Alasan Orang Enggan Vaksinasi COVID-19; Analisis Grup WA

Kalangan antivaksin sudah ada sejak dahulu, bukan hanya saat vaksin COVID digemborkan saja. Saya sendiri memilih untuk mendapat vaksin dan mengajak orang terdekat melakukan ikhtiar yang sama. Namun, kalau nggak mau ya sudah, tidak ada paksaan.

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba menelisik alasan seseorang enggan mendapat vaksin COVID. Caranya adalah melalui analisis grup WA yang saya ikuti. Jangan dianggap terlalu serius ya analisisnya, mengingat metode yang digunakan pun jauh dari saintifik.

Kenapa Sok-sokan Analisis Keengganan Orang Vaksinasi COVID-19?

vaksin covid
Vaksin COVID-19/ Foto: Canva

Anggap saja ini semacam latar belakang saya bikin analisis ala-ala. Semua bermula dari kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga. Dua paman saya meninggal, setelah sebelumnya dinyatakan positif COVId-19.

Ya, COVID-19 memperburuk penyakit yang sudah lebih dulu ada. Jarak mereka berdua berpulang pun tidak lama. Hanya berselang sepekan. Sesingkat itu!

Belum lama ini saya kehilangan tante yang selama hidupnya adalah sosok penuh perhatian. Mulanya dia mengalami gejala mirip flu. Tidak kepikiran untuk cek lebih lanjut, seperti swab, karena mengira hanya sakit flu biasa.

Setelah tiga hari, tante saya tidak juga membaik. Dia malah bertambah lemas, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat di kamar. Bahkan memasak untuk keluarganya pun tidak sanggup.

Napas tante saya kemudian tampak pendek-pendek dan agak bersuara. Untuk berbicara, tante harus berusaha keras. Akhirnya di-swab dan hasilnya menunjukkan positif COVID-19. Kala itu saturasi oksigennya 84 persen, padahal saturasi normal adalah 95-100 persen.

Malam itu juga, berkeliling mencari rumah sakit yang masih punya ruang rawat. Oh ya, mereka tinggal di Yogyakarta. Dua rumah sakit menolak merawat tante dengan alasan stok oksigen sangat tipis. Untunglah, di RSUP Dr. Sardjito masih bisa menerima.

Saya pikir keadaan tante akan membaik. Toh dia tidak memiliki riwayat sakit pernapasan serius. Dia juga tidak memiliki riwayat penyakit lain yang serius. Satu keluhannya adalah dugaan osteoporosis. Namun, osteoporosis tidak mematikan, bukan?

Namun, harapan kami pupus. Sabtu itu, 2 Juli 2021, tante dinyatakan meninggal dunia. Setelah meninggalnya tante, kami mendapati berita bahwa RS Sardjito kehabisan oksigen. Akibat stok oksigen yang tidak memadai, 63 pasien meninggal sepanjang Sabtu (2/7) hingga Minggu (3/7) pagi.

Mengutip CNN, RS Sardjito mengklarifikasi ada 33 pasien sudah mendapat suplai oksigen. Namun, mereka tak tertolong karena kondisinya sudah berat atau kritis.

Rumah sakit colaps karena pandemi berkepanjangan?/ Foto: Canva

Kata sepupu saya, di waktu tante saya mencari rumah sakit hingga menjelang kepergiannya, situasi memang terasa mengerikan. Tentu saya bisa bayangkan bagaimana paniknya mencari rumah sakit dan oksigen. Makanya saya kesal sekali kalau ada yang berkomentar enteng, “Itu sudah ajal.”

Ya, betul, hidup dan mati seseorang memang sudah digariskan Allah. Namun, kata-kata “sudah ajal” itu terdengar minim empati. Apalagi kalau dibumbui kalimat, “Corona itu hoaks,” atau ” Oksigen banyak kok di sini. Mana yang kekurangan oksigen?” atau “Ya iyalah kekurangan oksigen, wong pakai maskernya dobel.”

Apakah memang empati sudah tidak ada lagi? Ada yang berpikir corona tidak berbahaya karena angka kematiannya sebenarnya kecil, sedangkan kesembuhan lebih besar.

Mungkin benar. Namun, kematian tetaplah kematian, besar atau kecil angkanya. Kala kematian terjadi, ada istri dan anak-anak kecil yang bingung bagaimana menyambung hidup. Saat kematian terjadi, ada bayi yang tidak pernah mendapatkan ASI dari ibunya selamanya.

Alasan Orang Enggan Vaksin COVID

Dari memperhatikan percakapan di berbagai grup What’s App yang saya ikuti, soal vaksin memang terbelah. Ada yang setuju dan ada yang menentang keras. Yuk, simak apa saja alasan enggan vaksin COVID.

1. Corona Dianggap Virus Flu Biasa

Mama pernah mendapat broadcast video tentang virus Corona di buku paket pelajaran IPA untuk anak SMP kelas 8 semester 2? Seorang Pria di video tersebut menyebut virus Corona sudah ada sejak dulu dan tidak berbahaya.

Buku itu diterbitkan oleh Kemendikbud pada 2017. Video tersebut menyebar melalui media sosial, juga berkali-kali diteruskan oleh pengguna What’s App. Kendati pria di dalam video itu tidak jelas identitasnya, tetapi banyak yang percaya pada apa yang dikatakannya.

Ini nih, videonya, Ma.

Duh, sayang banget, jika masih ada yang menelan materi video itu begitu saja tanpa berusaha mencari tahu. Jangan sampai kemalasan membuat enggan membaca lebih banyak sumber yang memiliki kredibilitas.

Centers for Disease Control and Prevention menjelaskan nama Coronavirus disematkan pada virus yang memiliki permukaan seperti mahkota. Virus corona pada manusia pertama kali diidentifikasi pada 1960-an.

Virus corona itu macam-macam. Namun, ada empat sub-pengelompokan utama coronavirus, yang dikenal sebagai alfa, beta, gamma, dan delta. Perlu diketahui juga nih tujuh varian virus corona yang bisa menginfeksi manusia:

229E (virus corona alfa)
NL63 (alfa coronavirus)
OC43 (virus corona beta)
HKU1 (virus corona beta)
MERS-CoV (beta coronavirus yang menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome, atau MERS)
SARS-CoV (virus corona beta yang menyebabkan sindrom pernapasan akut parah, atau SARS)
SARS-CoV-2 (virus corona baru yang menyebabkan penyakit coronavirus 2019, atau COVID-19)

Kesimpulannya: ya memang virus corona sudah diketahui sejak lama, bukan sejak 2017 saja. Akan tetapi ada buanyak lho varian virus corona yang nggak bisa disamaratakan.

2. Khawatir Sakit Seusai Vaksin COVID

Dari berbagai grup WA yang saya ikuti, kekhawatiran sakit setelah mendapat vaksin rupanya jadi alasan menghindari vaksin COVID-19. Dari mana muncul kekhawatiran itu? Rupanya dari “katanya” yang beredar di media sosial dan Whats’App.

Kata beberapa kerabat di WA, temannya langsung demam dan malah sakit setelah divaksin. “Bukannya jadi sehat, malah jadi sakit,” gerutu kerabat tersebut.

Baca juga: Cerita Mendapat Vaksin Covid Sinovac dan Efek yang Dialami

Padahal, seandainya mau mencari tahu dan baca dari sumber tepercaya, seusai vaksin memang bisa jadi ada kejadian ikutan pasca imunisas (KIPI). KIPI itu merupakan efek samping yang bisa muncul. Namun, berdasarkan uji vaksin yang telah dilakukan, efek samping umumnya tidak berlangsung lama.

Nggak berhenti sampai situ saja. Ada lagi yang bilang begini, “Vaksin katanya nggak melindungi 100 persen dari COVID. Lha kalau masih ada kemungkinan kena COVID, buat apa vaksin?”

Vaksin COVID tidak membuat penerimanya menjadi Titan yang 100 persen kebal dari penyakit apa pun, tak terkecuali COVID-19. Tujuan pemberian vaksinasi COVID-19 adalah memutus mata rantai penularan penyakit. Vaksin menstimulasi kekebalan spesifik dalam tubuh, sehingga tidak mudah jatuh sakit atau mengalami keparahan akibat COVID-19.

Gampangnya, kita ingat saja akan keberadaan vaksin campak. Di zaman sebelum Masehi, campak dikenal sebagai salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Catatan National Geographic Indonesia, campak pernah mengakibatkan kematian 200 juta orang. Kemudian, vaksin campak ditemukan. Pemberian vaksin terbukti meningkatkan kekebalan terhadap virus campak.

3. Meyakini Konspirasi

Salah satu teori konspirasi yang merebak di awal pandemi COVID-19 adalah adanya kebocoran dari laboratorium pembuatan virus di Wuhan, China. Mereka meyakini virus Corona penyebab COVID-19 adalah buatan, bukan virus alami.

Mengutip Science Daily, analisis data sekuens genom virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menunjukkan virus tersebut adalah produk evolusi alami, bukan rekayasa genetika di laboratorium. See?

Ada juga kalangan yang menyebut bahwa COVID-19 adalah konspirasi WHO dan elit global. Katanya, masyarakat dunia sengaja dibikin sakit dan terus ditakut-takuti, karena ada pihak yang jualan alat tes dan vaksin.

Selain itu masih banyak sekali narasi konspirasi yang dengan mudahnya dijumpai di media sosial maupun pesan di grup WA. Informasi tersebut memang meyakinkan, sehingga dianggap benar oleh mereka yang enggan membaca lebih banyak sumber tepercaya.

Baca juga: Barang Wajib di Tas Saat Bepergian di Musim Pandemi

Pandemi yang dihadapi negara-negara di dunia ini juga disebut plandemik oleh penggemar konspirasi. Semua bermula dari video ilmuwan bernama dr Judy Mikovits. Gagasan dia antara lain bahwa Bill Gates dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merupakan dalang penyebaran COVID-19. Dia juga menyebut penggunaan masker bisa membuat orang lebih sakit, karena pemakanya justru menghirup karbondioksida.

Para ilmuwan menanggapinya dengan menyebut Judy Mikovits telah membuat pseudosain. Ini merupakan pengetahuan yang diklaim ilmiah, tetapi tidak mengikuti metode ilmiah.

“Sebagai tandingan keilmuan nyata,” ujar Renee DiResta, peneliti disinformasi di Stanford Internet Observatory, seperti diwartakan New York Times.

Mama pernah nggak memberi tahu orang di grup yang suka membagikan konspirasi tentang COVID-19 di grup WA? Jika pernah, apakah responsnya seperti yang saya alami?

Jadi, bila kalangan ini diberi tahu bahwa informasi yang mereka peroleh salah atau hoax, pasti selalu menyangkal. Kata mereka semua informasi yang didapat itu untuk jaga-jaga, sehingga lebih waspada. Berjaga-jaga dengan cara menelan semua informasi yang masuk tanpa difilter? Hmm…

4. Percaya Informasi Tak Berdasar yang Terkesan Meyakinkan

covid-19
Foto: Canva

Sering kali para antivaks di grup WA ini meyakini ucapan dan pendapat orang yang tidak jelas latar belakangnya. Mereka menyebarkan video atau rekaman suara berisi opini tak berdasar dengan argumentasi: ingin melihat segala sesuatu dari dua sudut pandang yang berbeda.

Hm, nyatanya, mereka memilih pendapat yang justru disuarakan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi. Selalu menganggap dokter-dokter yang menangani pasien COVID-19 itu dibayar WHO. Mereka juga meyakini pemerintah menjadi boneka WHO, lalu menyebut orang yang taat prokes dan bersedia divaksinasi sebagai “pemuja COVID”.

Bayangkan, keluhan alias celetukan seorang yang entah siapa di suatu daerah lebih dipercaya ketimbang para ilmuwan dan tenaga kesehatan. Bahkan kabar nakes dan rumah sakit yang bertumbangan akibat pandemi ini dianggap isapan jempol.

Kemudian, ketika disodorkan fakta ada kerabat, teman, maupun anggota keluarga yang meninggal karena COVID-19, jawabannya selalu bikin jengkel. “Emang sudah ajalnya itu. Semua sekarang di-COVID-COVID-kan. Batuk pilek saja dibilang COVID.” Ya Allah, nurani mereka di mana?

Padahal dalam Islam jelas-jelas Nabi SAW pernah bersabda, “Apabila sebuah urusan/pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka bersiaplah menghadapi hari kiamat,” (HR. Bukhari).

“Barangsiapa yang memegang kuasa tentang sesuatu urusan kaum muslimin, lalu dia memberikan suatu tugas kepada seseorang, sedangkan dia mengetahui bahwa ada orang yang lebih baik daripada orang itu, dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin.” (HR Al-Hakim).

Bagaimana mungkin kita bicara soal penyakit tetapi peneliti virus dan dokter tidak dipercaya, malah percaya sekumpulan orang entah siapa yang sibuk berceletuk. Semoga dibukakan pintu hatinya oleh Allah.

5. Tidak Yakin pada Efektivitas Vaksin COVID

vaksin Covid
Vaksinasi Covid/ Foto: Canva

Keengganan dapat vaksin COVID yang menyeruak di grup WA juga dimotori ketidakyakinan pada efektivitas vaksin. Alasannya karena vaksin tersebut dibuat dalam waktu singkat ketimbang vaksin-vaksin untuk penyakit lainnya.

Hal ini pula yang menimbulkan keyakinan bahwa program vaksinasi nasional untuk COVID-19 adalah semacam proyek uji coba. Dengan banyak orang yang mendapatkan vaksinasi, produsen bisa melihat dampak atau efek sampingnya pada sampel skala besar.

Apalagi sempat beredar kabar penerima vaksin perdana meninggal setelah divaksinasi. Nyatanya yang bersangkutan masih hidup dan menerima vaksin dosis kedua.

Padahal WHO menegaskan bahwa keamanan vaksin adalah salah satu prioritas tertinggi. Semua vaksin COVID yang disetujui telah diuji dengan cermat dan terus dipantau. Proses pengujiannya pun melewati banyak tahapan ketat, termasuk uji klinis besar yang melibatkan puluhan ribu orang.

Baca juga: Setahun Lalu, Saya Melahirkan Saat Pandemi Covid-19

Pengguna vaksin COVID-19 bukan hanya orang Indonesia. Jutaan orang dari berbagai negara pun telah mendapatkannya. Vaksin itu tidak hanya bekerja pada satu orang saja, melainkan pada populasi. Artinya, semakin banyak yang mendapatkan vaksinasi, maka semakin rendah peluang manusia terjangkit penyakit tertentu.

Kesimpulan dari “analisa ala-ala” ini adalah masih banyak yang memilih informasi tak berdasar untuk memuaskan keinginan dan harapan yang jauh dari realita. Bahkan banyak orang percaya pada sosok mengaku dokter yang belum pernah bersentuhan dan merawat pasien COVID-19.

Si pengaku dokter itu malah menganjurkan nggak perlu pakai masker. Alasannya saat pakai masker dobel selama berjam-jam, nantinya bisa mengalami hipoksia. yakni kondisi rendahnya kadar oksigen di sel dan jaringan. Hiks, miris. Padahal oksigen itu gas, karbon dioksida yang kita hasilkan juga gas. Gas mah mudah banget keluar dari lubang-lubang di masker. Kecuali maskernya terbuat dari plastik.

Padahal nih dalam Islam sudah jelas, agar hidup tenang. lebih baik menyerahkan urusan pada ahlinya. Bukan malah menyerahkan pada orang yang mengaku ahli, tapi nggak punya dasar keilmuan dan kompetensi.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad, SAW.“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari).

Sebelum menutup tulisan ini, saya beberapa kali menemukan orang bingung di grup WA. Orang tersebut sering membagikan kabar hoaks tentang vaksin COVID dan tetek bengek corona. Seolah dia penentang vaksin COVID. Namun, nyatanya dia sudah vaksinasi lho. Hm, lalu motivasinya apa coba? Biar orang lain terkapar, sementara dirinya selamat gitu? Kalau benar begitu, kok tega sih.

Referensi:

CDC. Human Coronavirus Types. https://www.cdc.gov/coronavirus/types.html diakses pada 9 Juli 2021.

WHO. The Sinovac COVID-19 vaccine: What you need to know. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-sinovac-covid-19-vaccine-what-you-need-to-know diakses pada 9 Juli 2021.

WHO. Safety of COVID-19 Vaccines. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/safety-of-covid-19-vaccines diakses pada 9 Juli 2021.

covid19.go.id.[SALAH] Penerima Vaksin Perdana Meninggal Dunia Usai Disuntik Vaksin Pfizer https://covid19.go.id/p/hoax-buster/salah-penerima-vaksin-perdana-meninggal-dunia-usai-disuntik-vaksin-pfizer diakses pada 9 Juli 2021.

NY Times. Coronavirus Plandemic Misinformation. https://www.nytimes.com/2020/05/11/technology/coronavirus-plandemic-misinformation.html diakses pada 9 Juli 2021.

Kata Data. Virus Corona dan 5 pandemi Paling Mematikan di Dunia. https://katadata.co.id/pingitaria/berita/5e9a42153721c/virus-corona-dan-5-pandemi-paling-mematikan-di-dunia diakses pada 9 Juli 2021.

CNN. Tragedi Krisis Oksigen RS Sardjito & Kematian 33 Pasien https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210705062414-20-663121/tragedi-krisis-oksigen-rs-sardjito-kematian-33-pasien diakses pada 9 Juli 2021.

1 Comment
  1. ainun says

    turut berduka cita mbak
    aku baca baca juga masih ada yang enggan vaksin karena takut.
    aku awal awal vaksin juga agak takut.
    kadang di grup juga ada berita berita provokatif yang bisa mancing orang lain untuk nggak vaksin

Leave A Reply

Your email address will not be published.