Komunikasi Produktif Ketika Anak Bersikap Manis

Komunikasi produktif tidak hanya dilakukan ketika anak berbuat negatif. Saat anak bersikap manis pun tetap perlu dilakukan. Sayangnya, kita sering kali lupa.

Nah, hari ini masih mempraktikkan hal yang sama. Tantangan di Bunda Sayang batch 6 Institut Ibu Profesional sudah memasuki hari ketiga.

Komunikasi Produktif: #1 Temuan Hari ini

Temuan hari ini di komunikasi produktif/ Foto: OpenClipart-Vectors dari Pixabay

Si Sulung hari Sabtu ini luar biasa manis. Saat dibangunkan untuk salat subuh, dia mendengus sejenak. Selanjutnya, dia bangkit dan ambil air wudhu.

Pun ketika alarm menunjukkan dirinya harus mandi dan dzikir pagi. Semua berjalan super smooth. Si Sulung tidak perlu banyak diingatkan oleh suara ibunya.

Hanya saja ketika dia mengerjakan soal les dan membaca iqra masih sedikit mengeluh. Mungkin karena ‘pekerjaan’ dia tampak bertubi-tubi. Sikap manisnya hari ini membuat saya berbunga-bunga.

Komunikasi Produktif: #2 Tantangan yang Dihadapi

Tantangan komunikasi produktif/ Foto: Ratna Fitry dari Pixabay

Di rumah kami sudah membuat berbagai kesepakatan. Misalnya tidak berbicara saat makan.

Ketika kami berhasil makan tanpa bersuara, sering kali lupa memberikan apresiasi. Terkadang mengomentari hal yang tidak baik jadi lebih mudah. Sewaktu anak bicara saat makan dan diulang-ulang, diri ini jadi kesal. Apalagi jika hal itu berimbas pada durasi makan anak yang lama.

“Harusnya 30 menit makan kamu sudah habis. Ini hampir satu jam belum beres juga. Makanya kalau makan tuh jangan sambil bicara.” Mama suka tergoda nggak sih merepet seperti ini?

Baca yuk, tulisan lainnya : Komunikasi Produktif Saat Anak Merengek di Tengah PJJ

Hal baik dianggap biasa, sehingga tidak dikomentari. Sedangkan hal tidak baik harus dikritik dan diomeli. Nyaris saja hari ini saya lupa memberikan apresiasi pada anak.

Sebenarnya saat anak bersikap baik, saya dan suami diam-diam memujinya. Hm, tapi apa gunanya memuji diam-diam ya. Anak perlu tahu dong respons yang didapat saat berbuat baik.

Di sinilah komunikasi produktif dilakukan. Apalagi komunikasi ini merupakan salah satu cara mentransfer perasaan.

Energi dari Kata-kata

Keajaiban kata-kata positif di komunikasi produktif/ Foto: Ratna Fitry dari Pixabay

Benar, kata-kata membawa energi. Pujian pada perilaku anak saya kira juga bisa menjadi pasokan energi. Tidak hanya buat anak, tetapi juga untuk orang tuanya.

“Barakallah Taqi. Taqi hari ini pintar sekali. Bangun tidur nggak nangis dan marah. Langsung salat subuh. Semua cepat dilakukannya. Pasti karena Taqi dijaga Allah dari setan. Taqi juga berusaha keras melawan setannya kan?” ujar saya.

Simak yuk, tulisan lainnya di sini: Komunikasi Produktif Atasi Drama di Kelas Alquran

Saya lihat binar di mata si Sulung. Dia mengangguk mantap, lalu menceritakan perjuangannya melawan bisikan setan.

“Besok jangan mau kalah lagi dari setan ya, Nak.” Itulah pesan saya sebelum mengakhiri obrolan dan beranjak ke dapur.

Komunikasi Produktif: #3 Rencana Esok Hari

Rencana komunikasi produktif esok hari/ Foto: Pixabay

Rencana komunikasi produktif esok hari adalah tentang menerima nasihat. Kadang-kadang si Sulung ini saat merasa dirinya benar. Hal itu menyebabkan dia tidak mau menerima nasihat dan masukan.

Alhasil, dia akan pasang wajah tidak bersahabat. Bahkan dia cenderung menutup telinga.

Apa nasihat yang didengarnya seperti disampaikan dengan nada marah ya? Hm, besok akan saya kulik.

Berapa Bintang Saya Hari Ini

Komunikasi ptoduktif

Alhamdulillah, hari ini lima bintang untuk diri sendiri. Sebab diri ini tidak lupa tetap melakukan komunikasi produktif saat anak bersikap manis.

Ya, jangan sampai anak merasa tidak dihargai saat upaya kerasnya bersikap positif tidak direspons. Bismillah, semoga istikomah menjalankannya.