Symforest Puncak dan Sensasi Seru Menonton Tari Nusantara di Tengah Rimba
Menonton Tari Saman, Tari Kecak, hingga tarian Papua di tengah hutan pinus saat malam hari, bagaimana rasanya? Seram atau justru seru? Jawaban saya: sudah pasti seru.
Pengalaman ini saya rasakan di Symforest Puncak, sebuah pertunjukan tari nusantara yang digelar di kawasan Puncak, Bogor. Yup, pagelarannya bukan dihelat di gedung pertunjukan atau ballroom hotel, melainkan di tengah hutan.
Begitu matahari turun dan langit menjadi gelap, hutan pinus yang tadinya tampak biasa saja perlahan menjelma menjadi panggung pertunjukan yang dramatis. Lampu-lampu temaram menyala di antara batang-batang pohon tinggi. Udara Puncak dingin menyentuh kulit, sementara suara alam menjadi latar alami sebelum musik pengiring tarian dimainkan.
Penasaran? Yuk, ikuti pengalaman saya menonton Symforest Puncak.
Harga Tiket Symforest Puncak dan Apa Saja yang Didapat

Untuk menikmati keseruan menyaksikan pagelaran tari di hutan pinus ini, saya harus mengeluarkan Rp99.000 per tiket (belum termasuk pajak). Harga ini sudah merupakan harga promo, karena harga normalnya Rp150.000.
Mengingat saya datang bersama suami dan anak-anak, jadi harus beli empat tiket. Lumayan juga kalau dihitung, tapi demi pengalaman berbeda saat menonton tari nusantara di alam terbuka, rasanya sepadan.
Tiket yang dibeli secara online ini kemudian ditukar dengan gelang tiket saat tiba di lokasi. Gelang inilah yang menjadi akses masuk ke area pertunjukan.
Menariknya, harga tiket tersebut sudah termasuk satu botol kopi susu untuk masing-masing penonton. Cocok sekali diminum di udara dingin Puncak, Bogor, saat malam hari.

Tak hanya itu, pengunjung juga mendapatkan jas hujan sekali pakai. Wajar saja, karena pertunjukan digelar di ruang terbuka. Risiko hujan tentu selalu ada. Jadi, penyelenggara sudah mengantisipasi dengan membekali penonton jas hujan agar tetap bisa menikmati acara tanpa panik jika tiba-tiba gerimis turun.
Menurut saya, detail kecil seperti ini membuat pengalaman menonton terasa lebih nyaman dan terencana.
Akses Menuju Lokasi: Parkir, Angkot, dan Tangga Batu

Mengingat pertunjukan di Symforest Puncak berlangsung malam hari, kami memutuskan untuk sekalian menginap di hotel. Lumayan, bisa jadi staycation singkat bersama keluarga. Hotel kami berada setelah kawasan Puncak Pass, jadi untuk menuju lokasi Symforest kami harus turun kembali mengarah ke Jakarta.
Dari hotel, kami berangkat sekitar pukul 16.30 WIB. Perjalanan memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit.
Menjelang Puncak Pass, kabut mulai turun perlahan. Jalanan yang tadinya jelas terlihat berubah menjadi samar. Lampu kendaraan di depan tampak seperti titik-titik cahaya kecil di balik putihnya udara. Rasanya seperti masuk ke suasana film yang dramatis, tapi tetap menyenangkan.
Akhirnya kami sampai ke Villa Permata Hati, salah satu titik yang jadi lokasi parkir pengunjung Symforest. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan angkot yang sudah disediakan penyelenggara.

Nah, ini bagian yang menurut saya cukup seru. Jalannya kecil dan di beberapa titik berlubang. Kalau harus menyetir sendiri mungkin akan terasa lebih menegangkan. Namun, karena tinggal duduk manis di dalam angkot, justru jadi pengalaman yang menyenangkan.
Sudah lama rasanya tidak naik angkot dengan posisi duduk khas 6-4 dan saling berhadapan. Anak-anak pun tampak menikmati sensasi naik kendaraan yang berbeda dari biasanya.
Perjalanan dengan angkot ini tidak terlalu lama, tapi cukup untuk membuat suasana terasa berbeda. Masyaallah, dari jalanan berkabut, naik angkot, melintasi jalan kecil yang menanjak dan berlubang. Ada prosesnya, ada transisinya.
Setibanya di atas, kami disambut petugas yang ramah dan menanyakan tujuan mau ke resto atau langsung ke area Symforest? Kami memilih langsung menuju arena pertunjukan.
Sebelumnya, kami sudah membeli tiket melalui situs resmi symforest.com. Lalu, kami menukar e-ticket tersebut dengan gelang masuk.
Perjalanan belum selesai. Kami masih harus menaiki tangga batu menuju lokasi utama. Tangga ini cukup membuat napas sedikit terengah, tapi tidak terlalu berat. Justru terasa seperti pemanasan sebelum menikmati pertunjukan.
Begitu sampai di atas, suasananya langsung terasa berbeda. Udara yang lebih dingin berpadu dengan pohon-pohon pinus yang menjulang di sekitar.
Saat itu jam menunjukkan pukul 17.45 WIB, dan pintu menuju panggung masih tertutup. Kami duduk di kursi dekat tenant makanan. Ada yang menjual rice bowl, gorengan, dan camilan lainnya. Karena masih kenyang, kami memilih duduk santai saja sambil menikmati suasana.
Kami juga sempat berbincang ringan dengan founder dan pihak manajemen Symforest. Orang-orangnya ramah dan terbuka. Dalam hati saya sempat berpikir, kalau masih berprofesi sebagai jurnalis, mungkin sudah saya keluarkan kartu nama dan membuat janji wawancara, he-he.
Tak lama kemudian, azan maghrib berkumandang. Kami pun menyempatkan salat di musala yang tersedia. Setelah itu, barulah pintu arena pertunjukan dibuka, dan pengalaman utama pun dimulai.
Keseruan Pertunjukan Tari Nusantara di Symforest Puncak

Area duduk pengunjung berupa kursi batu memanjang yang berundak-undak, seperti amphitheater alami. Tidak ada kursi empuk atau pendingin ruangan. Yang ada hanya udara malam, tanah, pepohonan, dan panggung di depannya.
Kami duduk dan menunggu. Tak lama kemudian, MC naik ke panggung dan mulai mengajak penonton berinteraksi. Suasananya cair. Dia melontarkan beberapa pertanyaan seputar tarian nusantara.
Tiba-tiba, saya ditunjuk untuk menjawab pertanyaan. “Tari saman berasal dari daerah mana?”
“Aceh,” jawab saya mantap.
Benar. Atas “prestasi” tersebut, saya mendapat hadiah berupa boneka cantik bernama Kingba. Rasanya seperti kembali jadi anak sekolah yang berhasil menjawab kuis. Sepele, tapi menyenangkan. Kingba pun resmi ikut menonton pertunjukan malam itu bersama kami.

Pertunjukan dibuka dengan Tari Saman dari Aceh. Gerakannya serempak, ritmis, dan penuh energi. Di bawah langit malam dan hutan pinus, tari itu terasa lebih kuat. Suara tepukan tangan dan lantunan syair menggema, menyatu dengan udara dingin.
Malam itu, total ada sekitar 14-15 tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Tari Saman, Tari Kecak, Tari Mandau, hingga tarian dari Papua. Setiap tarian membawa karakter dan warna berbeda.
Salah satu momen paling menegangkan adalah saat unsur api mulai dimainkan. Seusai Tari Kecak dan dalam tarian dari Papua, para penari beberapa kali menyemburkan bensin ke arah obor, menciptakan kobaran api yang menyala tinggi. Penonton spontan bersorak dan terpana.

Api itu bukan sekadar efek dramatis. Di tengah gelapnya hutan, kobarannya terlihat kontras dan memukau. Cahaya oranye memantul di batang-batang pinus, menciptakan bayangan yang bergerak dinamis.
Hmm, inilah yang membuat pengalaman menonton pertunjukan ini terasa berbeda. Pertunjukan tidak dibatasi oleh dinding. Alam benar-benar menjadi latar sekaligus bagian dari panggung.
Tidak ada layar LED raksasa. Tidak ada pendingin ruangan. Tapi ada angin malam yang menyentuh wajah, suara dedaunan, dan aroma tanah yang lembap.

Menjelang akhir, suasana semakin hangat. Para penari turun dari panggung dan bergabung dengan penonton. Kami diajak berdiri, menari, dan bernyanyi bersama.
Awalnya canggung, tapi lama-lama semua ikut larut. Tidak ada lagi jarak antara penonton dan penampil. Semua menyatu dalam lingkaran yang sama.
Apakah Symforest Puncak Worth It?

Kalau pertanyaannya, apakah Symforest Puncak worth it? Menurut saya, iya.
Terutama buat yang ingin mengenal tarian dari berbagai daerah di Indonesia dalam satu malam. Pertunjukannya berlangsung kurang lebih dua jam, dengan sekitar 14 tarian Nusantara ditampilkan bergantian. Tidak terasa membosankan karena tiap tarian punya karakter, kostum, musik, dan energi yang berbeda.
Buat saya pribadi, pengalaman ini justru memantik rasa ingin tahu yang lebih besar. Setelah menyaksikan Tari Saman dibawakan dengan kompak dan penuh semangat, saya jadi ingin sekali melihatnya langsung di Aceh. Rasanya pasti berbeda menyaksikan tarian itu di tanah asalnya.

Begitu juga saat menyaksikan tarian Dayak dengan kostum khas dan nuansa etnik yang kuat. Saya membayangkan betapa serunya melihat pertunjukan budaya tersebut langsung di Kalimantan.
Belum lagi tarian dari Sulawesi seperti Tari Ningkinda, yang membuat saya penasaran ingin menyaksikannya langsung di Sulawesi. Begitu pula dengan Tari Sajojo yang energik, rasanya pasti akan luar biasa jika bisa menontonnya langsung di Papua.
Mungkin itu salah satu kekuatan Symforest. Ini bukan hanya menyajikan hiburan, tetapi juga membuka pintu rasa ingin tahu tentang kekayaan budaya negeri ini. Dalam satu malam, kita seperti diajak “berkeliling” Nusantara, meski hanya dari kursi batu di tengah hutan pinus.

Tak hanya itu, Symforest juga menyelipkan pesan yang terasa relevan. Di sela-sela pertunjukan, tersirat ajakan untuk menjaga alam sebagai bagian dari keberlanjutan hidup. Bukan sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa budaya dan alam adalah dua hal yang saling terhubung.
Menggelar pertunjukan di tengah rimba sekaligus merupakan simbol bahwa seni bisa hidup berdampingan dengan lingkungan, tanpa harus merusaknya.
Buat saya, itu membuat pengalaman menonton terasa lebih bermakna. Bukan hanya pulang dengan foto dan video, tapi juga dengan perasaan yang hangat dan pikiran yang terus teringat pada satu hal, betapa kayanya negeri ini dan betapa penting merawatnya.
Penutup

Pengalaman menonton pertunjukan tarian Nusantara di Symforest Puncak terasa berbeda dari pertunjukan budaya yang pernah saya tonton sebelumnya. Bukan hanya karena lokasinya di tengah hutan pinus, tetapi juga karena konsepnya yang menyatukan alam, seni, dan interaksi.
Dengan harga tiket Rp99.000, sudah termasuk fasilitas angkot menuju lokasi dan kopi susu gratis. Ditambah lagi pengalaman menyaksikan 14 tarian dari berbagai daerah di Indonesia, menurut saya ini pengalaman yang cukup worth it.
Lebih dari sekadar menonton tari tradisional, malam itu terasa seperti sebuah perjalanan kecil. Dimulai dari naik angkot yang penuh nostalgia, lalu menaiki tangga batu menuju arena. Hingga akhirnya kami duduk di kursi batu berundak, menyaksikan budaya Indonesia tampil megah di bawah langit malam Puncak, Bogor.
Bagi saya, hal-hal itu yang membuatnya berkesan. Bukan hanya pertunjukannya, tetapi keseluruhan perjalanannya.
Kalau Mama sedang merencanakan liburan ke Puncak dan ingin mencoba pengalaman yang berbeda dari sekadar kuliner atau menginap di hotel, mungkin Symforest Puncak bisa masuk dalam bucket list berikutnya. Siapa tahu, setelah menonton, Mama juga jadi ingin berkeliling Indonesia.
Symforest Puncak
Kampung Rimba, Jl. Ciburial Kampung Baru Jeruk, Tugu Utara, Kec. Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16750