Kenangan Ramadan Masa Kecil: Lantunan Imsak hingga Siluman Aul yang Bikin Deg-Degan

Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk menarik saya kembali ke masa kecil. Bukan lewat foto lama, tapi lewat rasa. Maklum, saya tidak punya dokumentasi visual tentang kenangan Ramadan di masa kecil. Tidak ada potret sahur bersama, juga tidak ada foto tarawih bersama teman-teman.

Namun, ingatan itu tetap hidup. Selalu ada hal-hal yang membuat saya terkenang masa kecil yang indah. Sebuah masa yang terasa aman karena ayah dan ibu masih membersamai. Sebuah era ketika tanggung jawab belum sebesar sekarang. Ya, ketika pikiran belum dipenuhi daftar kebutuhan rumah tangga, pekerjaan, dan masa depan anak-anak.

Tanda Imsak Berupa Lantunan yang Menggetarkan Hati

Ilustrasi makan sahur/ Sumber: Canva

Di daerah tempat saya tumbuh, tanda imsak bukanlah sirene yang nyaring. Saat itu, yang kami dengar adalah lantunan imsak dari masjid atau radio. Suaranya mengalun tenang.

Ah, tiba-tiba teringat saya kecil yang berjibaku menghabiskan makanan sahur di piring. Ketika imsak berkumandang, rasanya nasi terasa sangat banyak. “Ayo, sedikit lagi habis,” begitu kata ibu menyemangati.

Sekarang, setiap kali mendengar lantunan serupa, hati saya seperti dipeluk kenangan. Hangat, tenang, sekaligus rindu.

Rasa ini belum lama saya rasakan. Beberapa waktu lalu, seseorang membagikan lantunan imsak di media sosial. Rindu itu menggeliat pelan, lalu auranya seperti membanjiri seluruh tubuh. Saya diam beberapa detik. Mendengarkan. Membiarkan suara itu membawa saya pulang ke masa kecil.

Lantunan itu seperti membuka pintu yang lama tertutup. Lalu, saya pulang ke rumah yang lampunya masih temaram saat sahur. Saya hadir lagi ke dapur dengan aroma nasi hangat yang mengepul.

Lalu, suasana sahur masa kecil itu terpampang. Seperti sedang menyaksikan potongan film, di mana saya sendiri adalah salah satu pemerannya. Ada ibu yang sibuk memasak. Ada ayah yang duduk di kursi makan sambil menyeduh minuman hangat.

Lauknya sederhana. Meja makannya juga biasa saja. Namun, suasananya utuh, hangat, dan nyaman.

Kenangan Ramadan Masa Kecil: Jalan-jalan Pagi Seusai Salat Subuh

Ilustrasi jalan pagi ke pantai/ Sumber: Canva

Tidak ada layar yang menyita perhatian sejak bangun tidur. Tidak ada notifikasi yang membuat kami sibuk menunduk. Maka itu, berjalan-jalan pagi menuju pantai seusai salat Subuh menjadi kegiatan yang paling populer dan terasa begitu istimewa.

Rasanya masih ingat benar bagaimana suasananya. Langit masih berwarna lembut, campuran biru pucat dan semburat jingga yang malu-malu. Udara pagi menyentuh kulit dengan dingin yang segar.

Jalanan benar-benar dipenuhi banyak orang yang ingin ke pantai. Banyak dari mereka yang masih membawa mukena atau sarung.

Seru sekali kalau berpapasan dengan teman-teman sekolah. Rasanya seperti menemukan “geng” kecil tanpa janjian. Kami saling memanggil, lalu berjalan bersama, kadang berlomba siapa yang lebih dulu sampai pantai.

Sesampainya di pantai, kami berdiri memandangi ombak yang datang bergulung-gulung. Kadang kami membuat istana pasir disertai celoteh dari bibir mungil yang penuh semangat.

Kami mengambil segenggam pasir basah, meletakkannya sedemikian rupa sehingga membentuk dinding atau menara tinggi. Eh, tak lama bangunan itu tersapu ombak. Kesal sih, tapi justru termotivasi untuk bikin yang baru.

Ada juga momen ketika kami terlalu asyik bermain hingga ombak tiba-tiba datang. Airnya membasahi kaki, lalu celana, bahkan baju. Kami menjerit kegirangan, bukan karena takut, tapi karena merasa petualangan itu begitu seru.

Saya juga masih ingat perasaan seru yang menggebu ketika ombak datang. Saat air menyentuh kaki, dinginnya membuat kami spontan berteriak. Lalu ketika ombak surut, ada sensasi aneh yang selalu membuat saya takjub. Rasanya pasir yang kami pijak berjalan sendiri.

Butiran pasir itu seperti terseret pelan dari bawah telapak kaki. Halus, bergeser, membuat tubuh sedikit oleng. Saya sering menunduk, memastikan apakah benar tanahnya bergerak atau hanya perasaan saya saja. Seolah-olah laut sedang menarik sesuatu dari bawah kami, lalu mengembalikannya lagi.

Hmm, masa kecil memang dipenuhi keajaiban-keajaiban kecil dan hal-hal seru. Sekarang, apakah anak saya merasakannya juga ya? Atau mereka baru akan menyadari hangatnya kenangan Ramadan masa kecil saat dewasa kelak?

Cerita Siluman Aul dan Ketakutan yang Terasa Nyata di Waktu Sahur

Ilustrasi monster/ Sumber: Canva

Namanya juga anak-anak. Ramadan tak lengkap tanpa cerita-cerita misteri yang beredar di kampung. Salah satu yang paling terkenal waktu itu adalah tentang aul. Konon itu adalah siluman berbadan anjing dan berkepala manusia.

Setiap kali mendengar ceritanya, mata saya membesar dan jantung berdebar. Katanya, kalau dikejar aul, harus lari zigzag supaya tidak tertangkap. Entah siapa yang pertama kali menciptakan cerita itu, tapi sukses membuat anak-anak takut keluar rumah sendirian saat gelap.

Saya sendiri pernah benar-benar ketakutan. Suatu ketika saat sahur, saya membuka pintu belakang rumah. Tahu tidak ada siapa di sana? Seekor anjing besar duduk tak jauh dari pintu. Mata kami bersirobok. Saya dan anjing sama-sama terkejut.

Saya spontan berteriak, “Ada auuul!” sambil menutup pintu keras-keras. Jantung rasanya mau copot. Seisi rumah langsung menghampiri. Ketika ayah membuka pintu, anjing itu sudah tidak ada.

Semua itu masih terekam jelas. Padahal kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu. Kini kalau mengingatnya, saya justru tertawa sendiri. Ah, ternyata saya bisa seketakutan itu hanya karena cerita yang tak jelas asal-muasalnya.

Meski rasa takut itu dulu benar-benar membuat jantung berdebar, tetap saja ada manis-manisnya yang membekas. Ada momen ketika seluruh anggota keluarga berkumpul karena teriakan panik saya. Juga ada ayah yang dengan tenang membuka pintu untuk memastikan keadaan aman. Lalu, rasa lega yang datang setelahnya pun masih terekam jelas.

Buku Ramadan yang Legendaris

Ilustrasi kegiatan Ramadan/ Sumber: Canva

Bagi yang besar di era 90-an tentu tidak asing dengan buku kegiatan Ramadan. Buku tipis dengan kolom-kolom yang harus diisi setiap hari: puasa, salat lima waktu, tarawih, tadarus, kadang juga ceramah singkat yang harus dirangkum.

Kalau tidak salah, buku ini dibagikan untuk anak-anak kelas 4 SD ke atas. Maka itu, ketika masih kelas bawah, saya iri sekali melihat kesibukan sepupu saya dalam mengisi buku tersebut. Hmm, mungkin sejak kecil saya memang tipe anak yang senang sibuk dan diberi tugas oleh sekolah. Ada rasa bangga tersendiri ketika dipercaya memegang tanggung jawab.

Ketika akhirnya saya memiliki buku tersebut, rasanya luar biasa. Saya mengisinya dengan sungguh-sungguh. Mencatat dengan rapi. Berusaha agar tidak ada kolom kosong. Bahkan ada kebanggaan kecil ketika berhasil puasa penuh dan bisa memberi tanda centang.

Bagian paling berkesan tentu saja berburu tanda tangan imam tarawih. Kami harus menunggu dan mengantre bersama teman-teman yang membawa buku serupa. Imam terlihat lelah, tapi tetap tersenyum menandatangani satu per satu. Ada perasaan resmi dan sah setelah tanda tangan itu tertera di halaman buku Ramadan kami.

Penutup

Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan tahun ini. Momen di mana saya bisa sesekali pulang ke masa kecil. Bagaimana pun, kehangatan kenangan Ramadan Masa Kecil akan selalu dirindukan.

Ramadan sekaligus juga peluang untuk melipatgandakan pahala. Mungkin inilah yang membuat Ramadan selalu istimewa. Bukan sekadar bulan suci penuh berkah, tetapi juga bulan perenungan. Bulan yang mengingatkan kita pada siapa diri kita dulu, dan ingin menjadi siapa kita nanti.

Semoga Ramadan tahun ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan. Semoga Ramdan benar-benar meninggalkan jejak di hati saya, di hati anak-anak saya, dan dalam langkah kecil kami menuju pribadi yang lebih baik.

Leave A Reply

Your email address will not be published.


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.