Komunikasi Produktif Atasi Drama di Kelas Alquran

Komunikasi produktif adalah kemampuan komunikasi yang penting. Sebenarnya sudah beberapa kali saya lakukan. Hanya saja terkadang suka lupa. Apalagi jika komunikasi itu dilakukan pada anak.

Di kelas Bunda Sayang Batch 6 Institut Ibu Profesional, materi pertama yang disajikan adalah komunikasi produktif. Kami diberi waktu 15 hari untuk mempraktikkannya setiap hari.

Harapannya jika selama 2 pekan komunikasi dilakukan maka bisa menjadi kebiasaan yang baik. Komunikasi produktif perlu dilakukan agar pesan sampai dan diterima dengan baik oleh lawan bicara.

Dari materi Bunda Sayang, saya juga diingatkan bahwa komunikasi produktif bisa jadi transfer of high energy. Selain itu juga menjadi transfer feeling. Bener banget sih. Sayangnya, saya masih sering lupa.

Komunikasi Produktif: #1 Temuan Hari ini

Komunikasi produktif bersama anak/ Foto: Jordan Whitt dari Unsplash

Temuan saya hari ini adalah drama si sulung di kelas Alquran. Kelas Alquran adalah kelas pertama yang harus dijalaninya setiap hari. Setiap hari berlangsung sejak pukul 07.30 WIB.

Drama terjadi ketika si sulung enggan mengikuti kelas Alquran. Dia ingin bermain-main di halaman. Kebetulan di pagi itu, ayahnya sedang menggendong adik bayi sambil berjemur di halaman.

“Ayo cepat, Taqi. Ini sudah hampir 07.30. Nanti Bu Guru video call, Taqi belum siap,” ajak saya. Suara masih halus dan lembut bak putri solo.

Namun, Taqi, anak saya malah lari-lari dan berputar-putar. Beberapa kali panggilan dia abaikan. Akhirnya saya memilih diam. Memasang wajah cemberut. Lalu masuk ke dalam rumah.

Baca tulisan lainnya yuk: Tantangan Percaya Diri Depan Kamera: Yel Ibu Profesional

Taqi mengikuti dari belakang. Setelah cuci tangan dan kaki, dia mengajak saya untuk membaca buku iqro sambil menunggu video call bu guru. Dia membaca tanpa minat dan fokus. Akibatnya banyak sekali kesalahan yang dilakukan. Dia pun harus mengulang-ulang. Lalu, dia kesal.

Taqi membaca buku iqro sambil berteriak-teriak. Kuping saya sampai sakit. Setiap kali diminta mengulang bacaan yang salah, wajahnya semakin ditekuk.

Komunikasi Produktif: #2 Tantangan yang Dihadapi

Tantangan dalam komunikasi produktif yang hendak dibangun adalah menjaga kestabilan emosi. Sungguh ini pekerjaan yang sangat tidak mudah.

Cucian piring menumpuk. Cucian baju menggunung. Baju yang belum diseterika bejibun. Masak belum dilakukan. Kerjaan sampingan belum juga kelar. Deadline naskah buku tak kunjung beres.

Semua molor karena harus menemani anak pembelajaran jarak jauh. Tapi anak malah drama dan bikin emosi saya teraduk-aduk. Aaaarrrghhhh!!!!

Rasa-rasanya ingin sekali menggebrak meja. Melotot sambil membentak agar menurunkan volume suara. Memintanya lebih bersemangat belajar. Semua itu penting demi kestabilan emosi emaknya, bukan?

Namun, saya memilih diam. Menahan marah dan kesal. Napas panjang diambil. Sayangnya wajah masih belum cukup bisa diajak kerja sama. Meski diam, namun alis bertaut. Wajah khas orang marah. Ternyata anak saya meng-copy ekspresi ini.

Istighfar berkali-kali. Setelah kelas Alquran usai, saya menghidangkan sepiring kentang goreng. Makanan favorit Taqi. Saya mengajaknya mengobrol di jam istirahat pergantian pelajaran.

Memilih Diksi Itu Penting

Diksi dan ekspresi di lomunikasi produktif dengan anak/ Foto: Orkun Azap dari Unsplash

Saat marah, ingin sekali menumpahkan semua rasa melalui kata-kata pedas. Namun, itu nggak pernah menyelesaikan persoalan. Pagi itu, saya pun sempat keceplosan mengeluarkan nada tinggi.

Akan tetapi saat makan kentang bareng, saya minta maaf pada Taqi. Cerita dari masa kecil diri ini dihadirkan ke hadapannya. Cerita bahwa dulu pun saya pernah malas mengaji. Alasannya karena ada teman yang nakal dan tempat ngaji yang jauh. Tetapi mama kecil berusaha keras menaklukkan malas.

Kata Taqi, dirinya terkadang malas baca buku iqro karena saya mengajaknya belajar dengan wajah kesal. Hm, mungkin karena sebelumnya saya kesal karena dia sulit dibangunkan.

Tulisan ini juga menarik, lho: Aliran Rasa, Kisah di Balik 4 Permata Ibu Profesional

Mungkin saya kesal karena dia butuh waktu lama untuk sarapan. Mungkin kesal karena dia banyak melakukan kesalahan saat membaca buku iqro. Kekesalan yang bertumpuk-tumpuk menghasilkan wajah penuh kerut.

Karena saya memulai diskusi ini dengan kata-kata dan ekspresi yang baik, Taqi lebih terbuka. Dia justru ikut berefleksi. Kami sepakat akan memilih diksi dan ekpresi yang positif.

Meski ada banyak unek-unek di dada, namun saya memilih fokus pada satu hal. Pagi itu yang ingin ditekankan adalah mengatasi drama di kelas Alquran. Sehingga saya nggak perlu mengungkit masalah lainnya.

Kunci komunikasi produktif yang dipraktikkan:

  1. Menggunakan kalimat yang ringkas dan jelas
  2. Memperhatikan intonasi
  3. Mengungkapkan apa yang diinginkan
  4. Fokus pada solusi
  5. Fokus pada masa depan.

Komunikasi Produktif: #3 Rencana Esok Hari

Rencana komunikasi produktif/ Foto: Glenn Carstens-Peters dari Unsplash

Salah satu tantangan bagi Taqi yang kerap membuat emosi ibunya diaduk-aduk adalah tentang disiplin waktu bangun pagi. Meski timer dan alarm sudah dipasang, ngaretnya tetap saja ada. Walaupun ada konsekuensi pemotongan waktu mengakses layar di akhir pekan, tetapi ngaret tetap saja dilakukan.

Bismillah, esok pagi akan saya bangun komunikasi produktif agar Taqi bangun pagi tanpa nangis dan merengek.

Berapa Bintang Saya Hari Ini?

Terima kasih untuk diri saya sendiri yang sudah berusaha keras untuk memilih positif. Menimbang ‘keceplosan’ yang dilakukan. Mempertimbangkan upaya untuk tetap positif. Diputuskan saya dapat bintang tiga. Semoga tetap semangat dan istikomah menjalankan komunikasi produktif bersama anak.

#zona1komprod #pantaibentangpetualang #institutibuprofesional