In This Economy, Nggak Perlu Baper Soal Angpau dan Hampers Lebaran

Seorang teman bercerita, uang Rp100.000 seperti nggak ada artinya ketika dibawa ke pasar. Kenapa? Katanya, baru beli beberapa kebutuhan pokok saja, uangnya sudah hampir habis. Padahal dulu nominal yang sama masih bisa membawa pulang lebih banyak belanjaan. In this economy, kayanya banyak realita yang selalu bikin kita menarik napas panjang.

Bagaimana dengan saya? Kurang lebih sama, meski saya tidak terlalu sering pergi ke pasar tradisional. Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak hanya terasa di sana. Di supermarket, minimarket, warung-warung, bahkan di aplikasi belanja online, harga barang berubah pelan-pelan secara konsisten.

Bukan naik drastis dalam semalam, tapi cukup untuk membuat saya berhenti sejenak sebelum berbelanja. Yang dulu bisa beli lima, sekarang mungkin hanya tiga. Yang dulu terasa ringan, sekarang mulai dipikirkan ulang.

Saya jadi lebih sering membaca label harga. Juga lebih rajin membandingkan merek. Terutama sekali, lebih berhitung sebelum checkout saat belanja online. Bukan karena ingin hemat berlebihan, tapi karena harus realistis di tengah ekonomi sulit jelang Lebaran.

Fiuh! In this economy, memang harus mengencangkan ikat pinggang dan memperluas sabar. Gimana nggak? Ada kepala keluarga yang mengalami pemotongan gaji, ada yang pindah kerja dengan penghasilan lebih kecil, dan ada yang tetap bertahan sambil memperketat anggaran rumah tangga.

Lalu datang Ramadan, disusul Lebaran. Sebagai ibu dengan dua anak yang tahun ini dua-duanya masuk sekolah baru, saya merasakan betul bagaimana biaya sekolah anak langsung memengaruhi pengelolaan keuangan keluarga.

Uang pangkal, seragam, buku, kegiatan tambahan, semuanya membutuhkan persiapan matang. Di waktu yang hampir bersamaan, pengeluaran Ramadan hingga Lebaran juga meningkat.

Mudik Itu Perjuangan, Bukan Sekadar Perjalanan

Ilustrasi mudik Lebaran/ Sumber: Canva

Mudik jadi tradisi ketika Lebaran menjelang. Tentu, ini bukan hal sederhana. Coba tengok tiket transportasi. Duh! Banyak yang ngelus dada masing-masing, gara-gara naik signifikan menjelang Lebaran.

Belum lagi biaya oleh-oleh, bensin jika menggunakan kendaraan pribadi, tol, makan di perjalanan, hingga pengeluaran tak terduga. Bagaimana pun, pulang kampung adalah perjuangan.

Mudik itu butuh tenaga, waktu, dan sekali lagi, dana yang tidak sedikit. Semua dilakukan demi silaturahmi, bertemu orang tua, saudara, dan keluarga besar.

Karena itu, rasanya wajar jika kita berharap ada pengertian. Semoga tidak ada tekanan tambahan berupa “penodongan halus” untuk memberi ke si A, si B, si C hingga Z dengan nominal yang sudah ditentukan. Seolah-olah ada standar wajib yang harus dipenuhi.

In this economy, setiap keluarga punya kapasitas berbeda. Mengatur angpau Lebaran atau berbagi rezeki seharusnya lahir dari kerelaan, bukan dari tuntutan sosial.

Yuk, baca juga tulisan ini: Cerita Mudik Lebaran 2022, Pertama Kali si Kecil Naik Pesawat

Mindful Spending di Tengah Tekanan Sosial

ekonomi sulit jelang Lebaran
Menghitung pengeluaran Lebaran/ Sumber: Canva

Kondisi ekonomi sulit jelang Lebaran membuat kita harus lebih bijak dalam mengatur keuangan keluarga. Mindful spending menjadi kunci. Bukan berarti pelit, tetapi sadar akan prioritas.

Kebutuhan utama harus didahulukan. Dana darurat tetap dijaga dan biaya sekolah anak tidak bisa diabaikan. Begitu juga kewajiban seperti zakat dan THR.

Di tengah semua itu, wajar jika ada penyesuaian pada pos lain. Termasuk soal hampers Lebaran dan isi amplop.

Sering kali tekanan bukan datang dari kebutuhan, melainkan dari ekspektasi sosial. Seolah-olah setiap tahun angpau dan hampers yang diberi harus lebih besar dari sebelumnya. Harus terlihat stabil dan tetap royal.

Padahal kenyataannya, biaya hidup naik tidak selalu diikuti kenaikan penghasilan. Jadi kalau kita menurunkan nominal dalam memberi, itu bukan berarti menurunkan kepedulian. In this economy, menyederhanakan tradisi bukan berarti menghilangkan makna.

Tidak Perlu Merasa Bersalah Saat Tidak Memberi Banyak

Ilustrasi angpau Lebaran/ Sumber: generate dari Canva

Salah satu hal yang pelan-pelan saya pelajari adalah berhenti merasa bersalah saat harus menyesuaikan kemampuan dalam memberi. Jika tahun ini angpau Lebaran tidak sebesar tahun lalu, itu bukan kemunduran. Itu keputusan finansial yang realistis. 

Jika tidak bisa memberi ke semua orang dengan jumlah yang sama seperti sebelumnya, itu bukan kegagalan. Yang penting adalah tetap menjaga niat baik dan silaturahmi.

Oke, itu tadi POV pemberi. Sekarang kita gunakan POV penerima angpau dan hampers. Sebagai penerima, kita juga belajar untuk tidak membandingkan. Tidak semua orang berada dalam situasi yang sama. Bisa jadi yang memberi sedikit sedang menanggung cicilan, ada biaya pendidikan yang harus diupayakan lebih, atau kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Empati menjadi sangat penting di tengah tekanan ekonomi seperti sekarang.

Mengajarkan Anak tentang Syukur

Memberi penjelasan tetang ekonomi sulit jelang Lebaran/ Sumber: Canva

Momen Lebaran adalah kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang nilai uang dan rasa syukur. Kita harus sampaikan ke anak bahwa angpau bukan ukuran cinta. Mereka perlu memahami bahwa memberi harus sesuai kemampuan, dan rezeki setiap orang berbeda.

Anak-anak juga perlu melihat bahwa orang tuanya berani membuat batas yang sehat. Kita tidak harus menyenangkan semua orang dengan mengorbankan kestabilan rumah tangga.

Pada akhirnya, yang ingin kita jaga adalah ketenangan jangka panjang. Bukan pujian sesaat karena dianggap “royal”. Bukan pula citra seolah-olah semuanya selalu berlebih dan rasa gengsi yang hanya bertahan hingga beberapa hari setelah Lebaran.

Ketenangan itu hadir ketika kita tahu pengeluaran masih dalam kendali. Jangan sampai karena tidak mindful, kita malah pusing membayar aneka tagihan setelah euforia Hari Raya selesai.

Lebaran mestinya membawa rasa lapang, bukan beban tambahan.

Baca tulisan ini juga ya: Menanamkan Adab Memberi dan Diberi pada Anak

Penutup

ekonomi sulit jelang Lebaran
Menghitung pengeluaran di tengah ekonomi sulit jelang Lebaran/ Sumber: generate dari Canva

Ekonomi sulit jelang Lebaran boleh saja menerpa. Biaya mudik bisa melonjak, dan pengeluaran Ramadan terasa berat. Namun makna Hari Raya tidak pernah ditentukan pada besarnya amplop yang kita berikan atau banyaknya hampers yang kita bagikan.

Silaturahmi tetap bisa hangat tanpa amplop tebal. Kepulangan ke kampung halaman tetap berarti meski oleh-oleh tidak banyak dibawa. Kebersamaan tetap indah, kendati berselimut sederhana.

Mengatur keuangan keluarga dengan bijak di tengah ekonomi sulit jelang Lebaran bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab. Karena di tengah kenaikan biaya hidup, yang paling berharga bukanlah terlihat mampu, akan tetapi benar-benar mampu menjaga kestabilan rumah tangga.

Semoga, saat kita pulang kampung nanti, yang dibawa bukan hanya angpau, oleh-oleh, atau hampers, tetapi juga pengertian satu sama lain.

Leave A Reply

Your email address will not be published.


Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.