Tahan Diri, Jangan Sampai Impulsif Membeli Takjil Ramadan

Assalamualaikum, Mama. Adakah perbedaan kebiasaan di Ramadan ini dengan bulan selain Ramadan? Berburu takjil, misalnya. Apapun itu, semoga kebiasaan yang kita lakukan adalah kebiasaan yang baik ya.

Bicara soal takjil, setiap Ramadan sering kali muncul penjual takjil dadakan di dekat rumah. Ada penjual kolak, es buah-buahan, aneka gorengan, dan lain-lain. Menjelang sore hari, di jalan dekat rumah padat dengan para penjual takjil.

Saat saya dan anak-anak keluar naik motor, jalanan padat sekali. Semua penjual sibuk melayani pembeli. Ikut senang kala melihat para penjual “panen”.

Rupanya yang berburu takjil Ramadan tidak hanya umat Muslim yang menjalankan puasa. Saya lihat di media sosial banyak orang non-Muslim yang ikut memeriahkan tradisi Ramadan, dengan cara berburu takjil.

Lucu melihat orang-orang dari berbagai keyakinan yang bersaing membeli takjil. Katanya yang non-Muslim ini mulai berburu takjil di jam-jam orang puasa lemas. Alhasil ketika orang-orang puasa ini mulai berkeliling membeli takjil, sudah banyak takjil yang habis. 😀

Omong-omong, penasaran nggak sih dengan arti kata “takjil” dan bagaimana mulanya? Baca terus tulisan ini ya.

Makna Takjil

Ilustrasi takjil/ Foto: Canva

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takjil memiliki dua makna. Pertama, mempercepat dalam berbuka puasa. Kedua, berarti penganan dan minuman untuk berbuka puasa.

Mengutip situs muhammadiyah.or.id, istilah takjil diambil dari Hadis Nabi Muhammad Riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan (Ajjalu) berbuka”.

Nah, kata “menyegerakan” dalam hadis tersebut (Ajjalu), dalam bahasa Arab memiliki medan semantik yaitu ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan yang artinya “momentum”, “tergesa-gesa”, “menyegerakan”, atau “mempercepat”.

Dari laporan Snouck Hurgonje dalam De Atjehers setelah mengunjungi Aceh antara tahun 1891-1892, terdapat catatan tentang takjil. Tercatat masyarakat lokal beramai-ramai berbuka puasa (takjil) di masjiddengan ie bu peudah atau bubur pedas.

Ada pula yang menyebut takjil menjadi media dakwah Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Nusantara.

Jadi, kendati makna sebenarnya dari takjil adalah menyegerakan, tapi di masyarakat saat ini takjil justru lebih dikaitkan dengan makanan buka puasa.

Hati-hati, Lapar Perut Bisa Bikin Lapar Mata

Ilustrasi takjil/ Foto: Canva

Dulu saat masih kerja kantoran, saya kerap “menimbun” takjil Ramadan. Ketika ada teman yang berkeliling menjajakan berbagai kue dan gorengan, saya pasti tak ketinggalan untuk membeli.

Padahal, dari kantor sudah disediakan takjil Ramadan juga lho. Biasanya disediakan kotak berisi jajan manis, asin, dan lontong isi. Ada pula minuman dingin, belum lagi teh hangat yang disediakan office boy.

“Wah, banyak banget sesajennya,” celetuk seorang teman kala melihat timbunan takjil Ramadan di meja saya. Mendengar itu, saya hanya nyengir.

Apakah semua habis? Nyatanya tidak. Sering kali saya hanya menghabiskan minuman plus satu atau dua jenis makanan. Makanan lainnya saya berikan pada teman yang piket malam.

Hmm, benar sekali postingan di beranda media sosial saya yang bunyinya kira-kira begini, “Kelaparan 13-14 jam selama berpuasa, buka puasa 5 menit langsung kenyang. Kenikmatan dunia memang hanya sementara.”

Jadi buat apa sibuk mengejar dunia ya, jika kenikmatannya hanya sementara? Hanya sesaat saja?

Namun, ternyata benar lho, kondisi perut berpengaruh pada tingkat keinginan mendapatkan sesuatu. Penelitian yang dilakukan Carlson School of Management di Universitas Minnesota bahkan menyebut kelaparan bisa membuat seseorang memborong barang-barang lain yang bukan makanan.

Studi dilakukan pada sejumlah koresponden yang diminta untuk tidak makan setidaknya empat jam sebelum penelitian. Nah, sebagian dari responden sebelumnya diminta mencoba kue dengan mata tertutup. Peneliti kemudian menyediakan beberapa kebutuhan kantor seperti klip binder. Rupanya 70 persen dari peserta studi yang lapar mengambil barang-barang lebih banyak daripada yang sudah makan kue.

Berbelanja dengan perut kosong akan mendorong kita membeli sesuatu secara berlebihan, bahkan barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Penelitian serupa juga digelar Prosiding National Academy of Sciences. Hasilnya pun sama. Kelaparan berdampak langsung pada berapa banyak barang yang dibeli seseorang, bahkan barang tersebut tidak ada kaitannya dengan makanan.

Mengapa bisa demikian? Jadi, pada saat lapar, kita menjadi kurang fokus dan hanya berpikir bagaimana cara memuaskan rasa lapar. Hal itu membuat kita terdorong membeli sesuatu, bahkan yang bukan makanan sekalipun.

Cara Agar Tidak Kalap Membeli Takjil Ramadan

Ilustrasi takjil/ Foto: Canva

Kalap membeli takjil Ramadan bisa bikin mubazir. Misalnya nih, sebenarnya cukup membeli dua gorengan. Namun, karena lapar mata, akhirnya beli lima jenis gorengan. Alhasil yang termakan hanya dua, sedangkan tiga sisanya disimpan. Ketika akan dimakan lagi, gorengan sudah mengeras, sehingga berakhir di tempat sampah.

Berikut ini beberapa cara yang bisa diterapkan agar tidak ugal-ugalan membeli takjil Ramadan.

Buat Catatan Apa yang akan Dibeli

Iya sih, cuma beli takjil doang. Namun, jangan pernah remehkan hal kecil. Jika kita terbiasa meremehkan hal kecil yang negatif, maka akan jadi kebiasaan yang merugikan.

Jadi sebelum keluar rumah untuk berburu takjil, ambil selembar kertas dan pulpen. Tulis jenis makanan yang hendak dibeli. Misalnya seperti ini:

  • Gorengan 4
  • Es kelapa 2
  • Kolak 1
  • Lontong isi 2

Jika sudah menulis daftar belanja, jangan tergiur pada jenis makanan lainnya ya. Jika kepengin, sebaiknya tunda membeli hingga esok hari.

Tetapkan Budget

Puasa bikin kita melewatkan sarapan dan makan siang, tapi kok pengeluaran justru lebih banyak? Hmm, itulah jika kita gampang lapar mata, sehingga impulsif saat berbelanja, termasuk saat membeli takjil.

Jadi, baiknya tetapkan budget setiap kali akan membeli takjil Ramadan. Misalnya cukup Rp20.000,00 untuk seluruh keluarga.

Perhatikan Benar Apa yang akan Dimakan

Mindfulness memang penting sekali saat melakukan apa pun. Pun ketika akan membeli makanan. Baiknya kita menanamkan dalam diri untuk tidak mudah tergoda
makanan yang tinggi kandungan lemak, garam, gula, dan pewarna makanan.

Selain itu, jangan mudah tergoda pada diskon makanan. Merasa makanan tertentu murah karena ada diskon, bikin kita bar-bar saat membeli. Ujung-ujungnya banyak sisanya. Pokoknya kita wajib banget mempraktikkan pola makan secukupnya. Jangan mudah tergoda pada hawa nafsu. Ya, nafsu untuk makan semuanya, termasuk makanan yang tidak sehat.

Baca juga tulisan lainnya: 5 Ide Menu Sahur Praktis, Sehat, dan Awet Kenyangnya

Penutup

Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Jadi bukan sekadar menahan diri dari makanan dan minuman di siang hari, tetapi juga tentang kontrol diri dalam berbagai aspek kehidupan.

Semoga ibadah kita di bulan Ramadan diterima Allah ya, Ma. Satu lagi, jika hal negatif menyapa diri, langsung bangkit dan lawan ya, Ma. Jangan mau dikendalikan hawa nafsu.

Referensi

muhammadiyah.or.id. Profesor Munir Mulkhan: Tradisi Takjil Dipopulerkan Muhammadiyah!, https://muhammadiyah.or.id/2021/04/profesor-munir-mulkhan-tradisi-takjil-dipopulerkan-muhammadiyah/

forbes.com. Shopping Hungry? You’ll Spend More (Even If You’re Not Buying Food), https://www.forbes.com/sites/kateashford/2015/02/25/shopping-hungry/?sh=2877b67119dd

fimela.com. Alasan Kamu tidak Boleh Pergi Belanja saat sedang Lapar, https://www.fimela.com/lifestyle/read/4549021/alasan-kamu-tidak-boleh-pergi-belanja-saat-sedang-lapar?page=2

1 Comment
  1. Kaknzul says

    Wow, benar sekali. Belum berbuka suka lapar mata. Begitu buka, minum dan makan kurma sudah kenyang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.