Dusun Semilir Semarang: Worth It Nggak Buat Liburan Keluarga? Ini Pengalaman Seharian Full!
Kalau lagi cari tempat liburan keluarga di Semarang yang lengkap, satu nama ini hampir selalu muncul: Dusun Semilir Ecopark. Namun, pertanyaannya, benar-benar worth it nggak sih buat didatangi buat liburan keluarga? Kemahalan atau nggak?
Untuk menjawabnya, kami sekeluarga mencoba langsung. Kami eksplorasi Dusun Semilir Semarang dari pagi sampai malam. Nah, ini pengalaman jujurnya.
Disambut Suasana Estetik Sejak Awal

Kami datang ke Dusun Semilir sejak pagi-pagi sekali. Tidak lama setelah loket tiket buka, kami sudah di sana. Dari jalan raya hingga ke tempat parkir, mata tertuju pada arsitektur ikonik berbentuk stupa candi. Itulah ciri khas Dusun Semilir.
Kami berempat membeli tiket terusan. Karena niatnya mau menyenangkan anak, harapannya dengan tiket terusan mereka akan mencoba semua wahana sepuasnya. Maklum, dengan tiket ini, leluasa menjajal lebih dari 23 wahana.
Tiket masuknya berupa gelang kertas. Sat, set, sat, set, kami berempat memakainya dengan segera dan bergegas melewati pintu masuk. Oh ya, tiket masuk ini termasuk voucher Rp50.000 untuk belanja di Pusat Oleh-Oleh Dusem, icip-icip kuliner, atau photobooth.
Begitu masuk area Dusun Semilir, pengunjung diarahkan melewati toko suvenir dan oleh-oleh yang luas. Isinya cukup menggoda, dari oleh-oleh sampai barang lucu untuk anak-anak. Tapi kami sepakat untuk “tahan dulu” karena tujuan utama hari itu adalah main sepuasnya.
Perjalanan masuk ke area dalam juga sudah jadi pengalaman tersendiri. Jalanannya dibuat estetik dengan dekorasi tanaman warna-warni yang Instagramable. Bahkan sebelum mencoba wahana, suasana tempat ini sudah terasa menyenangkan.
Langsung Uji Nyali di Perosotan Pelangi

Tanpa banyak pemanasan, anak sulung langsung mengajak ayahnya mencoba wahana perosotan pelangi. Ketinggiannya sekitar 30 meter, dan nantinya melintasi lintasan sepanjang sekitar 130 meter.
Sementara mereka naik ke atas, aku dan si bungsu menunggu di bawah. Dari situ saja sudah terlihat, wahana ini memang memacu adrenalin. Ekspresi orang-orang yang meluncur, antara teriak dan tertawa, cukup jadi gambaran sensasinya.
Begitu selesai, mereka langsung bilang, “Seru banget!” Meski cuma melihat dari bawah, aku turut merasakan keseruannya. Semangat makin membara untuk menjajal berbagai wahana lainnya.
Baca juga rekomendasi liburan keluarga seru lainnya: Sea Walker di Pahawang, Begini Rasanya Jalan-jalan di Bawah Laut
Eksplor Wahana Dusem: dari VR sampai Dunia Dinosaurus

Setelah itu, kami mulai menjelajah berbagai wahana lain. Anak-anak mencoba VR, permainan menembak, hingga memanah. Hmm, kombinasi aktivitas fisik dan digital yang cukup seimbang.
Salah satu yang menarik adalah Dusun Dino. Di sini, anak-anak bisa naik robot dinosaurus yang bisa berjalan. Ditambah lagi ada pertunjukan dinosaurus yang cukup menghibur dan bikin mereka betah.

Pertunjukannya cukup interaktif. Penonton beberapa kali dilibatkan dalam pertunjukan. Sayangnya beberapa anak kecil takut pada boneka dino besar yang menjadi bagian dari pertunjukkan.
Omah Suwung: Uji Nyali bagi si Pecinta Horor

Selanjutnya, kami mencoba wahana Omah Suwung. Ini merupakan bahasa Jawa yang berarti rumah kosong. Di area depan, terdapat aneka boneka yang mencerminkan bahwa Omah Suwung adalah wahana dengan nuansa horor.
Si Sulung bersikukuh hendak masuk ke rumah tersebut. Sedangkan si bungsu tidak mau karena takut. Saya pun bertanya kepada pegawai apakah banyak jumpscare-nya? Untungnya, kami datang saat “jam aman”, jadi tidak ada jumpscare. Meski begitu, sudah cukup membuat anak-anak tegang.
Labirin gelap, pocong bergelantungan, boneka hantu, dan efek suara menyeramkan tetap sukses bikin mereka merapat ke orang tuanya. Ini jadi pengalaman seru, meskipun agak bikin deg-degan.
Isi Tenaga dengan Jajanan Sederhana
Setelah cukup aktif mencoba aneka wahana, perut mulai terasa lapar. Kami memilih camilan ringan, yakni mendoan hangat dan crepes. Seingatkan harganya cukup bersahabat di kantong. Sekitar Rp25 ribu untuk satu porsi.
Jadi, di Dusem, ada jalanan yang kanan dan kirinya terdapat banyak pedagang makanan. Selain itu, sebenarnya ada juga food court. Karena kebetulan kami melewati para pedagang makanan, jadilah jajan di situ sambil meluruskan kaki.
Cuaca menjelang siang cukup terik, dan suasana agak gerah. Kami berganti-gantian menggunakan kipas angin portabel untuk mengusir beringsak. Setelah energi cukup terisi, kami melanjutkan eksplorasi.
Dusun Salju: Favorit Anak, tapi Harus Siap Antre

Kami melipir ke wahana permainan air. Namun, di sana cukup antre dan anak-anak ingin mencoba wahana lain. Sulung ingin naik sepeda listrik, sementara adiknya ingin bermain salju.
Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk menjajal Dusun Salju. Sebenarnya, di sini antreannya cukup panjang, apalagi saat itu memang sedang ramai pengunjung. Jadi, memang perlu ekstra sabar.
Kami menunggu antrean di kursi tunggu yang telah disediakan. Anak-anak sampai agak bosan karena tak juga dipanggil nomor antreannya.
Tik… tik… tik… Jam terus berdetik. Akhirnya setelah sekian lama, nomor antrean kami dipanggil. Saatnya menukar alas kaki dengan sepatu boot yang dipinjamkan pihak Dusem. Di sini ada boot untuk anak dan ada pula untuk dewasa.
Setelah masuk ke wahana salju, suasana berubah seketika. Anak-anak langsung antusias bermain. Si bungsu duduk di ban besar dan ditarik oleh kakaknya. Mereka juga menikmati hujan salju buatan yang turun setiap beberapa menit.
Si bungsu juga beberapa kali memegang salju buatan untuk dibuat bola-bola. Masyaallah, ingatan saya langsung melayang ke beberapa tahun lalu saat merasakan salju yang asli di Mongolia. Semoga Allah kasih kesempatan mengajak keluarga melihat salju yang asli.
Hujan Turun, Pindah ke Digital Playground

Ketika kami keluar dari Dusun Salju, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Petugas mengarahkan kami untuk menuju ke area indoor, yakni Digital Playground. Baik banget deh petugasnya, kami diantar ke playground tersebut menggunakan payung Alhamdulillah, jadi tidak kehujanan deh.
Di Digital Playground, anak-anak kembali aktif. Mereka naik bom-bom car, juga mencoba berbagai game interaktif. Si sulung terlihat sangat fokus saat memainkan game memindahkan benda dengan kontrol komputer, sementara si bungsu memilih aktivitas mewarnai yang lebih santai.
Mereka juga menjajal VR. Ada beberapa pilihan video, misalnya underwater dan animals. Saya ikut mencoba juga. Jika memilih animals, kita bisa memberi makan rumput pada hewan-hewan yang ada. Secara virtual tentunya.
Kami juga sempat mencoba sinema 7D dengan efek gerak dan visual yang cukup membuat pengalaman menonton jadi lebih hidup.
Kidz Paradise: Surga Main Tanpa Batas

Setelah hujan reda, kami lanjut ke Kidz Paradise. Sebelum masuk, kami diberi kaus kaki gratis. Sebuah detail kecil yang cukup menyenangkan.
Meski beberapa area sedikit basah karena hujan, anak-anak tetap antusias. Mereka mencoba berbagai permainan, seperti memanjat dinding balon, bermain ayunan, meluncur di perosotan, hingga lompat-lompat di trampolin.
Kupikir zona ini paling membosankan bagi si Sulung yang berusia 11 tahun. Ternyata aku salah. Justru dialah yang lebih lincah dari adiknya, pindah dari satu permainan ke permainan yang lain. Bahkan ada momen dirinya santai banget menikmati ayunan.

“Mama, Taqi paling suka di sini.” Ucapan si Sulung menegaskan bahwa asumsiku semula salah total. Dia dan adiknya tak peduli dengan sekejap kaus kakinya basah dan akhirnya dicopot. Justru mereka malah lebih excited.
Sore yang Santai di Alun-alun Eropa

Menjelang petang, kami merapat ke sebuah kawasan di Dusun Semilir yang disebut sebagai Alun-alun Eropa. Disebut demikian karena didesain mirip dengan suasana Eropa.
Terlebih ada sungai buatan dengan gondola ala Venezia yang lalu-lalang. Gondoler-nya alias pendayung gondola berdiri di ujung belakang, sambil mengenakan topi dan baju garis-garis hitam-putih. Makin mirip dengan gondola Venezia yang sering saya lihat di gambar-gambar.
Sayangnya, kami tidak sempat menjajal naik gondola ini. Kala itu, antreannya cukup mengular dan hari yang sudah agak gelap. Sementara itu, kami juga berencana menonton pertunjukan di Alun-alun Eropa.
Dalam pertunjukkan,ada penyanyi yang menyanyikan Cinta Putih-nya Glen Fredly dengan sangat apik di atas gondola. Semakin hidup karena ada mermaid yang berenang sambil mengibaskan ekornya, sehingga pengunjung pun terciprat.
Cukup seru dan menghibur, terutama karena bisa dinikmati bersama keluarga dalam suasana yang lebih santai. Kami terpana sekali saat akhir pertunjukkan ada atraksi api. Pertunjukan lantas ditutup dengan bagi-bagi balon untuk para penonton.
Penutup yang Manis di Wonderlights

Seusai menonton pertujukkan, hari semakin gelap. Setelah menunaikan salat maghrib di musala tak jauh dari Alun-alun Eropa, kami melangkahkan kaki ke area Wonderlights.
Di sana terdapat lampion-lampion cantik aneka rupa. Ada yang berbentuk kelinci, merak, dan bunga-bunga. Lampu-lampu dan instalasi cahaya yang berpendar ke seantero Wonderlights membuat suasana terasa magis. Rasanya seperti peri yang menari di antara cahaya. Beneran! Soalnya saya menclok sana, menclok sini, mengikuti si kecil yang lari-lari menghampiri lampion.
Area tersebut tidak terlalu luas. Namun, cukup untuk jalan-jalan santai sebagai penutup aktivitas di Dusun Semilir. Kami juga abadikan beberapa foto di sana untuk kenang-kenangan.
Lokasi dan Harga Tiket Dusun Semilir Semarang

Buat yang tertarik berkunjung, lokasi Dusun Semilir Semarang berada di Jl. Soekarno Hatta No.49, Ngemplak, Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Aksesnya cukup mudah dijangkau, terutama bagi yang datang dari arah Semarang atau Solo.
Harga tiket:
Tiket reguler weekday: Rp30.000
Tiket reguler weekend: Rp40.000
Tiket combo weekday: Rp65.000
Tiket combo weekend: Rp75.000
Tiket terusan (all access): sekitar Rp120.000
Harga bisa berubah sewaktu-waktu, dan sering ada promo menarik. Jadi sebelum berangkat, ada baiknya cek update terbaru melalui media sosial resminya.
Jadi, Liburan ke Dusun Semilir SemarangWorth It Nggak?

Jawabannya sih kalau menurut saya: worth it banget, terutama untuk liburan keluarga. Dengan banyaknya pilihan wahana, dari outdoor, indoor, edukatif, hingga hiburan, Dusun Semilir memang bisa mengakomodasi berbagai usia dan minat.
Nah, agar lebih puas mengeksplorasi Dusun Semilir, ada beberapa saran dari saya. Simak ya, Mama-mama:
- Datang lebih pagi supaya lebih banyak wahana yang bisa dicoba
- Siapkan energi dan mental untuk antre
- Pilih wahana sesuai usia anak agar tetap nyaman
Satu hal yang pasti, seharian di Dusun Semilir ternyata belum cukup. Masih banyak yang belum dicoba. Sayangnya, tidak semua wahana dibuka sampai malam.
Menjelajah dari pagi, hingga hari beranjak gelap cukup bikin kaki pegal dan tenaga hampir habis. Namun, semua terbayar oleh wajah puas dan bahagia anak-anak. Buat saya, rasanya sudah jadi alasan paling kuat untuk bilang bahwa Dusun Semilir Semarang layak masuk wishlist liburan keluarga.
Mau beli tiketnya? Langsung klik saja –> beli tiket masuk Dusun Semilir Semarang.
Ingin rekomendasi liburan keluarga lainnya? Gimana kalau ke mini Raja Ampat di Banyuwangi? Simak langsung ya: Menyusuri Green Island Banyuwangi, Mini Raja Ampat di Ujung Jawa