TKA SD 2026 Tidak Wajib, tapi Anak Kami Tetap Ikuti Prosesnya
Beberapa bulan lagi anak saya akan lulus sekolah dasar (SD). Hmm, benar-benar tidak terasa. Rasanya baru kemarin dia kebingungan saat belajar pecahan dan desimal. Sekarang kami harus berbicara tentang jenjang pendidikan berikutnya. Tentang kesiapan. Tentang ujian bernama Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Jujur, saya sempat berpikir perlu tidak ya anak kami ikut TKA 2026 ini? Pasalnya anak saya akan melanjutkan jenjang SMP di sekolah swasta. Nah, sekolah itu tidak mensyaratkan nilai TKA. Artinya, secara administratif, anak saya tidak membutuhkan sertifikat TKA.
Saya, suami, dan anak berdiskusi. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti proses TKA. Bukan karena FOMO. Bukan juga karena ambisius, segala macam ujian diikuti. Namun, menurut kami, TKA bukan sekadar tes. TKA bisa menjadi cermin kecil untuk melihat perjalanan belajar anak selama ini.
Apa Itu TKA SD 2026?

Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen terstandar yang dirancang untuk mengukur capaian akademik individu murid pada mata pelajaran tertentu. Menurut Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen, TKA dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan laporan capaian akademik individu berbasis penilaian terstandar.
Dalam beberapa tahun terakhir, tidak tersedia laporan semacam itu. Padahal, ketika diperlukan perbandingan capaian antar sekolah, misalnya untuk seleksi, nilai rapor sering kali memiliki standar yang berbeda-beda. Karena itu, TKA hadir sebagai penyeimbang dan penguat objektivitas.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa TKA:
- Bukan ujian kelulusan
- Tidak bersifat wajib
- Tidak menentukan kelulusan siswa, karena kelulusan tetap ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing.
TKA memiliki tiga fungsi utama:
- Assessment of learning, untuk memotret capaian akademik murid.
- Assessment for learning, sebagai dasar perbaikan pembelajaran.
- Assessment as learning, menjadi bagian dari sistem penilaian komprehensif.
Pada jenjang SD dan SMP, TKA akan disinergikan dengan Asesmen Nasional (AN), dengan pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Dengan demikian, TKA sekaligus bisa digunakan sebagai diagnosis nasional untuk membaca kemampuan akademik siswa secara lebih adil, kontekstual, dan berkelanjutan.
Apakah TKA Menggantikan UN?

Ketika wacana TKA mencuat beberapa waktu lalu, muncul spekulasi bahwa TKA ini menggantikan ujian nasional (UN) yang dulu pernah ada. Padahal TKA sama sekali tidak menggantikan UN.
Dulu, UN dulu bersifat wajib dan menentukan kelulusan. Sedangkan TKA tidak wajib dan tidak menentukan kelulusan.
Namun, dalam praktiknya, TKA bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan seleksi sekolah lanjutan. Tentunya ini tergantung kebijakan masing-masing sekolah.
Apa Saja yang Diujikan dalam TKA SD?

Untuk TKA SD, ada dua mata pelajaran yang diujikan, yakni matematika dan bahasa Indonesia. Berbeda dengan TKA SMA, tidak ada mata pelajaran pilihan dalam tes untuk SD dan SMP.
1. TKA Matematika SD
TKA Matematika mengukur kemampuan anak dalam:
- Memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika
- Menerapkan matematika dalam pemecahan masalah
- Bernalar dan merepresentasikan ide matematis
- Menghubungkan berbagai konsep (koneksi matematis)
Materinya merujuk pada Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka, meliputi:
- Bilangan
- Geometri dan Pengukuran
- Data
Soal tidak hanya berbentuk hitungan langsung, tetapi sering kali disajikan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Anak diminta berpikir lebih dalam, sehingga bukan sekadar menghitung.
2. TKA Bahasa Indonesia SD
Fokusnya pada keterampilan membaca. Mengapa membaca? Karena membaca adalah fondasi belajar. Tanpa pemahaman bacaan yang baik, anak akan kesulitan di hampir semua mata pelajaran.
Teks yang digunakan dalam TKA:
- Teks informasi (fakta sederhana, topik lokal atau nasional)
- Teks fiksi (cerita dengan alur maju, konflik tunggal, penyelesaian tertutup)
Yang diukur meliputi:
- Mengidentifikasi informasi tersurat
- Menyimpulkan informasi tersirat
- Menilai gagasan atau opini
- Merefleksi isi teks, sehingga bukan ujian hafalan, melainkan ujian cara berpikir.
Bentuk Soal TKA SD

Ada dua bentuk soal TKA, yakni:
Pilihan ganda biasa (1 jawaban benar)
Pilihan ganda kompleks (lebih dari 1 jawaban benar)
Pilihan ganda kompleks inilah yang sering membuat anak perlu lebih hati-hati. Mereka tidak bisa sekadar menebak satu jawaban, lalu selesai.
Latihan Soal TKA SD di Mana?

Anak-anak bisa mencoba simulasi resmi melalui laman:
https://pusmendik.kemdikbud.go.id/tka/simulasi_tka
Menurut saya, ini bukan untuk mengejar skor tinggi, tetapi untuk mengenalkan pola soal dan membangun rasa percaya diri. Kadang yang membuat anak cemas bukan soalnya, tetapi ketidaktahuan tentang bentuk soalnya.
Kenapa Saya Tetap Mengikutkan Anak TKA SD?

Bagi saya, TKA bukan tentang “kewajiban”. Anak saya memang tidak memerlukan nilai TKA untuk masuk SMP. Namun saya ingin dia bisa mengukur pemahamannya secara objektif.
Saya juga berharap anak saya dapat mengenal tipe soal berbasis penalaran. Selain itu, bisa merasakan suasana asesmen terstandar. Satu lagi, belajar mengelola waktu dan fokus.
Saya ingin anak saya melihat hasil TKA nanti bukan sebagai label pintar atau tidak pintar, tetapi sebagai umpan balik. Dari tes tersebut akan tahu apa yang perlu dibenahi, sehingga saat masuk SMP kelak akan lebih lancar mengikuti pelajarannya.
Saya mengikutsertakan anak ke sejumlah try out TKA. Bahkan anak saya berhenti dari kegiatan lain yang tidak ada kaitan dengan TKA. Dia hiatus dari les di Kumon dan English One. Sebagai gantinya, baru-baru ini anak saya mendaftar ke bimbel TKA online.
Sebenarnya bukan untuk mengejar target sempurna. Lebih dari itu, untuk membiasakan diri dengan latihan soal dan memperkuat konsep dasar.
Sebagai orang tua, saya tidak ingin TKA menjadi sumber tekanan. Saya ingin TKA ini menjadi pengalaman belajar.
Mendampingi Anak Menghadapi TKA Tanpa Stres

“Nak, nggak apa-apa kalau nanti hasil TKA kamu tidak terlalu bagus. Lagipula kamu ‘kan nggak akan menggunakan TKA untuk masuk SMP. Yang paling penting adalah ikhtiar dan kamu tahu apa yang perlu diperbaiki dari pemahaman kamu.”
Kalimat itu beberapa kali saya sampaikan saat anak akan mengikuti try out TKA. Bahkan ketika dia sedih lantaran hasil TKA-nya jauh panggang dari api. Atau ketika dia bersorak girang ketika skor TKA-nya cukup lumayan.
Saya belajar bahwa yang lebih penting saat anak akan menghadapi TKA adalah suasana. Berikut ini beberapa hal yang sedang kami upayakan di rumah:
- Menciptakan waktu belajar yang konsisten
- Membatasi distraksi gadget
- Menjaga pola tidur
- Memastikan asupan nutrisi seimbang
- Tidak membandingkan dengan teman atau saudara
- Mendukung suasana belajar, di mana orang tua juga harus jauh dari gadget saat anak belajar.
Saya ingin anak saya tahu bahwa dia didampingi, bukan dihakimi. Saya juga ingin dia paham, bahwa dirinya akan selalu diterima, berapa pun skor yang didapat. Hasil TKA bukan urusan kita, karena tugas kita berikhtiar maksimal dan berdoa sungguh-sungguh.
Penutup

Pada akhirnya, saya menyadari satu hal. TKA mungkin hanya satu tahap kecil dalam perjalanan panjang pendidikan anak. Namun, setiap tahap itu adalah kesempatan belajar.
Anak akan belajar memahami diri. Dia juga belajar menghadapi tantangan. Satu hal yang tak kalah penting, anak belajar bertanggung jawab.
Anak saya mungkin tidak membutuhkan angka TKA untuk melangkah ke SMP. Tetapi dia tetap membutuhkan proses untuk bertumbuh. Lantas, jika TKA bisa menjadi salah satu ruang untuk itu, kenapa tidak dicoba untuk turut serta dengan tenang?
Prestasi akademik tentu penting. Akan tetapi yang lebih kami jaga adalah kesiapan menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, yang sedang kami bangun bukan sekadar nilai, melainkan pondasi. Dan fondasi itu tidak selalu terlihat dari angka, tetapi dari cara anak melangkah ke tahap berikutnya dengan percaya diri.
Mama juga bisa baca tulisan tentang pendidikan berikut ini: Meneropong Inovasi Teknologi Pendidikan di Masa Depan, Secanggih Apa?
Referensi
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025, Juni). Tanya jawab seputar tes kemampuan akademik (TKA).
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026, April). TKA jenjang SD dan SMP direncanakan April 2026. https://puslapdik.kemendikdasmen.go.id/tka-jenjang-sd-dan-smp-direncanakan-april-2026/
Pusat Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (n.d.). Kerangka asesmen tes kemampuan akademik jenjang SD/MI/sederajat. https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/tka/view/mata-pelajaran-wajib/sd/matematika