Nostalgia Kerja Sambil Traveling ke Jerman

Traveling ke Jerman ibarat mimpi yang menjadi nyata. Sebab beberapa kali nyaris ke Land of the Teutons ini namun gagal. Nyatanya benar, jodoh tidaklah ke mana. Setelah dua kali gagal ke Jerman, akhirnya kaki ini menjejak di sana.

Sebenarnya ini adalah pengalaman lama, delapan tahun yang lalu. Meski begitu, pengalaman tersebut benar-benar tak terlupakan. Apalagi kala itu pertama kalinya pula saya pergi ke Benua Biru.

Traveling ke Jerman ini adalah dalam rangka tugas kantor. Saat itu ada tugas peliputan Allianz Football Junior Camp (AFJC). Hanya ada dua media dari Indonesia yang diundang. Oke, untuk urusan pekerjaan tidak akan diceritakan di sini ya.

Munich adalah kota di Jerman yang saya tuju pertengahan 2012 silam. Perjalanan yang ditempuh cukup panjang. Mulanya transit di Bangkok, Thailand. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menggunakan pesawat tujuan Swiss.

Pesawat kecil menuju Munich masih beberapa jam lagi, sehingga saya dan seorang teman dari Indonesia bisa menikmati Zurich sejenak. Penerbangan dari Zurich ke Munich berlangsung sekitar 55 menit. Di pesawat, pramugari menawarkan cokelat. Saya ambil beberapa buah dan langsung dinikmati saat itu. Hmm, enak banget.

Sesampainya di Bandara Munich, pria yang mengangkat kertas bertuliskan nama kami menyambut. Seorang pria asli Jerman berperawakan kurus. Selanjutnya dia memesankan taksi menuju hotel tempat kami menginap. Saat kami masuk taksi, dia berpesan bahwa dirinya tidak menyertai sampai hotel karena ada staf lain yang membantu kami di sana. Hmm, okay!

Traveling ke Jerman: Jalan-jalan di Munich

Perjalanan menuju hotel melewati jalan tol yang mulus. Sopir taksinya ramah dan menjelaskan beberapa hal terkait Munich menggunakan bahasa Inggris yang baik. Dari mengobrol, saya tahu dirinya pernah ke Indonesia. Macet. Itulah kesan si pak sopir tentang Jakarta.


Bersama sopir taksi di Munich yang ramah. Foto diambil pada Oktober 2012

Oh ya, beda waktu Jakarta dan Munich sekitar enam jam. Saat itu sekitar pukul 14.00 yang berarti pukul 20.00 WIB. Meski di sepanjang jalan dari Swiss tidak tidur, untunglah mata ini masih kuat melek.

Singkat cerita, kami tiba di hotel. Setelah beristirahat sebentar, harus segera menuju ke tempat latihan AFJC. Di sana, seorang staf berwarga negara Indonesia sudah menyambut.

Setelah perkerjaan hari itu selesai, kamu memutuskan untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan kota Munich. Marienplatz adalah tujuan kami.

Saat tiba di sana, waktu menunjukkan pukul enam petang. Kaki melangkah ke arah restoran Jepang.

Rasa lapar terobati oleh seporsi ramen. Setelah selesai makan, saya tinggalkan meja begitu saja. Namun seseorang mengamit lengan dan menunjukkan rak untuk piring kotor.

Kaget tentu saja. Sebab di Indonesia dan di beberapa negara yang pernah saya kunjungi tidak mewajibkan pengunjung membereskan sendiri mejanya. Okelah, di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung.

Marienplatz kala itu.

Selanjutnya perjalanan diteruskan ke beberapa toko di kawasan Marienplatz. Baru saja masuk dan melihat-lihat, terdengar pengumuman bahwa toko akan tutup.

What? Ini baru akan pukul delapan malam. Ternyata kebanyakan toko di Jerman memang tutup di pukul delapan malam. Hm, gagal membeli oleh-oleh malam itu.

Saat di Munich, saya  tidak banyak mengeksplore kota tersebut. Selain karena tujuan utama ke sana adalah untuk kerja, juga waktu kunjung yang terlalu singkat.

Suatu kali pernah ada tawaran untuk city tour dengan berjalan kaki bersama seorang pemandu. Kami menunggu cukup lama hingga pemandu datang ke tempat kumpul, National Theatre, yang berada di Max-Joseph-Platz.

Max-Joseph-Platz merupakan alun-alun besar di Munich. Di sana terdapat monumen Max-Joseph Denkmal. Saya sempat berfoto di sana. Sayang file foto hilang bersama dengan hardisk external yang digondol pencuri saat sudah berada di Jakarta.

Baca tulisan menarik lainnya di sini, yuk: Sedapnya 16 Makanan Khas Malaysia

Mengunjungi Stadion FC Bayern Munich

Selain BMW, hal lain yang terkenal dari Munich adalah klub sepakbola FC Bayern Munich. Bersyukur sekali bisa menginjakkan kaki di stadion milik Bayern Munich yang megah, Allianz Arena. Kami bahkan bisa melihat dari dekat tempat ganti pemain.

Berkunjung ke Allianz Arena. Foto diambil pada Oktober 2012.

Ya, tur ke Allianz Arena sayang banget untuk dilewatkan saat traveling ke Jerman. Dalam satu sesi tur waktunya sekitar 60 menit. Jika ingin mengikuti kegiatan ini harus booking tiket terlebih dahulu, dan hanya melayani grup yang berisi minimal 20 orang.

Nah, harga tiket per orang per Januari 2020 ini adalah 12.00 Euro atau sekitar Rp 180.000. Tur digelar pada pukul 09 pagi hingga 04 sore.

Tempat ganti pemain di Stadion Allianz Arena

Setelah puas melihat-lihat stadion, traveling berlanjut ke FC Bayern Erlebniswelt. Ini adalah museumnya FC Bayern Munich. Harga tiket masuk untuk dewasa adalah Rp 180.000.

Untuk anak usia 6-13 tahun, tiket dibanderol sekitar Rp 90 ribu. Sementara untuk anak berusia 5 tahun ke bawah bebas biaya masuk. Jika datang dalam rombongan berisi minimal 20 orang, maka harga tiket per orang Rp 150-an ribu.

Di dalam museum bisa melihat foto-foto para pemain legendaris FC Bayern. Sebut saja Franz Beckenbauer, Gerd Müller, dan Sepp Maier. Pengunjung juga diajak merasakan euforia kemenangan FC Bayern melalui sejumlah trofi yang dipajang di museum.

Mengunjungi FC Bayern Erlebniswelt. Foto diambil pada Oktober 2012

Penggemar klub sepakbola ini tentu tidak akan melewatkan kesempatan mendapatkan informasi dan catatan statistik terkait setiap pemain, pelatih, dan presiden FC Bayern. Nah, informasi tersebut ada di museum ini.

Selain itu ada pula semacam bioskop di dalam museum yang dilewati 70 kursi. Pengunjung bisa melihat tayangan eksklusif di belakang layar FC Bayern.

Pengunjung akan diajak merasakan jiwa dari klub ini melalui tayangan kemenangan terbesar serta momen-momen emosional lainnya. Oh ya, film diputar setiap 15 menit.

Untuk anak-anak, terdapat area bermain interaktif. Tak hanya bermain, anak-anak juga berkesempatan terlibat dalam berbagai kegiatan menyenangkan di rumah maskot Bayern, Berni.

Ingin tahu rasanya berada di dalam bus pemain FC Bayern? Tenang, sensasi ini bisa dirasakan di salah satu sudut museum. Ada mock-up kursi di bus pemain yang bisa dijajal. Seru!

Sesaat sebelum keluar dari museum, pengunjung bisa berbelanja suvenir khas FC Bayern. Saya membeli dua kaos, satu dompet laki-laki, beberapa pulpen dengan hiasan bola sepak dan lambang FC Bayern, serta gantungan kunci. Suvenir khas seolah jadi bukti traveling ke suatu tempat.

Saya juga membeli bibit rumput, konon itu adalah bibit rumput yang sama di Allianz Arena Stadium. Sayang, sesampainya di Jakarta dan dicoba ditanam, rumputnya tidak mau tumbuh. Hiks.

Meski singkat, namun kunjungan ke Munich sangat berkesan. Semoga kelak masih ada jodoh dan rezeki sehingga berkesempatan traveling ke Jerman bersama keluarga tercinta. Aamiin.