Wabah Corona Tak Kunjung Usai, Terpaksa Kencangkan Ikat Pinggang

Wabah Corona melanda dunia. Indonesia pun tak luput dari makhluk kecil kasat mata ini. Berbulan-bulan berlalu, angka kasus dan kematian karena Corona semakin meningkat. Hidup pun jadi serba sulit. Terpaksa mengencangkan ikat pinggang.

Awal Maret 2020, kasus pertama virus Corona di Indonesia dilaporkan. Selanjutnya pembatasan sosial berskala besar diterapkan di Jakarta dan sejumlah daerah di Tanah Air. Tujuannya untuk memutus mata rantai virus Corona. Sayang, rantainya justru semakin panjang. Entah karena pemerintah yang kurang tegas atau karena kebijakannya yang membingungkan. Entah karena banyak orang yang enggan menerapkan protokol kesehatan atau karena merasa Corona hanyalah ilusi.

Di awal kasus Corona muncul, hidupku sekeluarga seperti biasanya. Kami masih membeli buku, perlengkapan aktivitas anak di rumah, dan memiliki makanan berlimpah. Bersyukur sekali karena masih diberi kecukupan rezeki, di saat banyak orang mulai mengeluhkan kondisi yang tidak pasti.

Wabah Corona Menggerogoti Perusahaan

Wabah Corona membuat ekonomo kolaps/ Foto: Reno Laithienne dari Unsplash

Suamiku bekerja di perusahaan start up. Sejak wabah Corona melanda, sebenarnya ada waswas yang menyusup. Sekarang orang lain yang kantornya rontok, siapa tahu bulan depan giliran kantor suami. Apalagi start up, tergantung sekali pada kucuran dana.

Hampir setiap hari mendengar kabar miris ibu-ibu di berbagai grup What’s App. “Suamiku gajinya dipotong.” “Suamiku di-PHK.” “Pendapatan kami turun drastis.” Bahkan ada tetangga yang selama ini bisnis katering sudah berbulan-bulan tidak ada pemasukan. Padahal anaknya sekolah di sekolah swasta berbiaya mahal.

Simak tulisan lainnya yuk, di sini: Ketika Realita Vs Ekspektasi Berbuah Kekecewaan

Hingga suatu hari, suamiku yang bekerja dari rumah meeting dengan raut wajah tegang. Ah! Giliran kami tiba. Kantor suamiku tutup. Start up yang sudah beroperasi setahun itu kekurangan funding. Ya Allah, mencari pekerjaan di tengah situasi seperti ini tidak mudah bukan?

Kami menangis bersama. Hatiku pecah melihat anak-anak yang butuh biaya untuk sekolah dan lainnya. Bergegas, suamiku membenahi CV-nya. Dia mulai melamar pekerjaan dan mencoba menjalin komunikasi dengan head hunter. Sementara aku berdoa semoga masih banyak pekerjaan penulis lepas atau blogging yang membutuhkanku.

Terpaksa Mengencangkan Ikat Pinggang

Wabah Corona bikin kota harus mengencangkan ikat pinggang/ Foto: Michal Jarmoluk dari Pixabay

Jika sebelumnya di atas meja tamu ada banyak toples berisi aneka makanan, maka sekarang tidak lagi. Biaya belanja bulanan dan makan sehari-hari ditekan. Beras yang dibeli diturunkan kualitas dan harganya. Tak lagi beli makanan online. Belanja online pun nyaris tidak dilakukan. Bahkan mencuci dan menyeterika baju kini kulakukan sendiri.

Dulu asisten rumah tanggaku pernah menulis status, “Nikmatnya sore-sore makan tepung goreng”. Aku tak habis pikir kok ada yang suka makan tepung goreng. Namun kini, itulah camilan yang sering kubuat di rumah. Bakwan sayur termasuk tepung goreng, bukan?

Aku dan suami tidak mau membebankan hidup pada orang tua atau keluarga. Sebelum keadaan semakin sulit, cara terbaik yang dilakukan adalah mengencangkan ikat pinggang. Bila perlu, kencangkan seerat-eratnya sebelum suami punya pekerjaan baru.

Untunglah anak kami tidak menuntut macam-macam. Dia masih bahagia bisa mencomot bakwan di tengah kesibukan membuat prakarya dari kertas. Baginya tidak banyak yang berubah. Mungkin karena dia masih terlalu kecil untuk memahami keterpaksaan mengencangkan ikat pinggang.

Lagipula dia sudah terbiasa menunggu saat menginginkan sesuatu. Bahkan jika tidak bisa memiliki sesuatu, maka dia akan membuatnya sendiri. Ya, ketika melihat temannya main Play Station, anakku akan membuatnya sendiri menggunakan kertas. Dengan penjiwaan penuh, dia akan memainkan hasil karyanya.

Rp 10 Ribu di Tukang Sayur Dapat Apa Saat Wabah Corona?

Irit di tengah wabah corona

Makan dengan lauk daging ayam, mungkin saat ini jadi kemewahan buat kami. Kalaupun beli ayam, aku akan memotongnya kecil-kecil sebelum digoreng.

Saat ini, aku pun mematok Rp 10.000 maksimal per hari untuk belanja di tukang sayur. Dapat apa? Bisa dapat kangkung dua ikat dan tempe sepapan. Pas untuk makan siang dan malam.

Kadang malah biaya beli sayur dan lauk kami dalam sehari tidak sampai Rp 10 ribu. Tauge Rp 3.000 dapat banyak. Lauknya sebungkus tahu Rp 3.500. Tauge ditumis, sedangkan tahu dibelah dua dan digoreng pakai tepung.

Aku biasa belanja seminggu sekali. Sekarang untuk sekali belanja di tukang sayur, aku keluar uang Rp 60-70.000. Alhamdulillah masih bisa mencukupi kebutuhan gizi keluarga.

Rezeki Tidak Tertukar

Rezeki tidak tertukar, percayalah/ Foto: Maria Teneva dari Unsplash

Di saat kondisi harus mengencangkan ikat pinggang seerat-eratnya agar dana darurat tidak mudah terkikis, kadang merasa sedih. Ingat pada orang yang berutang tapi nggak kunjung bayar. Ingat masa-masa bisa membeli apa saja dan memberi apa saja pada orang-orang terdekat.

Namun, kalau terus-terusan begitu rasanya jadi nggak pandai bersyukur. Bisa tetap sehat dan bisa makan makanan bergizi di tengah wabah Corona saja sudah alhamdulillah. Nggak perlu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang tampak lebih gemerlap. Soalnya kita tidak sedang pakai sepatu orang lain. Kita nggak benar-benar tahu hidup mereka.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Allah menjamin rezeki makhluknya. Hal penting yang perlu dilakukan adalah bersyukur, berusaha, dan berdoa.

Jangan kelewatan! Tulisan ini juga menarik dibaca: (Tidak) Enaknya Menjadi Penulis

“Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).– (Q.S Hud: 6)

Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” – (Q.S Saba: 36)

Allah melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat. – (Q.S Ar-Ra’d: 26)

Hm, semoga bermula dari keterpaksaan mengencangkan ikat pinggang berubah menjadi keikhlasan. Terkadang Allah memang mengajari kita sesuatu dengan cara-cara yang tidak kita sukai. Namun, janji Allah itu pasti.

2 Comments
  1. Just Awl says

    Banyak hal yang harus dimulai dari keterpaksaan dan ketidakrelaan tapi ternyata dari situ justru kita bisa belajar ikhlas ya mba. Sayapun percaya selama kita masih bisa makan, meski gak makin daging atau makanan mewah lain, itu sudah rezeki yang lebih dari cukup yg dikasih Allah. Entah kenapa baru sadar sebelum corona ini kayaknya kurang sekali bersyukur, harus dihadapkan pada situasi yg kurang menyenangkan dulu barulah tau bersyukur😖
    Semoga mba dan keluarga sehat selalu ya, insya Allah semuanya akan kembali seperti semula:’). Semangat mba!💪🏻

    1. Nurvita Indarini says

      Iya Kak, bener banget, dari terpaksa menjadi ikhlas. Semoga bisa, dikuatkan dan dimampukan. Aku juga nih Kak merasa kemarin-kemarin kurang menhargai nikmat yang dikasih Allah. Kurang bersyukur. Makanya sekarang disentil biar nggak terlena he-he. Kak, makasih doanya ya. Semoga Kak Awl juga sehat dan selalu semangat :-*

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.