Kenali 6 Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

Setiap anak berbeda. Mereka memiliki minat sendiri, perangai sendiri, dan cara berinteraksi sosial yang khas. Sebagai orang tua, kita perlu banget mengenali aspek perkembangan anak usia dini.

Apalagi aspek perkembangan anak usia dini menjadi dasar penting untuk membentuk kecerdasan, kepribadian, dan kemampuan anak di masa mendatang. Apa saja aspek perkembangan anak usia dini?

Berdasar Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) PAUD Kurikulum 2013, terdapat enam aspek perkembangan anak usia dini. Berikut ini keenam aspek tersebut.

1. Nilai Agama dan Moral

anak memakai mukena
Ilustrasi perkembangan nilai agama dan moral pada anak usia dini/ Foto: Canva

Aspek ini terkait perilaku yang menyandarkan pada nilai moral dan nilai agama. Nilai moral terkait dengan baik buruknya sikap dan perilaku manusia dalam berhubungan dengan orang lain.

Sedangkan nilai agama merupakan aturan, patokan, standar baku yang berkaitan dengan baik-buruknya sikap seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun Tuhan.

Contoh berkembangnya nilai agama pada anak usia dini adalah berdoa sebelum dan sesudah makan, berdoa sebelum dan saat bangun tidur, dan salat. Sementara contoh berkembangnya nilai moral anak usia dini yakni berbuat baik pada orang lain, serta menyayangi dan menghormati orang tua.

Perlu kita sadari bahwa perilaku sesuai nilai moral dan agama itu tidak instan. Perlu proses yang panjang, melalui sejumlah pembiasaan. Itu makanya usia dini adalah waktu terbaik untuk menanamkan nilai moral dan nilai keagamaan pada anak.

2. Fisik-Motorik

Ilustrasi perkembangan fisik-motorik pada anak usia dini/ Foto: Canva

Perkembangan fisik meliputi tinggi badan, lingkar kepala, dan berat badan yang sesuai dengan ukuran anak seumuran.

Sedangkan perkembangan motorik berhubungan dengan berkembangnya kemampuan gerak anak. Di samping itu, erat pula kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak. Keterampilan motorik juga berkembang seiring dengan kematangan saraf dan otot anak.

Dengan banyak bergerak, anak akan lebih sehat. Mereka juga jadi lebih percaya diri, mandiri, dan umumnya memiliki keterampilan sosial positif.

Motorik sendiri terbagi menjadi dua, yaitu motorik halus dan motorik kasar. Gerakan-gerakan motorik kasar antara lain berjalan, menendang, melompat, dan menaiki tangga. Sedangkan gerakan-gerakan motorik halus seperti meremas, menjumput, dan menggunakan pensil.

3. Kognitif

perkembangan anak usia dini
Ilustrasi perkembangan kognitif pada anak usia dini/ Foto: Canva

Perkembangan kognitif merupakan pembangunan keterampilan kognitif dari waktu ke waktu. Anak-anak usia dini terus-menerus membangun keterampilan ini seiring mereka belajar tentang lingkungannya.

Perkembangan kognitif ini antara lain meliputi pemecahan masalah, menalar, mencipta, mengonsep, mengkategorikan, mengingat, dan merencanakan.

Psikolog asal Swiss, Jean Piaget, mengajukan hipotesis tentang empat tahap perkembangan kognitif anak. Keempat tahapan tersebut yakni sensorimotor (dari lahir sampai 2 tahun), penalaran praoperasional (usia 2 sampai 6 atau 7 tahun), penalaran konkret operasional (usia 6 atau 7 hingga 11 atau 12 tahun), dan penalaran operasional formal (usia 11 atau 12 tahun hingga sepanjang usia).

Di tahap sensorimotor, pemikiran anak sebagian besar diwujudkan melalui pemikirannya mempersepsi dunia dan interaksi fisik mereka dengannya. Sementara itu, representasi mental mereka masih sangat terbatas.

Pada tahap praoperasional, anak-anak tidak hanya dapat memecahkan masalah sederhana. Mereka juga menunjukkan kemampuan representasi simbolik, seperti kemampuan menggambar dan menggunakan bahasa. Di tahap ini, anak-anak belum bisa berpikir dengan cara ilmiah yang sistematis.

Sementara di tahap operasi formal, anak mencapai daya nalar yang matang. Daya nalar ini memungkinkan mereka untuk memecahkan masalah.

4. Bahasa

perkembangan anak usia dini
Ilustrasi perkembangan bahasa pada anak usia dini/ Foto: Canva

Di tiga tahun pertama kehidupan, otak berkembang dan matang secara signifikan. Itu makanya, ini merupakan periode paling intensif bagi anak untuk memperoleh keterampilan berbicara dan berbahasa.

Jika masa-masa krusial ini dibiarkan berlalu tanpa paparan bahasa, maka pembelajaran ke depannya akan lebih sulit. Nah, cara terbaik mendorong perkembangan bahasa anak adalah dengan banyak berdiskusi tentang hal-hal yang menarik minat mereka.

Bahkan sejak anak baru lahir, bicaralah dengan mereka dan perlakukan mereka sebagai orang yang suka bicara. Ketika anak mulai bisa menunjuk, kita bisa meresponsnya untuk meng-encourage kemampuan bicara dan bahasanya. Misalnya dengan mengatakan, “Adik mau bola ya?”.

Kita juga perlu tahu nih, adanya gangguan terkait kemampuan bicara dan bahasa anak. Ada gangguan bicara, dan ada gangguan bahasa. Apa bedanya ya?

Anak-anak yang kesulitan memahami apa yang dikatakan orang lain atau kesulitan menyampaikan pemikirannya, kemungkinan mengalami gangguan bahasa. Anak-anak dengan gangguan ini, bisa jadi baru mulai bicara ketika berusia tiga atau empat tahun.

Sedangkan anak-anak yang kesulitan mengucapkan kata-kata atau gagap saat berbicara mungkin mengalami gangguan bicara. Salah satu gangguan bicara pada anak adalah apraksia.

Apraksia terjadi ketika seorang anak kesulitan membuat gerakan mulut yang akurat ketika berbicara. Ini merupakan gangguan saraf di otak, sehingga anak kesulitan mengkoordinasikan otot yang digunakan untuk bicara.

Anak dengan apraksia tahu benar apa yang ingin dikatakan. Akan tetapi mereka kesulitan menggerakkan rahang, lidah, dan bibir untuk berbicara.

5. Sosial-Emosional

perkembangan anak usia dini
Ilustrasi perkembangan sosial-emosional pada anak usia dini/ Foto: Canva

Perkembangan sosial-emosional pada anak usia dini merupakan saat di mana anak-anak mulai memahami siapa dirinya, apa yang dirasakan, dan apa yang diharapkan saat berinteraksi dengan orang lain.

Perkembangan sosial-emosional membantu anak-anak membangun landasan untuk memiliki hubungan sosial yang sehat. Sebab saat itulah anak-anak belajar membentuk dan mempertahankan hubungan positif, juga mengalami, mengelola, dan mengekspresikan emosi.

Pada anak usia 1-3 tahun, kita akan mendapati anak-anak mengalami temper tantrum. Lalu di usia balita, ada kecenderungan mengalami perubahan hati yang cepat. Kendati emosi mereka bisa sangat kuat, perasaan ini juga cenderung hanya berlangsung sebentar.

Untuk itu, ada baiknya kita kenalkan dan namai berbagai macam emosi pada mereka sejak dini. Misalnya ketika anak menangis histeris ketika mainan direbut teman, kita bisa bilang bahwa apa yang dirasakan adalah kesal. Selanjutnya, anak bisa dibantu untuk mencari cara merilis kekesalannya.

Anak-anak juga bisa jadi sangat posesif dan sulit berbagi. Akan tetapi bermain dengan anak-anak lain akan menjadi keterampilan penting bagi mereka. Dalam interaksi itu, mereka pasti akan belajar banyak hal. Seperti belajar memahami temannya, bertanggung jawab, mengendalikan diri, juga mengekspresikan dan mengelola emosinya.

6. Seni

perkembangan anak usia dini
Ilustrasi perkembangan seni pada anak usia dini/ Foto: Canva

Aspek terakhir pada perkembangan anak adalah seni. Jadi, setiap anak memiliki sisi seninya sendiri. Mereka mengekspresikan dirinya dengan bergerak, berbicara, bernyanyi, melukis, serta berkarya dengan bahan-bahan yang mereka kelola dan bentuk.

Seni mendorong anak berpikir secara imajinatif. Inilah yang memungkinakan mereka melakukan lompatan dari pemainan konkret ke simbolik. Tak heran kita sering mendapati anak usia dini menjadikan kotak kardus sebagai bus. Atau di saat yang lain, mereka menjadikan ember sebagai perahu.

Proses imajinatif dan kognitif ini memungkinkan anak memasuki dunia abstrak angka dan huruf. Ya, angka dan huruf adalah simbol. Butuh proses kompleks untuk mengenal dan memahaminya.

Kegiatan seni dapat turut mengembangkan kapasitas otak pada anak usia dini. Pelibatan indra-indra pada anak saat melakukan kegiatan seni mendukung perkembangan kognitif, motorik halus, serta mendorong keterampilan sosial-emosional.

Penutup

Anak-anak mengalami tingkat perkembangan terbesar di tahun-tahun awal kehidupannya. Nah, 5 tahun pertama kehidupan anak merupakan masa yang sangat penting dalam perkembangan otaknya.

Pesatnya laju perkembangan otak anak di lima tahun pertama tidak akan pernah terulang. Dengan memahami enam aspek perkembangan anak usia dini berdasarkan STPPA, kita bisa tahu aspek apa yang perlu didorong dan diajarkan pada anak.

Di sisi lain, kita pun bisa mengenali ada tidaknya keterlambatan perkembangan pada anak. Keterlambatan perkembangan bisa menurunkan kemampuan anak dalam berkomunikasi, belajar, bergerak, dan mandiri. Intervensi yang tepat akan sangat membantu jika diberikan sejak dini.

Simak terus ya tulisan-tulisan tentang perkembangan anak di sini. Mama bisa melanjutkan membaca: Memahami Kemampuan Anak Usia 2 Tahun

Referensi

Permendikbud No 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.

parents.com. What To Know About Motor Skills in Children, https://www.parents.com/motor-skills-in-children-8619294, diakses pada 22 April 2024.

Siegler, R. (2016). Cognitive Development in Childhood. In R. Biswas-Diener & E. Diener (Eds), Noba textbook series: Psychology. Champaign, IL: DEF publishers. DOI:nobaproject.com (http://www.nobaproject.com).

raising children.net.au. Language Development in Children: 0-8 Years, https://raisingchildren.net.au/babies/development/language-development/language-development-0-8, diakses pada 22 April 2024.

yankes.kemkes.go.id. Gejala Apraksia pada Anak, https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1645/gejala-apraksia-pada-anak#:~:text=Apraksia%20atau%20gangguan%20bicara%20adalah,yang%20akurat%20ketika%20ia%20berbicara, diakses pada 22 April 2024.

earlychildhoodireland. The Arts, https://www.earlychildhoodireland.ie/the-arts/, diakses pada 22 April 2024.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.