Menyusuri Peninggalan Belanda di Depok Lama yang Masih Bertahan Hingga Kini

Banyak orang mengenal Depok sebagai kota penyangga Jakarta. Identik dengan Margonda yang ramai, kampus, apartemen, dan kereta rel listrik (KRL) yang tak pernah sepi. Namun siapa sangka, di balik hiruk-pikuk itu, tersimpan kawasan penuh cerita: Depok Lama.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti walking tour Depok Lama bersama Jakarta Good Guide. Perjalanan singkat itu membuka mata saya bahwa sejarah Depok jauh lebih kaya dari yang saya bayangkan.

Kantor Pos Pertama di Depok, Peninggalan PTT Zaman Hindia Belanda

Perhentian pertama dalam tur sejarah Depok Lama ini adalah Kantor Pos pertama di kawasan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Bangunan ini sudah beroperasi sejak zaman Hindia Belanda sebagai kantor PTT (Post, Telegraaf en Telefoon).

Di dalamnya, kami melihat deretan kotak pos tua berbahan besi tebal. Catnya yang berwarna oranye mulai memudar. Beberapa bagian kotak tampak berkarat, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa autentik. Kotak-kotak pos yang berjajar rapi di dinding ini menjadi saksi bagaimana komunikasi berlangsung sebelum era digital.

Dulu, kuda digunakan untuk mendistribusikan surat dari daerah ke daerah, menggunakan sistem estafet. Seiring berkembangnya transportasi, beralih menggunakan sepeda, kemudian menggunakan kereta.

Selanjutnya, masyarakat datang mengambil surat mereka sendiri di kotak-kotak pos. Dari sinilah kabar dari Batavia datang. Di tempat sederhana itu, sejarah komunikasi di Depok pernah berdenyut.

Tak jauh dari kantor pos, masih berdiri tiang telepon tua di tepian jalan. Tepatnya di depan Warteg Selera Bahari, Jl. Kartini No.29, Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok.

Artefak kecil yang mungkin sering luput dari perhatian. Akan tetapi, menjadi bagian penting dalam perkembangan sistem telekomunikasi di Depok pada awal abad ke-20.

Gemeente Huis dan Sistem Sosial Unik Depok Lama

Perjalanan berlanjut ke bangunan bekas Rumah Sakit Harapan di Jalan Pemuda, Pancoran Mas. Dahulu bangunan ini bernama Gemeente Huis, kantor dari Gemeente Bestuur.

Gemeente Bestuur adalah organisasi kemasyarakatan yang mengatur kehidupan sosial masyarakat Depok pada masa kolonial. Sistem ini unik karena Depok memiliki sejarah berbeda dibanding wilayah lain di Jawa.

Sejarah Depok bermula dari tanah partikelir milik seorang Belanda bernama Cornelis Chastelein pada akhir abad ke-17. Setelah wafatnya, tanah tersebut diwariskan kepada komunitas yang dia bentuk. Dari sinilah lahir struktur sosial dan pemerintahan komunitas yang khas di Depok Lama.

Kak Maharani, pemandu yang menyertai tur ini menjelaskan Chastelain mulanya bekerja di VOC. Namun karena kondisi tubuhnya yang melemah lantaran usia, dia keluar dari VOC pada 1691.

Chastelain lantas fokus membuka perkebunan seperti kopi dan teh. Awalnya, lahan yang dimiliki berada di kawasan Weltervreden, yakni pusat pemerintahan dan hunian elite Eropa di Batavia yang kini merupakan kawasan Jakarta Pusat.

Lalu dia membeli tanah di Srengsengsawah, dan pada 1696 membuka lahan lagi di Depok Lama. Untuk mengerjakan tanah perkebunannya di Depok, dia membeli 150 budak. Para budak ini berasal dari Banda, Flores, Makassar, Bali, Bengal, dan Malaya.

Sekilas tentang Belanda Depok

Hubungan Chastelain dengan para budaknya bukan seperti tuan tanah dan budak, tapi lebih ke hubungan ayah dan anak. Para budaknya diberi pendidikan, termasuk pendidikan bahasa Belanda, sehingga mereka menjadi sosok-sosok yang terpelajar.

Selanjutnya, Chastelain menulis wasiat pada 1713, bahwa jika dirinya meninggal maka lahan di Depok Lama tersebut dihibahkan kepada para budaknya. Namun, sebelum itu, dia harus memerdekakan para budaknya. Cara adalah dengan mengikuti agama dan bahasa dari sang tuan tanah. Ada 77 nama yang tertulis di wasiat mendapatkan tanah itu.

Nama-nama tersebut adalah nama baptis yang kemudian menjadi marga. Akhirnya ada 12 marga yang muncul, yakni Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leanders, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh.

“Mereka ini yang kemudian dikenal sebagai Belanda Depok. Jadi bukan setengah Belanda dan setengah pribumi, tapi para budak yang dimerdekakan oleh Chastelain dan mendapatkan warisan tanah di Depok ini beserta keturunannya yang juga fasih berbahasa Belanda,” jelas perempuan yang akrab disapa Kak Maha ini.

Soedira adalah nama marga tertua. Sedangkan Zadokh saat ini sudah tidak ada keturunannya lagi.

Para mantan budak yang mulanya disebut Kaoem Depok kemudian banyak yang mendapatkan pekerjaan di Batavia. Mungkin karena Kaoem Depok banyak yang bisa baca tulis dan fasih berbahasa Belanda. Sedangkan kala itu, Batavia merupakan sentra pemerintahan dan sentra perdagangan.

Saat berangkat bekerja ke Batavia, Kaoem Depok menggunakan moda transportasi kereta api yang berangkat dari Buitenzorg atau Bogor. Saat kereta berhenti, para penumpang dari Bogor yang ada di kereta berteriak, “Kita sudah berada di Amsterdam, Belanda Depok naik!”

Begitu pula saat kereta dari Batavia menuju Bogor berhenti, penumpang pada berteriak, “Kita sudah tiba di Amsterdam. Belanda Depok turun!” Kata Kak Maha, sebutan Amsterdam untuk Depok ini hanyalah “asbunnya” orang-orang saat itu.

Melihat Sejenak Rumah J.M. Jonathans, sang Mantan Presiden Depok

Di Jalan Pemuda, tepat seberang bekas RS Harapan, berdiri rumah tua dengan arsitektur klasik yang memikat. Itu adalah Rumah J.M. Jonathans, yang kini dihuni keturunannya.

J. M. Jonathans adalah presiden kelima sekaligus terakhir dari Gemeente Bestuur Depok. Dia juga ketua pertama Lembaga Cornelis Chastelein yang kini dikenal sebagai Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC).

Rumah ini bukan sekadar bangunan tua. Ada kisah-kisah lama yang terekam di setiap sudutnya. Melihatnya secara langsung membuat sejarah terasa lebih nyata.

Depok Lama dan Sebutan Seribu Gereja

Berjalan di kawasan Depok Lama membuat saya semakin memahami satu hal: identitas kota ini memang tak bisa dilepaskan dari sejarah komunitas Kristen yang sudah tumbuh sejak era Cornelis Chastelein. Tak heran jika banyak yang menyebut Depok sebagai “kota 1000 gereja”.

Julukan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun, ketika menyusuri jalan-jalan di sekitar Pancoran Mas hingga Depok Lama, kita akan menemukan begitu banyak gereja dengan arsitektur dan cerita yang berbeda-beda.

Bagi saya pribadi, ini menjadi pelajaran sejarah yang hidup untuk anak-anak. Bahwa sebuah kota bisa bertumbuh dari keberagaman keyakinan, sistem sosial, dan warisan budaya yang panjang.

Gereja-gereja itu bukan hanya bangunan ibadah. Lebih dari itu, juga saksi perkembangan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat Depok sejak ratusan tahun lalu.

Pastori Gereja dan Jejak Raden Saleh di Depok

Kami juga mengunjungi kawasan Pastori Gereja, yaitu rumah para pastor yang kini difungsikan sebagai Gedung YLCC.

Kawasan ini memiliki nilai historis tinggi. Salah satu fakta menariknya adalah tempat ini pernah menjadi lokasi menginap pelukis legendaris Indonesia, Raden Saleh, selama sekitar sepekan.

Bayangkan, seorang tokoh seni besar pernah berjalan di halaman yang sama yang kini kita lewati. Fakta kecil seperti ini membuat wisata sejarah Depok terasa lebih hidup.

Dari Bioskop Misbar hingga Kafe Modern

Perjalanan kemudian membawa kami ke Bajawa Flores NTT. Dahulu bangunan ini adalah bioskop bernama Elsandra.

Elsandra terkenal dengan konsep misbar alias gerimis bubar. Bioskop terbuka yang penontonnya akan membubarkan diri jika hujan turun. Seiring waktu, bangunan ini berubah fungsi menjadi gereja Depok City Blessing, dan kini menjadi kafe yang nyaman: Bajawa Flores NTT.

Di seberangnya, berdiri Cafe Dopamine. Bangunan yang ditempati kafe ini juga memiliki sejarah panjang sebagai sekolah kolonial Belanda yang didirikan sekitar tahun 1886-1890, yakni Depoksche Europeesche Lagere School.

Sekolah ini awalnya diperuntukkan bagi orang Eropa, Indo, dan Mardijker. Pada 1961, bangunan tersebut menjadi Sekolah Dasar Negeri Pancoran Mas 02 sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi kafe.

Transformasi bangunan-bangunan ini menunjukkan bagaimana peninggalan Belanda di Depok terus beradaptasi dengan zaman.

TPU Kamboja, Cagar Budaya Sejak 1851

Salah satu titik paling mengesankan dalam walking tour Depok Lama adalah TPU Kamboja di Jalan Kamboja, Pancoran Mas. Didirikan pada tahun 1851 dan kini berstatus cagar budaya.

Pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan sekitar 2.000 orang Belanda dan Belanda Depok. Di sini terdapat makam Cornelis de Graaf dan Johanna Maria Kats de Graaf, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah pelayanan kesehatan. Mereka berperan dalam pendirian balai kesehatan yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit PGI Cikini, yang kini dikelola dalam jaringan Primaya Hospital.

Berjalan di antara nisan-nisan tua di TPU Kamboja menghadirkan suasana hening sekaligus reflektif. Sejarah terasa begitu dekat.

Penutup

Tur ditutup di kafe milik keturunan Belanda Depok, Tante Thea Snoephuis. Duduk di sana, saya menyadari bahwa Depok bukan sekadar kota penyangga Jakarta.

Depok Lama adalah ruang dengan memori panjang. Tentang surat yang pernah menunggu di kotak besi, tentang bioskop misbar yang penuh tawa, tentang sekolah kolonial yang kini jadi tempat nongkrong, tentang pastori yang pernah menjadi tempat singgah Raden Saleh, dan tentang makam-makam yang menyimpan cerita dua abad lalu.

Jika Mama mencari wisata sejarah di Depok, Depok Lama adalah tempat yang layak dijelajahi. Tidak perlu pergi jauh untuk menemukan jejak masa lalu. Cukup berjalan pelan dan membiarkan kota ini bercerita.

Mungkin setelah itu, Mama tak akan lagi melihat Depok dengan cara yang sama.

Leave A Reply

Your email address will not be published.


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.