Dear Suami, Merasa Sendiri Juga Bisa Bikin Istri Lelah
Ada kalanya seorang ibu mudah tersulut emosi. Hanya hal sepele, tapi entah kenapa terasa besar. Berkali-kali hal ini terjadi. Umumnya, karena ibu merasa lelah dan tidak dipahami.
“Kalau saya berhenti memikirkan semua kebutuhan keluarga, apakah ada yang akan mengambil alih?”
“Jika saya sedang sakit, apakah ada yang benar-benar memperhatikan?”
“Apakah saya dicintai sebagai pribadi, atau hanya karena fungsinya saja?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak muncul dalam satu hari di benak ibu sekaligus istri. Biasanya pertanyaan semacam itu lahir dari kelelahan yang menumpuk. Ya, dari perasaan yang lama dipendam, atau dari pengalaman merasa sendirian di tengah rumah yang penuh orang.
Kelelahan yang Tidak Terlihat

Ketika mendengar kata “lelah”, banyak orang langsung membayangkan pekerjaan fisik. Padahal ada jenis kelelahan lain yang jauh lebih kompleks untuk dijelaskan.
Mungkin tidak banyak yang paham, bahwa berusaha terus mengingat bisa menjadi kelelahan emosional. Dan, saya kira ketika kita menjadi ibu, banyak di antara kita yang kemudian “bertransformasi” menjadi semacam mesin pengingat dan alarm.
Mengingat jadwal sekolah anak. Juga tugas anak yang harus dikumpulkan. Mengingat stok kebutuhan rumah, menu makan esok hari, serta jadwal les anak. Kita berupaya mengatur kebutuhan seluruh anggota keluarga agar semuanya berjalan lancar.
Kelelahan ini sering disebut sebagai mental load atau beban mental. Masalahnya, karena tidak terlihat, orang lain sering tidak menyadari kondisi ini.
Lihat saja, kita sebagai ibu masih dilihat keberadaanya. Secara zahir tidak terlihat sedang sakit. Semua anggota tubuhnya masih bisa digunakan sebagaimana mestinya.
Lihat juga kondisi sekitar. Kegiatan rumah tetap berjalan seperti biasa. Anak-anak berangkat dan pergi sekolah dan makanan tersedia. Semua tampak baik-baik saja.
Sering kali beban mental hadir dalam hal-hal kecil yang tampak sepele. Misalnya, ketika anak akan berangkat sekolah. Ada seseorang yang mengingat apakah seragamnya sudah dicuci, tugasnya sudah masuk tas, botol minumnya sudah terisi, dan apakah hari itu ada jadwal khusus yang tidak boleh terlewat.
Atau ketika stok kebutuhan rumah mulai menipis. Ada seseorang yang diam-diam mengingat bahwa sabun cuci piring hampir habis, beras tinggal sedikit, dan minggu depan anak membutuhkan perlengkapan untuk kegiatan sekolah.
Semua itu jarang masuk dalam daftar pekerjaan resmi. Tidak ada yang memberikan penghargaan karena berhasil mengingat semua jadwal dengan baik. Semua dianggap biasa dan wajar.
Namun, pernah nggak sih orang lain menyadari apa jadinya jika seseorang ini berhenti peduli. Apa jadinya jika seseorang ini membiarkan anak-anaknya main bebas di luar berlama-lama, sehingga dia jadi punya waktu untuk me time. Apa pula yang akan terjadi apabila makanan yang terhidang “asal ada”, tanpa dipikirkan protein dan kandungan gizi lainnya.
Sering kali keluarga baru menyadari keberadaan pekerjaan tersebut ketika ada yang beberapa hal yang terlewat.
Istri Tidak Butuh Dipuji, tapi Hanya Ingin Lebih Dilihat

Banyak orang mengira perempuan yang mengeluh tentang kelelahan sedang mencari pujian. Padahal sering kali bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka tidak meminta medali. Tidak pula meminta ucapan terima kasih setiap hari. Mereka hanya ingin merasa bahwa usahanya dilihat.
Ketika orang dekatnya menyadari betapa banyak hal yang istri pikirkan setiap hari. Juga saat ada yang memahami mengapa istri kadang kehabisan kesabaran. Rasanya berharga banget.
Benar, lho, ada perbedaan besar antara kedua kalimat ini.
Kalimat pertama: “Kalau capek bilang saja”
Kalinat kedua: “Aku lihat kamu capek hari ini.”
Kalimat pertama kesannya menunggu. Sedangkan kalimat kedua memperhatikan. Nah, sering kali, perhatian itulah yang paling dirindukan. Karena pada akhirnya, setiap manusia ingin merasa keberadaannya berarti, bukan hanya hasil kerjanya yang dinikmati.
Hal seperti ini mengingatkan saya ketika masih jadi pekerja kantoran. Lelah itu sudah pasti, bahkan beberapa kali diomel-omeli. Namun, atas semua usaha yang dilakukan, ada gaji yang diterima setiap bulan. Bahkan ada bonus, gaji ke-13, dan THR. Hal-hal itu rasanya bisa jadi semacam obat lelah. Ada penghargaan yang terlihat atas kerja keras yang dilakukan.
Bagaimana dengan ibu di rumah? Dia melakukan semua pekerjaan domestik tanpa digaji. Dia dinafkahi suaminya, tapi tidak ada yang menggajinya. Jadi, mengapresiasi dengan memberikan perhatian tanpa diminta itu luar biasa banget sih.
Untuk Para Suami, Kehadiran Emosional Itu Penting

Banyak suami bekerja keras untuk keluarga. Mereka berangkat pagi, pulang sore atau malam, lalu berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tentu itu adalah bentuk tanggung jawab yang patut dihargai.
Namun, dalam kehidupan keluarga, kebutuhan emosional istri juga sama pentingnya dengan kebutuhan finansial. Seorang istri tidak selalu membutuhkan hadiah. Dia juga tidak melulu membutuhkan bantuan besar.
Kadang istri hanya membutuhkan pasangan yang bertanya, “Hari ini kamu bagaimana?” atau “Kamu kelihatan capek. Ada yang bisa kubantu?” atau “Aku lihat akhir-akhir ini kamu banyak pikiran.”
Pertanyaan sederhana seperti itu bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian. Karena pada akhirnya, yang paling dirindukan dalam pernikahan bukan kesempurnaan, melainkan kehadiran.
Ya, suami yang hadir karena mau melihat ketika istrinya tampak kelelahan. Kehadiran suami juga bakal terasa banget saat dia mau bertanya pada istrinya yang tampak berbeda dari biasanya. Kadang tuh ya, istri butuh banget dipahami sebelum dirinya menjelaskan panjang lebar.
Sering kali, rasa dicintai tidak lahir dari tindakan besar yang dilakukan sesekali. Lebih dari itu, rasa dicintai justru hadir dari perhatian-perhatian kecil yang dilakukan berulang kali.
Untuk Para Istri yang Sedang Merasa Sendirian

Bagi Mama yang hari ini merasa tidak dipahami, percayalah Mama tidak sendirian. Di luar sana, banyak juga perempuan yang menjalani hari-harinya dengan perasaan yang sama.
Meski lelah secara emosional, para perempuan ini tetap menjalankan perannya. Masih mengurus anak dan rumah seperti biasa. Juga masih tetap menjadi tempat pulang bagi keluarganya.
Kendati memang jauh di lubuk hati terdalam, diam-diam berharap ada seseorang yang berkata, “Kamu lagi capek? Apa yang bikin hari ini terasa berat buatmu?”
Namun, jika hari ini belum ada yang mengatakan hal, izinkan tulisan ini menjadi pengingat bahwa kelelahan Mama itu nyata. Perjuangan dan perasaan Mama juga valid.
Mama tidak sedang berlebihan atau manja, kok. Bukan pula sedang mencari perhatian. Mama adalah manusia biasa yang juga ingin dipahami. Itu adalah kebutuhan yang sangat wajar. Bahkan orang yang paling sering menjadi tempat bersandar pun sesekali membutuhkan bahu untuk bersandar.
Ibu lelah berarti tidak bersyukur? Jangan mudah menghakimi. Baca yuk tulisan ini: Saat Ibu Lelah, Bukan Berarti Kurang Bersyukur
Penutup
Semakin kita jalani peran sebagai istri sekaligus ibu, seringkali segalanya jadi biasa saja. Kita memasak, mengurus anak, mengingat semua kebutuhan keluarga, dan menjaga aktivitas rumah tetap berjalan dianggap sebagai bagian dari kita.
Lalu, ketika diri merasa lelah, utamanya secara mental, jadi merasa sendiri dan tak ada yang berusaha memahami. Kerap kali situasi ini memunculkan tanya, “Apakah saya dicintai karena peran semata? Sehingga orang rumah baru akan menyadari arti diri saya ketika tak ada lagi yang memasak, mengurus, atau mengingat semua kebutuhan?”
Pertanyaan ini biasanya muncul saat seseorang merasa keberadaannya lebih dihargai ketika dirinya “berfungsi” daripada ketika dia sedang kesulitan. Ya, ketika ibu sehat, semua berjalan seperti biasa.
Lantas bagaimana saat ibu sakit, lelah, atau tidak baik-baik saja? Apakah ada yang terketuk hatinya untuk mengambil alih sebagian rutinitas ibu?
Seringkali, seorang istri yang juga ibu tetap bangun pagi meskipun tubuhnya tidak nyaman. Semua kebutuan anak dipenuhi tanpa terkecuali. Dia pun tetap memastikan seisi rumah bisa makan secara layak.
Nyatanya, harapan agar tanggung jawabnya diambil alih sejenak dan perasaanya lebih dipahami tinggal harapan. Sampai-sampai ada ungkapan, “Ibu itu tidak boleh sakit”.
Ketika merasa tak ada yang berusaha memahami, pasti akan membuat dada ibu sesak dan berat. Orang sekitarnya lantas mengira ibu sedang marah. Marah kepada pasangan, kepada anak-anak, juga kepada situasi yang terus berulang.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, sering kali yang ditemukan bukan kemarahan lho. Ternyata sebenarnya yang terjadi adalah kesedihan. Ya, kesedihan karena merasa tidak didengar dan tidak dipahami.
Sedih lho, kalau selalu menjadi tempat bersandar, tetapi jarang memiliki tempat untuk bersandar. Dan kemarahan yang tampak mencuat, sering kali hanyalah cara hati menunjukkan bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi terlalu lama. Semoga orang-orang di sekitarnya jadi lebih memahami ibu ya.