Harapan Bocah Desa Terpencil Agar Tak Lagi Terkucil

Iqbal, bocah kelas enam sekolah dasar (SD) dari desa terpencil itu berdiri memperhatikan kami yang sedang mencuci mobil. Ia mengenakan pakaian kebesarannya. Kemeja kuning dan celana training merah. Betul-betul pakaian kebesaran karena ukurannya lebih besar ketimbang badan Iqbal.

Dia sepertinya tidak peduli dengan penampilannya yang terkesan asal-asalan. Asal ambil pakaian di lemari, tidak peduli warna atasan dan bawahan matching atau tidak. Pokoknya beda dengan penampilan pra-remaja yang biasa saya temui di Jakarta.

“Bang, tidak terpikir untuk ganti mobil listrik?” Tiba-tiba Iqbal melontarkan pertanyaan dalam bahasa Padang yang kental pada Pak Suami yang asyik mengelap mobil.

“Mobil listrik? Kenapa memangnya harus ganti mobil listrik?” suami balik bertanya.

“Lebih hemat, Bang. Cuma perlu membayar Rp 3.000 untuk jarak 10 kilometer. Biaya untuk mobil listrik sekitar seperempat dari mobil berbahan bakar fosil,” papar Iqbal.

Bocah desa terpencil itu lantas bercerita tentang aneka hal seputar mobil listrik. Cocok banget sepertinya jadi sales mobil listrik.

“Tahu dari mana info selengkap itu, Bal?” tanya saya penasaran.

“Dari internet, Kak,” jawabnya singkat.

Saya celingukan mencari kabel internet. Nihil. Sementara, itu sinyal jaringan seluler kurang kuat di desa tersebut. Setiap kali pulang kampung, saya harus berjalan dulu sampai ke dekat jalan raya agar mendapat sinyal cukup bagus. Hmm, dari mana Iqbal mengakses internet?

Perjalanan Ribuan Langkah Mencari Jaringan Internet

Bocah desa terpencil
Ribuan langkah mencari internet cepat/ Foto: Canva

Desa Air Santok di Padang Pariaman, Sumatera Barat, bisa dibilang agak terpencil. Desanya sepi. Di beberapa titik, rumah yang satu dan lainnya agak berjauhan. Kebun-kebun dan sawah masih mendominasi. Kontras sekali dengan Jakarta yang selalu ramai dengan rumah yang berhimpit-himpitan. Karena inilah, bagi kami kondisi di sini terpencil. Lumayan jauh saat akan mengakses berbagai sarana publik.

Beberapa kali saat Lebaran tiba, kami mudik ke sana. Berkumpul bersama keluarga besar. Bertukar cerita dengan balutan canda dan tawa. Dulu, seringkali saat keluarga dari Jakarta bercerita isu terkini dan info-info anyar, keluarga di Pariaman banyak diam.

Mungkin informasi yang jadi bahan obrolan keluarga dari Jakarta belum mereka dengar. Rasanya seperti ada gap “orang kota” dan “orang desa” yang kental.

Namun, saat kami mudik Lebaran tahun 2022 ini sedikit berbeda. Iqbal beberapa kali paham topik obrolan keluarga besar. Dia tahu cukup banyak tentang COVID-19. Hal itu membuatnya bisa menjadi tameng dari serangan kabar hoaks terkait COVID-19.

“Memangnya di rumah Iqbal ada internet ya?” bisikku padanya.

“Nggak ada, Kak. Kalau warga di kampung sini belum ada yang punya internet di rumahnya.”

“Lalu Iqbal internetan di mana?” tanyaku penasaran.

“Waktu sekolah masih pelajaran jarak jauh, Iqbal bawa handphone Mamak ke warkop yang ada internetnya, Kak. Dari sini, jaraknya satu kilometer lebih,” terangnya.

Iqbal harus berjalan kaki ke warkop tersebut lantaran tidak ada kendaraan untuk mengantar dan menjemputnya. Demi mendapat jaringan internet, seorang bocah dengan semangat belajar tinggi harus berjalan kaki tiga puluh menit.

Ribuan langkah ditempuh kaki kecil itu agar bisa belajar dan memuaskan dahaganya atas ilmu. Mendapati fakta itu, hati ini terasa perih.

IndiHome, Solusi Warga Daerah Terpencil Mengakses Internet Cepat

Ilustrasi desa terpencil/ Foto: Canva

Tersentuh semangat belajar Iqbal yang tinggi, kami terpikir untuk memasang jaringan internet di rumahnya. Tidak hanya untuk belajar, internet juga bisa dimanfaatkan keluarga mereka untuk berjualan di marketplace.

Untuk wilayah sekitar kampung halaman kami, kira-kira internet provider apa yang bisa diandalkan ya? Informasi dari Iqbal, warkop tempatnya mengakses internet menggunakan IndiHome Telkom Group.

IndiHome bukan barang baru bagi kami. Pasalnya di Jakarta, IndiHome menjadi internet provider yang jadi pilihan. Sudah bertahun-tahun kami menggunakan IndiHome di rumah. Bertahun-tahun pula kami merasakan perhatian internet provider ini pada kebutuhan pelanggan.

Dari Jakarta, kami menelepon call center IndiHome di 147. Selanjutnya, minta diarahkan ke sales IndiHome cabang Padang Pariaman.

Sebenarnya untuk kebutuhan pemasangan IndiHome Telkom Group, bisa pula dilakukan melalui laman https://indihome.co.id. atau melalui aplikasi myIndihome.

Singkat cerita, petugas IndiHome datang ke rumah Iqbal. Sayangnya kala itu pemasangan jaringan internet tidak bisa dilakukan. Penyebabnya rumah Iqbal jauh dari tiang IndiHome atau ODP (Optical Distribution Point) terdekat.

Teknisi tidak menyarankan penarikan kabel dari ODP terdekat karena jaraknya terlalu jauh. Alternatifnya adalah dengan memasang tiang ODP di dekat rumah Iqbal. Namun, ini juga bukan perkara mudah, karena ada pertimbang teknis dan ekonomis.

Kami menyarankan orang tua Iqbal untuk datang ke Plasa Telkom. Hal itu dilakukan setelah beberapa tetangga dan kerabat sekitar juga ingin memasang internet. Orang tua Iqbal mengajukan dan mengisi formulir pengajuan perluasan area. Nantinya, teknisi akan menghubungi kembali jika area rumah Iqbal sudah tercover jaringan.

“Semoga disetujui ya Kak, pemasangan tiang ODP-nya, biar Iqbal bisa tahu lebih banyak informasi di luar sana. Biar pengetahuan Iqbal juga bertambah seperti sepupu-sepupu dari Jakarta,” harap Iqbal. Semoga kebutuhan pelanggan ini bisa diwujudkan IndiHome Telkom Group.

IndiHome dan Komitmen Menghadirkan Internet Cepat Hingga ke Pelosok Negeri

bocah desa terpencil
Pelajar Desa Selaup mencari sinyal untuk belajar/ Foto: Dokumen Toha/ Hi Pontianak via Kumparan

Sebagai internet provider yang memiliki asa memangkas kesenjangan digital, IndiHome gencar mengembangkan jaringan. Kebutuhan pelanggan hingga di daerah pelosok sudah pasti menjadi perhatian.

IndiHome Telkom Group segera bergerak jika ada permintaan jaringan internet yang cepat dan stabil. Bahkan jika ada gangguan layanan, meski di daerah pelosok sekalipun, akan ditangani sebaik-baiknya. Ini adalah bukti kebutuhan pelanggan tidak diabaikan.

Untuk keperluan ini, Telkom Indonesia telah membangun infrastruktur yang mampu mendukung layanan Fiber To The Home (FTTH). Misalnya dengan membangun jaringan backbone yang berbasis kabel serat optik. Hingga September 2020, Telkom telah membentangkan 166.343 kilometer kabel serat optik dari Sabang hingga Merauke.

Demi pemerataan akses telekomunikasi dan informasi hingga kawasan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), infrastruktur kabel laut yang menghubungkan Sulawesi, Maluku, dan Papua telah dibangun. Bahkan beberapa pulau terluar terjangkau akses telekomunikasinya karena pembangunan tersebut. Pulau-pulau itu antara lain Pulau Karimun, Pulau Kei, Pulau Weh, Pulau Sebatik, Pulau Liran, dan Pulau Rote.

Fiber optik menjadi andalan IndiHome Telkom Group untuk menghadirkan internet cepat, stabil, dan berkelas. Sebagai internet provider, IndiHome juga menawarkan berbagai pilihan kecepatan internet unlimited hingga 300 Mbps.

Berbagai kelebihan yang dimiliki, termasuk kepekaan pada kebutuhan pelanggan, membuat banyak orang memilih IndiHome sebagai internet provider andalan. Dengan internet yang cepat, banyak orang menggantungkan harapan yang lebih baik di masa depan. 

Baca juga:

Lancar Cari Ide Main Anak Bersama IndiHome, si Kecil Makin Kreatif

Rindu Tak Lagi Berat, Internet Cepat IndiHome Mbois Banget!

Melihat dunia lebih luas melalui internet/ Foto: Canva

Melalui internet yang semakin tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mimpi-mimpi dilangitkan. Seperti impian Iqbal, bocah dari desa terpencil yang berharap tidak terkucil. Iqbal bukan satu-satunya. Masih banyak anak-anak yang tinggal di desa lebih terpencil punya impian senada.

Ada anak-anak di Desa Selaup, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Mereka harus naik ke atas bukit jika ingin mendapat sinyal internet.

Para siswa di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Desa Sekida, Kecamatan Jagio Barang, Bengkayang, Kalimantan Barat, pun setali tiga uang. Mereka harus melewati hutan, jalan berbukit, dan jembatan bambu untuk bisa mendapat sinyal internet.

Iqbal dan anak-anak dari desa terpencil itu ingin melihat dunia lebih luas, memberi makan otaknya, dan menuntaskan dahaga atas ilmu. Semoga internet cepat IndiHome menjadi teman Iqbal untuk belajar dan menerapkan ilmu yang didapat. Semoga IndiHome turut menjadi saksi perjalanan Iqbal dan anak-anak lainnya mengabdi pada pada negerinya.

Referensi:

kompas.com, IndiHome: Cara Daftar, Harga Paket dan Call Center, diakses pada 12 September 2022.

kumparan. Telkom Bangun Ratusan Ribu Infrastruktur Telekomunikasi di Kota Hingga Pelosok, diakses pada 12 September 2022.

telkom.co.id, IndiHome Gencar Layani Masyarakat di Pelosok Timur Indonesia, diakses pada 12 September 2022.

telkom.co.id, IndiHome Targetkan 60 Kota di Pelosok Indonesia, diakses pada 12 September 2022.

Hi Pontianak via Kumparan. Kisah Pelajar di Kalbar yang Harus Menempuh 4 KM Demi Belajar di Bukit Sinyal, diakses pada 12 September 2022.

kompas.tv, Kisah Siswa Perbatasan, Mendaki Bukit Mencari Sinyal Internet Demi Sekolah Online, diakses pada 12 September 2022.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.