan rasanya jauh dari masakan restoran, he-he-he. Namun, lumayan banget, lho, penghematannya!

Sebagai gambaran, kemarin saya membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak di rumah. Ini rinciannya:
Genjer: Rp3.000
Wortel: Rp2.000
Tahu 5 buah: Rp5.000
Telur 1/4 kg: Rp7.000
Totalnya hanya Rp17.000!

Memang, biaya tersebut belum termasuk minyak goreng, bumbu dapur, dan camilan untuk bekal anak sekolah. Jadi, tentu belum bisa dianggap sebagai total biaya makan keluarga selama sehari. Namun, setidaknya contoh sederhana ini menunjukkan bahwa memasak sendiri bisa menjadi salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran.

Bagi saya, mengenali kondisi keuangan keluarga bukan berarti harus langsung memangkas semua pengeluaran. Kita perlu melihat terlebih dahulu berapa pemasukan yang ada, berapa kebutuhan wajib setiap bulan, dan pengeluaran mana yang masih bisa disesuaikan.

Dengan begitu, ketika harus melakukan downgrade lifestyle, kita tidak asal-asalan. Kita tahu apa yang perlu dipertahankan, apa yang bisa dikurangi, dan apa yang perlu ditunda sementara.

Memangkas Pengeluaran Tanpa Mengorbankan Kebutuhan

Pemasukan mungkin berkurang drastis, tetapi kerap kali kebutuhan tidak bisa serta-merta dikurangi. SPP sekolah anak tetap harus dibayar. Tagihan ini dan itu tetap datang setiap bulan. Belanja kebutuhan pokok pun tidak bisa ditunda begitu saja.

Lantas, bagaimana caranya agar dompet tetap berisi? Yaa, meskipun kebanyakan isinya adalah struk belanjaan, he-he-he.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memangkas pengeluaran yang kurang prioritas. Bukan asal mengurangi semuanya, melainkan memilih mana yang masih bisa disesuaikan tanpa mengorbankan kebutuhan penting keluarga.

Saya sendiri mulai melakukan beberapa penyesuaian berikut.

1. Memindahkan Les Anak ke Tempat yang Lebih Terjangkau

Sebelumnya, anak-anak mengikuti les bahasa Inggris dengan biaya yang cukup besar. Memang sih, ada harga ada rupa. Saya pribadi cukup happy dengan kualitas pembelajaran di sana. Anak-anak pun demikian.

Namun, in this economy, kalau memaksakan anak-anak terus les di tempat tersebut, rasanya akan ada banyak kebutuhan lain yang harus dikorbankan.

Akhirnya, kami memutuskan memindahkan les anak ke tempat lain yang lebih terjangkau. Bukan berarti pendidikan anak tidak penting, ya. Justru kami berusaha agar mereka tetap bisa belajar bahasa Inggris tanpa membuat pengeluaran keluarga terlalu berat.

2. Mengganti Merek Barang Kebutuhan dengan Alternatif yang Lebih Ramah di Kantong

Beberapa waktu lalu, saya masih menggunakan minyak kelapa untuk kebutuhan memasak. Namun, sekarang saya beralih ke minyak sawit yang harganya lebih murah.

Selain itu, saya juga berusaha memaksimalkan penggunaan kukusan dan air fryer. Dengan begitu, kebutuhan minyak goreng bisa lebih terkendali, tergantung jenis masakan yang dibuat.

Hal sederhana seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan secara konsisten, penghematannya lumayan juga.

3. Lebih Mindful dalam Belanja Protein

Dulu, saya cukup maksimal dalam berbelanja bahan makanan sumber protein. Tenderloin, salmon, telur omega, dan berbagai bahan makanan lainnya kerap tersedia di freezer.

Sekarang? Alhamdulillah jika masih ada stok telur di laci dapur, he-he-he.

Tentu, bukan berarti keluarga berhenti mengonsumsi protein hewani. Saya hanya perlu lebih cermat menentukan jenis dan jumlah bahan makanan yang dibeli.

Sesekali membeli ayam, ikan, telur, tahu, atau tempe sesuai kebutuhan dan anggaran menjadi pilihan yang lebih realistis. Yang penting, kebutuhan gizi keluarga tetap diperhatikan.

4. Mengurangi Jajan, Bukan Berarti Tidak Mendukung Teman

Dulu, kalau ada teman yang berjualan sesuatu, sering kali saya ikut membeli. Pizza, dimsum, kebab, roti, dan aneka makanan lainnya pernah menjadi jajanan yang cukup sering anak-anak saya nikmati.

Kualitas produk yang dijual teman-teman saya memang cukup premium. Jadi, harganya pun lumayan.

Namun, in this economy, saya tidak bisa lagi sering-sering jajan seperti dulu. Bukan tidak mau membantu melarisi dagangan teman, ya. Justru saya senang ketika bisa mendukung usaha mereka. Namun, kadang saya pun sebenarnya perlu dibantu, hiks.

Pada akhirnya, kita memang perlu menyesuaikan kemampuan masing-masing. Mendukung usaha teman tidak harus selalu dengan membeli produknya. Sesekali membagikan informasi jualan mereka, memberikan rekomendasi kepada orang lain, atau sekadar mendoakan kelancaran usahanya juga bisa menjadi bentuk dukungan.

Bicara soal dukungan terhadap usaha teman, saya mau sedikit mengingatkan, nih. Jangan hanya usaha yang menjual produk fisik saja yang didukung. Orang seperti saya ini juga membutuhkannya, lho. Namun, sering kali justru terlupakan, ‘kan? He-he-he.

Saya juga punya usaha jasa, meskipun bentuknya bukan jualan makanan atau barang. Saya bekerja sebagai freelance writer yang menerima jasa penulisan artikel untuk blog maupun kebutuhan konten brand.

Bisa didukung dengan membaca tulisan saya di Mamanesia, memberikan like pada postingan media sosial, membagikan artikel, atau merekomendasikan jasa menulis saya kepada teman yang sedang membutuhkan penulis.

Siapa tahu, ada Mama yang sedang mencari penulis artikel untuk blog atau bisnisnya, boleh banget lho, menghubungi saya. Insyaallah, kita bisa saling mendukung melalui pekerjaan yang bermanfaat.

Jangan cuma mau didukung, tetapi enggan mendukung yang lain. Salinglaaah! 😉

Kondisi keuangan setiap orang berbeda. Dalam situasi seperti sekarang, rasanya kita perlu lebih memahami satu sama lain. Tidak hanya soal berhemat dan bertahan, tetapi juga tentang bagaimana tetap saling menguatkan di tengah keadaan yang tidak selalu mudah.

Downgrade Lifestyle Bukan Berarti Berhenti Menikmati Hidup

Ketika banyak hal dalam gaya hidup harus di-downgrade, apakah berarti kita berhenti menikmati hidup? Ah, nggak juga. Bukan sedang melakukan toxic positivity, lho, ya. Hanya saja, kita tetap bisa menikmati hidup dengan cara yang lebih hemat.

Alih-alih nyinyir kepada teman yang masih sering makan di restoran mewah atau liburan ke luar negeri, lebih baik mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Hidup hemat itu nggak identik dengan kesengsaraan, kok.

Lantas, apa saja hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk menikmati hidup tanpa harus mengeluarkan banyak uang? Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Piknik ke Taman atau Ruang Terbuka Hijau

Saya beberapa kali melakukannya. Sesimpel pergi ke taman dekat rumah, lalu membiarkan anak-anak bermain lepas di sana.

Belum lama ini, saya dan si bungsu mengikuti ekspedisi ke Hutan Kota UI. Tidak membutuhkan modal banyak untuk melakukannya. Ternyata, kegiatan sederhana pun mampu menggurat kebahagiaan dan menghadirkan kenangan indah.

2. Menonton Film Bersama di Rumah

Sekarang, kalau mau nonton di bioskop, saya mikir-mikir banget. Kalau satu orang membutuhkan tiket minimal Rp60.000, maka empat orang perlu mengeluarkan Rp240.000.

Wah, uang segitu bisa buat belanja kebutuhan rumah, lho!

Maka itu, kami beberapa kali menonton film bersama di kamar anak. Suami mengunduh film yang akan ditonton terlebih dahulu. Setelah itu, kami menonton di kamar anak dalam keadaan gelap.

Nggak kalah seru juga, kok. Malah bisa sambil selonjoran dan menikmati camilan rumahan.

3. Mendatangi Pameran yang Digelar Gratis

Kadang-kadang, anak-anak hanya ingin keluar rumah sejenak dan jalan-jalan. Itu sebabnya saya beberapa kali mengajak mereka ke pameran yang digelar gratis.

Misalnya saja beberapa waktu lalu, saya mengajak mereka ke pameran buku di JICC.

Di kesempatan lain, saya mengajak anak-anak naik KRL dan turun di Stasiun Cikini. Kami melanjutkan perjalanan naik bajaj ke Taman Ismail Marzuki. Di sana, kami menikmati Pekan Astronomi Jakarta dan Jakarta Biennale 2026.

Selain mendapatkan pengalaman baru, anak-anak juga bisa belajar banyak hal dari kegiatan tersebut. Lumayan banget, kan? Jalan-jalan dapat, belajar juga dapat.

4. Membuat Camilan Sendiri Bersama Anak

Untuk menyibukkan anak-anak, saya kerap mengajak mereka membuat camilan sendiri di rumah.

Nggak usah yang ribet, yang gampang-gampang saja. Misalnya membuat bolen pisang, garlic bread, es mambo, atau roti panggang.

Selain lebih hemat, kegiatan ini juga bisa menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar memasak sederhana. Mereka pun biasanya senang karena bisa ikut terlibat dalam proses membuat makanan yang nantinya dinikmati bersama.

5. Membaca Buku dan Menikmati Waktu di Rumah

Kadang, menikmati hidup tidak harus selalu dengan bepergian. Ada kalanya kita cukup membaca buku yang sudah lama tersimpan di rak, menikmati minuman segar di rumah, atau menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa agenda khusus.

Bagi saya, momen-momen seperti ini juga menyenangkan. Tidak perlu mengeluarkan banyak uang, tetapi tetap bisa memberikan ruang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang mahal atau mewah. Ada banyak hal sederhana yang bisa kita nikmati, selama kita mau memberi ruang untuk menyadarinya.

Penutup: Downgrade Lifestyle Bukan Sesuatu yang Memalukan

Mama, kalau saat ini sedang menjalani downgrade lifestyle, jangan merasa malu, ya. Tidak perlu merasa lebih rendah hanya karena sekarang tidak bisa membeli sesuatu yang dulu mudah dibeli. Nggak perlu minder juga saat jarang makan di restoran favorit, atau harus mengurangi berbagai aktivitas yang sebelumnya dirasa menyenangkan.

Kondisi keuangan bisa berubah. Penghasilan yang dulu terasa cukup, sekarang mungkin harus dibagi untuk lebih banyak kebutuhan. Pekerjaan yang sebelumnya stabil, bisa saja tiba-tiba berakhir. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan akan berjalan ke depannya.

Namun, perubahan gaya hidup bukan berarti nilai diri kita ikut menurun. Tidak ada yang memalukan dari memilih kegiatan yang lebih sederhana, menggunakan barang lebih lama, memasak sendiri, atau menunda keinginan demi menjaga kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Justru ada keberanian di balik keputusan-keputusan tersebut. Ya, keberanian untuk menerima kenyataan dan menyusun ulang prioritas. Juga keberanian tetap berusaha memberikan kehidupan yang baik bagi keluarga meskipun keadaan tidak lagi sama.

Kalau hari ini Mama harus mengurangi pengeluaran, tidak apa-apa. Kalau belum bisa liburan, tidak apa-apa. Kalau sekarang lebih sering makan di rumah daripada di restoran, juga tidak apa-apa.

Tidak perlu membandingkan kehidupan hari ini dengan kehidupan orang lain. Bahkan, tidak perlu terus-menerus membandingkannya dengan kehidupan kita sendiri di masa lalu.

Pelan-pelan saja, Ma. Sesuaikan langkah dengan kemampuan. Tetap syukuri apa yang ada, tanpa harus menyangkal bahwa perubahan ini mungkin terasa berat.

Semoga suatu hari nanti kondisi kita membaik. Namun, selama masih berada dalam fase ini, semoga kita tetap bisa menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.

Downgrade lifestyle bukan sesuatu yang memalukan. Kita sedang berusaha bertahan, menata ulang kehidupan, dan melakukan yang terbaik untuk keluarga.

Itu bukan kegagalan. Downgrade lifestyle juga bentuk perjuangan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hitung Captcha


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.