Menjelajah Hutan Kota UI, Bertemu Apa Saja di Dalamnya?
Saya sedih banget beberapa bulan belakangan mendengar kabar kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Jahat banget yang tega membakarnya! Berbulan-bulan masih ada titik api dan kabut asapnya lagi. Itu makanya, saya pengin banget menanamkan ke anak untuk mencintai hutan. Salahnya satunya melalui kegiatan menjelajah Hutan Kota UI. Hmm, bisa bertemu apa saja di dalam hutan ya?
Saya ajak si bungsu untuk menjelajah Hutan Kota UI pada Sabtu (31/10/2026). Kebetulan saat itu ada kegiatan Jelajah Hutan Kecil-kecilan yang digagas Sobat Air Jakarta dan Koloni Semut Indonesia. Acaranya seru banget. Si bungsu juga berkali-kali bilang, “Suka banget”.
Bertemu Serangga-serangga Unik

Sebelum ekspedisi dimulai, Sobat Air dan Koloni Semut Indonesia memberikan sedikit perkenalan dan edukasi. Kak Daru dari Sobat Air Jakarta menjelaskan bahwa hutan merupakan sumber kehidupan bagi keanekaragaman hayati.
Pasalnya, di hutan dipenuhi kicauan burung, suara serangga, gemerisik daun tertiup angin, juga suara aneka binatang yang saling bersahutan. Suara-suara ini menjadi tanda bahwa alam dan makhluk hidup di dalamnya masih berinteraksi dengan baik.
Selanjutnya, Koloni Semut Indonesia memperlihatkan berbagai serangga unik koleksinya. Wah! Ada serangga yang bentuknya mirip banget dengan daun. Bahkan penampakan daun hijau di tubuh serangga ini sangat detail, lengkap dengan pola urat daun. Namanya adalah Pulchriphyllium pulchrifolium alias serangga duna.
Lucu deh, saat hinggap di tangan saya, serangga berbentuk daun ini goyang-goyang. Mirip gerakan daun yang tertiup angin sepoi-sepoi. Luar biasa ya penyamarannya sebagai daun, menjiwai banget. Malahan nih, makhluk yang satu ini punya perilaku unik yang disebut katalepsi atau berpura-pura mati agar tidak terdeteksi predator.

Serangga lain yang diperlihatkan adalah belalang ranting sumatra alias Pharnacia sumatrana. Fun fact-nya, ini merupakan salah satu raksasa sejati di dunia serangga.
Lihat, mirip banget ranting pohon ya. Kurus tinggi langsing! Gaya berjalannya juga sangat unik. Caranya, maju perlahan sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Persis sekali gerakan ranting pohon yang berayun lembut tertiup angin.
Next, kumbang badak. Nah, kumbang badak yang dibawa ini merupakan kumbang herkules, dan merupakan salah satu serangga terbang terbesar di dunia. Kak Nadhif dari Koloni Semut Indonesia menjelaskan kumbang badak ini merupakan binatang nokturnal. Makanya saat itu, kumbang ini diam bae karena lagi bobo ganteng.
Kak Nadhif berusaha membangunkan si kumbang yang panjangnya mencapai 16 cm dari tanduknya ini. Hmm, rupanya dia ngantuk berat, jadilah cuma melebarkan sayap sekejap dan bobo lagi.

Ada juga kumbang capit yang cukup langka yang dibawa Kak Nadhif. Namanya kumbang capit emas alias Allotopus rosenbergi. Kumbang yang satu ini merupakan endemik Pulau Jawa.
Binatang-binatang yang Ditemui di Hutan Kota UI
Hutan Kota UI memiliki luas 90 hektare. Kawasan ini terbagi menjadi tiga zona yakni Wales Barat, Wales Timur, dan Vegetasi Asli. Nah, yang kami jelajahi beberapa waktu lalu adalah Wales Barat.
Perjalanan dilakukan dengan menempuh jarak sekitar dua kilometer. Jalan hutan agak basah karena malam sebelumnya turun hujan. Meski agak becek, ekspedisi berjalan dengan sangat seru.
Semakin masuk ke dalam hutan, beberapa makhluk langsung mengikuti. Siapa dia? Yup, nyamuk! Alhamdulillah saya membawa minyak telon yang ada kandungan antinyamuk, jadi cukup aman. Beberapa peserta lain membawa losion antinyamuk sebagai pelindung.
Semut

Kami bertemu dengan beberapa jenis semut. Salah satunya adalah semut berduri. Unik banget deh semut ini karena memiliki duri-duri tajam dan keras di punggung dan dada. Fungsi sebagai mekanisme pertahanan diri dari pemangsa.
Ada lagi semut rahang jebakan alias trap-jaw ant. Ciri khas semut ini adalah keberadaan sepasang rahang panjang (mandibula) yang bisa terbuka hingga hampir 180 derajat. Saat mempertahankan diri, akan terdengar suara “cetek” kecil, sehingga disebut juga semut cetek.
Oh, ya, rahang semut ini juga bisa digunakan seperti ketapel, lho. Menggunakan rahang, semut ini melemparkan tubuhnya ke udara, sehingga bisa melarikan diri saat ada bahaya.
Saya tergelitik untuk memegang langsung semut ini. Meskipun kecil, makhluk satu ini bikin saya takut. Soalnya semut rahang jebakan memiliki sengatan yang bisa terasa panas, membakar, serta menyebabkan kemerahan pada kulit.
Fun fact lain dari semu ini, mereka tidak bisa memanjat permukaan yang sangat licin secara vertikal. Karena itu, jika diletakkan di kotak kaca atau plastik halus yang bersih, mereka hanya akan berdiam di dasar kotak saja.
Laba-laba

Di Hutan Kota UI, kami beberapa kali bertemu dengan laba-laba. Ada laba-laba pemburu yang tubuhnya pipih dan berwarna cokelat muda. Fakta menariknya, mereka tidak menggunakan jaring untuk menangkap mangsa. Sebaliknya, laba-laba ini aktif menjelajah, mengejar, dan menerkam mangsanya.
“Kak ini semut apa?” tanya saya pada kakak pemandu.
“Oh ini bukan semut, tapi laba-laba,” terangnya.
Hah? Seibu-ibu ini saya baru tahu lho ada laba-laba yang seperti semut. Mungkin karena biasanya saya nggak memperhatikan dan nggak mengamati. Ternyata di dunia ini ada ant-mimicking spider alias laba-laba peniru semut.
Bukan hanya bentuknya yang mirip semut, perilakunya pun mirip. Tujuan penyamaran ini adalah menghindarkan diri dari predator. Pintar sekali ya!
Rayap

Di dalam Hutan Kota UI, banyak ditemukan batang pohon yang ambruk dan keropos. Nah, ketika batang pohin tersebut digeser, ditemukan koloni Macrotermes gilvus Hagen, yang tergolong dalam kelompok rayap tanah.
Selain itu, ada juga rayap kayu. Mereka tinggal langsung di dalam batang kayu, cabang, atau kayu mati yang berdiri maupun tumbang.
Melihat rayap-rayap itu, seketika saya ingat lemari pakaian dan tangga rumah yang dimakan binatang kecil ini. Gemas banget melihat rayap ini. Namun di hutan, rayap berperan penting sebagai pengurai alami yang mendaur ulang bahan organik mati seperti kayu, serasah, dan humus.
Tak cuma itu, rayap menjadi sumber makanan penting bagi hewan pemakan serangga di hutan. Bahkan rayap secara alami juga membantu membentuk proses siklus air tanah di hutan dengan membuat lorong atau rongga tanah.
Mantis

Mantis alias belalang sembah adalah makhluk lain yang menyambut kami dalam ekspedisi. Seperti biasa, binatang ini dalam postur khasnya seperti berdoa. Melihatnya, saya diam-diam melantunkan doa agar hutan di Bumi ini selalu baik-baik saja, dijauhkan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Belalang ini juga punya keunikan tersendiri. Kepalanya bisa berputar 180 derajat. Wah! Seperti Suzana ya. Si betina juga sering memakan si jantan pada saat atau setelah kawin. Perilaku ini bukan tanpa alasan, melainkan
untuk peningkatan jumlah telur dan transfer sperma yang lebih efektif.
Ular Tambang

Dalam perjalanan, ada sosok panjang kecil menjuntai di pohon. Rupanya si ular tambang yang sedang beristirahat. Ular ini sebenarnya banyak dipelihara. Sebab tidak memiliki taring berbisa yang mematikan bagi manusia. Meski begitu, mereka bisa saja menggigit jika dipegang atau merasa terancam.
“Ups, bau banget. Siapa yang kentut nih?” Jika tercium bau menyengat yang mirip terasi atau kentut, bisa jadi ular tambang inilah penyebabnya. Maklum, binatang yang satu ini kelenjar khusus yang bisa mengeluarkan bau tidak sedap untuk mengecoh atau mengusir predator.
Kepik Sejati Berwarna Oranye

Saya pikir yang namanya kepik itu adalah kumbang bulat berwarna merah atau oranye, dengan motif polkadot. Orang-orang menyebutnya lady bug. Ternyata saya salah. Lady bug itu diartikan sebagai kumbang koksi.
Sedangkan kepik sejati bentuk tubuhnya tidak bulat. Serangga ini memiliki mulut berbentuk seperti jarum atau sedotan yang tajam untuk menusuk dan mengisap cairan dari tumbuhan atau mangsanya.
Berbeda dengan koksi, kepik mengalami metamorfosis tidak sempurna. Jadi, dari telur -> nimfa -> dewasa, tanpa fase kepompong.
Nah, di Hutan Kota UI juga terdapat pohon kapuk randu. Di buah-buah randu yang berjatuhan, tampak kepik ini. Nama ilmiahnya Dysdercus cingulatus, dan oleh masyarakat disebut juga sebagai bapak pucung.
Belalang Cantik

“Halo, namaku Caryanda spuria. Panggilannya Anda.” Hi-hi-hi, itu adalah sapaan imajiner saat saya melihat belalang cantik yang sedang berjemur di daun.
Keberadaan makhluk kecil ini memang cukup mencolok. Ada perpaduan warna hijau, kuning, oranye, hitam, serta hijau kebiruan.
Belalang kerap dianggap sebagai hama karena memakan daun tanaman dan biji padi di persawahan. Meski begitu, belalang juga memiliki peran penting dalam ekosistem alami. Tugas belalang adalah sebagai pengurai organisme mati, pemangsa detritus material organik, serta predator alami bagi beberapa spesies serangga.
Kaki Seribu

Hewan apa yang sibuk banget saat akan berangkat sekolah? Jawabannya kaki seribu! Bayangkan, dia harus memakai seribu pasang kaus kaki, ha-ha-ha.
Meski disebut kaki seribu, jumlah sebenarnya nggak sampai seribu juga sih. Setiap segmen tubuh memiliki 17-100 pasang kaki. Biarpun begitu, banyak aja gitu ya kelihatannya.
Binatang ini suka daerah yang lembap dan sejuk. Saat lapar, dia akan makan sisa buah dan daun-daunan.
Meski sepintas agak seram karena kakinya banyak, tapi kaki seribu ini binatang yang banyak mengalah, lho. Saat takut dan terdesak, dia akan melingkarkan tubuh untuk melindungi diri. Kulit tubuhnya yang keras menjadi alat perlindungan serangan pemangsa.
Kaki seribu tidak menggigit. Namun, binatang ini bisa mengeluarkan cairan berbau yang dapat menyebabkan iritasi, kemerahan, atau kulit melepuh pada kulit dan mata.
Penutup
Sebenarnya masih ada banyak lagi binatang kecil yang kami temui sepanjang penjelajahan di Hutan Kota UI. Hanya saja bakal panjang banget deh kalau saya tulis semua. Lebih baik datang langsung dan temui sendiri fauna di sana.
Seru banget deh pokoknya. Bakal jadi kegiatan belajar yang menyenangkan juga buat anak-anak. Selamat menjelajah!