Ketika Mata Kering Nyaris Mengaburkan Keindahan Nepal Van Java
“Sampai juga di Nepal Van Java!” Dengan senyum merekah, saya menginjakkan kaki di desa wisata yang dijuluki “Nepal”-nya Indonesia ini. Kehadiran saya sekeluarga langsung disambut embusan angin dingin khas pegunungan.
Sejauh mata memandang, hamparan hijau berpadu dengan luasnya langit nan biru. Pemandangan indah itu menjadi hadiah setelah kami menempuh perjalanan ratusan kilometer dari Jakarta.
Sayangnya, dalam petualangan kali ini, keindahan Nepal Van Java nyaris kabur. Bukan karena hujan atau karena kabut yang menutupi pemandangan, melainkan karena mata saya sendiri.
Awalnya hanya terasa sedikit sepet. Hmm, mungkin karena berjam-jam berada di perjalanan. Saya kucek sedikit mata ini untuk menghilangkan rasa tidak nyaman. Duh, kok malah perih dan gatal.
Apalagi saat saya berada di atas sepeda motor untuk menjelajahi setiap sudut Nepal Van Java. Alih-alih mengabadikan keindahan pemandangan, saya malah semakin sibuk mengucek mata.
Waduh, padahal liburah ini sudah lama dinantikan. Kami menempuh perjalanan lebih dari delapan jam dari Jakarta menuju Dusun Butuh, Kabupaten Magelang, demi menikmati keindahan Nepal Van Java secara langsung, tidak hanya lewat foto-foto yang beredar di media sosial.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah dari liburan di Nepal Van Java ini? Hmm, sungguh seru dan menegangkan. Baca terus tulisannya sampai selesai ya.
Perjalanan Panjang Menuju Nepal Van Java

Perjalanan menuju Nepal Van Java ini awalnya dimulai dari sebuah foto yang melintas di beranda Instagram saya. Rumah dengan cat-warni yang dibangun berundak mengikuti kontur tanah di lereng Gunung Sumbing langsung menyita perhatian.
Suasana tersebut mengingatkan pada permukiman di pegunungan Himalaya, Nepal. Kalau liburan ke Nepal yang asli tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, Nepal Van Java menjadi pilihan yang lebih realistis untuk mengobati penasaran.
Kami berangkat dari Jakarta selepas subuh. Untuk menghemat, sebagai “seksi konsumsi” keluarga, saya membawa aneka perbekalan. Roti, keripik, dimsum, buah-buahan dan biskuit disusun dengan rapi di tas bekal. Untuk makan berat, saya membuat nasi goreng telur, lengkap dengan sayuran dan irisan timun.
“Mau pipis,” ucapan si bungsu membuat suami segera mengarahkan kendaraan ke rest area terdekat. Alhamdulillah kendati musim liburan, kondisi rest area tidak terlalu ramai.
Mengingat waktu sudah mendekati azan dzuhur, kami sekalian beristirahat, menunaikan salat, dan menikmati bekal makan siang. Suami sempat tidur siang sejenak. Kata suami, tidak perlu buru-buru, karena Nepal Van Java lebih enak dijelajahi di waktu pagi.
“Nanti kita menginap dulu di Magelang. Nah, besok pagi-pagi baru ke Nepal Van Java. Kalau masih pagi bisa lebih leluasa mengeksplorasi,” jelas suami.
Akhirnya, kami tiba di Magelang menjelang maghrib. Perjalanan terasa sangat panjang, karena kami belum juga menjejakkan kaki di Nepal Van Java. Meski begitu, kami semua masih sangat bersemangat. Kami sama sekali tidak menyangka, perjalanan yang sudah lama kami impikan itu akan menyisakan cerita yang tak pernah diduga sebelumnya.
Di Balik Keseruan Keliling Nepal Van Java dengan Ojek Motor

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Anak-anak bangun sendiri ketika mendengar azan subuh yang sayup-sayup. Setelah itu, kami bersiap. Mandi dan sarapan dilakukan tanpa banyak suara.
Sekitar pukul 06.00 WIB, kami check out dari penginapan. Jalan menuju Dusun Butuh, tempat Nepal Van Java berada, cukup berkelok. Semakin lama, semakin banyak kelokan dan tanjakan. Kendati demikian, pemandangannya semakin indah.
Gunung Sumbing menyembul beberapa kali di balik rumah warga atau pepohonan. Entah sudah berapa banyak ucapan “masyaallah” terlontar dari mulut kami. Kaca jendela mobil sengaja dibuka agar angin pegunungan memenuhi setiap sudut. Meski beberapa kali telinga terasa pengang karena berada di dataran tinggi, tapi kami semua masih bersemangat.
Tak lama, mobil berhenti di parkiran pengunjung, dekat Cafe Janji Hati. Di sana terdapat tempat makan, juga penyewaan jeep dan ojek sepeda motor. Anak-anak ingin naik Jeep. Namun, tarif sewanya cukup mahal, mulai dari Rp550.000.
Mengingat sedang traveling mode hemat, kami memberi pengertian pada anak-anak. “Sekarang kita naik ojek wisata dulu ya. Insyaallah nanti ada rezeki yang lebih banyak lagi, baru naik Jeep.”
Alhamdulillah anak-anak mau memahami kondisi dompet orang tuanya. Kami menyewa dua ojek motor. Untuk tiga destinasi alias paket medium, satu sepeda motor dibanderol Rp120.000.
Tidak menunggu lama, kami segera naik ke boncengan sepeda motor. Tujuan pertama adalah Terasiring Sitegong. Jalanan aspal yang kami lalui cukup mulus. Di kanan dan kiri jalan terhampar berbagai tanaman sayuran. Ada daun bawang, sawi, brokoli, dan lainnya.
Seru sekali naik sepeda motor di area pegunungan seperti ini. Tidak ada polusi dan kemacetan. Mata pun dimanjakan pemandangan nan asri dan cantik. Gunung Sumbing berdiri dengan gagah dengan puncaknya yang diselimuti kabut tipis. Seolah menyambut siapa pun yang datang dengan tangan terbuka.
Rasanya sulit berhenti mengagumi keindahan ciptaan Illahi ini. Berkali-kali saya arahkan kamera ponsel ke arah Gunung Sumbing atau ke hamparan sawah yang tengah bersemi.
Di tengah rasa takjub itu, saya mulai berkedip lebih sering. Mata terasa sedikit sepet. Namun, semakin lama sepeda motor melaju, mata terasa semakin perih. Seperti ada pasir kecil yang mengganjal setiap kali saya berkedip.
Saya berkali-kali memejamkan mata, berharap rasa tidak nyaman itu hilang. Saya sempat menggunakan ujung hijab untuk mengelap ujung mata. Siapa tahu ada debu kecil yang menempel di mata bisa keluar.
Sayangnya, rasa tidak nyaman itu tidak kunjung reda. Ketika ojek berhenti di Loket Tiket Dusun Nampan Sitegong, saya bergegas turun untuk membeli tiket.
“Ma, matanya merah banget,” tegur suami yang menunggu bersama pengendara ojeknya.
“Iya, dari tadi sepet banget. Sekarang malah perih dan gatal,” keluhku sambil kembali mengucek mata.
“Jangan dikucek. Ditetes mata saja,” saran suami.
“Aku nggak bawa tetes mata.”
“Ada sih di kotak obat, tapi di mobil. Sebentar ya, aku minta tolong ke driver-nya untuk balik ke parkiran ambil kotak obat.”
Saya mengangguk. Secepat kilat, suami bersama pengemudi ojek kembali ke area parkir untuk mengambil kotak obat. Sementara itu, saya membeli tiket untuk kami berempat. Satu tiket masuk Terasering Sitegong dihargai Rp10.000.
Bersama anak-anak, saya berdiri di pinggir loket tiket menunggu suami. Saya berharap sekali rasa tidak nyaman di mata ini segera reda. Sayang sekali perjalanan yang sudah kami tempuh berjam-jam harus terganggu hanya karena mata yang sepet, perih, dan lelah berkepanjangan.
Negeri Sayur dan Lanskap Nepal Van Java yang Terlihat Lebih Jelas

Akhirnya yang dinanti tiba. Suami datang juga, laksana pangeran berkuda putih yang membawa hadiah. Bergegas, kami buka kotak obat. Syukurlah, di dalamnya masih tersimpan INSTO Dry Eyes yang memang biasa kami bawa saat bepergian..
“Wah, sudah hampir habis rupanya. Nanti pas turun (dari area Nepal Van Java), mampir Indomaret untuk beli INSTO Dry Eyes lagi ya,” ucapku sambil tetesin INSTO Dry Eyes ke mata kanan.
Ces! Tetesan INSTO Dry Eyes di mata terasa sejuk sekali. Saya berkedip-kedip sesaat. Alhamdulillah, rasa sepet dan perih mulai berkurang. Senyum kembali mengembang di wajah. Kami pun melanjutkan petualangan bersama ojek wisata.
Setelah berkendara beberapa menit, pengemudi ojek menepikan sepeda motornya. Kami tiba di Terasering Sitegong. Masyaallah, pemandangannya di ketinggian 1.664 meter di atas permukaan laut (MDPL) ini memukau sekali. Hamparan sawah berundak dengan view 360 derajat menghadirkan ketenangan dalam hati.
Di sini, kami mengantre untuk berfoto di sebuah anjungan yang seolah-olah pengunjung duduk di atas jurang. Angin pegunungan terasa lebih kencang di sini. Saya mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan tidak ada lagi rasa sepet, perih, dan lelah.
Ah, leganya bisa menikmati pemandangan sejelas ini. Saya jadi bisa leluasa mengambil foto dan berpose bersama keluarga. Oh ya, fotografer kami adalah si bapak pengemudi ojek.

Perjalanan berlanjut ke Negeri Sayur Sukomakmur. Di sini, kami membeli tiket masuk seharga Rp10.000 per orang. Panorama kebun sayur bertingkat di desa ini sangat memanjakan mata. Tak ada lagi drama yang mengganggu perjalanan kami.
Kami naik ke area foto, sehingga bisa mengambil gambar dengan latar belakang perkebunan sayur yang membentang bak permadani hijau. Rasanya tetap sejuk, kendati sinar matahari mulai menyengat. Andai saja waktu mengizinkan, rasanya ingin duduk lebih lama menikmati hamparan hijau itu tanpa terburu-buru.
Namun, kami tidak bisa berlama-lama. Perjalanan akan berlanjut ke kawasan wisata Nepal Van Java. Saatnya melihat sendiri lanskap luar biasa yang selama ini hanya dilihat di internet.
Setelah membayar Rp10.000, kami naik ke bagian atas Gedung Serbaguna Dusun Butuh. Di sini banyak pengunjung yang berfoto dengan latar belakang rumah-rumah penduduk warna-warni. Saya membayangkan, hasil foto bakal lebih spektakuler jika diabadikan menggunakan drone. Sayangnya, kami tidak punya drone.
Setelah kami puas berfoto, pengemudi ojek mengajak berkeliling, menikmati setiap sudut Nepal Van Java. Jalan yang kami lalui cukup sempit, berliku, dan menanjak.
Ah, tidak terbayangkan bisa berada sedekat ini dengan permukiman warna-warni nan instagramable itu. Saat itu saya benar-benar bersyukur. Seandainya sepet dan perih di mata terus berlanjut, mungkin saya tak akan bisa menikmati Nepal Van Java dengan leluasa.
Pelajaran dari Petualangan di Nepal Van Java

Setiap perjalanan menghadirkan banyak cerita dan pelajaran. Bagi saya, salah satu pelajaran pentingnya adalah tidak boleh menganggap sepele keluhan kecil. Buktinya, gejala mata sepet, perih, dan lelah yang awalnya saya anggap sepele ternyata cukup mengubah jalannya perjalanan.
Saya sempat tidak fokus menikmati pemandangan. Karena keluhan mata, saya dan keluarga harus menghentikan aktivitas sejenak. Alhasil kami jadi agak terburu-buru saat singgah ke titik-titik wisata.
Apalagi kami harus berkejaran dengan kabut. Maklum, kabut di Nepal Van Java mulai turun di pukul 10-an. ‘Kan nggak seru ya kalau pemandangan indahnya malah tertutup kabut.
Gejala mata kering seperti SEPELE (SEpet, PErih, LElah) ini sebenarnya umum dirasakan. Sayangnya masih banyak yang menganggap sepele. Sejak peristiwa di Nepal Van Java itu, saya belajar untuk tidak lagi mengabaikan gejala mata kering. Terlebih saat bepergian ke tempat yang berangin atau berdebu.
Mata Kering Jangan Disepelein

Tentang mata kering, rupanya banyak orang yang tidak menyadari dirinya mengalami kondisi tersebut lho. Saya mengetahuinya dari penjelasan Farah Feddia, GM Eye Care Combiphar.
Jadi, menurut berbagai riset dan survei yang dilakukan INSTO, diketahui 4 dari 10 orang mengalami mata kering. Namun, separuhnya tidak menyadari kondisinya.
Padahal, meski mata kering tampak sepele, tidak bisa disepelekan. Jika diabaikan dan tidak tertangani dengan baik, kondisinya bisa memburuk. Pada gejala yang sangat berat, bisa dilakukan operasi.
Maka itu, yuk ingat SEPELE agar #MataSePeLeJanganSepelein. Kenali gejalanya baik-baik ya.
SEpet
Kondisi yang menyebabkan mata terasa berat, kaku, dan tidak segar. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan mata terasa sepet. Misalnya saja karena menatap layar gadget terlalu lama atau berada di ruangan ber-AC.
Selain itu, terpapar aliran udara terus-menerus, seperti ketika sedang naik sepeda motor juga bisa mengakibatkan mata terasa sepet. Paparan sinar matahari dan udara luar juga dapat mempercepat penguapan air mata pada beberapa orang.
PErih
Saat matanya perih, seseorang akan merasa seperti terbakar atau tertusuk, terutama saat berkedip. Kondisi ini terjadi karena permukaan mata yang kering dan teriritasi.
LElah
Gejala mata kering lainnya adalah mata cepat lelah, kendati aktivitas yang dilakukan tidak terlalu berat. Kondisi ini bisa disertai pandangan kabur atau tidak stabil.
Saat mengalami mata kering, kadang kita merasa seperti ada goresan, rasa kasar, atau sensasi kemasukan pasir di mata. Karena ada gangguan pada lapisan air mata, kita juga bisa mengeluhkan rasa gatal dan berair di mata.
Tips Sederhana Mengatasi Mata Kering

Mata kering bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Namun, perlu dipahami juga bahwa jenis dan derajat mata kering berbeda-beda.
Bila keluhan masih tergolong ringan, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mengatasi mata kering. Ini dia:
Kompres hangat mata
Caranya adalah dengan menempelkan kompres hangat di kelopak mata selama beberapa menit. Kegiatan ini dapat membantu membuka kelenjar minyak yang tersumbat. Dengan demikian, kualitas air mata menjadi lebih baik.
Hindari hembusan udara langsung ke mata
Jangan arahkan pengering rambut, pemanas mobil, AC, atau kipas angin ke arah mata secara langsung.
Menerapkan 20-20-20
Saat melakukan aktivitas yang memakan waktu lama, misalnya membaca atau melakukan tugas lain yang membutuhkan konsentrasi visual, jangan lupa untuk mengistirahatkan mata secara berkala.
Cara mengistirahatkannya adalah dengan menerapkan aturan 20-20-20. Jadi setiap 20 menit sekali alihkan pandangan ke obyek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik. Kegiatan ini akan membantu otot mata menjadi lebih rileks.
Pejamkan mata beberapa menit
Saat berada di dataran tinggi, daerah gurun, dan di dalam pesawat terbang, lingkungan bisa sangat kering. Kondisi ini membuat mata kering semakin berisiko. Karena itu, ada baiknya sering memejamkan mata selama beberapa menit untuk meminimalkan penguapan air mata.
Hindari asap
Asap dapat memperparah gejala mata kering. Karena itu, hindari situasi yang berpotensi banyak asap, misalnya berada di dekat perokok atau tempat pembakaran. Bisa juga dengan menggunakan kacamata sebagai upaya perlindungan.
Menggunakan tetes mata yang tepat
Tetes mata yang tepat bisa membantu meredakan gejala mata kering. Fungsinya adalah untuk melumasi dan menenangkan mata. Produk ini tersedia secara bebas, sehingga tidak memerlukan resep dokter. Bagi saya, INSTO Dry Eyes adalah tetes mata yang tepat untuk mengatasi keluhan ini.
Ini karena #InstoDryEyes diformulasikan khusus dengan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC). Kandungan tersebut telah diajukan International Council of Ophtalmology (ICO) ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai guideline terapi untuk mengatasi gejala mata kering lho.
Perlu diketahui, HPMC bekerja sebagai pelumas yang menyerupai air mata. Karena itu, INSTO Dry Eyes bisa meringankan iritasi akibat kurangnya produksi air mata.
Kemasan INSTO Dry Eyes mungil banget, karena hanya 7,5 ml. Praktis dibawa ke mana saja, tanpa makan tempat. Selain itu juga mudah didapat, karena tersedia di apotek atau minimarket terdekat, seperti Indomaret.
Penutup
Itulah perjalanan saya bersama keluarga ke Nepal Van Java yang penuh cerita. Ternyata traveling kali ini bukan hanya tentang menikmati lanskap dan serunya berkeliling menggunakan ojek wisata. Namun juga tentang pentingnya tidak menyepelekan mata sepet, perih, dan lelah yang merupakan gejala mata kering.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa momen liburan yang sudah lama dinanti bisa saja berubah karena hal yang terlihat sepele. Kini, selain menyiapkan bekal makanan, saya juga memastikan INSTO Dry Eyes berada di tas yang mudah dijangkau. Jangan sampai ada drama balik ke parkiran mobil untuk mengambil INSTO di kotak obat.
Saya pun berusaha memberi waktu istirahat untuk mata. Juga lebih sering berkedip saat terlalu lama memotret, serta menghindari mengucek mata ketika terasa tidak nyaman.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa menikmati perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan. Lebih dari itu, memastikan tubuh, termasuk mata, tetap nyaman. Sebab mata yang sehat dan #BebasMataKering tidak hanya membantu menikmati pemandangan, tetapi juga menyimpan kenangan dengan lebih jelas.
Referensi
Cleveland Clinic. (2025, 20 Juni). Dry Eyes. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24479-dry-eye
detikHealth. (2025, 20 Desember). Gejala SePeLe Mata Kering Jangan Disepelekan, atasi dengan Insto Dry Eyes. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8268748/gejala-sepele-mata-kering-jangan-disepelekan-atasi-dengan-insto-dry-eyes
Mayo Clinic. (2022, 23 September). Dry Eyes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dry-eyes/symptoms-causes/syc-20371863
Tirto. (2025, 12 November). INSTO Ajak Kenali 3 Gejala Mata Kering yang Sering Diabaikan. https://tirto.id/insto-ajak-kenali-3-gejala-mata-kering-yang-sering-diabaikan-hlzA