Semangat Kerja Keropos Gara-gara Toxic Boss

Marah, takut, sedih. Perasaan itu bercampur aduk sehingga melahirkan demotivasi dalam bekerja. “Rasanya ingin resign saja. Tapi gimana ya, kan aku baru dua bulan bekerja.”

Kalimat itu meluncur dari bibir suami saya. Tak lama dia mencurahkan perasaannya sambil menahan air mata. Akhirnya terjawab sudah raut wajah serupa puzzle di sepanjang jam kerjanya. Kendati bekerja dari rumah saja, tetap saja dirinya tidak bisa sedikit santai.

Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk di handphone suami. “P”. Satu huruf itu muncul di kotak pesan. Pengirimnya adalah leader di tim kerjanya. Apa artinya huruf “P” saja? Apakah butuh balasan?

Suami saya memilih tidak membalas. Namun, si Leader malah semakin menjadi. Dia kirim “P” saja berkali-kali. Sungguh mengganggu. Tidak jelas apa maksudnya. Akhirnya suami saya menanyakan dengan kalimat sopan, “Maaf, ada apa, Mas?”.

WA yang dikirimkan si Leader pada suami saya

Tahu tidak apa yang terjadi setelahnya? Si Leader itu menelepon suami saya. Dia merasa diabaikan karena pesannya yang huruf “P” saja itu tidak dibalas. Padahal dia ingin mendapat laporan sudah sejauh mana suami saya menyelesaikan pekerjaannya.

Suami mengeraskan volume suara handphone, sehingga saya turut mendengar apa yang dikatakan si leader. Pria itu memang bicaranya tidak ngegas, tapi sangat terasa intimidatif.

Kepada si Leader, suami saya menjelaskan dirinya sudah bekerja sesuai aturan. Tidak bisa dipaksa terlalu cepat juga karena ada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan. Apalagi berdasar aturan, sistem kerjanya memang sesuai dengan tiket tugas yang sudah diambil sebelumnya.

Apakah setelah mendengar penjelasan itu si Leader melunak? Ternyata tidak. Dia tetap merasa paling benar, suami saya salah karena menolak permintaan leader. Kalau permintaan Leader sesuai dengan tiket tugas, tentu tidak masalah. Nah, ini Leader-nya seolah mencari-cari kesalahan.

“Gara-gara Leader ini pekerjaanku jadi terbengkalai. Tiket kerjaan masih banyak yang belum diambil. Dia nih maunya mengulik yang itu-itu terus. Sudah micromanage nih dia,” keluh suami setelah menerima telepon dari si Leader.

Fiuh! Jadi ikut kesal rasanya. Ada masalah apa sih si Leader itu sampai seperti itu. Bahkan pernah lho, beberapa kali suami kerja tandem sama si Leader itu sampai lewat tengah malam. Si Leader itu mengajari hal-hal yang suami saya sudah tahu. Seperti mengajari anak baru yang tidak tahu apa-apa, padahal suami saya sudah lebih dari satu dekade berkarya di bidang tersebut.

Hmm, orang ini toksik sih menurut saya. Saya pun mencari beberapa bacaan tentang toxic boss. Jangan sampai saya dan suami-lah yang baper berlebihan, sehingga merasa si Leader tersebut toxic boss. Oke, kalau begitu coba dianalisis lebih dulu ya.

Toxic Boss atau Bukan? Begini Cirinya

toxic boss
Insecure dalam bekerja/ Foto: Canva

Saya dan suami mencoba menganalisis si Leader ini, apakah dia termasuk toxic boss atau bukan. Kami mencari beberapa artikel yang memaparkan ciri-ciri toxic boss.

1. Tidak Realistis

Mengutip penjelasan Forbes, toxic boss memiliki harapan yang tidak realistis. Dia juga cenderung menerapkan tenggat waktu kerja yang tidak masuk akal.

Kedua hal tersebut membuat toxic boss tidak menghargai waktu karyawan. Ketika karyawan protes, mereka menolak mendengarkan karena karyawan dianggap tidak paham urgensi masalah yang dihadapi.

Toxic boss juga sering mengubah detail. Akibatnya karyawan jadi kelelahan karena berupaya mengantisipasi dampak perubahan tersebut.

Bagaimana dengan si Leader di kantor suami? Rupanya dia sering mengubah detail yang telah disepakati di meeting. Tentu saja anggota tim kaget, seolah menginjak rem mendadak, karena perubahan detail yang tiba-tiba dan tidak realistis.

Baca juga yuk tulisan lain tentang pekerjaan: Kerja dari Rumah Tidak Selalu Mudah, Sayangnya Tak Semua Orang Paham

2. Micromanage

Micromanage merupakan ciri umum dari toksisitas. Toxic boss akan mengurusi semua hal secara terperinci, hingga hal-hal kecil yang tidak seharusnya diurusi olehnya.

Ketika dia ikut campur terlalu dalam pada cara kerja anggota timnya, tentu hal itu sangat mengganggu. Bukankah setiap orang punya cara kerja yang berbeda? Bukankah yang terpenting adalah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik?

Ini juga yang dialami suami saya. Leader-nya terlalu mengurusi hal teknis, sehingga menjadikan anggota tim tidak nyaman dan tidak leluasa berkreativitas menyelesaikan pekerjaan.

toxic boss
Ilustrasi leader yang toksik/ Foto: Canva

3. Membuat Karyawan Insecure

Lingkungan yang aman dan nyaman adalah salah satu faktor penting dalam bekerja. Beberapa orang bilang comfort zone itu bisa mematikan kreativitas. Namun, buat saya dan suami, comfort zone dalam bekerja justru bisa meningkatkan kreativitas.

Ya, ide-ide kreatif bisa muncul dan dieksekusi dengan leluasa jika bekerja dalam comfort zone. Sebaliknya, saat situasi dirasa tidak nyaman, kreativitas justru sulit keluar.

Keberadaan toxic boss menimbulkan rasa insecure. Karyawan jadi merasa diteror dan diintimidasi oleh ulah toxic boss. Jika terus-menerus terjadi, tentu akan melelahkan secara mental.

Karyawan dikirimi pesan tidak jelas. Pekerja diminta melakukan sesuatu yang tidak sesuai tiket tugas. Leader sering berubah-ubah ucapan dan kebijakannya. Hasilnya? Karyawan insecure, terdegradasi rasa memiliki tempatnya bekerja, serta menguras tenaga dan mental.

Kesimpulannya, kami tidak kebaperan dengan ulah si Leader. Dia memang nyata-nyata mengeluarkan racun dari perilakunya kepada anggota timnya, khususnya kepada suami saya.

Lalu kenapa suami saya yang diperlakukan begitu? Apa karena dia karyawan baru? Apa karena dia sosok yang manut? Lantas apakah hanya suami saya yang mendapat perlakuan semacam itu? Akan saya jelaskan semua di tulisan ini.

Dampak Toxic Boss

toxic boss
Dampak keberadaan leader yang toxic dalam tim/ Foto: Canva

Sesuatu yang toksik tentu tidak sehat dan tidak baik. Ibarat virus yang menginfeksi, badan yang semula sehat jadi digerogoti penyakit. Pun dengan keberadaan toxic boss. Alih-alih produktivitas terjaga, pekerja malah sibuk mencari peluang baru.

Itu juga yang terjadi di lingkungan kerja suami saya. Beberapa teman satu timnya mengundurkan diri. Berturut-turut lagi. Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan Harvard Business School. Menurut studi, 78 persen responden menyatakan komitmennya terhadap organisasi menurun.

Ketika komitmennya turun, tentu rasa memiliki semakin terkikis. Jika begitu, pilihan berkarier di tempat lain menjadi pilihan. Masih menurut studi tersebut, 57 karyawan memilih untuk berhenti bekerja. Nah!

Dampak toxic boss secara lengkap bisa dilihat dalam infografis berikut ini.

toxic boss

Upaya Membebaskan Diri dari Toxic Boss

Atas perlakuan si Leader, sebenarnya suami saya merasa terhina. Katanya, dia berusaha sabar dan menahan diri untuk tidak berkata atau berperilaku tidak sopan. Khawatirnya, perlawanan frontal justru akan menjadi bumerang.

Lalu apa yang dilakukan suami saya dan bagaimana akhir kisahnya bersama toxic boss ini?

Melepaskan diri dari bos yang toksik/ Foto: Canva

1. Memberi Masukan

Tiziana Casciaro, Profesor Perilaku Organisasi dan Manajemen SDM di University of Toronto, menyebut beberapa bos mungkin tidak menyadari perilakunya toksik. Bisa jadi gaya manajemen mereka tidak sejalan dengan kebiasaan kita, sehingga kita merasa tidak nyaman.

Karena itu, Casciaro menyarankan untuk memberi masukan pada si bos. Membaca saran Casciaro dalam sebuat artikel, suami saya pun berniat untuk melakukannya. Menurut suami, bersikap lebih asertif mungkin bisa membantu.

Akhirnya di suatu saat yang dianggap tepat, suami pun memberikan masukan. “Menurut saya apa yang Mas lakukan ini sudah micromanage. Selevel Mas setahu saya mengurusi hal yang lebih strategis, tidak lagi teknis, apalagi teknis yang sangat sepele.” Begitu ucapan suami saya melalui telepon.

Mungkin si Leader tidak menyangka suami saya akan berbicara seperti itu dan seberani itu. Dia pun berjanji untuk berubah dan minta maaf jika sudah menimbulkan ketidaknyamanan.

Hore! Berhasil. Mungkin sebenarnya dia tidak setoksik yang kami bayangkan. Namun, beberapa hari kemudian dia kembali pada kebiasaan micromanage dan menancapkan harapan yang tidak realistis. Bahkan dia jadi lebih galak.

Hmm, sepertinya benar yang dikatakan Peter Ronayne, coauthor dari The Toxic Boss Survival Guide. Jika si bos tidak peduli, maka dia benar-benar bos yang toksik.

Kata Ronayne, komponen kunci dari toksisitas adalah ketidakpedulian pada umpan balik yang diterimanya. Ya, seringkali perilaku toksik berakar pada narsisme. Narsistik sendiri merupakan gejala dari gangguan mental yang sulit didiagnosis.

Orang dengan narsistik, sulit berempati. Akan tetapi, mereka berusaha mengerti pendapat dan perasaan orang lain manakala ingin memanipulasi.

Mengatasi bos yang toksik/ Foto: Canva

2. Bicara pada Kolega Tepercaya

Ketika suami tahu beberapa teman satu tim berhenti kerja, disangkanya dapat tawaran yang jau lebih baik. Mulanya sama sekali tak menyangka hal itu ada kaitan dengan tingkah si Leader.

Mengingat tingkah si Leader yang semakin menjadi, bahkan menyindir-nyindir suami saya di tengah rapat, akhirnya suami mencoba bicara dengan koleganya. Dia ingin tahu apakah hanya dirinya yang diperlakukan seperti itu oleh si Leader.

Rupanya ada beberapa orang yang mendapat perlakuan serupa. Kebanyakan “Korban” si Leader adalah sosok yang kalem dan pendiam. Mungkin si Leader ini sebenarnya insecure dengan kemampuannya, sehingga akan merasa aman jika bisa memperlakukan anggota tim seperti yang dia mau.

Tak hanya bicara dengan teman di satu tim, suami juga mengajak bicara leader divisi lain. Dia hendak memastikan tugas dan tanggung jawabnya sejalan pula dengan divisi lainnya. Dari obrolan itu muncul kesimpulan: leader di tim suami saya kerap mencari “bahan” yang bisa membuatnya tampak aktif bekerja.

Setelah berdiskusi dengan beberapa kolega, situasi menjadi lebih jelas. Rupanya bukan hanya satu karyawan yang tidak puas pada si Leader.

3. Mencari Pertolongan

Ilustrasi minta tolong/ Foto: Canva

Saat berdiskusi dengan suami saya, leader dari divisi lain menyarankan untuk berbicara dengan HRD. Dia pun berjanji akan turut memfasilitasi diskusi dengan pihak HRD.

Akhirnya suami mengikuti saran leader divisi lain tersebut. Kepada salah seorang HRD, suami menyampaikan kondisi yang dialaminya saat ini. Termasuk mengakui dirinya menjadi kurang produktif karena perilaku leader di timnya.

“Bisa jadi Mas Leader ada masalah personal dengan saya, meskipun saya tidak pernah punya masalah dengannya. Namun, ada baiknya HRD juga berdiskusi dengan teman satu tim saya. Siapa tahu ada yang mengalami hal seperti saya,” tutur suami saat meeting via Zoom dengan HRD.

Beberapa hari kemudian, suami dan si Leader dipertemukan melalui meeting. Mungkin HRD berniat melakukan mediasi. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh suami saya untuk menyuarakan pandangan dan perasaannya. Alhamdulillah dia menyampaikan unek-unek tanpa emosional.

“Setiap saya bekerja, saya selalu berusaha bekerja dengan baik, termasuk berusaha menjalin relasi yang baik dengan semua rekan kerja. Lebih dari 10 tahun saya bekerja, tidak pernah sekalipun ada masalah dengan atasan, teman satu tim, atau rekan lintas divisi. Silakan dicek di kantor lama saya. Namun, saya di sini nothing to lose. Jika tenaga saya masih diperlukan, maka saya akan bekerja maksimal. Akan tetapi jika ternyata saya dianggap tidak mampu dan menjadi beban tim, saya siap mengundurkan diri.” Begitu ucapan suami saat mengakhiri penyampaian pendapatnya.

Setelah sesi mediasi itu, si Leader sangat berubah. Dia tidak lagi menyentuh hal-hal teknis di luar kapasitasnya. Dia pun tak lagi memaksakan harapan yang tidak realistis. Tak lama, si Leader dipindah ke divisi lain. Sejak hari itu, tim suami saya menjadi jauh lebih kompak dan lebih produktif.

Tim kerja yang kompak tanpa bos yang toksik/ Foto: Canva

Penutup

Bekerja butuh kenyamanan agar bisa melahirkan ide-ide brilian nan out of the box. Namun, terkadang ada hal yang tak selaras dengan ekspektasi. Seperti dialami suami saya, di lingkungan kerja baru malah dapat toxic boss. Padahal baru juga mau adaptasi dan menyelaraskan ritme.

Namun, itulah dinamika hidup. Hal-hal yang tidak diinginkan justru terjadi. Stres dalam bekerja memang wajar, tetapi bila sampai ketakutan kala jam kerja tiba karena keberadaan toxic boss, itu tak bisa dibiarkan. Ingat, stres yang tidak ditangani dengan tepat bisa berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental.

Bekerja bukan sekadar mencari uang semata. Sebab dunia kerja juga menjadi tempat untuk mengembangkan diri dan kemampuan.

Semoga pengalaman suami saya bisa menjadi gambaran dan masukan bagi siapa saja yang memiliki toxic boss. Meski memang setiap kasus tidak bisa disamakan, tapi semoga ada hal-hal yang bisa dipetik dan jadi pelajaran. Jangan sampai masalah di kantor mengganggu kesehatan jiwa.

Nah, buat Teman-teman yang butuh dukungan untuk masalah kesehatan mental, bisa menghubungi Dear Senja untuk konsultasi. Informasi seputar kesehatan mental juga bisa diakses di Blog Dear Senja. Dear Senja sendiri berfokus untuk mendukung orang-orang yang terkena dampak kecemasan, depresi, dan bunuh diri. Harapannya, seluruh orang di Indonesia bisa memiliki kesehatan mental terbaik.

#DearSenjaBlogCompetition

Mental health problems don’t define who you are. They are something you experience. You walk in the rain and you feel the rain, but you are not the rain.”

Matt Haig

Referensi

blog.dearsenja.com. 8 Fakta Mencengangkan Mengenai Seorang Narsistik,https://www.blog.dearsenja.com/serba-serbi/8-fakta-mencengangkan-mengenai-seorang-narsistik/, diakses pada 25 Februari 2023.

forbes.com, Employees, Here Are 3 Tell-Tale Signs Your Boss Is Toxic, https://www.forbes.com/sites/heidilynnekurter/2021/04/28/employees-here-are-5-tell-tale-signs-your-boss-is-toxic/?sh=2eef1c3f5354, diakses pada 24 Februari 2023.

themuse.com, 6 Signs of a Toxic Boss and How to Deal With Them (Until You Can GTFO), https://www.themuse.com/advice/toxic-boss-signs-how-to-deal, diakses pada 24 Februari 2023.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.