Berharap pada Manusia Berujung Luka, Belajar Ikhlas Saat Orang Lain Tak Peduli
Ternyata, sulit ya, untuk benar-benar ikhlas, sabar, dan melakukan segala sesuatu karena Allah. Sebab, sering kali kita masih berharap orang lain peduli kepada kita, dengan porsi yang sama seperti perhatian yang pernah kita berikan kepada mereka.
Kita berharap dimengerti, diperhatikan, bahkan sesekali ditanya kabarnya. Namun, kenyataannya, orang yang selama ini kita prioritaskan justru belum tentu melakukan hal yang sama untuk kita.
Sampai akhirnya muncul sebuah pikiran yang menyedihkan, jangan-jangan orang yang paling peduli pada diri kita memang hanya diri kita sendiri.
Mungkin benar, sebagian orang lebih banyak berfokus pada kepentingannya sendiri. Ketika sudah tidak ada kepentingan, perlahan mereka menjaga jarak dan kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Orang-orang yang pernah membantu atau memberikan perhatian pun seolah terlupakan.
Semoga ini hanya saya yang merasakannya. Hanya saya yang sedang diuji untuk belajar ikhlas menghadapi orang-orang yang lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Semoga tak lagi beraharap pada manusia yang selalu berakhir luka.
Ketika Kita Bukan Prioritas bagi Orang Lain

Saya kira, ketika memiliki hubungan dekat dengan seseorang, kita akan saling memberikan perhatian. Ketika salah satu membutuhkan bantuan, yang lain setidaknya berusaha hadir, meskipun tidak selalu bisa membantu banyak. Nyatanya, perhatian seperti itu justru jarang saya dapatkan dari orang-orang tersebut.
Bahkan, apresiasi atas pencapaian kecil saya pun hampir tidak pernah terdengar. Kalaupun ada, terkadang kalimat yang disampaikan justru terasa seperti nada iri, bukan ungkapan tulus yang ikut senang atas pencapaian orang lain.
“Hebat ya kamu, menang ini itu, menulis ini itu.” Saya jadi bertanya-tanya, apakah memang sesulit itu untuk ikut berbahagia atas pencapaian orang lain?
Ada orang yang dahulu kita rawat ketika sakit, dengan penuh perhatian dan sekuat tenaga. Namun, ketika kita sakit, harus merawat diri sendiri. Kita lantas memaklumi keadaan tersebut karena tahu orang itu tidak memiliki banyak waktu luang.
Ada pula orang yang pernah minta tolong untuk melakukan sesuatu. Saya bukan pengangguran yang memiliki banyak waktu luang. Saya juga punya pekerjaan, tanggung jawab, dan rasa lelah.
Namun, saat itu, saya melakukannya karena sayang. Saya mengesampingkan pekerjaan dan keperluan sendiri karena rasa sayang dan iba yang lebih besar.
Sayangnya, perhatian yang sama tidak pernah benar-benar saya rasakan. Seolah-olah hanya saya yang terus berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian, sementara pihak lain memberikan perhatian sekadarnya. Alasannya selalu sama, yakni pekerjaan yang banyak dan waktu yang terbatas.
Namun, terkadang saya bertanya-tanya. Kalau memang sesibuk itu, mengapa masih ada waktu untuk mengikuti kegiatan publik, menghadiri acara yang bukan bagian dari pekerjaan, atau aktif di grup WhatsApp komunitas? Mengapa pesan saya kerap tidak mendapat respons?
Rasanya menyakitkan ketika seseorang ternyata punya waktu untuk orang lain, tetapi tidak untuk kita. Ah, sakit ya, ketika kita tidak menjadi prioritas bagi orang yang selama ini sering kita prioritaskan.
Mungkin, prioritasnya adalah orang-orang yang bisa membuat namanya dikenal, kemampuannya diakui, atau relasinya semakin luas. Sementara saya? Siapa, sih, saya? Tidak punya jabatan, uang pun pas-pasan, apalagi pengaruh.
Namun, bukankah nilai seseorang tidak seharusnya diukur dari jabatan, harta, atau seberapa besar pengaruhnya?
Berharap pada Manusia, Mengapa Berujung Kecewa?

Saya tidak pernah meminta bantuan ketika harus bekerja di luar sendirian sambil membawa anak. Saya juga tidak meminta dikasihani ketika mendengar kabar bahwa kontrak kerja suami tidak diperpanjang.
Namun, ketika orang terdekat mengetahui keadaan seperti itu, bukankah wajar jika kita berharap ada sedikit perhatian? Sekadar bertanya, “Kalian baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar sepele. Namun, bagi seseorang yang sedang menghadapi banyak hal, perhatian kecil bisa terasa sangat berarti.
Ketika saya melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama, saya harus mengalokasikan uang, waktu, dan tenaga. Saya tidak berharap mendapatkan imbalan materi. Namun, sesekali ditanya apakah saya kerepotan, apakah ada biaya untuk perjalanan, atau apakah semuanya berjalan lancar, tentu akan membuat hati terasa lebih ringan.
Alih-alih mendapatkan perhatian seperti itu, terkadang saya justru harus berkali-kali meminta respons atas pesan WhatsApp yang dikirimkan. Astaghfirullah.
Yang membuat saya semakin sedih, saya tahu orang tersebut masih punya waktu untuk menonton variety show atau drama Korea. Sementara itu, saya sendiri sering merasa tidak punya cukup waktu untuk menikmati hiburan.
Rasanya miris ketika seseorang punya waktu untuk mengikuti tontonan favoritnya, tetapi tidak sempat membalas pesan orang yang sudah menyisihkan waktu dan tenaga untuk mengurus kepentingan bersama.
Tentu, setiap orang punya cara masing-masing dalam mengatur waktu. Saya pun tidak berhak menuntut seseorang untuk selalu tersedia bagi saya. Namun, bukankah memberikan perhatian sederhana juga bagian dari menjaga hubungan baik?
Mungkin memang ada orang-orang yang terbiasa meminta untuk dipahami. Kita diminta memaklumi ketika mereka tidak sempat bersilaturahmi, tidak membalas pesan WhatsApp, atau terlambat memberikan respons. Kita juga diminta memahami ketika mereka tidak mampu melakukan kebaikan yang sama.
Akhirnya, ketika mereka berkata, “Maaf ya, kemarin banyak kerjaan,” kita menjawab, “Nggak apa-apa.” Padahal, jauh di dalam hati, ada kecewa yang tidak terucapkan.
Apakah ini terdengar seperti mengungkit kebaikan? Mungkin memang begitu kesannya ketika curahan hati seseorang sedang dipenuhi kekecewaan. Padahal, terkadang yang kita harapkan bukanlah balasan yang setimpal. Kita hanya ingin merasa dihargai.
Sesederhana membalas pesan WhatsApp, memberikan apresiasi yang tulus, atau menanyakan kabar mungkin sudah cukup untuk membuat hati kita merasa diperhatikan. Pada akhirnya, berharap terlalu banyak kepada manusia memang bisa membawa kekecewaan. Terutama ketika kita menggantungkan kebahagiaan pada perhatian yang belum tentu bisa atau mau diberikan orang lain.
Lalu, bagaimana agar kita bisa belajar ikhlas? Saya kembali diingatkan bahwa tempat terbaik untuk menggantungkan harapan adalah Allah. Bukan berarti kita tidak boleh berharap pada kebaikan manusia, melainkan jangan sampai perhatian manusia menjadi satu-satunya sumber ketenangan hati.
Memaklumi Orang Lain Juga Bisa Menjadi Rezeki

“Kalau kamu bisa memberi banyak kebaikan untuk orang lain, berarti itu rezeki kamu. Soalnya Allah mudahkan kamu untuk memberi kebaikan, meski mereka melupakan atau tidak menganggap setelahnya.” Kalimat itu pertama kali saya dengar bertahun-tahun lalu, ketika sedang curhat kepada suami.
Karena manusia tempatnya lupa, nasihat tersebut terkadang ikut terlupakan. Alhamdulillah, Allah kembali memberikan pengingat melalui berbagai peristiwa dalam kehidupan.
Hmm, iya juga, ya. Ketika Allah memberikan kita kemampuan untuk berbuat baik, bukankah itu sebuah nikmat? Kita memiliki waktu, tenaga, pikiran, atau materi yang bisa digunakan untuk membantu orang lain.
Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada yang ingin membantu, tetapi sedang tidak punya uang. Ada yang ingin menemani, tetapi tenaganya sudah habis. Ada pula yang ingin memberikan perhatian, tetapi sedang berjuang menyelesaikan masalahnya sendiri.
Karena itu, bersyukur banget ketika Allah memberikan kemampuan untuk membantu orang lain adalah hal yang penting. Kita tidak pernah tahu sampai kapan nikmat tersebut akan bertahan. Bisa jadi, hari ini kita memiliki waktu dan tenaga untuk membantu seseorang, tetapi esok hari keadaan berubah. Bahkan, ketika kesempatan itu masih ada, belum tentu kita sempat memanfaatkannya dengan maksimal.
Baru-baru ini, saya melihat sebuah konten di Instagram yang menjadi pengingat berharga. “Barangkali salah satu rezekimu terletak pada keikhlasanmu memaklumi sifat orang lain.”
Pemilik akun @buang.luka mengingatkan bahwa setiap orang memiliki karakter masing-masing. Ada yang ucapannya menyakitkan, ada yang sulit memahami perasaan orang lain, dan ada pula yang membuat kita harus berkali-kali beristighfar sambil tersenyum tipis.
Namun, bisa jadi, perilaku kita pun pernah membuat orang lain mengelus dada dan menggelengkan kepala. Namanya juga manusia. Kita memiliki sudut pandang, kebiasaan, dan keterbatasan yang berbeda.
Jika menjadikan keridaan Allah sebagai pedoman, semestinya kita terus belajar menebarkan kebaikan tanpa harus menunggu orang lain melakukan hal yang sama. Namun, ada satu hal yang perlu diingat, bahwa memaklumi orang lain bukan berarti membenarkan semua perlakuannya.
Memahami seseorang bukan berarti kita harus terus bertahan di tempat yang membuat kita terluka. Memaafkan bukan berarti membiarkan diri sendiri diperlakukan semena-mena.
Seperti pengingat dari akun @buang.luka, ada hal-hal yang cukup dipahami, dimaafkan, lalu diberi jarak demi menjaga kewarasan bersama.
Lantas, bagaimana dengan saya? Saya tidak ingin memutus hubungan silaturahmi, meskipun terkadang hubungan itu terasa berjalan satu arah. Sebab, kalau ingin menjaga hubungan baik, bukankah semestinya kedua belah pihak sama-sama berusaha?
Bukan satu pihak terus-menerus yang harus memahami, menghubungi, dan memulai percakapan. Namun, saya juga belajar untuk tidak memaksakan kedekatan.
Sewajarnya saja. Kalau ada waktu, silaturahmi. Bila ada rezeki, kirimkan paket kebaikan. Kalau memang belum memungkinkan untuk bertemu atau membantu, tidak perlu memaksakan diri.
Ada satu hal yang tetap ingin saya lakukan dalam keadaan apa pun, yaitu mendoakannya. Saya mendoakan kebaikan dunia dan akhirat untuknya. Semoga Allah melembutkan lisan, hati, dan pikirannya. Semoga imannya semakin kuat, rasa sayangnya kepada orang-orang terdekat semakin besar, dan Allah melimpahkan keberuntungan serta keberkahan dalam kehidupannya.
Doa-doa yang diam-diam saya panjatkan, tanpa pernah saya beri tahu kepadanya. Barangkali, inilah salah satu cara saya belajar ikhlas. Tetap menginginkan kebaikan bagi orang lain, tanpa harus selalu hadir di tengah kehidupannya.
Belajar Ikhlas dan Fokus pada Hal yang Bisa Kita Kendalikan

Benar kata akun @buang.luka, tidak semua hal harus ditanggapi. Ada banyak hal dalam kehidupan yang berada di luar kendali kita, termasuk perilaku dan cara orang lain memperlakukan kita.
Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk peduli. Tidak bisa pula menuntut semua orang memahami perasaan kita. Kita juga tidak bisa mengharapkan setiap kebaikan yang diberikan akan dibalas dengan kebaikan serupa.
Daripada terus memikirkan perilaku orang lain, bukankah lebih baik kita belajar fokus pada perilaku sendiri? Sebab, setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah. Begitu pula dengan kita.
Saya ingin terus mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi penyebab seseorang menangis diam-diam. Jangan sampai kehadiran saya justru membuat orang lain merasa hancur. Jangan pula sampai saya menjadi beban bagi jiwa orang lain. Jika pernah melakukan kesalahan, semoga Allah memberikan kesadaran dan kesempatan untuk memperbaikinya.
Dunia ini memang begitu riuh. Ada yang sibuk mencari harta, mengejar jabatan, atau memburu popularitas. Kita pun terkadang terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain memperlakukan kita, sampai lupa mengevaluasi diri sendiri.
Padahal, apa pun yang sedang kita kejar, perjalanan hidup ini pada akhirnya akan membawa kita kembali kepada Allah. Di hadapan-Nya, kita akan mempertanggungjawabkan setiap amalan.
Penutup
Semoga kesabaran kita ketika kebaikan tidak dihargai menjadi pemberat timbangan amal. Lelah kita dalam membantu orang lain juga berbuah pahala yang berlimpah. Semoga Allah menjaga hati kita dari keinginan untuk terus-menerus mendapatkan pengakuan manusia. Bukankah dunia memang tempat kita berlelah-lelah mengumpulkan bekal untuk pulang?
Jadi, tidak apa-apa jika orang yang kita harapkan kepeduliannya ternyata tidak menunjukkan perhatian seperti yang kita inginkan. Bukan berarti rasa kecewa itu tidak boleh ada. Kita tetap manusia yang bisa sedih, lelah, dan ingin dipahami. Namun, semoga rasa kecewa itu tidak membuat kita berhenti berbuat baik atau malah berubah menjadi pribadi yang gemar menyakiti orang lain.
Belajar ikhlas bukan berarti tidak boleh berharap. Belajar ikhlas adalah berusaha melakukan yang terbaik, menjaga batas diri, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Semoga Allah memberikan kita ketenangan ketika merasa tidak dianggap, kecukupan ketika merasa kekurangan, dan keberkahan dalam setiap kebaikan yang kita usahakan. Sebab, ketika perhatian manusia tidak kita dapatkan, kita masih punya Allah sebagai tempat kembali dan menggantungkan harapan.