Dari Tangan ke Tangan, Kisah Agrominafiber Menganyam Pelepah Pisang dari Kebumen Menembus Pasar Dunia

Aneka keranjang unik terpampang di depan saya. Tangan ini tak kuasa untuk menyentuhnya. Lilitan-lilitan sederhana yang justru terlihat begitu memesona. “Ini terbuat dari pelepah pisang,” ujar seorang perempuan yang mengenalkan diri sebagai Novita.

Mata saya terbelalak. Pelepah pisang bisa jadi karya secantik ini? Sungguh tak terbayang. Pasalnya, di dekat rumah ada kebun yang sering teronggok begitu saja batang dan pelepah pisang setelah buahnya dipanen. Kerap kali gedebok yang menumpuk di kebun dibiarkan mengering sendiri atau membusuk, lalu perlahan terurai kembali menjadi bagian dari tanah.

Namun, dari tumpukan yang dianggap tak lagi bernilai itu, Novita dan suaminya, Rudi Hermawan, melihat peluang berbeda. Justru di tangan mereka, pelepah pisang bukan lagi sisa tanaman tak berguna. Seratnya dipintal, diolah, lalu dianyam menjadi beragam produk kerajinan menawan.

Perjalanan itu bukan sekadar cerita tentang mengubah pelepah pisang menjadi produk bernilai ekonomi. Di baliknya, ada tangan-tangan lain yang ikut bekerja. Ada para perajin dari berbagai daerah, kelompok masyarakat yang dibina, hingga para mitra. Mereka saling bahu-membahu, hingga produknya sanggup menembus pasar dunia.

Bagaimana awal mula usaha ini? Yuk, simak kisahnya dan dapatkan inspirasinya.

Ikhtiar Menembus Pasar Dunia dari Langkah Kecil di Kebumen

membuat kerajinan pelepah pisang
Perajin kerajinan pelepah pisang besutan Agrominafiber/ dok. Agrominafiber

Kebumen, sebuah daerah di Jawa Tengah, menjadi saksi langkah-langkah kecil Novita dan Rudi Hermawan dalam membangun usaha. Di tempat inilah berbagai cerita tentang jatuh bangun mereka tersimpan.

Mulanya, Novita menjalankan usaha katering. Sementara itu, sang suami mengelola usaha pertanian dan perikanan. Sayangnya, usaha tersebut tidak berkembang sesuai harapan. Hari demi hari, mereka bahkan sempat kesulitan menyediakan pakan untuk ikan yang diternakkan.

“Waktu itu kami menerapkan sistem mina padi. Jadi, di lahan sawah yang ditanami padi, di sekelilingnya untuk ternak ikan. Nah, di sekitar lokasi banyak pohon pisang. Karena sulit kasih makan ikan, batang pisang akhirnya yang dijadikan pakan,” tutur Novita saat saya temui di sela-sela pameran Kriyanusa 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Dari situlah perhatian Rudi tertuju pada pohon pisang yang selama ini tumbuh di sekitar mereka. Batang dan pelepah pisang ternyata masih menyimpan manfaat lain. Ketertarikannya membuat Rudi mulai mencari tahu potensi pelepah pisang.

“Ternyata pelepah pisang bisa dibuat menjadi tali. Kemudian Mas Rudi belajar membuatnya. Sekitar enam bulan Mas Rudi belajar membuat tali dari pelepah pisang itu,” terang Novita.

Enam bulan bukan waktu yang singkat untuk belajar secara otodidak. Namun, upaya itu kemudian mempertemukan Rudi dengan kesempatan baru. Dia mendapat kesempatan dari Dinas Koperasi setempat untuk mengikuti pelatihan membuat produk kerajinan berbahan pelepah pisang.

“Dari situlah usaha kami yang sebelumnya Agromina, kemudian berkembang menjadi Agrominafiber,” papar Novita yang kemudian memusatkan konsentrasi usahanya di Agrominafiber Java Indonesia.

Proses membuat tali dari pelepah pisang/ dok. Agrominafiber

Langkah kecil itu berlanjut. Agrominafiber mulai melibatkan warga setempat untuk mengolah batang dan pelepah pisang menjadi tali. Dari tangan warga itulah, bahan yang semula dianggap tidak bernilai perlahan berubah menjadi bahan baku kerajinan.

Prosesnya tidak instan. Mulanya, bahan baku dari wilayah-wilayah penghasil pisang dikumpulkan. Kegiatan ini melibatkan pengepul di Kecamatan Ambal, Prembun, dan Alian. Selanjutnya, pelepah pisang dikeringkan di bawah sinar matahari selama beberapa hari sebelum diolah lebih lanjut.

Setelah dikeringkan, pelepah pisang itu berpindah ke tangan lainnya. Perjalanan berikutnya adalah mengubahnya menjadi tali yang siap digunakan sebagai bahan baku kerajinan.

Dari Tangan ke Tangan, Kerajinan Pelepah Pisang Berkembang dengan Dukungan Masyarakat Setempat

Membuat kerajinan pelepah pisang/ dok. Agrominafiber

Rudi dan Novita tidak ingin Agrominafiber tumbuh sendirian. Keduanya menggandeng masyarakat setempat untuk berkembang bersama. Ilmu tentang cara membuat tali dari batang dan pelepah pisang pun mereka transfer kepada warga sekitar.

Pelan-pelan, tangan-tangan yang sebelumnya hanya mengenal gedebog pisang sebagai bagian dari tanaman, mulai terampil mengubahnya menjadi tali. Mereka belajar mengenali kapan bahan sudah cukup kering, bagaimana menjaga kelenturannya, hingga menghasilkan tali pelepah pisang atau leuleus dengan kualitas yang dibutuhkan Agrominafiber.

“Mereka tahu tingkat kekeringannya harus seperti apa, yakni tidak lebih dari 30 persen. Ini agar saat dibuat jadi tali, pelepah pisangnya tetap lentur dan tidak mudah putus,” tambah Novita.

Pekerjaan itu membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setelah dijemur, bagian kulit luar dan dalam pelepah dipisahkan. Serat-seratnya kemudian dililit atau dipilin searah. Beberapa untaian lilitan selanjutnya dianyam menjadi tali dengan ukuran tertentu.

Tidak ada mesin modern yang mengambil alih pekerjaan tersebut. Hanya tangan-tangan yang bertugas menjemur, memilah, kemudian dengan telaten mengubah serat-serat itu menjadi bahan baku kerajinan.

Dari pekerjaan yang dilakukan dengan tangan itulah, ada penghasilan yang ikut mengalir ke rumah-rumah warga. “Per kilo dihargai Rp3.000-3.500 tergantung kualitasnya. Mereka sudah semakin mahir, dan bisa mengerjakan 20-an kg dalam sehari,” jelas perempuan berkacamata itu.

Saat ini, Agrominafiber memiliki 117 perajin aktif. Dari angka tersebut, 70 persennya merupakan perempuan yang tersebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.

Untuk mengolah bahan baku tersebut menjadi produk akhir seperti keranjang, tas, topi, dan berbagai kerajinan lainnya, Agrominafiber menggandeng mitra dari sejumlah daerah. Mitra-mitra tersebut berasal dari Kulon Progo, Bantul, Purbalingga, Purworejo, dan Cilacap.

Perjalanan sehelai serat pelepah pisang memang tidak singkat. Berpindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain, hingga akhirnya menjelma menjadi kerajinan pelepah pisang cantik yang siap melangkah lebih jauh.

Percaya Diri Melangkah ke Pasar Dunia

kerajinan pelepah pisang
Kerajinan pelepah pisang dari Agrominafiber/ Foto: Nurvita Indarini

Bagi Agrominafiber, Kebumen seolah menjadi lumbung serat alam. Tidak berhenti pada leuleus, Novita dan Rudi terus mencari bahan baku lain yang bisa diolah menjadi kerajinan. Bagi mereka, serat alam menyimpan keajaiban.

Dengan sentuhan dan kreativitas, serat-serat yang tumbuh di sekitar dapat menunjukkan bentuk dan estetika yang berbeda. Kelenturannya membuat bahan alami tersebut dapat diolah menjadi beragam produk kerajinan menawan.

Pandan, misalnya, banyak pula ditemukan di Kebumen. Menurut Novita, tanaman ini memiliki karakter yang baik sebagai bahan serat alam lantaran mempunyai lapisan lilin alami. Begitu pula mendong yang memiliki lapisan serupa, sehingga tidak mudah mengalami pembusukan.

Beragam serat alam itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan Agrominafiber. Dari bahan-bahan yang tumbuh di sekitar, produk kerajinan mereka perlahan menemukan jalan ke pasar yang lebih jauh.

Produk Agrominafiber telah menjangkau pasar internasional, termasuk Nigeria, Amerika Serikat, Chile, Argentina, Belgia, London, dan Dubai. Bagi Novita dan Rudi, besarnya permintaan bukan hanya kabar baik bagi usaha mereka. Semakin besar kebutuhan pasar, semakin banyak pula tangan-tangan yang dilibatkan dalam proses produksi.

“Demand-nya memang besar. Untuk mendukung pemenuhan permintaan pasar, kami juga melakukan pemberdayaan langsung di Rutan Kebumen dan ada kelompok di daerah pegunungan Purworejo,” sambung Novita.

Agrominafiber yang menerapkan sistem by order dalam membuat produknya terus mendorong percepatan produksi. Saat ini, produksi bahan baku tali bisa mencapai sekitar 10-15 ton per bulan.

Di titik ini, perjalanan Agrominafiber menjadi lebih dari sekadar cerita tentang kerajinan pelepah pisang yang berhasil menembus pasar dunia. Ada keluarga-keluarga yang ikut merasakan manfaatnya.

Bagi sebagian masyarakat, membuat tali dari serat alam menjadi sumber pemasukan tambahan yang berarti. Ya, penghasilan tambahan yang terus mengalir ke tangan-tangan yang mengerjakannya.

Dukungan YDBA di Balik Langkah Agrominafiber yang Makin Kuat

Kerajinan pelepah pisang Agrominafiber yang mendunia/ dok. Agrominafiber

Langkah Agrominafiber tidak dibangun sendirian. Di belakangnya ada tangan para perajin, masyarakat setempat, pemerintah, hingga lembaga yang ikut membuka jalan agar usaha ini terus berkembang. Salah satunya adalah Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

Perkenalan Agrominafiber dengan YDBA terjadi pada 2024. Saat itu, Agrominafiber berinisiatif menghubungi YDBA untuk bergabung dalam ekosistem pemberdayaannya.

Sejak menjadi UMKM binaan YDBA, Agrominafiber tidak hanya mendapat pelatihan untuk menghasilkan produk, tetapi juga belajar menguatkan sisi lain dari sebuah usaha. Ada pelatihan digital marketing, basic mentality untuk pengusaha, manajemen pemasaran, pembukuan, branding, hingga pengemasan produk.

Bagi Novita, kemampuan tersebut menjadi bekal penting ketika Agrominafiber mulai memperluas pasar. Produk yang dibuat oleh tangan-tangan perajin membutuhkan cara pemasaran yang mampu membawanya lebih jauh.

Pendampingan YDBA juga membuka pintu yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau  oleh Agrominafiber. Novita dan Rudi beberapa kali diikutsertakan dalam kegiatan berskala nasional, pameran, serta berbagai kegiatan Astra.

“Kami diikutkan dalam berbagai kegiatan berskala nasional. Networking kami menjadi lebih luas. Kami beberapa kali mengikuti pameran dan berbagai kegiatan Astra lainnya,” terang Novita.

Ekspor perdana ke Amerika Serikat/ dok. Agrominafiber

Dukungan itu berjalan beriringan dengan pertumbuhan Agrominafiber. Pada September 2025 sebuah catatan penting ditorehkan. Kala itu, Agrominafiber mengekspor 9.000 hingga 10.000 produk ramah lingkungan ke Amerika Serikat, dengan nilai hampir Rp1 miliar.

Sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Tak mau berlama-lama terlena, Agrominafiber terus berproduksi tanpa berhenti belajar. Dengan suka-cita, mereka menyambut baik mentoring yang dilakukan YDBA.

“Saat ini YDBA juga masih melakukan mentoring dan mendampingi kami, misalnya dalam pelaksanaan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) serta pencatatan keuangan,” imbuh Novita, yang sebelum pandemi COVID-19 pernah bekerja di perusahaan kontraktor di Jakarta.

Pendampingan YDBA bahkan membawa Agrominafiber pada pengalaman baru. Di awal 2026, untuk pertama kalinya mereka mengikuti kompetisi Quality Control Circle (QCC) bagi UMKM di lingkungan Astra. Hasilnya, Agrominafiber meraih juara III kategori handicraft.

Pencapaian itu menjadi bagian lain dari perjalanan panjang Agrominafiber. Langkah-langkah kecil itu sudah semakin kuat. Kendati demikian, Novita dan Rudi justru melihat ada banyak hal yang harus dikuatkan lagi.

Ketika Usaha Berjalan Bersama Ekonomi Hijau

Proses pembuatan kerajinan serat alam/ dok. Agrominafiber

Apa yang dilakukan Agrominafiber juga beririsan dengan dorongan YDBA terhadap penerapan prinsip ekonomi hijau di kalangan UMKM. YDBA mendorong UMKM untuk memperhatikan penggunaan energi, pengelolaan bahan baku dan limbah, transportasi ramah lingkungan, serta keterlibatan karyawan dan mitra dalam praktik yang lebih eco-friendly.

Dalam konteks Agrominafiber, prinsip tersebut menemukan bentuknya melalui pemanfaatan bahan alam yang sebelumnya kurang bernilai. Pelepah pisang yang semula dianggap limbah diolah menjadi bahan baku tali, lantas disulap menjadi beragam produk kerajinan.

Bagi Agrominafiber, keberlanjutan bukan hanya soal bagaimana produknya bisa sampai ke pasar dunia. Namun, ini juga tentang bagaimana usaha itu terus tumbuh tanpa meninggalkan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanannya.

Penutup

kerajinan pelepah pisang
Menganyam leuleus/ dok. Agrominafiber

Langkah Agrominafiber memang kian mantap. Namun, Novita dan Rudi tidak ingin berhenti pada pencapaian yang sudah diraih. Mereka justru ingin terus belajar sekaligus melibatkan lebih banyak orang dalam perjalanan usahanya.

Mereka tidak ingin sukses sendirian. Karena itu, Agrominafiber menempatkan diri sebagai sociopreneur, dengan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari perjalanan bisnisnya. Namun, ada satu pekerjaan rumah yang masih perlu mereka jawab, yakni regenerasi.

Saat ini, para perajin Agrominafiber berada di rentang usia sekitar 35 hingga 65 tahun. Menurut Novita, keterampilan mengolah serat alam belum sepenuhnya menjadi budaya yang diwariskan lintas generasi. Belum banyak anak muda yang tertarik pada pekerjaan yang membutuhkan ketekunan.

Padahal, permintaan produk kerajinan pelepah pisang justru lebih tinggi dibandingkan pasokan tali sebagai bahan bakunya. Tantangan Agrominafiber ke depan bukan hanya bagaimana memenuhi permintaan pasar, tetapi juga bagaimana memastikan keterampilan dan kesempatan ekonomi yang sudah dibangun tetap memiliki penerus.

Karena itu, Agrominafiber mulai menyiapkan langkah baru. Pada 2027, UMKM ini menargetkan penggunaan teknologi dalam proses pemintalan tali.

Teknologi diharapkan tidak menggantikan tangan-tangan yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan Agrominafiber. Sebaliknya, teknologi dapat berkolaborasi dengan sumber daya manusia yang sudah ada. Dengan demikian, kapasitas produksi meningkat dan permintaan pasar dapat terpenuhi.

Perjalanan Agrominafiber sejak awal memang bukan tentang satu atau dua tangan saja. Ada tangan Rudi yang menemukan peluang dan tangan Novita yang membangun jalan. Ada pula tangan para perajin yang mengubah serat menjadi tali, serta tangan-tangan lain yang ikut membawa produk itu melesat jauh.

Kini, tantangannya adalah memastikan tangan-tangan itu terus bertambah ketika generasi berganti. Apalagi perjalanan Agrominofiber masih panjang.

Dari Kebumen, ada asa yang terus dilangitkan, yakni menembus lebih banyak negara di berbagai penjuru dunia. Dari satu tangan, ke tangan lainnya. Kerajinan pelepah pisang dan serat alam lainnya ini terus melangkah, membawa cerita tentang ketekunan, pemberdayaan, dan harapan untuk masa depan.

Referensi

Agrominafiber Java Indonesia. (2025, December 20). Ekspor kerajinan serat alam berkelanjutan tembus pasar Amerika Serikat. https://agrominafiber.com/ekspor-kerajinan-serat-alam-berkelanjutan-tembus-pasar-amerika-serikat-pt-agrominafiber/

Yayasan Dharma Bhakti Astra. (2025). Kerajinan alami [Majalah YDBA, Edisi 1].

Yayasan Astra – YDBA. (2025). Pemahaman tentang Net Zero 1 dan 2 serta cara UMKM Indonesia Berkontribusi Menuju Net Zero. Instagram. https://www.instagram.com/p/DJ0OAHNpmNP/?img_index=5

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hitung Captcha


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.