Produktif Saat Ramadan Tanpa Burnout, Mungkinkah?

Ramadan sering menjadi momen untuk memperbaiki banyak hal dalam kehidupan. Ini termasuk dalam bekerja dan berkarya. Banyak orang ingin tetap produktif saat Ramadan. Sayangnya, karena kurang menakar kegiatan dan kapasitas diri, malah mengalami kelelahan berlebihan alias burnout.

Padahal menurut saya, produktivitas tidak selalu berarti bekerja lebih keras. Produktivitas yang sehat adalah mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas, ibadah, dan istirahat.

Memang betul, Ramadan adalah bulan mulia karena pahala dilipatgandakan. Namun, bukan berarti harus memaksakan diri melakukan semua hal hingga melupakan batas kemampuan tubuh dan pikiran.

Beribadah dan berkarya memang penting, tetapi menjaga kesehatan fisik dan mental juga bagian dari ikhtiar. Ibadah yang dilakukan dengan kondisi terlalu lelah justru bisa mengurangi kekhusyukan dan fokus dalam menjalankannya.

Produktif Saat Ramadan yang Sehat agar Tidak Burnout

Ilustrasi produktif/ Sumber: Canva

Produktivitas yang sehat saat Ramadan ternyata tidak membutuhkan strategi rumit. Karena hal terpenting adalah memahami kapasitas diri, sehingga tidak memaksakan ritme kerja di luar batas kemampuan.

Burnout biasanya muncul ketika ada tekanan untuk mengerjakan dan menghasilkan banyak hal dalam waktu singkat. Padahal, tubuh dan pikiran manusia memiliki keterbatasan energi. Jika dipaksa terus bergerak, akan mudah lelah dan uring-uringan.

Saya pernah berpikir lebih baik kelelahan karena melakukan kegiatan yang baik, daripada banyak rebahan saat Ramadan. Lalu saya mengikuti berbagai tantangan yang banyak ditawarkan berbagai komunitas di media sosial.

Ada tantangan membaca Al-Qur’an, hafalan, melakukan habit yang baik, membaca buku, menulis, olahraga, dan lainnya. Semua adalah kegiatan baik ingin saya jadikan bagian dari keseharian Ramadan.

Sayangnya, karena terlalu banyak mengambil komitmen, saya justru merasa kewalahan. Kegiatan yang awalnya diniatkan untuk kebaikan perlahan malah menjadi beban karena target yang terlalu padat.

Di titik itulah saya menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup jika tidak disertai pemahaman batas kemampuan diri.

Ikhtiar Sederhana untuk Produktif Saat Ramadan

Ilustrasi muslimah produktif/ Digenerate menggunakan Canva

Pelajaran masa lalu, membuat saya berbenah di Ramadan kali ini. Saya tak ingin kelelahan dan kewalahan karena terlalu banyak komitmen demi menjaga produktivitas yang justru berisiko menguras energi.

Alih-alih mengerjakan banyak kegiatan, saya memilih memprioritaskan hal-hal yang benar-benar sesuai dengan kondisi diri. Saya memang sempat ingin seperti teman-teman yang mengikuti tantangan membaca buku selama Ramadan. Namun, saya menyadari bahwa saya tidak bisa membaca dalam jumlah banyak setiap hari.

Karena itu, saya tetap membaca buku, tetapi dilakukan secara sederhana. Biasanya saya membaca di sela-sela aktivitas memasak atau saat waktu istirahat singkat di rumah. Konsekuensinya, jumlah halaman yang terbaca tidak terlalu banyak. Akan tetapi sebenarnya itu nggak apa-apa banget. Yang terpenting, saya sudah menyempatkan membaca buku meski sedikit.

Pun dalam membaca Al-Qur’an, ada yang menargetkan one day one juz. Saya juga ingin sekali bisa seperti itu. Namun, dalam kondisi saya saat ini, target tersebut belum terlalu realistis untuk dijalankan setiap hari.

Karena itu, saya memilih cara yang lebih sederhana untuk tetap produktif membaca Al-Qur’an selama Ramadan. Saya berusaha membacanya setiap selesai salat apa pun. Target kecil yang saya usahakan adalah minimal sekitar 25 ayat setiap kali membaca. Akan tetapi jika suatu hari tidak memungkinkan, saya tidak memaksakan diri.

Sebagai penulis, saya masih menerima pekerjaan menulis dan menjaga kebiasaan menulis blog. Salah satu cara yang saya lakukan adalah mengikuti challenge menulis ringan agar konsistensi tetap terjaga, tanpa merasa terbebani target yang terlalu tinggi.

Penutup

Di rumah, tidak ada asisten rumah tangga (ART) yang bisa membantu menyelesaikan pekerjaan harian. Artinya, hampir semua urusan rumah, dari memasak, membereskan rumah, hingga menyiapkan kebutuhan anak, sebagian besar perlu saya tangani sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, rasanya tidak realistis jika saya memaksakan diri mengikuti terlalu banyak target. Jika ini saya pilih, bisa-bisa malah burnout dan uring-uringan.

Energi yang ada harus dibagi dengan bijak. Ada waktu untuk membersihkan rumah, memasak, mendampingi anak belajar, dan ada waktu yang bisa saya sisihkan untuk menulis.

Produktif bagi saya adalah tetap bergerak tanpa kehilangan kewarasan dan kesehatan. Mungkin nggak ikut banyak challenge untuk melecut diri. Mungkin juga gagal menyelesaikan challenge yang terlanjur diikuti.

Namun, bukankah hidup ini bukan perlombaan untuk menjadi si paling bisa melakukan banyak hal atau si paling cepat? Karena pada akhirnya, produktivitas bukan tentang validasi luar. Lebih dari itu, produktivitas adalah tentang kesadaran memilih prioritas dan keberanian menerima keterbatasan diri.

Bagi seorang ibu, menyelesaikan hal-hal dasar seperti memasak makanan sederhana, membereskan rumah, dan menemani anak belajar juga bentuk produktivitas. Tidak perlu menjadi sophisticated atau menjadikan orang lain sebagai benchmark, jika pada akhirnya bikin burnout.

Pelan tidak apa-apa, yang penting tetap berjalan dan tetap waras. Jika bisa produktif tanpa burnout, mengapa harus memilih lelah yang berlebihan?

Challenge Menulis IIDN

Leave A Reply

Your email address will not be published.


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.