Ember, Maggot, dan Impian Kemandirian Pemulung di Swara Hijau Farm

Pagi itu, Jakarta sangat terik. September 2026, musim penghujan belum juga menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Namun, di tengah udara yang gerah, beberapa perempuan justru tampak bersemangat memilah-milah binatang kecil mirip ulat.

Saya bergidik geli. Apalagi jumlahnya begitu banyak, memenuhi beberapa wadah di hadapan saya.

“Ini namanya maggot, beda dengan belatung. Kalau maggot itu larva lalat black soldier fly (BSF). Sedangkan belatung itu larva lalat hijau,” terang Nur, salah satu ibu yang sibuk memilah maggot. Maggot segar berwarna putih dipisahkan dari maggot berwarna hitam yang sudah dalam fase prepupa. Kelak akan bermetamorfosis menjadi pupa dan lalat BSF dewasa.

Saya memandangi maggot-maggot itu sekali lagi. Sulit membayangkan bahwa makhluk kecil yang bagi saya menjijikkan itu justru menjadi bagian dari upaya warga Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur, membangun kemandirian.

Di tempat ini, sampah organik menjadi makanan bagi maggot. Dari sini, Swara Hijau Farm mengembangkan peluang usaha baru. Harapannya, akan lebih banyak warga di Kampung Sumur yang sebagian besar warganya adalah pemulung menjadi lebih mandiri.

Namun, perjalanan menuju kemandirian itu sebenarnya tidak dimulai dari maggot. Jauh sebelumnya, warga belajar bertanam dan beternak dalam sekali waktu melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana, yakni ember.

Kedatangan saya ke Kampung Sumur membuat saya kembali memikirkan arti kemandirian. Sering kali, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, perubahan itu justru bermula dari sebuah ember, beberapa bibit, kemauan untuk belajar, dan kesempatan untuk mencoba.

Berawal dari Sebuah Ember

Budidaya ikan dan kangkung dalam ember/ Foto: Nurvita Indarini

Perjalanan kemandirian warga Kampung Sumur dimulai sekitar pertengahan 2020. Saat itu, sebagian besar warga menghadapi situasi yang tidak mudah.

Pandemi COVID-19 dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat mereka tidak bisa beraktivitas seperti biasa, termasuk memulung. Di saat itu pula, harga barang bekas anjlok sehingga penghasilan mereka ikut tertekan.

Endang Mintarja dan tim Yayasan Swara Peduli Indonesia melihat persoalan itu bukan masalah ekonomi semata. Menurutnya, warga membutuhkan kegiatan yang bisa mengisi waktu sekaligus membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Berangkat dari keresahan itu, Swara Hijau Farm pun dibentuk sebagai salah satu unit usaha di bawah Yayasan Swara Peduli Indonesia. Fokus kegiatannya pada pelestarian lingkungan dan pengembangan urban farming sebagai solusi ketahanan pangan kota.

Langkah pertama yang diambil tidak langsung menggunakan lahan luas untuk melakukan urban farming. Cara sederhana berupa budidaya ikan dan tanaman dalam ember menjadi pilihan kala itu.

“Sekitar lima puluh warga mengikuti pelatihan. Masing-masing peserta mendapat satu instalasi budidaya ikan dan tanaman dalam ember (budikdamber) lengkap dengan bibit lele dan benih sayuran untuk dicoba,” terang Endang yang saya temui di area usaha Swara Hijau Farm.

Ember yang digunakan berukuran 100 liter. Jadi, di bagian bawah ember, ikan lele sebanyak 40 ekor dipelihara. Sedangkan di bagian atas ember ditanami kangkung. Harapannya, warga tidak hanya belajar menanam dan memelihara ikan, tetapi juga mulai memahami pentingnya kemandirian pangan.

Hasilnya belum sepenuhnya sempurna. Sekitar 70 persen budidaya ikan berhasil, sementara tanaman belum banyak yang terselamatkan karena dimakan tikus. Namun, hal itu tidak lantas menghentikan langkah mereka.

Swara Hijau Farm terus mencoba mengembangkan urban farming. Di akhir 2021, mereka mendirikan greenhouse seluas 50 meter untuk membudidayakan melon.

Ketika Melon Rasanya Seperti Timun

Tanaman melon / Foto: Instagram Swara Hijau Farm

Bentuknya melon, tetapi rasanya timun. Ini bukan melon varietas baru, melainkan kegagalan panen yang pernah harus dihadapi Swara Hijau Farm.

“Jatuh bangun dalam berusaha pasti dirasakan. Ya, kami pernah panen melon tapi rasanya anyep kaya timun. Itu banyak banget lagi melonnya. Karena anyep, nggak bisa kita jual,” kenang Endang.

Akhirnya, melon rasa timun itu dibagi-bagikan kepada warga sekitar. Kegagalan tersebut tidak membuat Endang menyerah. Baginya, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.

“Kami belajar menanam melon hidroponik selama setahun. Setelah itu, kualitas melonnya sudah jauh lebih baik,” imbuhnya.

Greenhouse melon
Greenhouse dengan tanaman melon yang masih muda/ Foto: Nurvita Indarini

Saya juga diajak melihat-lihat area greenhouse melon milik Swara Hijau Farm. Jika semula hanya berukuran 50 meter, kini luasnya berkembang menjadi 132 meter. Saat panen tiba, area tersebut dapat menghasilkan hingga 1,2 kuintal melon dengan ukuran yang beragam. Namun, saat saya datang ke sana, tanaman melonnya masih kecil.

Tak hanya melon, Swara Hijau Farm juga mengembangkan sayuran hidroponik seperti siomak. Setiap kali panen, hasilnya mencapai sekitar 18 hingga 20 kilogram.

Mengais Peluang dari Sampah

Maggot yang mampu mengurai sampah organik/ Foto: Nurvita Indarini

Sampah diubah jadi rupiah memang bukan hal baru bagi warga yang bekerja sebagai pemulung. Namun, kini ada yang sedikit berbeda. Keberadaan sampah organik justru bisa menjadi peluang untuk menghasilkan rupiah.

Endang meyakini usaha yang dikembangkan Swara Hijau Farm memang dibutuhkan. Terlebih ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong pemilahan sampah. Swara Hijau Farm pun bermitra dengan restoran dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengolah sampah sisa makanan.

Sampah-sampah organik tersebut tidak berakhir di tempat pembuangan. Di tangan Swara Hijau Farm, sisa makanan itu menjadi sumber makanan bagi maggot.

Bagi saya, di sinilah cerita Swara Hijau Farm terasa menarik. Warga yang selama ini terbiasa mengais barang bekas untuk mendapatkan rupiah, kini juga menemukan nilai ekonomi baru dari sampah organik.

Maggot menjadi salah satu pintu masuknya. Rupanya kebutuhan maggot tidak sedikit. Endang menyebut permintaannya bisa mencapai satu hingga dua kuintal. Swara Hijau Farm juga mulai memikirkan bagaimana maggot tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi. Salah satunya adalah tepung maggot dan pelet.

Pembuatan tepung maggot, menurut Endang juga cukup mudah. Caranya, maggot segar dibersihkan, dikeringkan menggunakan oven, kemudian digiling hingga menjadi tepung. Bahan tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pelet ikan maupun pakan ternak.

Gagasan ini berangkat dari harga pakan ikan yang terus meningkat. Sementara itu, tepung ikan yang selama ini menjadi salah satu bahan bakunya semakin mahal dan sulit diperoleh.

“Tepung maggot bisa jadi solusi. Kadar proteinnya sama (dengan tepung ikan), tetapi tepung maggot lebih murah. Budidaya maggot juga tidak terlalu rumit,” papar Endang.

Siklus hidup maggot yang relatif singkat menjadi salah satu alasan Swara Hijau Farm melihat peluang tersebut. Endang menyebut siklus maggot sekitar 48 hari.

Namun, mengubah peluang menjadi usaha yang benar-benar berkelanjutan tentu membutuhkan kemampuan lebih. Ada produksi yang harus dikelola dan keuangan yang perlu dihitung. Selain itu, kualitas pun harus dijaga seiring dengan pengembangan produk. Untuk itu, peningkatan kapasitas sebuah usaha mutlak diperlukan.

Belajar Naik Kelas Bersama YDBA

Endang bersama ember-ember besar berisi budidaya ikan/ Foto: Nurvita Indarini

Perjalanan Swara Hijau Farm untuk berkembang tidak dilakukan sendirian. Pada sekitar 2023, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mulai mengenal kegiatan yang dilakukan Swara Hijau Farm. Setelah melihat aktivitas dan potensi yang dimiliki, YDBA kemudian menjadikan Swara Hijau Farm sebagai salah satu mitra UMKM.

Bagi Swara Hijau Farm, kehadiran YDBA berperan penting memberikan penguatan kapasitas. Berbagai pelatihan diberikan untuk membantu mereka mengembangkan usaha, mulai dari scale up bagi petani hidroponik, 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), manajemen keuangan, pengembangan produk turunan, hingga pembuatan pupuk hidroponik.

Pendampingan juga menyentuh hal yang tak kalah penting bagi sebuah usaha, yakni identitas. YDBA memfasilitasi Swara Hijau Farm dalam proses pembuatan hak cipta merek. Logo usaha tersebut kini telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM.

Bagi Endang, penguatan kapasitas seperti ini penting agar Swara Hijau Farm tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki bekal untuk mengembangkan usahanya. Sebab, setelah melewati perjalanan dari ember, melon, hingga maggot, tantangan Swara Hijau Farm bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan suatu produk.

Swara Hijau Farm juga perlu memastikan usahanya terus tumbuh dan memiliki tata kelola yang lebih baik. Asa besar pun digantung. Harapannya, Swara Hijau Farm mampu menciptakan nilai yang lebih besar bagi masyarakat di sekitarnya.

Dulu Belajar, Kini Mengajar

Wasriyah (kaus putih) memilah maggot bersama ibu lainnya/ Foto: Nurvita Indarini

Apa yang dibangun Swara Hijau Farm rupanya tidak berhenti pada tambahan penghasilan. Pengetahuan yang diperoleh warga perlahan menjadi keterampilan yang bisa mereka gunakan sekaligus bagikan kepada orang lain.

Wasriyah, misalnya. Sebelum bergabung dengan Swara Hijau Farm, sehari-hari ia sibuk dengan aktivitas memulung. Namun, selama lima tahun terakhir, ia dipercaya merawat tanaman melon dan memahami proses budidayanya.

Wasriyah juga dipercaya mendampingi kegiatan urban farming melon hidroponik di Lapas Perempuan dan Sentra Mulya Jaya, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial.

Masyaallah, saya tertegun mendengar kisahnya. Dulu, dia datang sebagai orang yang belajar. Kini, dia mampu menularkan ilmunya kepada orang lain.

Pengetahuan itu pun tidak berhenti pada Wasriyah. Hasan, anaknya, yang beberapa bulan terakhir ikut bekerja di Swara Hijau Farm, turut mendapatkan banyak ilmu dari sang ibu. Kendati tugasnya antara lain mengambil sampah organik dan mengantar pesanan maggot, Hasan juga sudah mengetahui cara menyemai benih melon.

Bagi Endang, perubahan-perubahan seperti itulah yang paling menyentuh. “Tadinya mereka tidak mendapatkan tambahan uang, sekarang dapat pemasukan tambahan, bahkan ada yang bisa scale up ilmunya. Itu momen yang paling menyentuh sih buat saya,” tuturnya.

Menurut Endang, kemandirian bukan sekadar memiliki penghasilan sendiri. Lebih dari itu, mandiri berarti tidak terus bergantung pada bantuan orang lain. Dengan pengetahuan yang dimiliki, warga memiliki bekal untuk mencari cara, mengembangkan keterampilan, dan terus mengembangkan usahanya.

Penutup

Kembali teringat pada maggot-maggot yang saya lihat pagi itu. Awalnya, saya hanya melihat ribuan larva kecil yang membuat geli. Namun, setelah mendengar perjalanan warga Kampung Sumur, saya melihatnya dengan cara berbeda.

Di Swara Hijau Farm, maggot bukan sekadar hewan kecil yang membantu mengurai sampah organik. Bintang kecil itu menjadi bagian dari ikhtiar warga untuk menciptakan peluang usaha dan menambah penghasilan.

Begitu pula dengan ember yang menjadi awal perjalanan kemandirian mereka. Dari sesuatu yang sederhana itu, warga belajar menanam, memelihara ikan, merawat tanaman, hingga mengembangkan keterampilan yang bisa menjadi sumber penghasilan.

Perjalanan itu tentu belum selesai. Masih ada keterbatasan produksi, kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas usaha, serta tantangan sewa lahan yang setiap tahun mencapai sekitar Rp20-30 juta. Namun, Swara Hijau Farm terus mencari jalan untuk berkembang, termasuk melalui pengembangan produk turunan maggot dan penguatan kapasitas bersama berbagai pihak.

Di sinilah saya memahami bahwa kemandirian tidak selalu berarti mampu berjalan sendiri. Ada sinergi yang membuat langkah menjadi lebih kuat. Di sisi lain, ada warga yang saling belajar, pihak-pihak yang memberikan dukungan, dan pengetahuan yang terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya.

Kemandirian dan keberanian. Mungkin itulah yang sesungguhnya sedang tumbuh di Kampung Sumur bersama Swara Hijau Farm. Ya, bukan hanya melon, sayuran, ikan, atau maggot semata.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hitung Captcha


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.