Menyusuri Green Island Banyuwangi, Mini Raja Ampat di Ujung Jawa
Raja Ampat mungkin menjadi impian banyak orang. Sebuah kanvas raksasa dengan lukisan indah Sang Maha Pencipta di Papua Barat Daya. Gugusan kepulauan yang dikenal sebagai surga bawah laut dunia, lantaran menjadi rumah bagi sekitar 75 persen spesies karang dan ribuan ikan tropis. Tak heran, banyak traveler memimpikan bisa menginjakkan kaki di sana, minimal sekali seumur hidup.
Namun, kita juga harus realistis. Menuju Raja Ampat bukan perjalanan sederhana. Waktu, biaya, dan energi perlu disiapkan dengan matang. Apalagi jika bepergian bersama keluarga. Di titik inilah saya belajar satu hal, yakni bahwa tidak semua liburan impian harus jauh dan mahal. Kadang, kita hanya perlu menemukan versi “lebih dekat” dari mimpi itu.
Liburan akhir semester lalu, kami sekeluarga memutuskan menjelajah Green Island Banyuwangi. Destinasi ini kerap dijuluki sebagai Mini Raja Ampat. Bukan untuk membandingkan secara mutlak, tetapi untuk menikmati sensasi gugusan pulau dan laut biru tanpa harus terbang jauh ke timur Indonesia.
Green Island terletak di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Pulau kecil ini menyajikan keindahan alam yang luar biasa. Pantai berpasir putih berpadu dengan air laut bergradasi biru toska yang jernih.
Sementara itu, sebagian area pulau masih ditutupi hutan tropis yang rimbun. Kombinasi ini menghadirkan suasana alami yang terasa tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota, sekaligus memanjakan mata sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Tak heran, banyak yang menyebut Green Island sebagai surga kecil di ujung timur Jawa. Keindahannya tak hanya memikat, tetapi juga menghadirkan rasa damai. Seolah mengajak siapa pun untuk sejenak memperlambat langkah dan menikmati alam.
Berangkat dari Pantai Mustika

Perjalanan kami dimulai dari Pantai Mustika. Di pinggir pantai terdapat loket penjualan paket wisata perahu. Kami memilih paket private trip ke tiga destinasi yaitu Wedi Ireng, Green Island, dan T-Spot. Harga paketnya Rp150.000 per orang, dengan ketentuan minimal lima orang untuk private.
Karena kami hanya berempat, akhirnya kami tetap membayar untuk lima orang. Bagi kami, privasi dan fleksibilitas waktu terasa sepadan dengan biaya tambahan itu, apalagi membawa anak-anak.
Seorang pemandu menemaki kami. Namanya Mas Hamid. Seorang pria muda yang saya yakin usianya terpaut sangat jauh di bawah saya.

Setelah mengenakan jaket pelampung, kami menuju perahu yang tertambat di pinggir pantai. Perlahan, perahu mulai melaju membelah ombak. Ombaknya cukup besar, membuat jantung sedikit berdebar. Namun, alhamdulillah cuaca hari itu bersahabat.
Langit cerah, angin laut terasa segar, dan anak-anak menikmati sensasi naik perahu. Kata anak saya yang bungsu, rasanya seperti naik roller coaster. Padahal dia belum pernah naik roller coaster, hi-hi-hi.
Trekking 400 Anak Tangga Menuju Pemandangan Spektakuler

Sesampainya di Green Island, petualangan belum selesai. Untuk mencapai spot pandang utama, kami harus trekking naik bukit menggunakan tangga kayu. Jumlahnya lebih dari 400 anak tangga, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
Jujur saja, cukup ngos-ngosan. Napas sering terasa pendek, kaki berat, apalagi matahari mulai terik. Kami berhenti beberapa kali di pos pemberhentian. Di sana, kami duduk sambil mengatur napas. Anak saya yang mulai lapar pun mencari-cari makanan. Alhamdulillah, saya membawa bekal donat dan ketan bubuk.
Di Green Island tidak ada penjual makanan dan minuman. Jadi, sebaiknya memang membawa perbekalan makanan dan minuman yang cukup.
Ketika bertemu dengan traveler lain, baik yang naik atau turun, saling menyemangati. “Ayo, Bu, sedikit lagi sampai,” ucap seorang pria muda melihat saya kelelahan sambil menyeka keringat.
Oke, ayo naik lagi! Waaaah, semua lelah itu terbayar lunas saat sampai di puncak bukit. Dari atas, terlihat gugusan pulau kecil yang dikelilingi laut biru dengan gradasi warna yang cantik. Sekilas, lanskapnya memang mengingatkan pada Raja Ampat, meski dengan versi lebih mungil.

Cuaca cukup panas dan gerah. Kami sampai harus mengipas-ngipas diri menggunakan kardus bekas air mineral kemasan. Hal kecil yang justru menjadi kenangan lucu di perjalanan kami.
Menariknya, untuk berfoto di spot terbaik, pengunjung harus mengambil nomor antrean. Sistem ini membuat suasana lebih tertib dan nyaman, tidak saling berebut. Setiap kelompok diberi waktu sekitar 10 menit untuk berfoto. Cukup lega untuk mengabadikan momen tanpa tergesa-gesa.

Rupanya banyak traveler yang datang dengan outfit keren. Mungkin karena ingin berfoto maksimal dengan latar belakang pemandangan yang indah. Hiks, bandingkan dengan kami. Suami dan anak-anak pakai celana pendek. Saya pakai bergo biasa dan pakaian ala kadarnya.
Lukisan Alam Itu Bernama Stone Beach

Setelah puas berfoto di puncak bukit, kami turun dan mampir ke Stone Beach. Pantai yang satu ini menyambut kami dengan lanskap yang terasa seperti lukisan alam. Hamparan pasir putih membentang.
Di sana-sini bertabur batu-batu karang gelap yang kontras dengan warna laut biru toska. Ombak datang bergulung pelan, memecah di sela bebatuan, meninggalkan buih putih yang berkilau di bawah matahari.
Dari atas tangga, pemandangan pantai terlihat begitu dramatis. Lengkungan teluk kecil membingkai laut yang jernih. Sementara itu, perbukitan hijau mengelilinginya seperti pelukan alam. Ranting-ranting pohon yang menjulur ke arah pantai seolah menjadi bingkai alami, membuat setiap sudut terasa fotogenik.

Suasana di Stone Beach terasa lebih santai. Beberapa pengunjung berjalan menyusuri bibir pantai. Ada yang berfoto di antara bebatuan, ada pula yang sekadar duduk menikmati semilir angin laut. Anak-anak senang bermain air di tepian, merasakan dinginnya ombak kecil yang menyentuh kaki.
Di Stone Beach rasanya seperti berada di sebuah ruang alami yang mengajak kita untuk melambat. Diri ini leluasa mengamati alam dan benar-benar hadir menikmati momen.
Green Island Bukan Pengganti Raja Ampat, tapi Pemantik Mimpi

Green Island bukanlah pengganti Raja Ampat. Skala dan kekayaan alamnya tentu berbeda. Namun, tempat ini mampu menjadi pemantik mimpi. Sebuah langkah kecil, sebelum suatu hari benar-benar menjelajah lebih jauh sampai ke Raja Ampat.
Kadang, perjalanan dekat justru mengajarkan kita untuk lebih bersyukur. Bahwa keindahan tidak selalu menunggu di tempat jauh. Keindahan itu bisa hadir lebih dekat dan lebih sederhana.
Aah, tiba-tiba saya ingat lagu “Tak Perlu Keliling Dunia” yang dinyanyikan Gita Gutawa. Ada yang tahu lagu ini? Begini liriknya. “Tak perlulah aku keliling dunia. Biarkan ku di sini. Tak perlulah aku keliling dunia. Karna ku tak mau jauh darimu.”
Hmm, kadang-kadang diri ini merasa nggak perlu jauh-jauh keliling dunia atau pergi ke tempat jauh. Karena sejatinya bukan sekadar destinasinya, tapi perkara dengan siapa kita ke sana.
Meski sudah mengunjungi Raja Ampat versi mini di Green Island, tapi Raja Ampat di Papua Barat Daya tetap menjadi wishlist. Semoga suatu saat berkesempatan menikmati keindahannya bersama keluarga.
Rekomendasi wisata bahari lainnya, bisa baca tulisan Sea Walker di Pahawang, Begini Rasanya Jalan-jalan di Bawah Laut
Tips Berkunjung ke Green Island Banyuwangi

Saya ke Green Island di bulan Desember. Saat itu Indonesia sedang sering diguyur hujan. Agak deg-degan juga bakal gagal ke sana. Alhamdulillah hari itu cuaca cukup bersahabat, kendati ombaknya cukup tinggi.
Nah, buat Mama yang ingin merencanakan perjalanan ke Green Island, beberapa tips ini semoga membantu:
1. Datang Pagi Hari
Cuaca cenderung lebih sejuk dan pencahayaan lebih bagus untuk foto. Selain itu, antrean di spot foto biasanya belum terlalu panjang.
Di pagi dan siang hari, cuaca cenderung lebih bersahabat. Biasanya menjelang sore, hari bakal hujan. Jadi, lebih baik memulai petualangan di pagi hari.
2. Siapkan Fisik untuk Trekking
Lebih dari 400 anak tangga bukan hal sepele. Gunakan sepatu atau sandal yang nyaman dan tidak licin. Jangan lupa, bawa air minum yang cukup. Beneran deh, saya dan anak-anak bawaannya haus melulu.
3. Lindungi Diri dari Matahari
Topi, sunscreen, dan kacamata hitam sangat membantu, terutama saat cuaca terik di puncak bukit. Membawa kipas portable juga sangat berguna.
4. Pertimbangkan Paket Private Jika Bersama Keluarga
Meski sedikit lebih mahal, private trip memberi fleksibilitas waktu dan kenyamanan, apalagi jika membawa anak.
5. Bawa Dry Bag dan Kamera Tahan Air
Ombak bisa cukup besar saat perjalanan laut. Dry bag akan menjaga barang elektronik tetap aman.
6. Siapkan Uang Tunai Secukupnya
Fasilitas pembayaran non-tunai masih terbatas di area pantai. So, pastikan mampir ATM jika kondisi dompet kosong.
7. Ajarkan Anak Tentang Menjaga Alam
Traveler yang baik adalah yang menikmati sekaligus menjaga. Caranya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak karang, dan tetap menghormati alam sekitar.
Penutup
Liburan ke Green Island Banyuwangi memberi kami lebih dari sekadar foto indah. Di tempat ini banyak hadir cerita tentang kebersamaan. Tantangan kecil saat mendaki. Tawa saat kepanasan. Juga rasa kagum saat memandang laut dari ketinggian.
Raja Ampat masih menjadi wishlist besar kami. Namun, untuk saat ini, Green Island Banyuwangi sudah cukup mengisi ruang bahagia di hati. Bukankah perjalanan ribuan mil selalu dimulai dari langkah-langkah kecil?
Yaah, siapa tahu, dari langkah kecil inilah, mimpi besar akan benar-benar terwujud suatu hari nanti. Ada yang berencana ke Green island Banyuwangi? Atau sudah pernah ke sana?