Di Balik Timbangan Posyandu, Ada Perjuangan Mencegah Stunting

Pagi itu, posyandu mulai ramai. Beberapa ibu datang menggendong bayi dan balitanya. Sementara itu, para kader bersiaga di tempat penimbangan dan pengukuran. Tak lama, suara tangisan anak-anak mulai terdengar.

Merasa tidak nyaman karena berinteraksi dengan kader yang terasa asing membuat beberapa anak menangis. Cup, cup, cup, ibu-ibu kadernya baik semua lho. Di tengah suasana yang sederhana itu, satu per satu anak diperiksa pertumbuhannya.

Datang ke posyandu, ditimbang, diukur tingginya, dicatat hasilnya, lalu pulang. Sepintas terlihat sebagai rutinitas bulanan semata. Namun, sebenarnya di balik angka-angka yang tercatat di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), ada hal yang jauh lebih penting. Sebuah kesempatan untuk mengetahui apakah seorang anak tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.

Jadi, posyandu bukan sekadar tempat untuk menimbang berat badan bayi dan balita. Lebih dari itu, posyandu merupakan elemen penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak.

Di posyandu, orang tua juga mendapatkan informasi kesehatan. Mereka bisa mengenali lebih awal ketika ada tanda-tanda dalam tumbuh kembang anak yang perlu mendapat perhatian. Nah, dari kegiatan yang terlihat sederhana inilah, upaya mencegah stunting dimulai.

Mengenali Risiko Stunting Sejak Dini

posyandu
Ilustrasi kunjungan ke posyandu/ Foto: Dok. Dewi Pamungkas

Istilah stunting sudah cukup lama dikenal di masyarakat. Namun, apakah kebanyakan orang sudah memahami apa sebenarnya stunting itu? Apakah setiap anak pendek pasti stunting? Apakah semua anak yang terlihat kurus pasti stunting?

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang tercermin dari panjang atau tinggi badan menurut usia yang berada di bawah standar. Kondisi ini berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk asupan gizi yang tidak memadai dan infeksi berulang, terutama pada periode awal kehidupan.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mendefinisikan stunting berdasarkan tinggi atau panjang badan menurut usia yang berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Sederhananya, stunting bukan sekadar persoalan anak yang bertubuh pendek. Stunting ditentukan melalui pengukuran pertumbuhan yang dibandingkan dengan standar berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Dalam pengukuran antropometri, balita dikategorikan stunting ketika indeks panjang badan atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U) berada di bawah -2 standar deviasi berdasarkan standar pertumbuhan WHO. Kategori tersebut mencakup anak yang tergolong pendek (≥ -3 SD hingga < -2 SD) dan sangat pendek (< -3 SD).

Karena itu, tubuh yang terlihat pendek tidak cukup untuk menyimpulkan seorang anak mengalami stunting. Perlu penilaian status pertumbuhan berdasarkan pengukuran antropometri yang sesuai dengan usia, kemudian dibandingkan dengan standar pertumbuhan yang berlaku.

Orang tua tidak harus menjadi ahli antropometri untuk menjaga pertumbuhan anak. Untuk mencegah dan mendeteksi dini stunting, orang tua perlu melakukan pemantauan pertumbuhan. Nah, posyandu menjadi salah satu tempat untuk melakukannya.

Penimbangan di Posyandu, Bukan Sekadar Pencatatan Angka

mencegah stunting
Penimbangan di Posyandu/ Foto: Dok. Dewi Pamungkas

Angka stunting di Indonesia memang menunjukkan perbaikan, tetapi pekerjaan rumahnya belum selesai. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting di Tanah Air berada di angka 19,8 persen. Lebih rendah daripada tahun 2023 yang tercatat 21,5 persen.

Posyandu memiliki peran penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting. Di posyandu, tumbuh kembang anak yang terhambat bisa diketahui. Caranya adalah dengan memerhatikan catatan penimbangan berat badan dan panjang badan anak yang dilakukan berkala di posyandu.

Itu makanya, penimbangan di posyandu bukan sekadar pencatatan angka yang dilakukan sebagai formalitas belaka. Justru dari catatan tersebut, masalah pertumbuhan cepat terdeteksi. Apabila ditemukan masalah dan ditindaklanjuti dengan tepat, intervensi dapat dilakukan lebih dini untuk mendukung pertumbuhan anak.

Persoalannya, pemantauan pertumbuhan tidak akan banyak berarti jika orang tua kurang memahami arti hasil pengukuran tersebut. Temuan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip dalam dokumen Kementerian Kesehatan menunjukkan 40 persen masyarakat belum memahami secara benar tentang pertumbuhan anak, termasuk stunting.

Di sinilah posyandu memiliki peran yang tidak kalah penting. Kegiatan penimbangan dan pengukuran dapat menjadi pintu masuk bagi orang tua untuk memahami pertumbuhan anak. Di posyandu, orang tua juga dapat memperoleh informasi dan pendampingan ketika menemukan hal-hal yang perlu diperhatikan.

Upaya mencegah stunting sebenarnya dapat dimulai jauh sebelum bayi atau balita datang ke posyandu. Kementerian Kesehatan merangkumnya melalui pendekatan ABCDE: Aktif minum Tablet Tambah Darah, Bumil teratur memeriksakan kehamilan, Cukupi protein hewani, Datang ke Posyandu setiap bulan, dan Eksklusif ASI selama enam bulan pertama.

Stunting Bukan Hanya Urusan Ibu

mencegah stunting
Penimbangan di posyandu/ Foto: Dok. Dewi Pamungkas

Sering kali ibu jadi kambing hitam ketika anak sering sakit, berat badannya turun, bahkan stunting. Seolah-olah hanya ibu yang bertanggung jawab pada tumbuh kembang anak.

Ibu punya peran penting, tetapi bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Ketika ibu sudah terlalu lelah pada rutinitas, ayah bisa mengambil bagian dalam memantau pertumbuhan anak.

Bentuknya tidak harus selalu sesuatu yang besar. Ayah bisa membantu mengingatkan jadwal imunisasi, menemani anak datang ke posyandu, atau turut memperhatikan hasil penimbangan dan pengukuran yang tercatat dalam buku KIA. Dengan begitu, urusan tumbuh kembang anak menjadi perhatian bersama, bukan beban satu orang saja.

Keluarga juga memiliki peran penting dalam mencegah stunting. Bukan dengan melempar kritik kepada orang tua ketika anak mengalami masalah pertumbuhan, melainkan dengan memberikan dukungan dan saran yang lebih merangkul. Sebab, keluarga yang hadir untuk membantu jauh lebih berarti daripada keluarga yang hanya menyalahkan.

Misi mencegah stunting juga tidak berhenti di lingkungan keluarga. Kader Posyandu dapat menjadi penghubung penting antara keluarga dan layanan kesehatan.

Salah satunya dengan aktif mengajak orang tua yang memiliki bayi dan balita untuk datang ke posyandu secara rutin. Ketika orang tua memahami pentingnya pemantauan pertumbuhan dan merasa didukung, langkah pencegahan stunting dapat dilakukan bersama-sama.

Penutup

Catatan penimbangan dan pengukuran badan anak di posyandu bukan formalitas belaka. Di balik angka-angka itu, ada upaya untuk memantau tumbuh kembang anak dan mengenali lebih dini ketika ada hal yang perlu mendapat perhatian.

Jika pemantauan pertumbuhan anak dilakukan secara rutin, orang tua dan tenaga kesehatan akan terbantu dalam mengambil langkah tepat ketika ditemukan masalah. Terlebih mengatasi stunting bukan perkara mudah yang hanya bisa selesai dalam satu kali kunjungan ke posyandu. Misi ini membutuhkan perhatian dan kerja sama berbagai pihak.

Karena itu, ayo datang ke posyandu secara rutin. Tidak perlu ragu berkonsultasi ketika ada hal yang ingin ditanyakan. Sebab, di balik kunjungan ke posyandu, ada satu langkah kecil untuk menjaga tumbuh kembang anak dan membangun generasi yang lebih sehat.

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Referensi

Helmyati. (2022, 5 April). Getting to know detection, impact, and prevention of stunting. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada. https://pkgm.fkkmk.ugm.ac.id/en/2022/04/05/getting-to-know-detection-impact-and-prevention-of-stunting/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2025-2029.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Stunting. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/defisiensi-nutrisi/stunting

Ayo ke Posyandu, timbang badan untuk cegah stunting. (2026, 24 Februari). https://stunting.go.id/ayo-ke-posyandu-timbang-badan-untuk-cegah-stunting/

World Health Organization. (2015, 19 November). Stunting in a nutshell. https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Hitung Captcha


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.