Review Buku Pendidikan Anak Ala Jepang

Judul Buku: Pendidikan Anak Ala Jepang, Rahasia Pendidikan TK, SD dan Daycare di Jepang
Penulis: Saleha Juliandi M.Si dan Juniar Putri, S.Si
Penerbit: Pena Nusantara
Tempat terbit: Jakarta
Cetakan: IV, Februari 2016
Tebal: xii + 173 halaman
ISBN: 978-602-1277-19-5

Sejak lama saya tertarik dengan pendidikan di Jepang. Gimana nggak, banyak orang Jepang yang tertib, rapi, disiplin, mandiri, dan pekerja keras. Karakter positif yang perlu dibangun sejak dini.

Maka itu ketika tidak sengaja menemukan ada buku berjudul Pendidikan Anak Ala Jepanng, Rahasia Pendidikan TK, SD dan Daycare di Jepang di market place, saya segera memesannya. Padahal ini bukan buku baru, bahkan sudah cetakan keempat pada tiga tahun lalu.

Dari buku tersebut, diketahui bahwa sebagaimana di Indonesia, Jepang juga menganut sistem pendidikan wajib belajar sembilan tahun. Di Jepang juga ada Taman Kanak-Kanak (TK) yang disebut Youchien. Di sini ada tiga hal penting yang jadi dasar, yakni anak mendapat pengalaman sebanyak mungkin, belajar melalui bermain, dan berkembang sesuai sifat dan karakter masing-masing.

anak sekolah di Jepang
Pendidikan anak ala Jepang/ Foto: Canva

Baca artikel menarik lainnya di sini: Cat Dinding dan Kreativitas Anak, Apa Hubungannya?

Ada pula tempat penitipan anak atau daycare, mengingat semakin banyak ibu di Jepang yang bekerja di ranah publik. Di TK dan daycare, anak-anak tidak mendapat target untuk bisa membaca, menulis, dan menghafal. Sejak usia tiga tahun, mereka dibiasakan mengeluarkan isi tasnya sendiri, lalu meletakkannya di tempat yang sudah disediakan.

Anak-anak di TK dan daycare di Jepang dilatih untuk mandiri, bertanggung jawab, suka kebersihan, tertib, dan rapi. Nah, kecintaan pada buku juga dikenalkan dengan cara sering membacakannya.

Pendidikan Anak di SD

pendidikan ala Jepang
Ilustrasi pendidikan anak di Jepang/ Foto: Canva

Saat berusia enam tahun, anak-anak bisa melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD). Syarat masuk SD negeri hanya dua. Pertama, berusia enam tahun sampai pada 1 April. Kedua, masuk SD sesuai rayon. Tidak ada tes membaca, menulis, dan berhitung.

Di SD, anak belajar tentang moralitas (doutoku) yang diajarkan melalui semua mata pelajaran. Ada empat aspek penting dalam doutoku yaitu menghargai diri sendiri, orang lain, lingkungan, serta kelompok dan komunitas. Materi yang diberikan nggak cuma melalui buku lho, Mama, tapi juga dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hmm, ya sih, kalau cuma teori doang rasa-rasanya akan sulit mendarah daging ya.

Menariknya lagi, anak-anak SD juga mendapat pelajaran ilmu kehidupan. Tujuannya adalah agar anak mandiri dan terampil menjalani kehidupannya. Jadi mereka dikenalkan juga pada aneka pekerjaan dengan langsung menemui sosok tersebut.

Belajar huruf mulai dilakukan di kelas satu SD. Saat berada di kelas tinggi, anak-anak mulai berlatih membuat kaligrafi kanji menggunakan kuas,tinta, dan kertas tipis.

Hal menarik lainnya terkait musik. Di Jepang, musik dikenalkan sejak kecil, dan pelajaran musik bukanlah pelajaran pelengkap. Tak heran pelajaran musik diberikan 2-3 kali dalam sepekan. Sekolah pun sering menggelar pertunjukan musik oleh semua murid.

Kecintaan pada Buku

pendidikan ala Jepang
Ilustrasi pelajar Jepang sedang membaca buku/ Foto: Canva

Yang juga menarik perhatian saya adalah terkait upaya menanamkan kecintaan buku pada anak. Jadi di TK maupun daycare, membacakan buku cerita pada anak oleh guru dilakukan 1-3 kali dalam sehari. Mereka tidak diajari membaca yang malah membuat anak menilai buku sebagai sesuatu yang menyusahkan, tidak menarik, dan membosankan. Nah, hal inilah yang membuat anak saat dewasa malah memusuhi buku. Agar lebih menarik, boneka juga sering dilibatkan dalam kegiatan bercerita.

Baca artikel menarik lainnya di sini: Pentingnya Mengenali Passion Anak

Bahkan di TK dan daycare ada perpustakaannya lho. Nah, siswa yang banyak meminjam buku akan mendapatkan apresiasi dari sekolah. Saat SD, anak-anak dimotivasi membaca buku sesuai minat dengan meminta mereka memberikan resume, pendapat, dan pengalamannya terkait buku yang dibaca. Bahkan saat libur, orang tua gemar mengajak anaknya ke perpustakaan ketimbang ke mal.

Cinta Kebersihan

membersihkan sekolah
ilustrasi membersihkan sekolah

Oh ya, di buku ini saya juga jadi tahu murid-murid di Jepang memiliki kewajiban membersihkan sekolah. Aktivitas ini dilakukan di waktu istirahat selepas makan siang. Kegiatan itu dikenal sebagai o-soji. Umumnya o-soji berlangsung selama 20 menit. Setiap kelas memiliki tanggung jawab membersihkan kelasnya sendiri, juga lorong, toilet, lapangan olahraga, rak sepatu, tangga, dan lainnya.

Selain itu, di hari terakhir setiap semester ada osoji (pembersihan besar). Saat libur musim panas, pihak sekolah mengundang seluruh siswa, guru, staf, dan kepala sekolah untuk membersihkan seluruh sekolah. Alat kerja baktinya dibawa sendiri-sendiri lho.

Pun saat usai pentas seni di sekolah, yang membersihkan bukanlah petugas kebersihan. Semua pihak yang terlibat dalam kegiatan bahu-membahu membersihkan agar kondisi sekolah bersih seperti semula. Wah, nggak heran orang Jepang gemar bebersih dan membuat Negeri ini menjadi salah satu negara yang paling bersih di dunia.

2 Comments
  1. Kyndaerim says

    Jepang memang nggak hanya the best dari budayanya, tapi juga hal-hal sederhana semacam ini, warga +62 bisa kek warga Jepang nggak ya? Hihi..

    1. Nurvita Indarini says

      Iyak bener banget, Mam. Salut banget deh. Dimulai dari anak-anak kita, semoga bisa menularkan ke warga +62 lainnya yaaa 😀

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.