Hamil di Usia 35 Tahun ke Atas, Seperti Apa Rasanya?

Ada yang punya pengalaman hamil di usia 35 tahun ke atas? Wah, sama, saya juga mengalaminya. Ya, kehamilan anak kedua terjadi saat usia saya di atas 35 tahun. Bila dibandingkan saat melahirkan anak pertama, kehamilan yang terakhir ini keluhannya adalah lebih mudah lelah.

Beberapa orang ada yang bertanya, “Ini kebobolan apa gimana, kok jarak sama anak pertama sampai 6 tahun? Bukannya nggak enak ya hamil di atas usia 35 tahun?”

Saya selalu bilang bahwa kehamilan ini sudah direncanakan. Perencanaan sudah dilakukan sejak beberapa waktu sebelumnya, namun Allah baru memberikan kelancaran dan kesehatan di usia 35 tahun ke atas.

Nah, bagi yang berencana hamil di usia 35 tahun ke atas, ada beberapa hal yang perlu diketahui, nih. Simak tulisan saya sampai akhir ya.

Persiapan Hamil di Usia 35 Tahun ke Atas

Segala hal harus banget direncanakan dengan baik, tak terkecuali dengan kehamilan. Jangan sampai asal hamil, sehingga tidak mempertimbangkan risiko dan tantangan yang bakal dihadapi nantinya. Dengan perencanaan yang baik, setidaknya ada mitigasi risikonya, ‘kan?

Cek Darah Sebelum Program Hamil

Persiapan kehamilan kami dimulai dengan melakukan cek darah. Screening ini memungkinkan dokter mengidentifikasi kondisi yang berpotensi berdampak buruk pada kesehatan ibu dan calon bayi. Jika masalah kesehatan diketahui lebih dini, maka bisa segera diatasi untuk mengurangi risiko.

Apalagi banyak, lho, perempuan hamil yang dari luar tampak sehat-sehat saja. Namun, ternyata dia membawa penyakit yang tidak menimbulkan gejala. Nah, ini bisa berakibat serius jika tidak diobati.

Lalu cek darah yang saya lakukan untuk mengetahui apa? Jawabannya untuk memastikan terkontrolnya gula darah, serta aman dari anemia dan TORCH (Toksoplasma, Other agents, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex).

Baca ini juga yuk: Setahun Lalu, Saya Melahirkan Saat Pandemi Covid-19

Mengutip informasi dari ibupedia, sebenarnya pemeriksaan TORCH tidak wajib bagi semua perempuan yang merencanakan kehamilan. Perempuan yang gemar makan sayuran mentah atau daging yang tidak dimasak sempurna direkomendasikan mendapatkan pemeriksaan ini.

Saya kebetulan suka makanan yang dimasak hingga matang. Jarang juga makan lalapan. Hanya saja sering ada kucing yang main ke rumah, lalu beberapa di antara mereka buang air besar sembarangan di depan rumah.

Mengingat usia sudah 35 tahun ke atas dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, tes TORCH pun dilakukan. Cukup mahal memang. Biaya tes di tahun 2018 sekitar Rp 2 juta.

Baca tulisan ini juga yuk: Manfaat Semangka bagi Ibu Hamil

Antibodi Rubella Aman

Dari pemeriksaan darah diketahui status antibodi rubella di tubuh saya aman. Ini penting sebagai proteksi diri dari virus rubella penyebab campak jerman. Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jika ibu hamil tertular rubella, maka berisiko keguguran, bayi lahir mati, atau melahirkan bayi dengan kecacatan.

Gula Darah Tekontrol

Gula darah yang terkontrol adalah salah satu bekal penting saat akan hamil, tak terkecuali hamil di usia 35 tahun ke atas. Makanya saya lega sekali saat mendapati hasil cek darah yang menunjukkan kondisi gula darah di level aman.

Jujur, terkait gula darah, saya agak khawatir. Sebab di keluarga ada riwayat diabetes. Seperti kita tahu, diabetes yang tidak ditangani bisa meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, seperti tekanan darah tinggi, kelahiran prematur, cacat lahir, dan keguguran.

Bebas dari Toksoplasma

Toksoplasmosis atau toksoplasma atau tokso, merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit bersel tunggal bernama Toxoplasma gondii. Mengutip ibupedia, seseorang dengan tokso tidak menampakkan gejala. Hanya saja jika parasit tersebut menginfeksi janin, bisa mengakibatkan masalah serius.

Masalah yang bisa dialami janin akibat tokso antara lain kerusakan otak, kerusakan mata yang bisa mengakibatkan kebutaan, keterlambatan fungsi motorik tubuh, sering kejang, serta penumpukan cairan di kepala alias hidrosefalus.

Aman dari Cytomegalovirus (CMV)

CMV merupakan virus yang termasuk golongan herpes. Bagi ibu hamil, CMV tidak berbahaya. Namun,seperti halnya tokso, CMV pada janin bisa mengakibatkan kondisi serius. Misalnya saja bayi lahir dengan ketulian, komplikasi paru-paru, lemah otot, keterbelakangan mental, berat badan lahir rendah, serta mengalami jaundice atau kuning.

Cek Kondisi Gigi

Mumpung ke lab, saya sekalian rontgen gigi. Kebetulan kala itu gigi saya ada yang pecah, separuhnya hilang. Untuk memastikan kondisi di dalam gusi, saya pun melakukan pemeriksaan kondisi gigi.

Hasil rontgen saya bawa ke dokter gigi, lalu dokter menyarankan untuk mencabut gigi tersebut. Oke, pencabutan gigi adalah opsi terbaik karena memang tidak bisa diselamatkan lagi. Untungnya gigi yang lain dalam keadaan prima.

Pemeriksaan gigi di masa prakehamilan ini memang penting. Situs Mach of Dimes menyebut beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara penyakit gusi dengan risiko kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Jika masalah gigi dan gusi diketahui lebih dini, maka perawatan sebelum kehamilan bisa dilakukan. Hal ini bisa menjadi ikhtiar terbaik mencegah masalah kesehatan pada kita dan si kecil.

Aman dari Anemia

Pemeriksaan hematologi juga saya lakukan untuk mengetahui apakah ada anemia. Alhamdulillah, dari pemeriksaan, saya aman dari anemia.

Oh ya, penyebab anemia ada bermacam-macam. Misalnya kurangnya zat besi, kurangnya asam folat atau vitamin B12, atau ada penyakit tertentu. Selain itu, bisa jadi sebelum hamil kita aman dari anemia. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat kita seutuhnya aman dari anemia. Maka itu, perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala.

Anemia pada ibu hamil tidak boleh diremehkan. Artikel di ibupedia memaparkan anemia bisa membuat ibu hamil sulit melawan infeksi. Bahkan anemia kerap menjadi penyebab perdarahan saat persalinan.

Adakah dampak anemia yang dilami ibu hamil pada janin? Jawabannya ada. Kelak, bayi bisa lahir prematur, lahir dengan berat badan rendah, bahkan ada risiko lahir mati. Seorang ibu yang anemia juga meningkatkan risiko anaknya memgalami anemia di kemudian hari.

Konsumsi Asam Folat Sebelum Program Hamil

Hal penting yang saya lakukan sebelum program hamil secara alami adalah mengonsumsi asam folat. Asam folat merupakan vitamin B yang membantu tubuh dalam memproduksi sel-sel baru.

CDC merekomendasikan konsumsi 400 mikrogram (mcg) asam folat setiap hari, setidaknya sebulan sebelum hamil. Nah, asam folat dapat membantu mencegah cacat lahir, utamanya pada otak bayi (anencephaly) dan tulang belakang (spina bifida).

Hal yang Dikhawatirkan Saat Hamil di Usia 35 Tahun ke Atas

Setiap kehamilan berisiko. Apalagi saat hamil di usia 35 tahun ke atas, risikonya pasti bertambah. Sebelum menjalani program hamil mandiri, saya sudah membekali diri dengan berbagai informasi tentang risiko hamil di usia 35 tahun ke atas. Berikut ini beberapa hal yang dikhawatirkan:

1. Hipertensi

Mayo Clinic menyebut kehamilan di usia 35 tahun ke atas lebih berisiko mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Tekanan darah tinggi terjadi ketika darah menekan dinding pembuluh darah terlalu tinggi.

Hipertensi saat hamil bisa mengakibatkan beberapa risiko. Misalnya penuruan aliran darah ke plasenta. Seperti kita tahu, jika plasenta tidak mendapatkan cukup darah, maka janin akan menerima lebih sedikit oksigen dan nutrisi. Akibatnya bisa terjadi kelahiran prematur dan berar badan bayi lahir rendah.

Risiko lainnya adalah solusio plasenta atau abruptio plasenta. Ini merupakan komplikasi kehamilan, di mana sebagian atau keseluruhan plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum persalinan.

2. Diabetes gestasional

Kehamilan pada perempuan berusia 35 tahun lebih berisiko memunculkan diabetes gestasional. Ini merupakan jenis diabetes yang hanya terjadi selama kehamilan.

Diabetes gestasional dapat menyebabkan ukuran janin lebih besar dari rata-rata, alhasil meningkatkan risiko cedera ibu saat melahirkan. Risiko kelahiran prematur, tekanan darah tinggi selama kehamilan, serta komplikasi pada bayi setelah lahir juga menghantui jika diabetes gestasional tidak diatasi.

3. Bayi lahir dengan kecacatan

Risiko masalah kromosom meningkat seiring bertambahnya usia seorang perempuan. Ketika terjadi masalah kromosom, janin yang dikandung berisiko mengalami cacat lahir, termasuk sindroma Down.

Mengutip situs Stanford Children’s Health, sekitar 1 dari 1.250 perempuan hamil usia 25 tahun memiliki anak dengan sindroma Down. Risiko ini meningkat menjadi sekitar 1 berbanding 100 untuk perempuan yang hamil pada usia 40 tahun.

Kehamilan dengan masalah kromosom juga berpotensi berakhir dengan keguguran.

Baca ini juga yuk: Pregnancy Brain, Kondisi yang Bikin Ibu Hamil Sering Lupa

Mengingat ada beberapa kekhawatiran terkait hamil di usia 35 tahun ke atas, saya pun melakukan pengecekan fetomaternal. Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Hingga hari persalinan tiba, tidak ada keluhan apa pun. Kisah pengecekan fetomaternal akan saya tulis lain waktu ya.

Kehamilan di usia 35 tahun ke atas memang lebih banyak risikonya. Namun, bukan berarti tidak bisa mendapatkan kehamilan yang sehat. Jika semuanya dipantau dengan baik, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Adakah Mama yang punya pengalaman serupa?

Referensi:

CDC. Pregnancy and Rubella. https://www.cdc.gov/rubella/pregnancy.html diakses pada 11 Juli 2021.

CDC. Folic Acid. https://www.cdc.gov/ncbddd/folicacid/index.html diakses pada 11 Juli 2021.

March of Dimes. Your Checkup Before Pregnancy. https://www.marchofdimes.org/pregnancy/your-checkup-before-pregnancy.aspx diakses pada 11 Juli 2021.

Ibupedia. 3 Ciri Ibu Hamil yang Perlu Pemeriksaan TORCH https://www.ibupedia.com/artikel/kehamilan/3-ciri-ibu-hamil-yang-perlu-pemeriksaan-torch diakses pada 11 Juli 2021.

Ibupedia. Makanan Mengandung Asam Folat Ini Bagus untuk Bumil lho. https://www.ibupedia.com/artikel/kehamilan/makanan-mengandung-asam-folat. diakses pada 11 Juli 2021.

Mayo Clinic. High blood pressure and pregnancy: Know the facts. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/pregnancy/art-20046098 diakses pada 2 Februari 2022.

Mayo Clinic. Pregnancy after 35: Healthy moms, healthy babies. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/getting-pregnant/in-depth/pregnancy/art-20045756 diakses pada 2 Februari 2022.

Stanford Children Health. Risks of Pregnancy Over Age 30. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=pregnancy-over-age-30-90-P02481 diakses pada 2 Februari 2022.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.