Tantangan Terberat Saat Puasa: Manajemen Waktu di Tengah Anak Ujian dan Persiapan TKA
Tantangan saat puasa Ramadan bukan hanya soal perut kosong dan tenggorokan kering. Selain mengendalikan hawa nafsu, tantangan lainnya adalah manajemen waktu dan menjaga kewarasan di tengah jadwal yang tidak ikut berpuasa.
Seperti yang saya alami sekarang. Anak sulung harus bersiap menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang akan dihelat beberapa waktu setelah Lebaran 2026 nanti. Rasanya baru kemarin dia belajar mengeja, tahu-tahu sekarang sudah bicara try out dan kisi-kisi soal.
Yang paling dekat, dia akan menghadapi sumatif tengah semester. Ujian itu berlangsung tepat di bulan Ramadan ini. Belum lagi jadwal try out TKA yang digelar beberapa kali di sekolahnya. Setiap pekan rasanya ada saja yang perlu dipersiapkan.
Fiuh banget nggak sih? Itu baru satu anak. Adiknya akan mengikuti lomba Ramadan di sekolah. Les pun tetap berjalan seperti biasa. Selain itu, saya juga harus lebih konsisten mendampingi mereka tilawah dan murojaah di rumah.
Di titik inilah saya sadar, tantangan terberat saat puasa bukan saja lapar dan haus. Lebih dari itu, jadi tantangan juga dalam mengatur waktu dan mengelola energi agar semuanya berjalan dengan baik.
Tantangan Puasa: Antara Target Akademik dan Target Ibadah

Sebagai ibu, saya ingin Ramadan anak-anak tetap bermakna. Saya ingin mereka belajar sabar, berlatih menahan diri, dan belajar mencintai Al-Qur’an.
Saya ingin mereka mengenang Ramadan sebagai bulan yang hangat, bukan bulan penuh tekanan. Namun di sisi lain, ada target akademik yang tidak bisa diabaikan.
TKA bukan ujian kecil. Sumatif tengah semester tetap menentukan nilai. Try out juga tetap perlu dijalani dengan serius. Semua itu membutuhkan fokus, stamina, dan kestabilan emosi. Hal-hal yang justru sedang diuji saat puasa.
Sering kali saya bertanya dalam hati, bagaimana menyeimbangkan keduanya? Lalu bagaimana memastikan anak tetap siap secara akademik tanpa menjadikan Ramadan sekadar bulan penuh tugas dan jadwal?
Lebih jauh lagi, bagaimana memastikan saya sendiri tidak kehabisan energi sebelum pertengahan bulan? Karena jujur saja, ketika ibu lelah dan emosional, suasana rumah cepat berubah.
Mengelola Energi agar Rumah Tetap Tenang

Awalnya saya berpikir semuanya hanya soal mengatur jadwal. Saya hanya perlu membuat timeline belajar anak, menentukan jam murojaah, dan mengatur waktu istirahat. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sesederhana itu.
Anak yang berpuasa cenderung lebih sensitif. Konsentrasi bisa naik turun. Mood lebih mudah berubah. Jika saya ikut terbawa lelah, interaksi kecil bisa berubah menjadi nada tinggi.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa manajemen waktu saat Ramadan sebenarnya adalah manajemen energi. Termasuk di dalamnya adalah fisik, mental, dan emosional.
Saya belajar memilih kapan harus tegas dan kapan harus melunak. Belajar menahan komentar ketika anak mulai terlihat lesu. Juga berusaha tidak memaksakan standar hari biasa di bulan yang ritmenya memang berbeda. Pada akhirnya, menjaga ketenangan rumah jauh lebih penting daripada menyelesaikan semua target dalam satu hari.
Strategi Mengatur Waktu dan Energi Saat Ramadan

Dari proses jatuh-bangun beberapa hari ini, saya mulai menemukan pola yang lebih realistis. Berikut ini yang sekarang sedang saya terapkan
1. Fokus pada Satu Prioritas Utama per Hari
Alih-alih membuat daftar panjang, saya menentukan apakah yang paling utama hari ini. Apakah review materi TKA atau persiapan lomba si kecil. Dengan menentukan satu fokus utama, beban terasa lebih ringan.
2. Belajar di Waktu Energi Terbaik
Untuk anak sulung, materi yang membutuhkan konsentrasi tinggi kami lakukan di pagi hari setelah sahur. Sebab itulah waktu di mana tubuh masih relatif segar. Sore dan malam hari cukup review ringan agar tidak terlalu menguras stamina.
3. Menyederhanakan Hal Lain
Menu berbuka tidak harus rumit. Rumah tidak harus selalu sempurna. Mengurangi beban domestik ternyata sangat membantu menjaga energi.
4. Konsisten Mengaji, Meski Singkat
Untuk mengaji di rumah, saya memilih waktu yang realistis. Tidak perlu lama, tapi rutin. Sedikit namun konsisten jauh lebih baik daripada ambisi besar yang cuma bertahan beberapa hari.
Penutup
Hari-hari memang kadang terasa berat. Ramadan kali ini mengajarkan saya satu hal penting, bahwa kita tidak bisa memaksakan performa diri seperti bulan biasa.
Jika saya memaksakan semuanya sempurna, yang ada justru kelelahan berkepanjangan. Saya pun jadi rentan stres.
Saya mulai belajar menerima bahwa Ramadan memang membuat beberapa hal berjalan lebih lambat. Dan mungkin memang seharusnya begitu. Tidak perlu semua berjalan tergesa dan cepat-cepat.
Tantangan terberat saat puasa bagi saya adalah manajemen waktu dan mengelola energi. Dari situlah saya belajar menyederhanakan hidup dan memilih yang benar-benar penting.
Mungkin Ramadan ini tidak akan terasa sempurna, lantaran tidak semua target tercapai dengan ideal. Namun saya juga memahami, Ramadan bukan tentang menjadi versi paling produktif. Sejatinya, Ramadan adalah tentang belajar sadar batas diri, menjaga energi, dan memilih yang benar-benar penting.
Jika saya tidak bisa melakukan semuanya dengan sempurna, setidaknya saya ingin tetap hadir penuh untuk anak-anak. Karena mungkin, yang paling mereka ingat kelak bukan seberapa banyak target yang tercapai, tetapi bagaimana rasanya Ramadan di rumah.
Tentang TKA, baca juga tulisan ini ya: TKA SD 2026 Tidak Wajib, tapi Anak Kami Tetap Ikuti Prosesnya
Challenge Menulis IIDN