Kerja dari Rumah Tidak Selalu Mudah, Sayangnya Tak Semua Orang Paham

“Kerja dari rumah? Jadi freelancer? Wah enak ya, jadi punya banyak waktu luang.” Kalimat semacam itu sering sekali dilontarkan orang lain kala tahu suami masih bekerja dari rumah dan saya bekerja sebagai freelancer. Ha-ha-ha, saya cuma tertawa miris di dalam hati. Bukannya nggak bersyukur, tapi seringkali kalimat itu diikuti kalimat lain yang kurang mengenakkan.

Namanya bekerja pada orang alias karyawan, tentu harus mendedikasikan waktu dan tenaga seperti yang diharapkan pemberi kerja. So, nggak akan seenaknya punya banyak waktu luang meski bekerja dari rumah saja.

Namun, kebanyakan orang hanya melihat permukaannya saja. Hanya karena melihat orang lain punya privilege kerja dari rumah, lantas bebas minta tolong tanpa berpikir dua kali apakah yang bersangkutan bisa melakukan atau tidak. Padahal setiap hal jelas punya tantangan tersendiri.

Hal-hal yang Sering Disangkakan pada Orang yang Kerja dari Rumah

Seturut pengalaman saya, berikut ini beberapa hal yang sering disangkakan pada saya dan suami yang bekerja dari rumah.

1. Leluasa Melakukan Banyak Hal dari Rumah

kerja dari rumah

“Enak dong bisa kerja dari rumah, jadi bisa mengerjakan kerjaan domestik juga.” Kalimat semacam itu beberapa kali ditujukan pada saya. Sehingga ketika mereka tahu saya rutin menggunakan jasa laundry untuk setrika, langsung mengerutkan kening.

“Pas anak tidur siang, seharusnya bisa ditinggal setrika. Sayang uangnya, sudah di rumah saja kok masih ke laundry.” Sedih banget dengar kalimat itu. Padahal saya menggunakan jasa laundry tidak meminta uang pada siapa pun untuk membayarnya.

Faktanya:

Bekerja dari rumah itu banyak distraksinya. Kadang sedang serius kerja atau meeting harus membukakan pintu gerbang untuk abang pengangkut sampah. Terkadang yang lain harus terjeda fokus kerjanya karena ada kurir pengantar paket.

Mirisnya karena rumah kami paling dekat gerbang dan tidak ada satpam di sini, sering jadi “petugas penerima paket” orang lain. Sedangkan kalau ada kiriman paket untuk kami, jarang yang bantu menerimakan. Kala paket kami terpaksa dilempar kurir, ya sudah teronggok begitu saja di carport. Hmm…

Belum lagi saat anak rewel, dan distraksi bertubi-tubi lainnya. Jika ada yang mendapati saya tidur siang bersama anak pun ada yang berkomentar, “Enak ya kalau kerja dari rumah bisa sambil tidur siang.”

Padahal yang terjadi memilih tidur siang sebagai amunisi untuk bekerja di malam hari kala seisi rumah tidur. Jadi, faktanya bekerja dari rumah itu tidak berarti sangat leluasa melakukan apa pun, terlebih bila tidak punya support system.

2. Bebas dari Tekanan

Belasan tahun bekerja di ranah publik, saya jadi tahu benar bedanya ibu bekerja di luar dan ibu bekerja di rumah. Saat masih kerja kantoran, tekanan pekerjaan tampak begitu nyata. Sementara tekanan urusan rumah, bisa sedikit “dialihkan” ke pekerja rumah tangga dan daycare.

Membagi fokus kala di kantor dan di waktu yang sama anak sakit, misalnya, tentu tidak mudah. Namun, ketika memutuskan bekerja penuh waktu di luar rumah, mau tidak mau harus menerima konsekuensinya.

Bagaimana saat bekerja freelance waktu dari rumah? Mungkin lebih tenang karena bisa membersamai anak dalam berbagai kondisi. Namun, again, freelance pun tetap punya tanggung jawab yang harus ditunaikan.

Faktanya:

Saya pernah nih, suatu kali dapat kerjaan nulis bertubi-tubi dan harus diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Jika anak-anak sudah bisa main sendiri, mungkin saya bisa menyambil menyelesaikan deadline. Hanya saja waktu itu, anak saya yang kedua masih bayi, si sulung sedang awal-awal belajar dari rumah, belum lagi sederetan pekerjaan domestik yang menunggu. Fiuh, saat itu sama sekali tidak mudah.

Lalu kini, saat anak kedua sudah berusia dua tahun apakah jadi lebih leluasa mengerjakan deadline sehingga meminimalkan tekanan dari sisi pekerjaan? Nggak juga. Masalahnya anak saya tidak akan membiarkan saya serius membuka laptop di siang hari. Apalagi saat siang, saya harus menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah.

Intinya, tekanan pasti ada di setiap pilihan yang kita ambil. Berat dan ringannya tekanan tentu relatif. Ketimbang membandingkan, nyinyirin orang, dan manfaatin orang, lebih baik mensyukuri yang ada. Satu lagi, saling berempati.

3. Enak Ya, Nggak Capek

“Kerja dari rumah ‘kan? Wah enak tuh nggak nggak capek. Kalau ke kantor kayak aku kan harus berjibaku dengan macet. Belum lagi kalau hujan, banjir di mana-mana. Capek di jalan.”

Faktanya:

Hu-hu-hu capek mah tetap aja. Kalau saat kerja penuh waktu, beberapa hal didelegasikan. Sedangkan sekarang memilih untuk mengambil alih beberapa hal yang dulu didelegasikan. Tapi ya jalani saja. Namanya hidup ya pasti ada capeknya.

Cuman ketika diri sedang capek, lalu mendengar kalimat pembadingan yang seolah kerja dari rumah tuh nggak capek, nggak stres, sehingga bisa “disuruh-suruh” dan wajib membantu ketika dimintai bantuan waktu dan tenaga.

4. Punya Banyak Waktu Luang

“Masih kerja dari rumah ‘kan? Tolong dong ke tukang kunci dan bikinkan kami kunci duplikat. Kami nggak sempat bikin soalnya.”

“Mumpung masih kerja dari rumah, tolong dong nitip anak kucing selama aku pergi, soalnya aku nggak mungkin bawa anak kucing.”

“Kompleks kita butuh tukang untuk memperbaiki jalan kompleks. Kamu kan kerja dari rumah, jadi kamu yang ngawasin tukangnya ya. Kalau ada yang perlu dibeli, talangin dulu ya.”

“Paket! Paket! Bu, Bu, ini paket tetangganya diterima dong, katanya saya tadi disuruh gedor gerbang aja, nanti pasti ada yang keluar.” -Kurir-

Faktanya:

Kerja dari rumah saja bukan berarti punya banyak waktu luang. Coba deh lihat, ada ART tidak di rumah kami? Tidak ada ‘kan. Memangnya segala macam pekerjaan domestik bisa selesai sendiri tanpa kami kerjakan?

Lihat ‘kan ada batita di rumah kami yang sedang aktif-aktifnya? Meski dia sedikit-sedikit bisa bantu beres-beres mainan, bukan berarti dia bisa diandalkan untuk membereskan semua hal. Tetap saja saya harus bolak-balik melakukan hal yang sama agar rumah nggak berantakan banget.

Di siang hari kalau saya bisa tidur siang, santai-santai menemani anak main, lagi-lagi karena memang harus begitu di siang hari. Seperti di singgung di awal tulisan, biasanya saya baru bisa kerja freelance di malam hari. Bisa lebih fokus soalnya.

Baca juga: Hampir 3 Tahun Resign, dan Saya Masih Menulis

Pernahkah Merasa Lelah Jadi “Tempat Sampah” Orang Lain?

Katanya Bekerja dari Rumah Lebih Santai, Bagaimana Menurutmu?

Jika seseorang tidak mengeluh itu bukan berarti dia selalu baik-baik saja, sehingga bisa diberondong dengan permintaan tolong tanpa empati. Apalagi saya dan suami itu tipe orang yang susah nolak, jadilah ada yang sengaja memanfaatkan kelemahan itu.

Setiap orang punya pilihan masing-masing. Bukan berarti setiap pilihan bergelimang kenikmatan. So, kita nggak perlu berucap, “Enak ya kamu karena begini begitu,” dengan nada bicara yang nggak enak didengar apalagi diikuti permintaan tolong yang terdengar seperti perintah.

Last but not least, kita hanya perlu menjalani hidup dengan baik. Kedepankan empati jika terpaksa merepotkan orang lain. Tidak perlu merasa lebih dari orang lain, termasuk merasa tidak lebih beruntung. Rumput di halaman rumah orang lain terlihat lebih hijau karena kita tidak pernah berada di sana dan merawat rumput tersebut.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.