Menunggu Pesona Golden Sunrise di Silancur Highland, Magelang
Bertemu dengan matahari terbit berwarna keemasan di antara pegunungan ibarat mendapat harta karun. Berbekal harapan melihat golden sunrise, kami pun menginap di kawasan Silancur Highland, Magelang, Jawa Tengah.
Gerimis menyambut ketika saya dan keluarga tiba di penginapan Silancur Highland. Brr! Hawa dingin menyergap begitu saya keluar dari mobil untuk check in dan menuju kamar yang telah dipesan.
Ada beberapa tipe kamar yang ditawarkan. Kami memilih tipe motel yang bisa digunakan oleh empat orang. Kondisi kamar akan saya ulas juga di tulisan ini, jadi jangan ke mana-mana yaaaa.
Buka Pintu Kamar di Silancur, Langsung Disambut Matahari Terbit

Saya terbangun sesaat setelah azan subuh berkumandang. Mengintip ke luar dari balik gorden jendela, suasana masih gelap. Namun, sejurus dari mata memandang, sudah mulai terlihat sedikit warna keemasan di langit.
Setelah menjalankan ibadah salat subuh, saya buka pintu kamar. Dingin sekali, tapi saya enggan mengenakan jaket. Saya berdiri cukup lama di teras kamar. Di hadapan saya terhampar kebun cabai yang tanamannya berbuah lebat.
Tak lama, suami menghampiri. Bibir kami tak henti mengucap “Masyaallah” ketika warna oranye keemasan di ufuk timur semakin bertambah besar. Cahaya mentari itu seolah berusaha sekuat tenaga menyingkirkan kabut yang pagi itu cukup tebal.
Kami lantas meninggalkan kamar menuju spot wisata Silancur Highland. Jadi di kawasan Silancur tersebut, ada tempat wisata Silancur Highland, penginapan, dan camping ground.

Untuk masuk ke Silancur Highland, ada tiketnya. Rp15 ribu untuk dewasa, dan Rp5 ribu untuk anak-anak. Namun, karena kami menginap di Silancur, maka tidak perlu membeli tiket.
Kami menaiki anak tangga sampai ke bagian paling atas. Saat itu, tidak ada pengunjung lainnya. Namun, tidak lama, satu demi satu pengunjung memilih tempat masing-masing untuk mengabadikan golden sunrise yang terasa megah.
Sayangnya, golden sunrise ini tidak terlalu lama memanjakan mata. Pasalnya kabut berangsur turun kembali. Deretan Merapi dan Merbabu yang mulanya tampak jelas, berganti dengan selimut putih.
Menatap Gunung Sumbing yang Megah dari Silancur Highland

Kabut menghalangi pandangan menatap Merapi dan Merbabu. Saya dan suami pun berbalik badan. Masyaallah, Gunung Sumbing menampakkan dirinya dengan sangat jelas. Besar, gagah, megah.
Tidak ada kabut yang menghalangi pandangan. Di kaki gunung terlihat sawah, kebun, dan rumah-rumah penduduk. Rasanya tenang, adem, dan lepas semua penat.
Saya dan suami pun bergegas mengabadikan foto berdua. Alhamdulillah tidak lupa membawa tripod, jadi kami bisa leluasa berfoto berdua layaknya remaja yang tengah kasmaran. Hanya saja, ini adalah remaja jompo ha-ha-ha.
Menurut pengamatan saya, Gunung Sumbing ini relatif jelas dilihat di segala suasana. Pagi, siang, malam, tetap terlihat. Hanya saja beda waktu, beda pula vibes-nya.
O, ya, di silancur juga ada bunga warna-warni. Jalan-jalan di sana, seketika diri ini merasa sedang menjadi seorang dewi yang bersantai di taman kayangan. Astaghfirullah, halu sekali remaja jompo ini…
Pokoknya di Silancur Highland banyak banget sudut-sudut yang Instagramable. Hanya dari satu tempat saja, kita bisa punya banyak stok foto untuk menghiasi media sosial.
Begini Rasanya Menginap di Silancur

Oke, ayo kita kembali ke penginapan. Kami menempati motel nomor 1. Kamarnya cukup besar, di dalamnya terdapat queen bed ukuran 200 x 200 cm. Terdapat sofa pula, sehingga bisa dijadikan tambahan tempat tidur.
Di sebelah sofa terdapat tiang gantungan. Bisa dipakai untuk menggantung jaket atau pakaian.
Kamar mandinya juga besar. Dilengkapi air hangat, serta terdapat perlengkapan mandi seperti sabun, sikat, dan pasta gigi. Dua helai handuk mandi juga disiapkan, sehingga nggak perlu repot-repot mengeluarkan bekal handuk dari tas.
Ada pula teko elektrik, teh, kopi, gula, dan air mineral sebanyak dua botol. Kami memanfaatkan teko ini untuk menyeduh mi sagu yang dibawa dari Jakarta.
O, ya, Wifi juga cukup kuat. Cukup membantu saya saat harus menulis dan mengirimkan tulisan melalui e-mail.
Jangan berharap ada televisi di kamar ya. Di sini, kita memang “harus” melihat dan menikmati alam. Jadi, apa itu televisi?

Kamar juga tidak dilengkapi dengan AC atau pun kipas angin. Namun, nggak pakai AC saja sudah sedingin itu. Di malam dan pagi hari, anak-anak saya berselimut melulu. Saat matahari agak tinggi, mereka baru mau keluar untuk jalan-jalan.
Berapa harga sewa motelnya? Rp500.000 per malam. Kami memesannya langsung di situsnya. Silakan cek penginapan Silancur kalau ingin memesan kamar untuk liburan.
Menginap di Silancur cukup nyaman karena tempat parkirnya luas. Selain itu, kita nggak perlu berjalan jauh dari parkiran ke penginapan.
Baca juga pengalaman berlibur di daerah yang dingin lainnya: Wisata ke Dieng yang Bisa Dilakukan dalam Sehari
Penutup

Menginap di Silancur, serta menyaksikan golden sunrise dan keindahan alam dari Silancur Highland adalah hal baik yang sangat disyukuri. Masyaallah, Allah membentangkan Bumi dengan sangat luar biasa.
Ketika pagi menjelang dan saya berjalan-jalan di sekitar penginapan, bisa melihat langsung hasil kebun yang ditanam petani. Ada cabai, sawi, dan brokoli. Rasanya tenang sekali melihat bahan makanan yang tumbuh subur di sana.
Semoga suatu saat nanti, Allah beri kesempatan lagi untuk datang dan menikmati keindahan ciptaan-Nya di Silancur lagi. Kalau Mama dan keluarga apakah tipe yang suka berlibur di dataran tinggi?