Tips Manajemen Waktu ala Founder Institut Ibu Profesional

Hah, sudah jam segini tapi kerjaan rumah banyak yang belum selesai? Haduh, padahal nanti harus mengerjakan hal-hal lainnya. Fiuh, adakah yang manajemen waktunya berantakan, Ma?

Saya sering iri sama mama-mama lain yang kegiatannya padat, bisa melakukan banyak hal tanpa ada satu pun kegiatan yang terbengkalai. Soalnya saya kadang mengorbankan satu kegiatan demi menyelesaikan kegiatan lainnya.

Duh! Duh! Tak bisa dibiarkan berlarut-larut nih. Kebetulan saya mengikuti kelas persiapan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) 2022. Nah, pemateri di kelas persiapan yang pertama pada Rabu, 2 Februari 2022, adalah founder Institut Ibu Profesional, Septi Peni Wulandani.

Mengajar online, menjadi founder metode hitung jaritmatika, mendirikan sekolah, menjadi pembicara, dan mengajar kaum perempuan dijalani Bu Peni dengan baik. Jadwalnya padat, tapi tak mengesampingkan peran utamanya mengurusi keluarga.

Saat melihat dan mendengar Bu Septi bicara, saya sering bengong saking terpananya. Kok bisa sih melakukan berbagai hal tanpa keteteran. Kuncinya disiplin dan konsisten. Iya, tapi disiplin yang seperti apa? Banyak waktu di rumah justru banyak distraksinya. Niatnya mau melakukan A, eh tertunda karena hal lain. Melakukan A pun hanya sebatas niat.

Ambil napas panjang, buang… Fiuh… Ma, kita harus berjuang. Jangan mudah menyerah dan kalah sebelum berkali-kali mencoba lebih disiplin dan lebih produktif. Mumpung Bu Septi membagikan rahasia manajemen waktunya, saya ikat saja ilmunya di blog ini.

Manajemen Waktu dengan Potong-potong Waktu

Bagi para ibu, hari rasanya berjalan begitu cepat. Saking cepatnya, 24 jam rasanya tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Lelah, energi terkuras, emosi pun meledak-ledak karenanya.

Kata Bu Septi, dirinya melakukan manajemen waktu dengan cara memotong-motong waktu. Jadi begini, azan digunakan sebagai penanda memotong waktu. Dari subuh hingga zuhur, Bu Septi sudah punya agenda hendak melakukan kegiatan apa saja. Selanjutnya dari zuhur hingga ashar. Lalu ashar hingga maghrib, dan maghrib sampai isya.

“Saya bagi waktu melakukan setiap kegiatan selama satu jam, satu jam. Misalnya satu jam online, lalu sejam berikutnya sudah ganti kegiatan lagi. Itu dimulai dari subuh, lalu di zuhur sudah close semuanya,” papar perempuan kelahiran Salatiga, 21 September 1974 ini.

“Lalu dari zuhur sampai ashar apa saja yang akan dilakukan. Semua di-slice-slice,” imbuhnya.

Bu Septi saat memberikan materi di kelas KLIP perdana

Lalu bagaimana jika muncul distraksi, misalnya ada tamu yang tiba-tiba datang dan berpotensi bikin manajemen waktu berantakan? Menurut Bu Septi, jika waktu untuk melayani tamu maksimal 10 menit, bisa ditoleransi. Namun, jika lebih dari itu, dirinya akan meminta izin untuk kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Jadi harus komit kalau mau mengerjakan A-B-C-D ya kerjakan A-B-C-D. Proses ini yang menyebabkan hari kita jadi terasa panjang, karena kita tinggal mengisinya saja. Kalau sudah sampai batas waktu, segera cut off,” terangnya.

Bu Septi berpesan jangan sampai urusan 1-2 jam yang belum selesai dibawa ke jam berikutnya. Hal inilah yang membuat pekerjaan terasa menumpuk, hari rasanya sangat singkat, dan kita jadi kelelahan.

Inginnya Sih Disiplin, tapi ‘Kan…

Beda mama, beda masalah yang dihadapi. Beda rumah, beda pula problemnya. Untuk disiplin dan konsisten tentu bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti kita nggak bisa melakukannya, Ma.

Bu Septi bilang masalah di rumah akan selalu ada. Masalah ini berpotensi banget menjadi distraksi dalam manajemen waktu. Eit, tapi jangan dibawa terlalu lama dalam perasaan, Ma. Memendam perasaan bisa bikin kita uring-uringan.

Kitalah yang tinggal di rumah ini. Kita yang paling paham segala hal yang terjadi di dalamnya. Yuk, mulai sekarang kita lihat masalah yang ada sebagai tantangan. Perlahan dicari solusi untuk menaklukkan tantangan ini.

Buat saya, tantangan terbesar untuk bisa disiplin adalah saat anak nemplok melulu sama mamanya. Anak bungsu saya, umurnya 22 bulan. Sering kali dia inginnya main terus sama mamanya. Saya tidak dibolehkan melakukan aktivitas lainnya. Bahkan ketika saya ke kamar mandi, dia akan menggebrak-gebrak pintu seperti sedang menggerebek. Hu-hu-hu.

Bagaimana pun, anak dan keluarga adalah yang utama. Jika saya ingin produktif berkarya, jangan sampai membuat urusan rumah jadi keteteran. So, waktu untuk anak dan membereskan kegiatan domestik tak bisa diganggu.

Baca juga tulisan ini yuk: 5 Cara Hindari Gagal Fokus Agar Produktif di Rumah

Rencana saya untuk manajemen waktu seperti ini sih, Ma, secara garis besar.
Subuh-zuhur:
Menyiapkan sarapan (1 jam)
Menyiapkan anak mandi dan sarapan (1 jam)
Membereskan pekerjaan domestik (1 jam)
Mengajak si kecil main sesi 1 (1 jam)
Menidurkan si kecil (1 jam)
Menyiapkan makan (1 jam)
Cut off.

Zuhur-ashar
Makan siang bersama anak dan beres-beres piring (1 jam)
Mengajak anak main sesi 2 (1 jam)
Megajak anak main sesi 3 (1 jam)
Cut off.

Ashar-maghrib
Mandi dan memandikan anak (1 jam)
Makan sore bersama anak-anak dan membersihkan alat makan (1 jam)
Membaca buku bersama anak (1 jam)
Cut off.

Selepas isya
Ngaji dan belajar bersama anak (1 jam)
Menidurkan si kecil (1 jam)
Online (1 jam)
Menulis (2-3 jam)

Moderator di kelas KLIP perdana

Semoga rencana ini bisa dijalankan. Seharusnya sih tidak terlalu susah ya. Meski kadang anak saya ini waktu tidurnya ada pergeseran waktu, seharusnya agenda ini fleksibel sih.

Terngiang kata-kata Bu Septi akan pentingnya mencintai masalah yang dihadapi. Dengan begitu, saya nggak akan misuh-misuh. Selanjutnya beraksi untuk mencari solusi.

Aksi yang relevan buat saya adalah asking for help pada suami. Kebetulan suami work from home sampai entah kapan. Selain itu, saya nggak akan ngoyo untuk selalu masak. Terkadang beli sarapan dan memesan makanan secara online juga bisa dilakukan.

Manajemen Waktu Dukung Ibu Produktif dengan Menulis

Bagi saya menulis adalah salah satu cara untuk bersenang-senang. Bu Septi mengingatkan jangan sampai menulis menjadi pelarian dari tugas utama. Alhamdulillah sejauh ini buat saya menulis bukan pelarian, tetapi salah satu cara cari cuan. Hi-hi.

Jika memilih menulis jadi bagian dari kegiatan sehari-hari, maka itu harus menjadi jalan untuk menuju kebahagiaan. “Kenal diri kita, pahami peran kita, dan berkarya dengan segala macam kehebohan kita,” pesan Bu Septi.

Lucu deh, Ma, Bu Septi suka menulis di kertas dan kertasnya ditempel di tembok. Jadi Bu Septi itu bakal lancar menulis segala hal yang sudah dialami. Agar tidak lupa momen penting, bergegas dia tulis di kertas dan ditempel. Ide menulis bertebaran di tembok, tinggal dipilih mana yang akan ditulis lebih dahulu.

Ide tulisan juga sering didapat dari foto. Jadi, saat waktu luang, Bu Septi akan melihat foto-foto lama untuk memanggil pengalaman yang pernah dirasakan. Nah, cara ini juga kerap saya lakukan. Toss, Bu Septi!

Baca ini juga yuk: Katanya Bekerja dari Rumah Lebih Santai, Bagaimana Menurutmu?

Mama yang suka menulis pernah merasa insecure dengan tulisannya? Khawatir ada orang yang nggak setuju dengan tulisan atau pendapat kita? Jika merasakan itu, yuk segera ubah mindset.

“Kita sampaikan pengalaman kita, pasti ada yang setuju dan ada yang nggak setuju. Yang suka dan nggak suka pasti ada,” kata Bu Septi.

Kita nggak bisa mengontrol orang lain ‘kan Ma? Yang bisa kita kontrol hanyalah diri kita. Asal niatnya baik, hendak berbagi dan mengikat ilmu, insya Allah tulisan yang kita torehkan bisa menjadi amal baik. Aamiin.

Manajemen waktu yang baik memang harus benar-benar diupayakan ya, Ma. Jangan sampai hari berlalu begitu saja, dan banyak hal jadi sia-sia. Yuk, kita sama-sama berbenah diri. Jangan lupa juga kita minta pada Allah untuk dimudahkan dalam menjalani aktivitas dan memiliki manajemen waktu yang baik.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.