Menu Favorit yang Jarang Hadir, tapi Selalu Ditunggu Saat Buka Puasa
“Apa menu favorit keluarga saat buka puasa?” Jika mendapati pertanyaan itu, kening saya pasti mengernyit. Jujur, bingung menentukan mana yang benar-benar jadi favorit.
Kalau mendengar “menu favorit”, kerap kita kira yang paling sering ada di rumah. Padahal di rumah kami, justru yang jarang muncul di meja itulah yang paling ditunggu saat azan magrib berkumandang.
Yup, setiap anggota keluarga punya pilihan menu favorit buka puasanya masing-masing. Tidak pernah sama, tapi di situlah serunya.
Kolak Pisang, si Manis yang Selalu Dirindukan

“Air kelapa sama kolak pisang.” Jawaban itu terlontar dari si bungsu ketika ditanya apa menu favoritnya untuk berbuka puasa.
Mungkin baginya, kolak bukan sekadar makanan manis. Makanan tersebut seperti simbol Ramadan itu sendiri. Pasalnya di pinggir jalan banyak penjual yang menjajakan kolak pisang.
Sebenarnya, saya membuat kolak pisang tidak hanya saat Ramadan. Di hari biasa pun saya akan memasaknya jika memang ada bahan.
Bahkan sering kali kolak pisang justru lahir dari misi penyelamatan. Iya, misi menyelamatkan pisang yang mulai terlalu matang dan nyaris busuk. Daripada terbuang, lebih baik dimasak.
Pisang apa pun bisa jadi kolak, he-he. Pisang kepok, pisang raja, bahkan pisang ambon yang tampilannya sudah kurang cantik. Dipotong-potong, direbus bersama gula merah, daun pandan, dan santan, lalu jadilah semangkuk kolak manis.
Si bungsu suka sekali kolak pisang dingin. Jadilah setelah selesai memasaknya, saya masukkan sepanci kolak ke dalam kulkas.
Kolak mungkin bisa dibuat kapan saja. Namun, ketika kolak hadir sebagai menu berbuka puasa, ada hal lain yang ikut menyertainya. Ada rasa syukur karena berhasil menuntaskan puasa hari itu.
Pisang Goreng dan Aromanya yang Menggoda

Anak sulung punya pilihan berbeda terkait menu favorit untuk buka puasa. Pilihannya lebih sederhana. Pisang goreng hangat sudah cukup membuatnya merasa hari itu istimewa.
Saya sebenarnya tidak sering membuat gorengan selama Ramadan. Selain ingin menjaga pola makan, saya juga berusaha agar menu takjil Ramadan di rumah tetap seimbang.
Jadilah ketika sore hari dapur dipenuhi aroma pisang goreng yang baru diangkat dari wajan, si sulung akan mondar-mandir di sana. “Wah, nggak sabar mau buka puasa. Boleh nanti ambil yang banyak?” ucapnya sambil melirik piring berisi pisang goreng.
“Ambillah, Nak. Mama ‘kan tahu kamu suka pisang goreng, jadi bikin banyak deh,” jawab saya.
Padahal pisang goreng itu sederhana ya. Tidak mahal dan tidak pula mewah. Akan tetapi karena tidak selalu ada, pisang goreng menjadi makanan favorit buka puasa yang terasa istimewa.
Pastel, Takjil Favorit yang Selalu Dinanti

Suami saya mungkin tidak banyak berkomentar soal makanan. Namun, setiap kali saya memesan pastel dari seorang teman, dia selalu mengambil lebih dulu. Seolah takut kehabisan.
Teman saya tidak selalu membuat pastel. Jadi saya harus sabar ikut PO. Pastel bikinan teman saya ini memang istimewa. Ukurannya besar, kulitnya tipis dan renyah, sedangkan isinya berlimpah. Kentang, wortel, dan telur berpadu dengan rasa gurih yang pas, ditambah sedikit sentuhan lada yang membuatnya hangat di lidah.
Pastel mungkin makanan yang sederhana. Namun, di rumah kami, pastel merupakan takjil favorit yang selalu dinanti.
Tumis Buncis Bawang Putih dan Telur Kecap, Menu Makan Berat yang Tak Pernah Gagal

Kalau berbicara tentang menu berbuka puasa favorit keluarga, rasanya tidak lengkap tanpa menyebut menu makan beratnya. Alhamdulillah, favorit kami adalah hidangan yang simpel. Salah satu yang paling sering diminta adalah buncis bawang putih dengan lauk telur kecap.
Bikin masakan ini tidak butuh waktu lama. Buncis direbus sebentar, lalu ditiriskan. Selanjutnya, goreng bawang putih cincang sampai kecokelatan, kemudian sisihkan.
Selanjutnya, tumis bawang putih cincang sampai harum dan kecokelatan. Setelah itu, masukkan air, kaldu ayam bubuk, saus tiram, minyak wijen, dan gula pasir. Baru deh masukkan buncis, aduk hingga rata. Sebentar saja masaknya, setelahnya taburi dengan bawang putih.
Warna buncisnya tetap hijau segar, dan teksturnya renyah. Aroma bawang putih yang menguar dari wajan sudah pasti membuat seisi rumah bersemangat bersantap saat buka puasa.

Lauk pendampingnya pun tak kalah simpel membuatnya: telur kecap. Telur yang digoreng atau diceplok, lalu dimasak kembali dengan kecap manis, bawang merah, bawang putih, dan sedikit air hingga bumbunya meresap. Rasanya manis gurih, dengan kuah yang tipis.
Penutup
Saya bukan sosok yang jago masak. Namun, ketika beberapa hasil masakan saya jadi favorit keluarga, rasanya seperti menjadi pemenang Master Chef.
Padahal yang saya masak bukan hidangan rumit dengan teknik memasak tingkat tinggi. Hanya kolak sederhana, pisang goreng hangat, serta tumis buncis bawang putih dengan telur kecap yang praktis.
Namun, saat melihat anak-anak dan suami makan dengan lahap, rasanya happy sekali. Merasa dihargai, kendati kemampuan memasak saya pas-pasan.
Ternyata semua yang membuat kami duduk bersama, makan dengan tenang, dan merasa cukup adalah menu favorit buka puasa keluarga.