Target Ramadan Tahun Ini yang Panjang dan Kekhawatiran Tidak Konsisten

Sebelum Ramadan menjelang, saya sudah menyiapkan sejumlah target Ramadan tahun ini. Mengingat begitu mulianya bulan ini, saya ingin setiap waktunya diisi dengan hal baik. Harapannya, berlelah-lelahnya diri ini akan mendapat ganjaran pahala yang berlimpah dan berkah.

  • Target Ramadan tahun ini yang saya canangkan adalah:
  • Mengurangi gorengan.
  • Membaca Al-Qur’an 25 ayat setiap selesai salat.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Tetap olahraga meski berpuasa.
  • Ikut challenge 30 hari Ramadan untuk membangun habit baik.
  • Ikut challenge menulis agar tetap produktif.
  • Masak sendiri supaya tidak banyak beli di luar.

Ketika menuliskan target tersebut, rasanya selalu ada yang kurang. “Ah, ini masih bisa nih,” begitu selalu pikir saya. Lagipula, bukankah baik ya jika produktif sepanjang waktu?

Namun, setelah dijalani, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menjalankan semua target Ramadan tahun ini, butuh energi yang banyak dan manajemen waktu yang baik.

Banyak Target Ramadan Tahun Ini, tapi Waktu Terasa Kurang

Ilustrasi waktu Ramadan/ Sumber: Canva

Ramadan memang hanya 30 hari. Rasanya sayang kalau tidak dimaksimalkan. Maka itu, saya ingin sehat, produktif, lebih dermawan, dan lebih disiplin.

Namun semakin banyak yang ingin saya lakukan, semakin terasa sempit waktunya. Pagi dimulai lebih awal untuk sahur. Setelah Subuh, ada pekerjaan rumah yang menunggu.

Siang hari energi mulai turun, sementara aktivitas tetap berjalan. Sore diisi dengan persiapan berbuka. Malamnya, tubuh ingin beristirahat, tetapi masih ada target yang belum disentuh.

Di luar target pribadi, saya juga harus mengingatkan anak-anak pada kewajiban mereka. Sebab mereka harus mengerjakan worksheet, mengulang pelajaran untuk persiapan tes kompetensi akademik (TKA), belum lagi kegiatan tilawah dan murajaah-nya.

Di sela-sela ritme itu, saya berusaha konsisten membaca Al-Qur’an 25 ayat setiap selesai salat. Target ini sengaja saya pilih agar tilawah tidak hanya menjadi kegiatan “jika sempat”. Saya ingin tilawah ini jadi bagian dari alur harian, sekaligus ruang untuk menenangkan hati.

Namun realitanya, ada waktu-waktu yang tidak berjalan sesuai rencana. Ada hari ketika anak lebih rewel dari biasanya. Belum lagi saat ada pekerjaan yang datang mendadak.

Lalu, ketika tubuh terasa sangat lelah. Seperti beberapa hari ini, kepala saya rasanya berat sekali. Saya jadi tidak bisa fokus melakukan berbagai kegiatan.

Ketika satu target terlewat, muncul rasa bersalah. Ketika dua kali terlewat, muncul kekhawatiran. Saya mulai khawatir tidak konsisten.

Target Ramadan, Jangan Sampai Hanya Menggebu di Awal

Ilustrasi ibadah Ramadan/ Sumber: Canva

Kekhawatiran tidak konsisten menjalankan target Ramadan tahun ini pelan-pelan mengganggu ketenangan. Bukan lagi soal mampu atau tidak, melainkan soal bertahan atau menyerah.

Saya khawatir semangat hanya menggebu di awal Ramadan, lalu melemah di pertengahan. Saya takut target yang awalnya terasa mulia, justru berubah menjadi beban.

Di titik itu, saya mencoba berhenti sejenak dan mengevaluasi. Apakah benar saya kekurangan waktu? Ataukah saya terlalu banyak memuat keinginan dalam satu waktu yang sama?

Saya menyadari bahwa semua target itu baik. Tidak ada yang sia-sia. Mengurangi gorengan adalah bentuk menjaga amanah tubuh. Memperbanyak sedekah adalah latihan empati.

Olahraga juga ikhtiar menjaga kebugaran agar ibadah tetap optimal. Menulis adalah cara saya merawat pikiran. Memasak sendiri membantu pengelolaan keuangan keluarga.

Namun tetap saja, saya tidak bisa menjalankan semuanya dengan intensitas maksimal secara bersamaan. Energi saya sebagai manusia terbatas. Fokus pun demikian.

Ramadan seharusnya menjadi bulan mendekat, bukan bulan membebani diri dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Saya tidak ingin ibadah berubah menjadi ajang pembuktian diri.

Saya tidak ingin tilawah terasa seperti tugas yang harus dicentang, dan bukan jadi kebutuhan hati. Lalu dari situlah saya belajar membedakan antara keinginan dan prioritas.

Target Ramadan, Jangan Hanya Sekadar Daftar Keinginan

target ramadan tahun ini
Ilustrasi menulis target Ramadan/ Sumber: Canva

Keinginan bisa banyak, tapi prioritas harus sedikit. Saya mulai bicara ke diri sendiri untuk tidak menjadikan target Ramadan sebagai daftar keinginan semata.

Saya juga mulai bertanya, jika harus memilih satu atau dua hal yang benar-benar ingin saya jaga selama Ramadan ini, apa itu? Jawabannya jelas, yakni hubungan dengan Al-Qur’an dan kualitas ibadah wajib.

Artinya, jika suatu hari saya tidak sempat olahraga, dunia tidak runtuh. Apabila saya tidak mengikuti semua challenge menulis, itu bukan kegagalan besar. Lalu, jika menu berbuka sederhana, maka tidak ada yang salah juga.

Namun, jika saya melewatkan tilawah tanpa usaha untuk kembali, di situlah saya merasa kehilangan sesuatu yang penting. Maka pelan-pelan saya mengubah cara pandang terhadap konsistensi. Konsisten bukan berarti tidak pernah bolong. Lebih dari itu, konsisten berarti tidak berhenti.

Jika satu waktu terlewat, saya bisa menggantinya. Ketika satu hari terasa berat, saya bisa memulai lagi esok hari. Tidak perlu dramatis menyebut diri gagal hanya karena tidak selalu sempurna menjalani ritme.

Mungkin, kekhawatiran tidak konsisten itu justru tanda bahwa saya peduli. Saya tidak ingin Ramadan berlalu tanpa makna. Bahwa ada kesadaran untuk menjaga sesuatu yang paling saya anggap penting.

Penutup

Sekarang, setiap kali rasa kewalahan muncul karena banyaknya target Ramadan tahun ini, saya mencoba diam sejenak. Selanjutnya, saya akan mengingat bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas. Lebih baik sedikit target yang benar-benar terjaga, daripada banyak target yang fantastis di atas kertas.

Ramadan masih berjalan. Saya tidak tahu apakah semua target Ramadan tahun ini akan tercapai. Meski demikian, saya ingin memastikan satu hal, bahwa saya tetap melangkah meski pelan. Saya akan tetap berusaha, kendati kadang terseok-seok.

Pada akhirnya, yang saya cari bukan daftar keberhasilan menjalankan semua target. Lebih dari itu, saya ingin hati ini lebih dekat pada Allah dan lebih tenang saat Ramadan benar-benar usai.

Leave A Reply

Your email address will not be published.


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.