Kenalan dengan Jun’s Corner, UMKM Roti Sourdough Rumahan dari Dapur Keluarga
Ada masa ketika dapur bukan hanya tempat memasak, tapi juga ruang untuk merajut harapan. Itulah yang terbayang di benak saya saat mendengar kisah Junita yang meracik adonan roti di dapur rumahnya dan membangun UMKM Jun’s Corner.
Junita memang gemar membuat roti dan kue. Sederhana saja alasannya: ia ingin anak-anaknya mengonsumsi makanan yang lebih sehat. Dengan membuat panganan sendiri, kualitas bahan dan prosesnya bisa lebih terkontrol.
Mulanya, dapur rumah Junita sering dipenuhi aroma manis brownies kukus. Tak hanya dikonsumsi keluarga, kue buatannya pun mulai ia titipkan di beberapa tempat. Namanya juga berjualan, kadang laku, kadang masih tersisa. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Junita untuk terus mencoba.
Tak hanya brownies kukus, ia juga kerap membuat cake. Sayangnya, modal usaha yang terbatas membuatnya belum bisa produksi bebas. Akhirnya, Junita memilih membuka sistem pre-order agar lebih aman dari sisi modal.
Lalu, bagaimana akhirnya dapur kecil ini melahirkan nama Jun’s Corner? Ceritanya berliku, sekaligus penuh pelajaran tentang bertahan. Ini dia, kisah Jun’s Corner, UMKM roti sourdough rumahan.
Produksi Mukena Sebelum Banting Setir Usaha dari Dapur

Sebelum pandemi COVID-19, kehidupan keluarga Junita berjalan relatif stabil. Sang suami beternak domba. Sementara Junita, tipikal perempuan yang sulit diam, menekuni usaha produksi mukena.
Sayangnya, usaha tersebut harus berhenti karena keterbatasan akses bahan baku. Junita pun mencoba peruntungan lain di dunia kuliner, dengan membuat kue dan cake dari dapur rumah.
Ujian kehidupan belum berhenti. Suatu ketika, kesehatan sang suami menurun drastis akibat stroke. Dia tidak lagi leluasa bergerak dan harus berhenti turun ke kandang untuk sementara waktu.
Di titik itulah, usaha kecil membuat kue menjadi penopang ekonomi keluarga. Dari aktivitas yang semula sekadar mengisi waktu, dapur berubah menjadi ruang bertahan. Semakin menekuni dunia perkuean, Junita mulai tertarik menekuni roti secara lebih serius.
“Kalau cake itu musiman. Tapi roti bisa dimakan setiap hari,” cerita Junita saat saya temui dalam bazar yang digelar Yayasan Diffable Action Indonesia (YDAI).
Roti Sourdough Rumahan dan Kelahiran Jun’s Corner

Junita melihat roti setiap hari dicari orang. Beda halnya dengan cake yang dipesan di momen-momen tertentu saja. Dari situlah Junita mulai melihat peluang kecil yang bisa dirawat pelan-pelan.
Junita juga memiliki ketertarikan pada fermentasi. Apalagi dia terbiasa membuat eco-enzyme, jadi proses menunggu dan merawat fermentasi bukan hal asing. Minat ini menjadi pintu masuk menuju dunia roti sourdough. Dari coba-coba di dapur, lahirlah roti dengan rasa yang lebih kompleks dan tekstur yang memuaskan.
Tahun 2023 menjadi fase penting. Usahanya mulai berjalan lebih serius meski belum memiliki nama. Ketika suaminya mengalami stroke, hidup memaksa mereka belajar menata ulang banyak hal.
Di tengah masa sulit itu, Junita bertemu YDAI yang membantu menguatkan langkahnya. Tahun 2024, lahirlah nama Jun’s Corner. Sebuah sudut kecil di rumah yang penuh makna untuk membangun UMKM roti sourdough rumahan.
Produk Unggulan Jun’s Corner

Kini, Jun’s Corner dikenal lewat roti sourdough rumahan, termasuk varian cinnamon roll berbasis sourdough. Produk ini belum banyak dijumpai di UMKM sekitar tempat tinggal Junita, sehingga memiliki keunikan tersendiri.
Untuk mendalami teknik sourdough, Junita belajar secara otodidak melalui YouTube. Dia tak lelah mencoba. Ketika gagal, dia bangkit untuk mencoba lagi hingga menemukan karakter rasa yang pas.
Melihat proses membuat sourdough rasanya seperti melihat kehidupan itu sendiri. Setiap roti membawa karakter fermentasi alami. Tidak tergesa, tidak instan, dan penuh tahapan. Semua butuh waktu, kesabaran, dan ketekunan.
Produksi Rumahan dan Tantangannya

Seluruh proses produksi pembuatan roti sourdough masih dikerjakan sendiri. Peralatan Jun’s Corner juga masih sederhana. Khas dapur rumahan.
Ketika pesanan ramai, waktu produksi otomatis jadi lebih panjang. Namun, Junita tidak ingin memaksa tubuh dan pikirannya bekerja melampaui batas.
Kalau sedang sepi pesanan, dia memilih beristirahat tanpa rasa bersalah. Baginya, usaha bukan tentang berlari tanpa henti, melainkan menjaga keberlanjutan. Ia tidak mengejar angka besar. Konsistensi kecil, pelanggan yang kembali, dan dapur yang tetap hangat justru menjadi ukuran keberhasilannya.
Penutup
Hidup memang serupa roda. Setiap putarannya terdapat ujian dan hikmah. Kini, alhamdulillah kesehatan sang suami mulai pulih. Dia bisa kembali ke kandang untuk mengurus domba-dombanya.
Sedangkan Junita tetap setia merawat dapurnya. Menguleni adonan, menunggu fermentasi bekerja, dan menanam harapan kecil dari setiap loyang roti yang keluar dari oven.
Dari sudut rumah yang sederhana, Jun’s Corner tumbuh tak hanya sebagai UMKM roti sourdough rumahan. Lebih dari itu, Jun’s Corner juga merupakan simbol keteguhan, kesabaran, dan cinta seorang ibu dalam menjaga kehidupan keluarganya tetap berjalan.
Simak juga kisah UMKM inspiratif Cerita Tangguh Seorang Ibu di Balik Perhiasan Kawat Tembaga Handmade Aitha Collection.